بيت / Romansa / My Obsessive Boss / 9. Tetangga Kos yang Menyebalkan

مشاركة

9. Tetangga Kos yang Menyebalkan

مؤلف: Black Aurora
last update تاريخ النشر: 2026-08-09 19:36:04

"Ck. Percuma saja."

Rania membuka dan melemparkan selimutnya ke samping dengan kasar, lalu memutuskan untuk berdiri dari ranjang.

Sejak tadi yang ia lakukan hanyalah bolak-balik gelisah, sama sekali tidak bisa tidur nyenyak seperti rencananya semula untuk menghabiskan jatah cuti kerja hari ini.

Gadis itu melangkah menuju meja di pojok ruangan dan menuangkang segelas air ke dalam gelas, lalu meminumnya dengan rakus sampai akhir.

Setetes air turun dari sela bibirnya, yang kemudian ia sek
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
ada ada saja pria menyebalkan disekitar rania
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • My Obsessive Boss   25. Simbol Perdamaian

    “Kenapa melihatku seperti itu, Rania?”Pertanyaan Abiyya terdengar sederhana, namun entah mengapa, bagi Rania, kalimat itu justru terasa seperti jebakan.Rania menelan ludah, lalu segera mengalihkan pandangan."...A-aku tidak melihat Bapak..."Abiyya menaikkan satu alisnya. “Bukankah sejak tadi kamu menatapku?”“Itu... tidak sengaja.”“Begitu?”Rania mengangguk cepat. “Iya.”Rasanya sekarang darah Rania serasa membeku di saat itu juga, ketika mengingat kembali kalimat Abiyya sebelumnya. ((Cecunguk seperti mereka masih beruntung dibiarkan hidup))Saat Rania menatap wajah pria itu yang tampak begitu tenang, begitu sempurna, namun ada sesuatu yang ganjil di matanya gelap Abiyya... ... seperti ada kilatan dingin yang sama, seperti saat ia memegang gergaji mesin semalam.Dan tiba-tiba saja imajinasi Rania melesat liar ke arah yang paling buruk.Tiga orang itu dipukuli sampai patah tulang, jari dan telinga dipotong...Apa... Apa Pak Abiyya yang...Ya Tuhan.Dan tadi, di ruangan manajer...

  • My Obsessive Boss   24. Apakah Dia Yang melakukannya?

    Rania buru-buru menyambar paper bag itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya dengan wajah yang sudah merah padam. "Hei, bukan! Kata siapa ini hadiah dari seorang pria? Jangan asal tuduh!" serunya, berusaha terdengar santai padahal jantungnya kini tengah berpacu liar. "Aku... aku beli sendiri! Kebetulan lihat dan bagus, jadi ambil saja." Kirby pun semakin membelalakkan matanya, menunjuk ke arah paper bag hitam yang sebagian masih terlihat. "Beli sendiri? Ran, itu logo butik ternama di pusat kota, lho! Yang satu produknya saja harganya bisa sampai jutaan rupiah! Beneran kamu yang beli?" Rania tertawa kering, sementara tangannya meremas pinggiran tas di punggungnya. "Jutaan? Mana mungkin aku seboros itu? Ini... ini cuma barang tiruan, kok! Harganya lebih murah." Kirby menggaruk rambutnya yang dikepang, masih terlihat bingung. "Tapi... tadi aku lihat sekilas jenis kainnya, Ran. Kelihatannya sangat halus, rapi, tidak seperti barang murah. Entahlah..." Melihat keraguan

  • My Obsessive Boss   23. Siapa Yang Memberimu Lingerie Itu?

    Matahari pagi baru saja menyelinap lewat celah tirai jendela kamar Rania, namun ia sudah terjaga sejak jam lima pagi. Kantung mata gelap terlihat jelas di bawah kelopak matanya, sebuah bukti nyata bahwa hampir tak ada sekejap pun ia bisa memejamkan mata semalaman. Pikirannya terlalu penuh, terlalu riuh. Wajah Abiyya, kata-katanya yang menggemakan ancaman sekaligus perlindungan, sentuhannya yang membakar sekaligus menakutkan. Semuanya berputar tanpa henti di kepala Rania, membuatnya gelisah hingga tak bisa tenang barang sejenak pun. Di permukaan, Abiyya adalah sosok yang sempurna. Ramah, berwibawa, bos yang dikagumi semua orang. Namun Rania tahu bahwa di balik topeng itu tersembunyi sosok yang dingin, misterius, kadang mengerikan, tapi juga... ...begitu penuh gairah hingga mampu membuat Rania lupa pada segalanya. "Sebenarnya apa yang Pak Abiyya inginkan dariku?" Rania bertanya untuk kesekian kalinya, tanpa pernah menemukan jawaban yang pasti. Bukankah bosnya itu

