Share

1. First Love

last update publish date: 2026-04-17 19:02:49

1. First Love

"Jadi, kau akan tinggal di Tokyo?" Kenzo menaikkan sebelah alisnya sambil memasang sabuk pengamannya.

Luna, wanita yang duduk di sebelahnya tersenyum lebar. "Mau bagaimana lagi? Satu-satunya cara untuk mengembangkan perusahaan kami di kawasan Asia timur ini, aku sendiri yang harus turun tangan," jawabnya sambil memasang sabuk pengamannya juga.

Kenzo memindahkan persneling mobilnya lalu menginjak pedal gas, melajukan mobilnya meninggalkan area parkir Haneda airport. Membelah jalanan kota Tokyo sore itu.

"Sepertinya aku adalah orang yang paling diuntungkan karena kita bisa lebih sering bertemu," ujar Kenzo, wajah pria itu tampak berseri-seri. "Akan lebih baik lagi jika...."

"Ken, jangan memulai. Aku masih lelah dan pastinya aku mengalami jetlag." Luna menyela ucapan Kenzo sambil membuka tas, mengeluarkan ponsel lalu menggeser layarnya dengan wajah serius.

"Pangsa pasar di Jepang sepertinya tidak terlalu menjanjikan, aku hanya akan mencobanya di sini selama satu bulan. Dari pengamatanku, Tiongkok jauh lebih baik," ucap Luna tanpa memedulikan raut wajah Kenzo yang tadinya tampak berseri telah berubah menjadi gelap.

"Sepertinya kau harus memikirkan ulang tawaranku," ucap Kenzo dengan nada murung. "Seharusnya kau tidak perlu merisaukan perusahaanmu itu, lagi pula aku bisa menjamin hidupmu seumur hidup."

Kenzo, pria itu telah berulang kali menawarkan pernikahan kepada Luna, tetapi wanita pekerja keras itu lebih mementingkan kariernya hingga selalu menolak dengan bermacam-macam alasan salah satunya adalah mereka terlalu muda.

"Ken, kita telah sepakat. Kita akan menikah kelak, saat usia kita tiga puluh tahun. Lagi pula sekarang kau juga tahu, pekerjaanku sangat banyak, perusahaan kami maju pesat," ucap Luna sambil menatap Kenzo dengan tatapan kesal.

Rahang Kenzo sedikit mengeras, sedikit kasar pria tu memutar kemudi mobil, membelokkannya ke sebuah area apartemen yang telah ia siapkan untuk menjadi tempat tinggal Luna selama satu bulan berada di Tokyo.

"Setidaknya jika kita sudah menikah, kita bisa tinggal satu rumah."

Luna memutar bola matanya, wanita itu menghela napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Apa salahnya jika kita tinggal satu rumah? Orang tuamu saja yang terlalu kolot," katanya dengan nada sengit.

"Orang tuaku masih menjunjung adat timur," ujar Kenzo dengan nada dingin.

Luna menatap wajah tampan kekasihnya. "Ken, menikah atau tidak bukankah itu sama saja, yang terpenting adalah kita saling mencinta, mengasihi dan menyayangi." Nada ucapan luna terdengar kesal tidak dibuat-buat kemudian mendengus kasar.

Hubungan Luna dan kenzo bisa dibilang tidak semulus harapan Kenzo, mereka telah berulang kali berdebat perihal pernikahan. Kenzo hampir selalu mendesak Luna untuk menikah, tetapi wanita itu tidak menginginkan pernikahan. Bukan tidak ingin, tetapi belum siap. Dalam agenda hidup Luna, menikah berada diurutan nomer seratus setelah kariernya, bahkan sebelum bertemu Kenzo.

Yamada Kenzo, pria dengan manik mata hitam pekat itu adalah satu-satunya keturunan pria di keluarga Yamada yang sangat tersohor karena perusahaan mereka yang bergerak di bidang teknologi di negeri Sakura. Dipastikan ia adalah satu-satunya pewaris kerajaan bisnis keluarga itu karena satu-satunya kakak perempuan kandungnya tidak peduli dengan bisnis keluarga mereka. Pertama karena kakak perempuannya yang bernama Yamada Keiko lebih mencintai seni, kedua karena ia telah diperistri oleh pria berkebangsaan Rusia dengan kekayaannya lebih fantastis dibanding kekayaan keluarga Yamada.

Bukan hanya mewarisi kekayaan, Kenzo juga mewarisi kecerdasan serta ketampanan sang ayah. Ia mengenyam pendidikan dengan jalur khusus dan ia juga telah menyandang gelar sarjana di usia dua puluh tahun kemudian melanjutkan pendidikannya untuk meraih gelar doktor di Oxford University, London. Di sanalah ia bertemu kembali dengan Luna Alexandra Dirck, cinta pertamanya ketika ia duduk di bangku sekolah menengah atas.

Luna Alexandra Dirck, wanita dengan manik mata berwarna hijau itu adalah wanita cantik menurut standar Kenzo. Cerdas, tentu saja menjadi poin utama yang menjadikan Kenzo jatuh cinta kepada Luna sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah atas.

Saat itu Luna duduk tepat di depannya, menjadi pesaing dalam setiap mata pelajaran. Sayangnya, Luna membenci Kenzo karena ia menganggap Kenzo membohonginya dengan sikapnya di kelas yang seolah bukan siswa yang cerdas. Kenzo hanya tidur setiap jam pelajaran yang dianggap membosankan, tetapi faktanya nilai ujian yang Kenzo dapatkan di atas nilai ujian milik Luna. Harga diri Luna terluka, ia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal kepada Kenzo saat ia harus kembali pindah sekolah karena ayahnya yang merupakan seorang duta besar selesai bertugas dan tentu saja mereka harus kembali ke Belanda.

