Home / Romansa / My Obsessive Boss / 3. Sehari Sebelumnya

Share

3. Sehari Sebelumnya

Author: Black Aurora
last update publish date: 2026-08-02 00:39:18

(Flashback)

"Kemana semua orang??"

Pria itu mengernyitkan keningnya heran ketika ia baru saja memasuki pintu ke dalam "The Journal", sebuah bisnis restoran miliknya.

Saat ini waktu memang sudah menunjukkan jam 10.30 malam, dan The Journal biasanya menutup usahanya setiap jam 10 malam.

Anehnya, tak ada seorang pun di sini sekarang, padahal biasanya masih banyak yang berlalu lalang membersihkan lantai dan membereskan kursi-kursi.

Lampu-lampu pun semua masih menyala, dan kursi-kursi juga tampak belum dibereskan.

Itu artinya mereka belum pulang kan? Ataukah malam ini mereka telah mangkir dari tanggung jawab?

Pria itu, Abiyya, akhirnya memutuskan untuk tetap masuk ke dalam resto.

Ia sengaja berjalan memutar lebih dulu ke arah gudang bahan baku, dapur, dan area restroom.

Ia pun semakin heran ketika ternyata benar-benar tidak menemukan siapa pun di mana-mana.

Seolah resto ini ditinggalkan begitu saja dalam keadaan belum beres, belum terkunci, dan dengan seluruh lampu yang masih menyala.

Meskipun kesal, Abiyya berusaha untuk tetap tenang. Besok ia akan memanggil Arkan si Supervisor The Journal, dan menanyakan tentang hal ini.

Sedangkan malam ini, Abiyya bermaksud untuk melanjutkan pembukuan keuangan yang tertunda sejak tadi siang, karena ada sesuatu yang harus ia urus di luar.

Ia harus fokus, dan mengesampingkan pertanyaan tentang alasan kenapa seluruh staf resto tiba-tiba saja bertingkah.

Abiyya pun melangkahkan kakinya menuju ke bagian dalam resto, tempat dimana ruang pribadi owner sekaligus ruang kerjanya berada.

"SELAMAT ULANG TAHUN PAK ABIYYAAAA!"

Suara ribut terompet pesta yang bersahutan dengan serpihan partikel confetti yang berkilauan di udara seolah menyambut keterkejutan Abiyya melihat itu semua.

"Kalian...?" Gumannya pelan, yang masih berdiri tegak dan tak bergerak di bingkai pintu yang terbuka.

Untuk sejenak, Abiyya tampak tak mampu berkata-kata saking kagetnya.

Maniknya yang gelap membelalak menatap kepada seluruh staf resto yang telah berada di sana, dan kompak menyerukan ucapan ulang tahun untuknya!

Rupanya... saat ia pergi tadi, mereka semua merencakan ini untuk dirinya.

Suara tawa dan sorak sorai yang menggema di udara mewarnai keceriaan malam yang semakin larut dan dingin, membawa kehangatan yang meresap ke dalam sanubari Abiyya.

Setelah mulai pulih dari keterkejutannya, pria itu pun akhirnya ikut tertawa.

Ternyata alih-alih pulang, para stafnya itu malah memberikan surprise ulang tahun!

Seorang pria muda berkacamata dengan tattoo di sepanjang tangan kirinya pun maju ke hadapan Abiyya.

Ia membawa kue ulang tahun berwarna putih dan perak, dengan beberapa lilin yang menyala di atasnya.

Lagu Happy Birthday pun terdengar mengalun rendah, dan Abiyya semakin tertawa lebar ketika Arkan, si pembawa kue sekaligus supervisor resto menyuruhnya untuk meniup lilinnya.

"Aku terlalu tua untuk meniup lilin, Arkan," tolak Abiyya sambil menggeleng enggan.

Arkan pun tersenyum jahil dan mendekatkan wajahnya untuk berbisik ke telinga Abiyya.

"Tenang, Pak. Cuma aku kok yang tahu usia Bapak yang sebenarnya. Makanya kita pakai lilin kue yang biasa, bukan angka," bisiknya sambil nyengir.

"TIUP... TIUP... TIUP...!!!"

