Share

MOH - ENAM

Author: Pipit_vie
last update publish date: 2026-09-25 10:24:04

Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya.

"Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas.

"Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja."

"Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.

Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?"

Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka.

"Ampun, Bu, hehe..."

"Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" Jawab mereka serempak.

Kemudian setelah Bu Puji benar-benar pergi, ketua kelas langsung menyalakan sound kelas lalu menyetel musik dengan kencang.

Sanaya pun akhirnya bisa terlelap tidur karena semalam dia harus begadang. Alasannya karena Rega yang minta ditemani untuk menonton bola.

Revi yang ada di sebelahnya tertawa saat melihat wajah mengantuk Sanaya, "Kasian banget ya yang harus nemenin misua nonton bola. Uh~ Nonton bola aja atau ada kegiatan lain?" Ledek Revi sambil menarik-narik jilbab Sanaya.

"Apaan sih lo Rev!! Jangan gangguin gue dong! Nggak lihat nih gue ngantuk banget?!" Kesal Sanaya karena diganggu oleh Revi.

"Haha~ iya-iya, tidur aja dah! Nanti gue bangunin kalau udah bel pulang."

BRAK BRAK

Baru saja Sanaya memejamkan mata, mejanya digebrak oleh seseorang. Revi yang baru saja mengeluarkan ponsel dari kolong meja pun sama kagetnya.

"ANJIR!! LO NGAPAIN SIH, KUS?! GANGGU AJA LO!" Sanaya menatap sengit Kusuma.

"Ho'oh kaget gue Kus, ada apaan sih!" Revi pun merasa kesal.

Kusuma justru nyengir-nyengir tidak jelas, "Hehe~ Nggak ada apa-apa, seneng aja gitu gangguin orang. Gabut banget gue."

Sanaya memutar bola matanya malas, "Gabut? Ikutan joget-joget aja noh sama bespren lo di situ! Jangan ganggu gue kalau lo masih mau minta contekan bahasa Perancis."

Revi tertawa terbahak-bahak, "Mampus lo, Kus! Hahaha~"

"Maapin gue, San! Duh~ Jangan gitu dong... " Kusuma memohon tapi tak ditanggapi oleh Sanaya.

Kusuma terus menerus mengganggu Sanaya sampai akhirnya bel pulang berbunyi.

TEEETTT TEEETT🎶

"KUSUMA KAMPRET!" Pekik Sanaya kesal.

"GUE NGGAK JADI TIDUR GARA-GARA LO!" Sanaya menendang kaki Kusuma dengan kesal.

Satu kelas yang melihat itu pun tertawa terbahak-bahak. Sudah biasa bagi Sanaya dan Kusuma bertengkar tidak jelas seperti itu, bahkan ada yang menjodoh-jodohkan Sanaya dengan Kusuma karena lelaki itu yang sering sekali mengganggunya.

Revi yang melihat itu sebenarnya tahu kalau Kusuma memang memiliki rasa dengan Sanaya. Meskipun Sanaya bukan perempuan yang bisa dibilang cantik, tapi Sanaya punya caranya sendiri untuk membuat orang nyaman dan suka berada di dekatnya.

- oOo -

Sesuai dengan pesan dari anak Justice Warior, kini mereka sudah berkumpul di cafe Larisania milik River Ifham yang merupakan anak JW.

Anak TBM pun sudah hadir di sana dan tengah menunggu kehadiran sang ketua JW, yaitu Raksi Bakri Kanigara yang belum datang.

Tring 🎶

Pintu cafe berbunyi sebagi tanda kalau ada pengunjung yang masuk. Terlihatlah sosok Raksi yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Lelaki itu lantas menghampiri meja dimana orang penting TBM dan JW berkumpul menjadi satu di meja nomor lima.

"Sorry, buat kalian nunggu. Oh iya! Pesen aja makanan yang kalian suka. Gue yang traktir." Ucap Raksi yang membuat cafe menjadi riuh seketika.

Siapapun akan antusias bila mendengar kalimat 'traktir' yang begitu disukai oleh sejuta umat, baik anak-anak TBM maupun JW. Semuanya begitu senang mendapat traktiran.

