LOGINShe was only living for one reason. Seek justice for her parents before she'd disappear. It was supposed to be just that. Pagkatapos ng trahedyang nangyari sa buhay niya, Private investigator Sam Javier had lived her life finding the culprit who ruined her once perfect life. Ganun lang sana kasimple ang takbo ng buhay niya. But when Cameron del Fuero entered to her life, blackmailing her to be his P.I., she thinks her life would never be more complicated than that. One tigress private investigator and one granite-headed slash stingy business mogul. With these two stubborn people being thrown together, World War III is bound to happen and a sweet mess is inevitable. ~~~~~~~~~~~~~~~~~
View MoreAngin sore berhembus menerbangkan rambut hitam lurus milik Galen, dia menatap ke sekeliling berharap agar orang yang membuat janji dengannya tadi siang datang lebih cepat. Suara langkah kaki terdengar begitu jelas membuat pemuda tersebut segera menoleh.
"Kenapa kau lama sekali? Cepat katakan! Apa tujuanmu menemuiku sekarang?" tanya Galen dengan wajah datar.
Perempuan yang berdiri di depan pemuda tampan itu menatap penuh ragu kemudian mengambil sesuatu di dalam tas, benda pipih berwarna putih tersebut terulur ke arah Galen.
"Aku ... Hamil," lirih perempuan itu sambil menundukkan kepala. Dia tidak mau melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh pemuda di hadapannya.
Benda pipih berwarna putih tersebut terhempas ke tanah, ketika tangan besar pemuda di depannya menepis dengan kuat, "Itu bukan urusanku. Apa hanya ini yang ingin kau katakan? Sungguh, membuang waktuku saja!" Dia berbalik badan.
"A-apa? Kenapa ... Kau berbicara begitu Galen?!" bentak perempuan itu tak terima, air mata bahkan sudah jatuh melewati kedua pipinya yang tembem.
"Aku tidak meminta mu untuk menolong ku hari itu Nasya, jadi jangan salahkan aku." Pemuda tersebut dengan santai menjawab kemudian pergi meninggalkan gadis bernama Nasya itu sendirian.
Tangan Nasya bergetar hebat ketika mengambil test kehamilan yang di tepis oleh Galen tadi, dengan telaten ia kembali memasukkan benda itu ke dalam tas.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Tuhan?" tanya Nasya gemetar. Perempuan itu memandang kepergian Galen dengan tatapan sendu dan juga marah.
****
Pagi ini Nasya sudah siap dengan seragam sekolah berwarna putih abu, ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Perlahan tangan putih milik Nasya mengelus perut yang masih rata, akan tetapi ia tahu bahwa di sana sudah ada kehidupan baru.
Sebuah janin yang sepertinya datang tidak sesuai waktu, dia menggelengkan kepala mengenyahkan sebuah pemikiran yang begitu aneh. Bergegas saja Nasya meraih tas yang terletak di atas ranjang, membuka pintu kamar dan turun ke lantai bawah.
Suara kayu berderit adalah ciri khas rumah Nasya, ia tinggal di sebuah rumah kayu dengan dua lantai. Lantai pertama untuk kedua orang tuanya membuka restoran kecil dan lantai kedua untuk mereka tinggal.
"Pagi Nasya, ayo makan dulu." Keina memanggil anak perempuan semata wayangnya agar segera mendekat.
Dengan langkah kecil Nasya mendekat dan merasa aneh ketika mencium aroma masakan sang Ibu, "Aku ... Aku harus berangkat sekolah Bu, perutku masih kenyang." Kemudian berlari ke luar rumah.
"Hei! Kau belum makan apapun, Nasya ayo kembali!" teriak sang Ibu begitu nyaring sehingga menggelar di rumah kecil mereka. Ayah Nasya yang tadinya sibuk membaca koran menatap dengan heran.
"Biarkan saja Keina, mungkin dia sedang terburu-buru," jawab Carel Ayahnya Nasya santai.
Perempuan berbadan dua tersebut duduk di halte bus, ia membuka tas dan mengambil benda pipih di dalamnya. Dia tersenyum kecil ketika melihat pesan dari Ratu, sahabatnya. Akan tetapi fokusnya teralihkan pada foto seseorang yang berada di galerinya. Di sana wajah Galen terpampang begitu jelas, sudut bibirnya terangkat ke atas.
"Untuk apa aku menyimpan foto ini? Sungguh bodoh sekali," rutuk Nasya memukul kepalanya pelan.
****
Suasana sekolah sudah mulai ramai ketika Nasya menginjakkan kaki di sana, beberapa orang akan menatap dirinya sinis karena Nasya adalah anak beasiswa. Entah kenapa status orang yang sekolah karena beasiswa begitu rendah di mata siswa lainnya.
"Nasya ayo ke sini!" teriak seorang gadis yang sudah menunggu kehadiran perempuan itu di depan pintu kelas.
"Kenapa kau terlihat begitu antusias?" tanya Nasya begitu penasaran.