  • My Obsessive Boss   22. Cinta Yang Membelenggu

    Keesokan paginya... Hari ini, Abiyya tidak langsung berangkat ke cafe miliknya seperti biasa. Mobilnya justru berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri jauh dari pusat kota. Rumah itu... milik keluarganya. Tempat masa kecilnya, yang sudah lama tidak lagi ia anggap sebagai rumah. Abiyya turun dari mobil, lalu berjalan memasuki bangunan tersebut dengan langkah-langkah tenang. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala. "Tuan Abiyya," sapa mereka penuh hormat. Abiyya hanya mengangguk singkat. Ia tidak perlu bertanya di mana ayahnya berada. Pria tua itu hampir selalu menghabiskan pagi hari untuk berjemur di ruang belakang yang menghadap ke arah taman. Ketika Abiyya membuka pintu, ia menemukan ayahnya sedang duduk di kursi roda dekat jendela. Tubuh yang dahulu begitu tegap kini terlihat jauh lebih kurus. Rambutnya telah memutih di hampir seluruh bagian, sementara tangannya yang dulu mampu menggenggam sesuatu dengan kuat kini tampak sedikit ge

  • My Obsessive Boss   21. Bayangan Yang Tak Bisa Dihapus

    Air dingin dari pancuran kamar mandi mengalir turun membasuh seluruh tubuh kokoh penuh otot milik Abiyya, namun tetap saja tak mampu menghapus panas yang membakar di dalam dadanya. Di luar, jam dinding di apartemen mewahnya sudah menunjukkan pukul dua pagi. Keheningan menyelimuti seluruh ruangan... tapi di dalam kepala Abiyya, tak ada sedikit pun ketenangan. Berdiri di bawah aliran air yang terus jatuh, kedua matanya pun terpejam. Dan seketika itu pula, bayangan itu kembali muncul... sejelas tayangan film yang diputar berulang-ulang di dalam benaknya. ...Wajah Rania. Rania yang terengah dengan bibir merahnya yang sedikit bengkak karena ciumannya. Rania yang terbaring pasrah di bawahnya, dengan kulit yang bersinar lembut di bawah cahaya lampu redup. Tubuh indah itu melengkung menyambut setiap sentuhan tangan Abiyya. Suara Rania yang memanggil namanya, dengan nada yang penuh gairah serta kepasrahan yang mutlak. “...Pak Abiyya...” Suara lembut itu bergema di dalam ing

  • My Obsessive Boss   20. Sampai Tuntas

    Ciuman itu bukan sekadar sentuhan singkat. Abiyya mencium denga sangat mendalam, mendesak dan begitu lama, seolah ingin menyedot seluruh udara di dalam paru-paru Rania. Bibirnya hangat dengan gerakan yang sedikit kasar, dan dengan keterampilan berciuman yang membuat lutut Rania seketika lemas. Rania yang terkejut dengan mata membelalak, berusaha mendorong dada bidang pria itu dengan telapak tangannya yang gemetar.Bibirnya berusaha menghindar di sela-sela ciuman keras yang menyergapnya. "Pak... jangan... kita tidak boleh..." Namun suara itu terlalu lemah dan hampir tak terdengar... lebih seperti protes yang tak sungguh-sungguh ingin didengar. Dorongan tangan Rania pun tak bertenaga. Mungkin karena perasaan lega yang baru lepas dari ketegangan... atau memang perasaan kagum Rania kepada Abiyya yang masih tersisa. Abiyya pun sedikit menekan tubuhnya lebih dekat, untuk mendominasi sepenuhnya tanpa memberi Rania celah untuk mundur. Dan seketika itu pula, perlawanan Ran

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status