"Apa maksud lo ngajak kita ketemuan begini?" Tanya Awan tanpa basa-basi.

Menurut Awan dan yang lain, sikap Raksi terlalu aneh karena sebelumnya mereka habis tawuran tanpa akhir yang jelas.

Raksi tertawa, "Haha~ Santai dong, Wan! Gue nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma ingin kita damai."

Rega dan teman-temannya terperangah kaget. Perkataan Raksi terdengar seperti omong kosong bagi mereka.

"Nggak usah becanda lo, Rak kursi! Mana mungkin lo tobat cepet banget?" Ceplos Dean.

"Serius! Gue nggak becanda! Gue pengen kita damai." Raksi menunjukkan tanda peace dengan jarinya.

"Herman gue sama lo pada! Bos gue ngajak damai, lo pada malah kagak percaya. Giliran kita ngajak ribut, kalian nggak terima. Dasar human plus nam dua!" Celetuk Seth, wakil ketua Justice Warrior.

Raksi memfokuskan tatapannya kepada Rega, "Ga, gue minta maaf."

Rega hanya diam karena malas menyahuti Raksi, sedangkan anak-anak lain bingung kenapa Raksi minta maaf.

"Karena anak-anak gue, lo jadi diarak warga dan disuruh nikah sama tuh cewek."

Raksi mengarahkan dagunya ke pintu cafe yang membuat semua mata pun tertuju ke sana termasuk Rega.

Awan makin tidak mengerti dengan semua ini, maksudnya apa? Kenapa Raksi bicara seperti itu dan menyangkut-pautkan pada Sanaya?

Rega beralih menatap Raksi, "Lo tahu darimana?"

"Waktu itu anak yang ngejar lo masih di Kampung Maduya, terus mereka denger para warga yang mau ngarak cowok sama cewek karena dituduh berbuat asusila di kebun. Pas mereka cek, eh ternyata itu lo sama dia."

Penjelasan dari Raksi membuat Awan dan yang lain akhirnya paham alasan dibalik Rega yang menikah dengan anak Moresnet.

Di sisi lain, Sanaya tadinya ingin langsung pulang ke apartemen Rega. Tapi karena Revi merengek ingin ditemani untuk mengambil uang ke sepupunya yang bekerja di cafe Larisania, dia pun akhirnya menyetujui.

Sanaya dan Revi sedikit terkejut saat melihat isi cafe adalah anak-anak elit yang waktu itu tawuran, termasuk Rega-suaminya.

"Tumben meraka anteng damai begitu." Ujar Revi.

"Mungkin udah pada tobat kali!" Timpal Sanaya.

Sanaya melewati meja dimana ada Rega dan teman-temannya dengan acuh seakan-akan tidak kenal. Revi juga melakukan hal yang sama, tapi saat itu juga tangan Sanaya ditahan oleh Rega.

Dengan malas Sanaya bertanya, "Kenapa?"

Rega tak menjawab, dia menarik tangan Sanaya untuk duduk di kursi sebelahnya yang memang kosong.

"Tunggu sini aja sama suami lo, San, gue ambil duit dulu." Revi pun berlalu.

Kini suana meja lima terasa hening, mereka tidak tahu harus membicarakan apa. Sedangkan Sanaya, matanya sudah begitu berat ingin tertidur.

"Ngomong kek! Mana ada kumpul malah sepi kayak kuburan gini." Sindir Sanaya yang membuat mereka tersenyum canggung.

"Pesen makan."

Sanaya menoleh ke samping untuk melihat siapa yang bicara padanya, dan ternyata Rega orangnya.

"Gue lagi nggak pengen makan. Tapi ngantuk pengen tidur," Sanaya menguap sambil menutup mulutnya, "gara-gara lo, semalem gue sampai nggak puas tidur." Sambungnya.

"Hayoloh~ Kalian abis ngapain tadi malem?"

Dean langsung bertanya karena ucapan Sanaya membuat mereka berpikiran yang tidak-tidak.

