LOGINsegini dulu deh, udah malem. tidur dulu 🤭🤭
Perjalanan menuju kediaman keluarga Prasetya memakan waktu cukup lama. Sepanjang perjalanan, Rania hanya bisa diam sambil sesekali melirik ke luar jendela. Kirby yang duduk di sampingnya pun tidak banyak bicara. Hingga akhirnya mobil itu memasuki sebuah pintu gerbang besar, lalu melaju melewati jalan panjang yang diapit pepohonan rapi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang membuat kedua gadis itu sejenak terdiam. Rumah itu... lebih pantas disebut istana. Bangunannya besar dengan fasad batu berwarna terang, jendela-jendela tinggi, pilar klasik, serta atap bertingkat yang memberikan kesan seperti kediaman bangsawan Inggris. Taman luas terbentang di kedua sisi halaman, lengkap dengan semak yang dipangkas rapi dan beberapa patung batu yang berdiri di antara pepohonan. Kirby pun turun dari mobil lebih dulu, lalu disusul oleh Rania. Ia mendongak cukup lama sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya ke telinga Rania. “Ran...” “Hm?” “Aku tahu Pak Abiyya i
Mereka memilih sebuah kafe yang cukup ramai di pusat kota.Tempat itu tidak terlalu besar, tetapi memiliki dinding kaca lebar yang membuat bagian dalam kafe terlihat jelas dari luar.Kirby dan Devon memilih meja di dekat jendela.Sesuai janjinya, Rania tidak ikut duduk bersama mereka.Ia memilih kursi di area luar kafe, tepat di sisi jendela yang masih memungkinkan dirinya melihat meja Kirby dengan jelas.“Kalau ada apa-apa, aku di sini,” ujar Rania sebelum Kirby masuk.Kirby mengangguk. “Terima kasih.”Rania hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya, menyuruh Kirby segera masuk ke dalam. Dari tempatnya duduk, Rania bisa melihat Kirby berjalan mendekati meja Devon, lalu keduanya mulai berbicara.Awalnya terlihat biasa.Devon mengatakan sesuatu, Kirby menjawab, kemudian Devon kembali berbicara.Sayangnya, Rania tidak bisa mendengar percakapan mereka karena terhalang kaca. Ia hanya bisa membaca bahasa tubuh keduanya.Beberapa menit berlalu, dan Rania mulai merasa tidak nyaman saat meli
Di sudut lain The Journal, Kirby sedang duduk sendirian di meja kecil dekat area belakang.Secangkir kopi di hadapannya sudah hampir dingin tak tersentuh.Kirby menarik napas panjang.Tatapan gadis itu terpaku pada satu pesan dari Devon yang masih terbuka di layar ponselnya.Devon: Aku sudah bicara dengan Mama. Beliau masih belum berubah pikiran.Jemarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.Sudah beberapa hari terakhir hubungan mereka terasa berbeda karena masalah ibunya Devon yang terang-terangan menolak hubungan mereka.Ponsel Kirby kembali bergetar.Devon: Jangan berpikir macam-macam. Aku nggak akan putus dengan kamu hanya karena Mama tidak menyetujui hubungan kita.Kirby pun membaca pesan itu berulang kali. Tapi bukannya merasa lega, matanya justru kembali berkaca-kaca.Ia tahu Devon bersungguh-sungguh... namun sampai kapan?Mungkin mereka bisa melawan, tetapi bagaimana jika penolakan itu terus berlangsung?Bagaimana jika keluarga Devon terus memaksanya memilih?Bagaimana jika
Tok. Tok. Tok. Rania sontak menoleh ke arah pintu. Wajahnya pun berubah panik. Sementara itu Abiyya justru masih duduk dengan tenang, tampak sama sekali tidak mengkhawatirkan apa pun.. “Pak Abiyya?” terdengar suara seorang pria dari luar. “Aku Tian. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Bapak.” Seketika Rania menoleh ke arah Abiyya. Tian?? Pemuda itu... kenapa harus datang sekarang?? Ia buru-buru hendak bangkit dari pangkuan Abiyya, tetapi pria itu sempat menahan pinggangnya. “Tunggu dulu,” bisik Abiyya. Rania mendelik. “Tunggu gimana, sih? Ada orang di luar!” “Aku tahu.” Rania menatap pria itu tidak percaya. “Lalu kenapa Pak Abiyya masih~~” “Tenanglah, Sayang.” Abiyya akhirnya melepaskan pelukannya. “Rapikan dulu penampilan kamu.” Kali ini Abiyya membiarkan Rania yang segera berdiri. Gadis itu membenahi seragam dan celemek hitamnya, menyisir rambutnya dengan jemari, lalu mengusap sudut bibirnya yang masih terasa bengkak dan hangat akibat ciuman tadi. Abiyya sendiri mera
Tidak ingin memperpanjang pembicaraan lebih lama dengan Kirby, Rania pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Namun begitu mendapat kesempatan untuk menjauh dari sahabatnya itu, ia segera mengeluarkan ponsel dari saku seragam.Lalu jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.Rania: Pak, bisa bicara sebentar?Balasan pun datang tidak sampai satu menit kemudian.Abiyya: Oke. Aku tunggu di ruangan, Sayang.Rania memutar bola mata, lalu segera memasukkan ponselnya kembali dan berjalan menuju ruang manajer.Setelah mengetuk pintu dua kali, Rania masuk dan mendapati Abiyya sedang duduk di belakang meja kerjanya."Masuklah, Rania."Gadis itu pun menutup pintu di belakangnya.Namun baru saja ia hendak membuka mulut, tiba-tiba saja Abiyya sudah bangkit dari kursinya.Pria itu berjalan mendekat, meraih tangan Rania, lalu menariknya perlahan hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya."Pak Abiyya!" Rania sontak menegakkan tubuh dengan kedua tangan yang bertumpu pada bahu pria tersebut."
Pagi menjelang siang, suasana di The Journal mulai kembali sibuk. Beberapa staf terlihat mempersiapkan area restoran untuk menyambut pelanggan yang akan datang, sementara sebagian lainnya sibuk memeriksa persediaan perlengkapan makan. Rania sedang mengatur kembali beberapa piring kecil dan mangkuk di dalam lemari penyimpanan ketika seseorang muncul di sampingnya. Ia menoleh sekilas, lalu mengernyit saat melihat wajah Kirby. "Hei, kenapa matamu merah begitu?" Kirby yang sedang mengambil beberapa sendok hanya menggeleng. "Enggak apa-apa." Rania menghentikan pekerjaannya, lalu memperhatikan wajah sahabatnya itu lebih saksama. Kelopak mata Kirby tampak sedikit bengkak, bahkan hidungnya pun terlihat kemerahan. "Kamu habis nangis?" Kirby menghela napas panjang. "Semalam." "Kenapa? Lagi berantem sama Devon?" Gadis berambut pendek itu pun akhirnya hanya mengangguk kecil sambil menunduk. Rania meletakkan piring yang dipegangnya, lalu menyandarkan pinggul ke tepi mej







