Mag-log inRega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.
Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka. Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah sakit lebih cepat. Sanaya menangis karena baru pertama kali melihat secara langsung kecelakaan tepat di depan matanya yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. "Jangan nangis, mereka pasti selamat!" Rega menenangkan Sanaya. "Ga, t-tapi kasian ... dedek b-bayinya nggak bakal k-kenapa-napa, kan?" Sanaya seolah ikut merasa sakit saat melihat bayi yang digendongnya tadi terluka di kepalanya. "Yakin! Mereka nggak apa-apa, kita berdoa semoga aja semuanya selamat." Rega merangkul Sanaya. Ceklek Pintu ruangan terbuka dan menampilkan dokter dengan jubah hijaunya. Rega dan Sanaya segera berdiri. "Bagaimana kondisi kedua korban, dok?" Tanya Sanaya dengan raut wajah cemas, dia bahkan tak mempedulikan seragam OSIS-nya yang penuh dengan darah kering. "Korban ingin bertemu dengan kalian, mari masuk." Ajak dokter membawa mereka masuk ke dalam ruang tindakan. Setelah masuk Sanaya dapat melihat wanita yang ditolongnya merintih kesakitan. Dia pun mendekat dengan cepat. "Sakit, ya? Bertahan, Mbak... kamu pasti bisa!" Sanaya kembali menangis saat melihat wanita di depannya yang penuh luka dan terus memegangi kepalanya. Melihat Sanaya menangis, wanita itu tersenyum tipis, "Na-namaku N-nanda Arkalia," ucapnya begitu pelan dan tertatih. "N-namaku Sanaya Qirani," Sanaya pun ikut memperkenalkan dirinya. "J-jangan nangis ... , aku boleh min-ta t-tolong?" Suara Nanda makin terdengar lirih di telinga Sanaya. Sementara Rega dan dokter, berdiri di belakang Sanaya memantau bila terjadi sesuatu. "Boleh... kamu m-minta tolong apa?" "T-tolong ra-wat a-nakku se-seper-ti an-anakmu send-iri b-bo-leh?" Nanda sangat bersusah payah mengucapkan kalimat itu untuk berkomunikasi dengan Sanaya. Sanaya menghentikan tangisnya, dia mengusap air matanya, "Memangnya kamu mau kemana, Nan? Kenapa aku yang merawat anakmu?" Nanda memaksakan untuk tersenyum, meskipun rasa sakit di tubuhnya makin menjadi rasanya,"Ka-rna aku t-tidak bisa, Sanaya... " Nanda menarik nafas dalam-dalam saat seketika dadanya terasa begitu sesak yang membuatnya sulit bernafas. Dokter yang melihat itu segera mengambil alat bantu kemudian melakukan tindakan dibantu para perawat. Sedangkan Sanaya kembali terisak karena takut. "B-berjan-jilah Sa-na-ya... ak-u me-minta to-long..." Nanda sungguh merasa sudah tidak sanggup lagi, dadanya begitu sakit dan sesak menjadi satu ketika dia mengambil nafas. "T-to-long..." Tangan Nanda bersusah payah untuk menggapai tangan Sanaya yang ada di belakang dokter. Sanaya tidak tahu lagi harus menjawab apa, dia pun menoleh ke arah Rega. Lelaki itu mengangguk singkat tanda bahwa dia setuju apapun yang akan diputuskan oleh Sanaya. Sanaya mendekat sedikit di belakang dokter, dia lantas menatap Nanda yang sudah di ujung maut, "B-baik ... Aku akan merawat anakmu seperti anakku sendiri ... selamanya ..." Nanda tersenyum tipis, "Te-ter-rima k-ka-sih..." bersamaan dengan itu, Nanda mulai memejamkan matanya dan terlihat begitu damai dengan wajah pucat yang terpancar di wajahnya. Sanaya berhambur memeluk Rega, dia tidak sanggup untuk melihat wajah Nanda. Dia tidak mengenal Nanda, tapi kenapa dia bisa merasakan sakit yang diderita oleh Nanda melalui pancaran matanya? - oOo - Rega dan Sanaya menatap batu nisan dengan nama 'Nanda Arkalia' yang tertera jelas di batu itu. Rega dan Sanaya rela tidak berangkat sekolah demi