Jerrick menjitak kepala Dean, "Husst!! Lo ya, De, gitu aja pake ditanyain segala!" Jerrick geleng-geleng kepala.

"Nggak usah mikir yang aneh-aneh lo!" Sembur Sanaya tak suka dengan pertanyaan Dean.

Moodnya masih belum membaik sejak tadi dan kini rasanya moodnya makin memburuk.

"Wesss galaknya, Si Mbak! Ntar nggak dapat jatah dari Mas Rega loh~" Faqih ikut bersuara.

"Apaan sih? Nggak jelas banget lo!" Sanaya melempar tisu ke arah Faqih.

Mereka tertawa karena melihat reaksi Sanaya yang berbanding terbalik dengan Rega, suasana yang tadinya hening kini mencair menjadi ramai.

"San, udah nih gue, lo mau pulang bareng gue apa suami lo?"

Revi datang dengan wajah yang sumringah karena baru mendapat kiriman uang. Maklum anak kos ya memang seperti itu.

"Bareng gue."

Rega yang membalas lebih dulu, padahal Sanaya sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan Revi.

"Oke deh. Gue duluan ya, San, bye!" Revi hanya pamit kepada Sanaya saja, padahal banyak dari anak TBM dan JW yang menggodanya.

"Repi!! Jangan tinggalin gue woi!! Gue mau bareng lo aja." Teriak Sanaya yang sia-sia karena Revi sudah berlari keluar cafe.

"Duh~ Pengantin baru yang malu-malu kucing! Bwahaha~"

- oOo -

"Besok-besok kalau lo mau nongkrong sama temen, jangan ajak gue! Asli, gue hari ini udah nggak mood, eh... lo malah bikin mood gue jadi makin buruk tahu nggak?! Mana tadi temen lo nyebelin semua lagi! Terus pas gue liat muka temen si Raksi yang ngaku kalau ternyata mereka dalang kita diarak, pengen gue garuk tuh muka pake kukunya si Dina-temen gue yang panjangnya kayak mbak kunti." Dumel Sanaya panjang lebar sambil memakan es krim coklat kesukaannya.

"Eh! Nyahut kek! Berasa ngomong sama temen goib tahu, kalau lo cuma diem gini? Nyebelin banget sih!" Sanaya lanjut mendumel.

Rega menghembuskan nafas lelah, kenapa perempuan di depannya ini begitu cerewet dan memusingkan?

"Abisin aja es krimnya, udah mau isya' soalnya." Sahut Rega sambil merapatkan jaket yang dia kenakan.

Rega juga merasa tak nyaman karena sedari tadi dia terus di pandang oleh mbak kasir homemart karena mereka memang tengah duduk di kursi depan homemart.

"Iya-iya bentar! Nih dah abis nih!" Tunjuk Sanaya kepada Rega kalau es krimnya sudah habis.

Rega langsung berdiri menuju motornya, sedangkan Sanaya berjalan agak ke tepi jalan raya.

Sembari menunggu Rega menghampirinya, matanya menjelajah ramainya jalanan malam dengan berbagai kendaraan yang berlalu lalang sembari menenteng belanjaan untuk stok seminggu.

Hingga matanya tertuju pada seorang wanita yang menggendong anaknya tengah menyebrang jalan seperti orang melamun.

Sanaya membelalakkan matanya saat melihat ada mobil yang melaju kencang seolah tak melihat bahwa ada pejalan kaki yang tengah menyebrang jalan.

"AWAAS ADA MOBIL, MBAKK!!" Teriak Sanaya dengan sekuat tenaga.

"AAAAA!!"

BRAKKK

Sanaya dengan empatinya segera berlari menghampiri korban yang sudah terkulai bersimbah darah dan meninggalkan belanjaannya begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Other Happiness    MOH- SEMBILAN

    Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r

  • My Other Happiness    MOH - DELAPAN

    Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng

  • My Other Happiness    MOH - TUJUH

    Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s

  • My Other Happiness    MOH - ENAM

    Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah

  • My Other Happiness    MOH - LIMA

    Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se

  • My Other Happiness    MOH - EMPAT

    Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status