Seruan semua orang untuk meniup lilin pun akhirnya membuat Abiyya mengalah.

Lagipula semua stafnya sudah susah payah mempersiapkan kejutan ini, jadi rasanya tak sopan jika Abiyya tidak menghargainya.

"Terima kasih, semuanya. Aku benar-benar tidak menyangka dan berterima kasih untuk kejutan ini. Pantas saja di dalam resto sepi sekali, rupanya kalian semua sedang menunggu di sini ya?" Ucap Abiyya kepada semua orang.

"Traktir dong, Pak!" Celetuk iseng salah satu staf bagian kasir, yang kembali membuat Abiyya tersenyum.

"Oke. Aku akan traktir kalian semua dengan syarat, restoran sudah bersih dan semua pekerjaan selesai," putus Abiyya akhirnya, yang disambut oleh sorak sorai penuh kegembiraan dari semua orang.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Obsessive Boss   8. Pertanyaan Tak Terduga

    "Ngghh... Pak Abiyya..." Rintihan lembut Rania itu semakin membakar gairah Abiyya hingga setiap detik, sekujur tubuhnya semakin terasa panas. Abiyya pun semakin cepat menghujamkan dirinya ke dalam Rania, memacu dengan keras dan kuat hampir tanpa jeda. Rintihan Rania yang semula lirih itu pun semakin lama semakin keras disertai desahan napas yang memburu. Jemarinya meremas bahu bidang pria itu, kuku-kukunya tanpa sadar mencengkeram kuat hingga meninggalkan jejak merah di kulitnya yang berkeringat. Pria itu menunduk dan menyandarkan dahinya di bahu Rania. Gerakannya semakin dalam dan tak kenal lelah, seolah ingin menyatu dengan wanita itu sepenuhnya. Dunia di luar sana seakan tak lagi ada. Hanya ada mereka berdua, rasa panas yang meluap, dan kenikmatan yang semakin mendekati puncaknya... "Pak Abiyya..?" Anehnya... terdengar suara lain yang memanggilnya samar di awal, seakan terhalang oleh kabut tebal. "Pak Abiyya..!" Tiba-tiba panggilan itu terdengar lebih jelas

  • My Obsessive Boss   7. Tak Bisa Ditarik Kembali

    Rania merasa tubuhnya ringan seperti melayang. Karena kepalanya masih terasa pusing, gadis itu memilih tetap memejamkan mata. Ia sadar bahwa saat ini dirinya sedang berada dalam gendongan Abiyya, karena aroma parfum yang segar bercampur dengan wangi maskulin khas pria itu memenuhi indra penciumannya. Entah kenapa, aroma itu perlahan meredakan rasa gugup yang sejak tadi mencengkeram dadanya. Tanpa sadar, Rania menghirupnya sedikit lebih dalam. Efek alkohol membuat seluruh pertahanannya melemah. Terlebih setelah sesi ciuman panas yang terjadi di dalam mobil beberapa menit lalu. "Kita... mau ke mana, Pak?" tanyanya lirih. Tubuhnya masih lemas. Ia bahkan tak berniat membuka mata, sepenuhnya membiarkan Abiyya membawanya. "Ini apartemenku, Rania," jawab Abiyya dengan suaranya yang berat. Rania mengangguk pelan. Sesaat kemudian, tanpa sadar ia menyandarkan pipinya lebih dalam pada dada bidang pria itu. "Aku... sangat suka dengan aroma parfum Bapak," gumannya lirih. Lan

  • My Obsessive Boss   6. Ciuman Pertama

    Tak pelak ia pun merasa agak takjub, karena aroma ini terasa unik dan terlalu kekanakkan untuk gadis seusia Rania, namun ternyata cukup menyenangkan juga untuk dihirup. Rania terkejut ketika sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya yang sedang membersihkan kemeja Abiyya. Gadis itu pun mendongak, lalu kembali terkesiap. Terlambat menyadari bahwa wajahnya ternyata sangat dekat dengan wajah Abiyya, dengan ujung hidung yang nyaris bersentuhan. Bahkan Rania bisa merasakan desau napas pelan Abiyya yang lembut menerpa wajahnya, terasa hangat dan menenangkan. DEG! Tanpa bisa ia cegah, Rania pun merasakan kulit wajahnya yang mulai memanas karena merona. Tidak. Pasti warnanya berubah menjadi amat sangat merah dan memalukan! Semula Abiyya hanya bermaksud untuk menghentikan tangan halus dan berkulit pucat itu agar tak perlu lagi membersihkan kemejanya yang basah. Ia pun memegang pergelangan tangan Rania, dengan tujuan untuk menjauhkan dari tubuhnya, namun ma