Gadis itu tampak menatap sekeliling dan menarik tubuh Nasya mendekat, "Kau tahu ada satu anak beasiswa yang dikeluarkan dari sekolah karena ia sedang hamil, sungguh malang sekali bukan?"
Detak jantung Nasya berdegup lebih cepat, rasa takut memenuhi rongga dada. Dengan gemetar tangannya memegangi kepala dan mengundang tanya di benak Ratu.
"Kenapa Nasya? Apa ada yang sakit?" tanya gadis itu begitu khawatir, ia memapah tubuh sahabatnya itu masuk ke dalam kelas, membawanya menuju tempat duduk. Ratu mengulurkan air minum miliknya, "Minumlah ini."
Masih dengan tangan gemetar Nasya mengambil botol tersebut, ia meminum air dengan begitu cepat.
"Ada apa denganmu Nasya?" tanya Ratu lagi ketika melihat bahwa sahabatnya itu sudah sedikit baikan setelah meminum air.
Nasya menggelengkan kepalanya, "Aku ... Aku tak apa Ratu, hanya sedang haus saja. Lagipula tadi Pagi aku tidak sempat sarapan." Nasya berbohong, padahal sudah jelas tadi Pagi sang Ibu sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Aku pikir kau kenapa, apa ingin aku belikan makanan?" tanya Ratu lagi masih dengan nada khawatir.
"Tidak, aku tidak apa Ratu. Jangan begitu khawatir," kekeh Raina yang membuat Ratu kesal.
"Kau ini!" ujar gadis itu kesal sambil memukul bahu Nasya. Keduanya pun tertawa, tanpa mereka sadari bahwa semenjak tadi ada satu pasang mata yang tak henti-hentinya menatap pada Nasya.
Six months later...SAM'S POV"I'll come and get you here before your out later. Remember that you're heavily pregnant now so you better behave and just put your sexy ass on your seat and let the other investigator do the outdoor job. Get that?"When I heard that more-like-of-a-threat reminder again--- my eyes automatically rolled upward at that.After a few months of being married to some bastard, halos araw-araw ko ng naririnig ang linyang 'to everytime na hinahatid ako nito sa trabaho. He just kept reminding me that I looked like a bloated balloon now dahil sa pagbubuntis ko.Kasalukuyan nga pala kaming nakatayo sa tabi ng sasakyan nito at sa harapan ng building na pinagtatrabahuan ko.Insisting that he'd drive me to my work everyday to ensure my safety. It won't even surprise me if he have secretly snuck some tracker on my phone just
SAM'S POVI was interrupted with my sleep when I felt someone moving beside me. I was supposed to ignore that interruptions dahil sa kagustuhan ko pang matulog pero nang maramdaman ko ng may umayos ng kumot ko, my eyes slowly fluttered open.The room was slightly dim but enough para makita ko ang nakangiting mukha ni Manang Rita."Pasensya na po kayo kung nagising ko po kayo. Tiniyak ko lang na hindi po kayo malalamigan rito." Nakangiting bungad nito sa'kin.I just nodded and smiled at her kindness before I slowly got up on my back. I think I have sleep enough dahil parang gumaan na ngayon ang pakiramdam ko.Glancing up at the wall clock across the roo, I checked the time and it said it was just eight in the evening."Iiwan ko na po muna kayo ma'am.. Pupuntahan ko lang muna sandali si sir Cameron sa baba." Paalam pa nito and then with that, tatalikod
ENRICO'S POV"Say hi to Nickandro's soul for me, Ms. Javier.." Nakangiting paalam ko sa kawawang babae sa harapan ko before pulling the trigger of my gun.A loud gunshot rang through the background and then I felt something struck into my back. I frowned when it started to feel numb and that burning sensation behind me. So painful which caused my nerves began to tremble.And then I felt that hot liquids gashed through my back.I choked out a cough kasabay ng pagluwag ng pagkakahawak ko sa baril hanggang sa tuluyan na itong mahulog sa damuhan"A-Anong...."I weakly gazed down at the woman before me, a woman who hadn't even blinked an eye or showing any fear in her eyes.Nanatili parin itong nakatitig sa'kin without even moving a bit on her knees."A-Anong g-ginawa----" Before I could even complete my sentence, I
SAM'S POVI heaved up a deep breath when I stopped at the side of that familiar road where my nightmare had begun. The exact place where everything had started and should end. At balak kong tapusin ito ngayon mismo.Unbuckling my seatbelt, agad ko ng inayos ang pagkakatali ng buhok ko before I got out of the car. Cold air greeted me pagkalabas ko palang ng sasakyan.Scanning the place around, I can't see any car around other than mine. Glancing down at my wristwatch, it says quarter before four in the afternoon. Madalang lang ang mga sasakyan na dumadaan rito lalo na sa mga oras na ito. Only my even breathings and the chirping of birds and trees being swayed by the wind can be heard around.Ignoring the time, agad na'kong naglakad papasok sa medyo masukal na bahagi sa gilid ng daang 'yon. Sa lugar malapit sa pinangyarihan ng insidente noon, cautious with my footsteps. Maraming taon n












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.