ログインLagi-lagi langkah Rania terhenti untuk yang kedua kali.
Gadis itu mengerutkan alisnya yang melengkung indah, ketika melihat Abiyya melangkah ke arahnya dengan ayunan kaki tegas yang membuat Rania menelan ludah. Sial. Ingin sekali Rania mengutuk jantungnya yang berdebar dengan tidak tahu dirinya, hanya karena sosok Abiyya yang berjalan mendekatinya dengan sorot yang lekat menatap. Pesona pria ini terlalu mematikan, dan Rania pun hanya gadis biasa yang tak bisa abai begitu saja. Kini pria itu telah berdiri hanya berjarak selangkah dengan Rania. Tubuhnya yang sangat tinggi dan Rania yang jauh lebih pendek, membuat gadis itu terpaksa mendongakkan wajahnya. "Apa yang terjadi semalam, jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya selain aku dan kamu." Rania mengangguk setuju. "Aku juga tidak mau membongkar aib sendiri," balasnya. "Baguslah kalau begitu. Sekarang kamu bisa pergi," ucap Abiyya dingin, sembari membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke kamar mandi, meninggalkan Rania yang masih diam terpaku menatap ketidakpedulian Abiyya yang terlukis dengan begitu jelas. *** Selesai membersihkan tubuhnya, Abiyya pun merasa jauh lebih segar. Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya, membiarkan tetes air masih membasahi sebagian besar kulit serta rambutnya. Namun keningnya pun sontak berkerut, ketika sebuah aroma memasuki indra penciumannya. Aroma lembut bunga, bercampur buah-buahan serta aroma manis seperti permen. Beberapa saat kemudian ia pun baru tersadar bahwa wangi yang ia hirup ini adalah aroma parfum Rania, yang memenuhi udara di kamarnya. Abiyya pun memejamkan kedua matanya, lalu menghela napas dalam-dalam. Aroma Rania. Argh, kenapa rasanya menyenangkan sekali? "Sadar, Abiyya. Dia itu stafmu sendiri," gumannya pelan sembari menggelengkan kepala. Apa yang ia lakukan semalam bersama Rania benar-benar di luar kemampuannya untuk menolak. Gara-gara sama-sama mabuk, mereka malah bercinta! Abiyya bermaksud untuk mengabaikan aroma wangi yang sejak tadi ia hirup dalam-dalam tanpa sadar, namun hal yang ia lakukan selanjutnya malah mengayunkan kakinya menuju ke ranjang besar yang kini sudah acak-acakan karena keberingasannya menerkam Rania. Pria itu meraih bantal berlapis kain lembut yang semalaman menjadi alas untuk kepala Rania, lalu menatap kain itu dengan penuh arti... sebelum kemudian mendekatkan bantal itu ke hidungnya sendiri. Aaah, sudah ia duga. Aroma itu terhirup lebih kuat di sini. Aroma yang manis seperti permen. 'Tunggu. Apa yang aku lakukan ini??' Abiyya pun baru tersadar, setelah beberapa saat ia sibuk mencium aroma Rania yang masih tertinggal di atas bantal. Dengan gusar, pria itu pun melempar bantal yang ia pegang ke lantai. Namun tanpa sengaja, pandangannya tiba-tiba saja tertuju pada bagian bawah kasur yang beralas seprai abu-abu pucat. Bercak merah gelap tampak tercetak di sana, dan Abiyya pun mengerti apa itu sebabnya. Bukti kesucian Rania yang semalam ia rampas. Abiyya memiringkan kepalanya disertai sebuah senyuman tipis. Ternyata, masih ada gadis secantik serta seusia Rania yang belum ternoda. "Gunting," gumannya pelan. Pria itu pun tiba-tiba bergerak menuju ke arah laci nakas, dan mengeluarkan sebuah benda tajam dari sana. Tanpa ragu, Abiyya pun naik ke atas ranjangnya untuk menggunting bercak merah gelap itu dari seprainya. Setelah selesai, ia menaruh potongan