mengurus kematian Nanda yang ternyata dia tidak memiliki keluarga menurut penyelidikan polisi. Nanda tinggal di kos dan menurut warga sekitar, dia adalah perempuan tegar yang pendiam serta mengurus anak tanpa suami. "Nan, kami akan terus mendoakanmu. Senang rasanya bertemu kamu meskipun hanya pertemuan singkat." Sanaya mengusap batu nisan itu. Membayangkan menjadi Nanda, Sanaya tidak tahu akan seperti apa yang terjadi padanya. Bahkan di saat kematiannya, tidak ada keluarga ataupun sanak saudara dan teman yang ikut menemani menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Masih dengan seragam yang penuh darah, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah Rega untuk menceritakan kejadian semalam pada ayah dan bundanya. Di ruang tamu, Sanaya dan Rega duduk berhadapan dengan ayah dan bundanya Rega. Mereka mendengar dengan seksama cerita Sanaya yang sesekali ditimpali oleh Rega. "Kami berencana mengadopsi anak itu, demi amanah almarhumah." Ucap Rega. Sicka memandang suaminya, Rion, lalu menghela nafas panjang, "Apa kalian tahu kalau akan ada tanggung jawab yang besar bila mengadopsi anak itu? Dan apa kalian siap?" Sicka menatap bergantian Sanaya serta Rega. Sanaya sedikit menyenggol lengan Rega, karena lelaki itu diam tak mengatakan apa-apa. Rega yang disenggol menoleh lalu menatap balik bundanya. "Aku siap." Sicka menganggukkan kepalanya sekali mengetahui jawaban putranya yang begitu yakin. "Jika kamu siap, maka kamu juga harus bisa menafkahi keluargamu dengan hasil jerih payahmu sendiri. Apa kamu sanggup Rega?" Dengan nada datar Rion bertanya kepada anak sulungnya itu. Kini Sanaya tahu, darimana asal muasal sifat Rega yang tak banyak bicara, rupanya menurun dari ayah mertuanya. "Aku siap." sahut Rega cepat. Rega lalu menatap ke Sanaya yang juga menatapnya, "Aku mengambil keputusan ini berarti aku sudah siap untuk kedepannya, Yah. Meskipun nanti nafkah yang ku berikan untuk Sanaya tidak banyak, seenggaknya aku udah usaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab menafkahi istri dan anakku." Sanaya terpaku dengan mata hitam kelam milik Rega, dia kesulitan untuk memalingkan wajahnya. Kata-kata Rega tadi terlalu manis untuknya, serta pancaran mata Rega yang terlihat begitu meyakinkan. "Bunda pegang ucapan kamu ya, Arkharega!" Rega mengangguk sebagai jawaban, "Aku minta tolong ke Bunda dan Ayah untuk mengurus adopsi anak almarhumah ke dinas sosial. Kata Polisi dan pihak rumah sakit, prosedurnya harus begitu." Sicka dan Rion mengangguk mengerti. Pasalnya, mengadopsi anak memang tidak semudah itu. Ada persyaratan hukum yang ketat, dan Sicka tahu bahwa putra serta menantunya belum memenuhi persyaratan tersebut. Karena itu, proses adopsi anak tersebut diatasnamakan dirinya dan Rion. Namun, ke depannya, Rega dan Sanaya yang akan bertanggung jawab untuk mengurus anak itu. "Terima kasih, Bunda, Ayah..." Sanaya menangis senang karena mertuanya setuju. "Sama-sama, San." Sicka ikut tersenyum, "Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju, nggak baik pakai baju bekas darah banyak begitu." "Iya, Bun. Sanaya mandi dulu, nanti kita jenguk bayi itu sama-sama, ya?" Ajak Sanaya penuh harap pada mertuanya. "Iya." Balas ayah mertuanya seraya tersenyum tipis.Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng
Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s
Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah
Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se
Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,







