LOGINTak terasa, waktu makan siang telah tiba. Suasana restoran resort pun jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Rania makan satu meja bersama Kirby dan beberapa staf pria dari cabang lain. Kakinya memang masih sedikit sakit, tetapi setidaknya sekaranr sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa tertawa beberapa kali ketika salah seorang staf menceritakan kejadian konyol yang terjadi di cabangnya. “Serius? Terus kepala cabang kalian bilang apa?” tanya Rania sambil menahan tawa. “Dia bilang, ‘Kalau kalian mau baku hantam, jangan di depan pelanggan! Minimal tunggu dulu sampai mereka selesai makan.’” Tawa kecil pun langsung pecah di meja. Rania ikut tertawa, sampai tiba-tiba ia mendengar suara kursi di sampingnya yang bergeser. Gadis itu pun serta-merta menoleh, dan ia melihat... Abiyya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik kursi, duduk tepat di sebelah Rania, lalu makan dari piring yang ia bawa sendiri. Sontak saja Rania terdiam. Biasanya Abiyya makan bersama pa
Angin laut berhembus pelan membawa suara debur ombak yang samar, namun suasana di antara kedua manusia itu justru terasa semakin berat.Abiyya menatapnya dengan senyum tipis yang tak hilang dari bibirnya, namun ada sesuatu di balik tatapan itu yang kini terlihat lebih tajam dan nyata."Kamu takut padaku?" tanyanya pelan. Bukan dengan nada yang menuduh, hanya menanyakan fakta yang sudah terlihat jelas.Rania menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa."Lebih tepatnya... takut, karena tidak tahu seberapa jauh Pak Abiyya akan pergi demi apa yang Bapak inginkan."Abiyya tersenyum samar, lalu meraih jemari Rania. Ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan gadis itu dengan gerakan yang lambat dan berulang, seolah sedang menghafal bentuknya."Kalau begitu, biar aku katakan satu hal padamu," ucapnya pelan."Aku tidak menuntutmu untuk menerimaku seutuhnya, untuk sekarang. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa perasaanku ini akan berkurang atau hilang, hanya karena kamu ragu."Ia mendek
Tiga kata itu terasa berbeda, seolah memiliki makna tersembunyi di dalamnya. Seolah selama ada sesuatu yang menyangkut dirinya... maka Abiyya tidak akan membiarkannya begitu saja. Rania belum sempat mengatakan apa-apa ketika pria itu tiba-tiba saja ikut duduk di sampingnya, lalu bergerak mendekatkan wajahnya. Secara refleks, Rania pun mundur hingga punggungnya hampir menyentuh batang pohon di belakangnya. “Pak...??” Gerakan Abiyya pun berhenti, saat wajahnya kini telah berada tepat di hadapan Rania, begitu dekat hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan tubuh Abiyya setelah pertandingan. Aroma keringat samar bercampur dengan wangi segar parfum Abiyya terasa memenuhi udara di antara mereka. Namun anehnya... Rania tidak merasa terganggu, kecuali jantungnya yang berdetak semakin cepat. Abiyya mengangkat satu tangannya, kemudian menahannya di samping kepala Rania. Membuat gadis itu menelan ludah, karena terkurung di antara tubuh Abiyya dan batang pohon. Lalu tatapan p
Setelah pertandingan berakhir, seluruh peserta kemudian diarahkan menuju taman di sisi resort untuk menikmati brunch yang telah disiapkan oleh pihak resort. Ada beberapa meja panjang yang tertata dengan estetik di bawah beberapa payung besar, dipenuhi oleh aneka makanan lezat dan minuman menyegarkan. Suasana pun kembali ramai oleh percakapan dan tawa para peserta. Meskipun bagi Rania, suasana itu sama sekali tidak terasa menyenangkan. Baru saja beberapa langkah ia memasuki area brunch, Rania sudah bisa merasakan beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Ada yang sekadar melirik, ada pula yang terang-terangan menatap dengan sorot sinis. Beberapa staf wanita bahkan langsung berbisik ketika Rania lewat. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi Rania tidak perlu mendengarnya untuk mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Pasti dirinya jadi pergunjingan karena Pak Abiyya yang selalu membelanya. Seketika perutnya pun terasa tidak nyaman, dan selera makanny
Rania menatap layar ponselnya cukup lama. Dadanya terasa panas karena geram. Bisa-bisanya orang-orang mengatakan hal seperti itu tentang dirinya?? Seolah-olah ia sengaja menjatuhkan diri sendiri hanya agar mendapatkan perhatian Abiyya?? Suara helaan napas kasar keluar dari bibir Rania. "Enak saja.” Kalau begini, ia tidak bisa lagi hanya diam di kamar saja. Jika ia menghindari semua orang hanya karena takut menjadi bahan pembicaraan, bukankah itu justru akan membuat gosip tersebut semakin terlihat benar? Akhirnya, Rania pun bangkit dari tempat tidur. Lalu gadis itu mengambil sebuah kruk yang dipinjamkan oleh pihak resort, lalu berjalan perlahan meninggalkan kamar. Kakinya memang masih terasa sedikit nyeri, tetapi setidaknya sudah cukup kuat untuk digunakan berjalan pelan. Begitu sampai di area luar, udara pagi yang hangat langsung menyambutnya. Hari itu, pihak resort mengadakan beberapa kegiatan ringan untuk para peserta, dan salah satunya adalah pertandingan baske
“Kalau begitu, aku ingin memastikan sendiri.” Rania yang masih berdiri di balik pintu langsung menggeleng. “Tidak perlu, Pak.” Hening sejenak, sebelum suara berat Abiyya kembali terdengar. “Kenapa?” Rania menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum menjawab. “Karena... aku tidak ingin membuat orang lain berpikiran yang macam-macam.” Lalu ia menunduk, merasa sedikit canggung meskipun Abiyya tidak bisa melihat ekspresinya. “Kalau ada yang melihat Bapak masuk ke dalam kamarku pagi-pagi begini, mereka pasti akan semakin salah paham.” Beberapa detik berlalu tanpa suara... kemudian terdengar tawa geli, rendah dan tenang dari balik pintu. “Baiklah. Aku tidak akan masuk," sahut Abiyya, tanpa ada bantahan atau paksaan. Rania sedikit terkejut namun merasa lega. “Terima kasih, Pak.” “Tapi habiskan sarapanmu.” Nada suara Abiyya kembali terdengar lembut. “Setelah itu, beristirahatlah. Jangan memaksakan kaki yang belum pulih sepenuhnya.” Rania mengangguk meskipun tahu pria itu tidak bisa