kain merah itu di telapak tangan kirinya untuk diamati dengan seksama. Rania. Ini darah Rania. Sekilas kenangan semalam pun terlintas di dalam benak Abiyya, ketika Rania mendesah dan menjerit dengan suaranya yang semanis parfumnya. Abiyya pun tiba-tiba merasakan dorongan aneh dan tak wajar dari dalam dirinya untuk menyimpan baik-baik potongan kain penuh darah itu. Seulas senyum yang teramat sangat tampan tampak tersemat di bibirnya, saat ia menaruh potongan kain yang telah terlipat rapi itu ke dalam sebuah kotak berwarna hitam yang terbuat dari beludru. Kemudian Abiyya pun menutupnya, dan menaruh kotak beludru hitam itu ke dalam tas kerjanya. Memutuskan bahwa mulai saat ini, benda itu akan menjadi benda yang akan ia bawa kemana pun ia pergi. ***Sementara itu di tempat lain, Abiyya baru saja keluar dari cabang timur The Journal ketika ia membaca pesan dari Rania. Pesan itu berisi permintaan maaf karena gadis itu terpaksa membatalkan janji kencan mereka malam ini, demi menemani Kirby menemui kekasihnya. Abiyya membacanya sampai selesai, lalu mengembuskan napas pelan. Sebenarnya ia kecewa. Malam ini seharusnya menjadi kencan pertama mereka yang sudah sangat ia nantikan sejak tadi pagi. Namun... Abiyya juga paham jika Rania tidak mungkin meninggalkan Kirby dalam keadaan seperti itu. Akhirnya, Abiyya mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menelepon Rania. Namun keningnya pun mengernyit ketika teleponnya tidak tersambung. Lalu ia mencoba sekali lagi, tapi tetap saja gagal. “Hm... Beraninya dia menonaktifkan ponselnya,” guman Abiyya antara kesal dan gemas. “Lihat saja saat nanti ketemu. Kamu pasti tidak akan selamat di tanganku, Sayang.” Sudut bibirnya pun terangkat membentuk seringai tipis, saat membayangkan
Perjalanan menuju kediaman keluarga Prasetya memakan waktu cukup lama. Sepanjang perjalanan, Rania hanya bisa diam sambil sesekali melirik ke luar jendela. Kirby yang duduk di sampingnya pun tidak banyak bicara. Hingga akhirnya mobil itu memasuki sebuah pintu gerbang besar, lalu melaju melewati jalan panjang yang diapit pepohonan rapi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang membuat kedua gadis itu sejenak terdiam. Rumah itu... lebih pantas disebut istana. Bangunannya besar dengan fasad batu berwarna terang, jendela-jendela tinggi, pilar klasik, serta atap bertingkat yang memberikan kesan seperti kediaman bangsawan Inggris. Taman luas terbentang di kedua sisi halaman, lengkap dengan semak yang dipangkas rapi dan beberapa patung batu yang berdiri di antara pepohonan. Kirby pun turun dari mobil lebih dulu, lalu disusul oleh Rania. Ia mendongak cukup lama sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya ke telinga Rania. “Ran...” “Hm?” “Aku tahu Pak Abiyya i
Mereka memilih sebuah kafe yang cukup ramai di pusat kota.Tempat itu tidak terlalu besar, tetapi memiliki dinding kaca lebar yang membuat bagian dalam kafe terlihat jelas dari luar.Kirby dan Devon memilih meja di dekat jendela.Sesuai janjinya, Rania tidak ikut duduk bersama mereka.Ia memilih kursi di area luar kafe, tepat di sisi jendela yang masih memungkinkan dirinya melihat meja Kirby dengan jelas.“Kalau ada apa-apa, aku di sini,” ujar Rania sebelum Kirby masuk.Kirby mengangguk. “Terima kasih.”Rania hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya, menyuruh Kirby segera masuk ke dalam. Dari tempatnya duduk, Rania bisa melihat Kirby berjalan mendekati meja Devon, lalu keduanya mulai berbicara.Awalnya terlihat biasa.Devon mengatakan sesuatu, Kirby menjawab, kemudian Devon kembali berbicara.Sayangnya, Rania tidak bisa mendengar percakapan mereka karena terhalang kaca. Ia hanya bisa membaca bahasa tubuh keduanya.Beberapa menit berlalu, dan Rania mulai merasa tidak nyaman saat meli