  • My Obsessive Boss   5. Malam Itu

    'Uh, pusing sekali.' Rania membuka perlahan kedua matanya yang semula terpejam rapat, untuk melihat dimanakah gerangan ia sekarang berada. Karena tubuhnya yang sangat sensitif dengan alkohol, baru menenggak dua sloki saja rasanya telah membuat seluruh tenaga dan kesadarannya telah menghilang entah kemana. Kepalanya berat, dan sekujur tubuhnya terasa sakit sekali. Ia pun berjanji dalam hati, tak kan pernah lagi-lagi berani menyentuh alkohol laknat itu untuk selamanya. Namun Rania pun sontak mengernyit, ketika menyadari bahwa saat ini ia tengah berada di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tunggu. Mobil siapa ini...?? "...Kamu sudah sadar?" Suara maskulin yang terdengar mengalun memasuki indra pendengarannya itu membuat Rania terkejut, dan sontak menoleh ke sumbernya. "P-Pak Abiyya??!" Tukas Rania, seraya mengerjapkan matanya beberapa kali karena tak percaya. Sosok pria yang sedang menyetir di sampingnya hanya tersenyum kecil, sembari melirik sek

  • My Obsessive Boss   4. Mengantar Rania

    "Minum, minum...!!" Abiyya mengernyit sembari melirik ke arah kerumunan beberapa orang di meja sebelah, yang berteriak-teriak heboh sambil menepuk-nepuk meja. Saat ini dia dan seluruh staf resto The Journal sedang merayakan ulang tahun di sebuah di salah satu klub malam eksklusif. Abiyya sengaja khusus menyewa private room, agar mereka lebih nyaman dan tidak ikut berbaur dengan orang asing di sana, juga demi untuk keamanan para staf wanitanya. "Mereka sedang ngapain?" Tanya Abiyya sambil menjuk meja seberangnya kepada Arkan, yang kebetulan satu meja dengannya. Di dalam private room ini, tersedia beberapa meja bulat dan kursi-kursi, juga sofa panjang yang terletak di depan televisi layar lebar untuk karaoke. "Oh, biasalah Pak. Paling-paling juga lomba minum," sahut Arkan santai sembari menenggak birnya. Ia sedang bermain kartu dengan Abiyya dan beberapa staf yang lain. Abiyya kembali melirik ke meja seberangnya, berusaha melihat siapa yang disuruh minum. "Hei, Rania tid

  • My Obsessive Boss   3. Sehari Sebelumnya

    (Flashback) "Kemana semua orang??" Pria itu mengernyitkan keningnya heran ketika ia baru saja memasuki pintu ke dalam "The Journal", sebuah bisnis restoran miliknya. Saat ini waktu memang sudah menunjukkan jam 10.30 malam, dan The Journal biasanya menutup usahanya setiap jam 10 malam. Anehnya, tak ada seorang pun di sini sekarang, padahal biasanya masih banyak yang berlalu lalang membersihkan lantai dan membereskan kursi-kursi. Lampu-lampu pun semua masih menyala, dan kursi-kursi juga tampak belum dibereskan. Itu artinya mereka belum pulang kan? Ataukah malam ini mereka telah mangkir dari tanggung jawab? Pria itu, Abiyya, akhirnya memutuskan untuk tetap masuk ke dalam resto. Ia sengaja berjalan memutar lebih dulu ke arah gudang bahan baku, dapur, dan area restroom. Ia pun semakin heran ketika ternyata benar-benar tidak menemukan siapa pun di mana-mana. Seolah resto ini ditinggalkan begitu saja dalam keadaan belum beres, belum terkunci, dan dengan seluruh lampu yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status