Di sudut lain The Journal, Kirby sedang duduk sendirian di meja kecil dekat area belakang.Secangkir kopi di hadapannya sudah hampir dingin tak tersentuh.Kirby menarik napas panjang.Tatapan gadis itu terpaku pada satu pesan dari Devon yang masih terbuka di layar ponselnya.Devon: Aku sudah bicara dengan Mama. Beliau masih belum berubah pikiran.Jemarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.Sudah beberapa hari terakhir hubungan mereka terasa berbeda karena masalah ibunya Devon yang terang-terangan menolak hubungan mereka.Ponsel Kirby kembali bergetar.Devon: Jangan berpikir macam-macam. Aku nggak akan putus dengan kamu hanya karena Mama tidak menyetujui hubungan kita.Kirby pun membaca pesan itu berulang kali. Tapi bukannya merasa lega, matanya justru kembali berkaca-kaca.Ia tahu Devon bersungguh-sungguh... namun sampai kapan?Mungkin mereka bisa melawan, tetapi bagaimana jika penolakan itu terus berlangsung?Bagaimana jika keluarga Devon terus memaksanya memilih?Bagaimana jika
Tok. Tok. Tok. Rania sontak menoleh ke arah pintu. Wajahnya pun berubah panik. Sementara itu Abiyya justru masih duduk dengan tenang, tampak sama sekali tidak mengkhawatirkan apa pun.. “Pak Abiyya?” terdengar suara seorang pria dari luar. “Aku Tian. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Bapak.” Seketika Rania menoleh ke arah Abiyya. Tian?? Pemuda itu... kenapa harus datang sekarang?? Ia buru-buru hendak bangkit dari pangkuan Abiyya, tetapi pria itu sempat menahan pinggangnya. “Tunggu dulu,” bisik Abiyya. Rania mendelik. “Tunggu gimana, sih? Ada orang di luar!” “Aku tahu.” Rania menatap pria itu tidak percaya. “Lalu kenapa Pak Abiyya masih~~” “Tenanglah, Sayang.” Abiyya akhirnya melepaskan pelukannya. “Rapikan dulu penampilan kamu.” Kali ini Abiyya membiarkan Rania yang segera berdiri. Gadis itu membenahi seragam dan celemek hitamnya, menyisir rambutnya dengan jemari, lalu mengusap sudut bibirnya yang masih terasa bengkak dan hangat akibat ciuman tadi. Abiyya sendiri mera
Tidak ingin memperpanjang pembicaraan lebih lama dengan Kirby, Rania pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Namun begitu mendapat kesempatan untuk menjauh dari sahabatnya itu, ia segera mengeluarkan ponsel dari saku seragam.Lalu jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.Rania: Pak, bisa bicara sebentar?Balasan pun datang tidak sampai satu menit kemudian.Abiyya: Oke. Aku tunggu di ruangan, Sayang.Rania memutar bola mata, lalu segera memasukkan ponselnya kembali dan berjalan menuju ruang manajer.Setelah mengetuk pintu dua kali, Rania masuk dan mendapati Abiyya sedang duduk di belakang meja kerjanya."Masuklah, Rania."Gadis itu pun menutup pintu di belakangnya.Namun baru saja ia hendak membuka mulut, tiba-tiba saja Abiyya sudah bangkit dari kursinya.Pria itu berjalan mendekat, meraih tangan Rania, lalu menariknya perlahan hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya."Pak Abiyya!" Rania sontak menegakkan tubuh dengan kedua tangan yang bertumpu pada bahu pria tersebut."