Hidup Luna berpindah-pindah mengikuti ayahnya, baru setelah ia memasuki bangku kuliah ia menetap di London. Di sana bersama beberapa orang temannya setelah lulus dari bangku universitas, mereka mendirikan sebuah perusahaan pialang. Bisnis itu maju pesat hingga seseorang membangkrutkan perusahaan itu dan dalang di balik kebangkrutan perusahaan pialang milik Luna dan teman-temannya adalah Kenzo.

"Kau sepertinya tidak merindukanku," ucap Luna sambil mengalungkan lengannya di leher kekasihnya setelah mereka tiba di dalam unit apartemen yang akan menjadi tempat tinggal sementaranya selama di Tokyo.

Kenzo menatap manik mata hijau telaga Luna. "Aku akan mengutus orang membereskan barang-barangmu," katanya sambil melingkarkan lengannya di pinggang kekasihnya, ia memang masih kesal dengan perdebatan mereka di mobil. Tetapi, ia tidak ingin memperpanjang lagi karena ada hal yang lebih penting sekarang.

"Tidak perlu, aku bisa melakukannya semua sendiri." Luna membalas tatapan Kenzo sambil sedikit berjinjit lalu dengan lembut menyapukan bibirnya di bibir Kenzo. "Aku sangat merindukanmu."

Bersambung....

Slow Update.

Jangan lupa tinggalkan komentar dan rate.

Salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   Epilogue

    Epilogue"Luna mengirimkan beberapa hadiah untuk Ryu," ujar Alexa, matanya tertuju pada layar ponselnya yang berisi pesan dari Luna. Yamada Ryuu adalah nama putra pertama mereka yang baru saja satu Minggu yang laku dilahirkan oleh Alexa. Bayi mungil itu tampak gemuk dan sehat, Ryuu juga memiliki hobi menangis dan tidak penyabar saat menginginkan air susu ibunya saat merasa lapar. "Sampaikan salam kami untuknya," ujar Kenzo yang sedang menggendong Ryuu. "Bagaimana perkembangan terapinya?" "Ia mengatakan operasi pertama beberapa bulan yang lalu sangat membantu, Minggu ini ia mulai belajar melangkahkan kakinya." Kenzo menyentuh pipi putranya menggunakan ujung hidungnya. "Syukurlah." Pada akhirnya, baik Alexa maupun Luna, keduanya memilih saling berdamai dengan keadaan. Terutama Luna, wanita malang itu memilih menerima kenyataan jika ia harus melepaskan Kenzo, juga kesempurnaannya raganya. Namun, Tuhan tidak tinggal diam karena pada akhirnya, mungkin dengan cara itulah ia bert

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   42. End

    Ending "Ayo, tunda pernikahan kita." Alexa menatap bayangan dirinya di cermin. Mereka berada di dalam kamar Kenzo, di kediaman Edward, kakek Kenzo. Mereka baru mengetahui kehamilan Alexa dua hari yang lalu, kandungan Alexa telah berusia enam Minggu. Kenzo menyipitkan kedua matanya, pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi dan Alexa mengatakan ingin menundanya. Tentu saja ia keberatan. "Sayangku, jangan bermain-main." Alexa berbalik menatap Kenzo dengan tatapan kesal. "Kau menghamiliku. Lihat, aku sangat gemuk sekarang," ucapnya terdengar sangat kesal sabil setengah merentangkan tangannya dan matanya menatap tubuhnya yang sedikit bertambah berat. "Aku tidak ingin foto pernikahanku terlihat tidak sempurna." Kenzo menjepitkan sejumput rambut ke belakang telinga Alexa. "Dengar, sayangku. Aku tidak masalah menikahimu kapan saja. Tapi, jika kita menikah menunggu calon buah hati kita lahir, orang tuamu tidak akan setuju." Juga orang tuaku tentunya, terutama ibuku yang su

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   41. My Benefit

    41. My BenefitBersamaan dengan itu Kenzo menginjak rem mobil yang ia kemudikan, pria itu dengan tenang keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Alexa dan Gilbert. "Jiel," sapa Kenzo. "Lama tidak berjumpa." Gilbert tersenyum. "Selamat atas pertunangan kalian." "Terima kasih." Kenzo menarik pinggang Alexa, merapatkan tubuh mereka seolah ia sedang menegaskan jika Alexa hanya miliknya. Pria itu mengecup pelipis sebelah kanan Alexa. "Selamat pagi, Sayang." "Selamat pagi, Ken." Alexa tersenyum manis, ia harus mendongak untuk menatap wajah Kenzo karena perbedaan tinggi mereka yang jauh. "Jiel, sayang sekali, aku harus pergi bekerja," ucap Alexa dengan nada tidak nyaman karena ia harus meninggalkan Gilbert. "Kita akan mengobrol lagi nanti, oke?" Gilbert memasukkan tangannya ke saku jaketnya. "Jangan khawatir, aku akan berada di sini satu Minggu. Kita memiliki banyak waktu." "Good," ujar Alexa. Gilbert melirik sekilas ke arah Kenzo. "Bagaimana jika siang ini kita makan sian

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   40. Your Fault

    40. Your Fault"Bermain denganku tidak perlu berpura-pura mengalah," ucap William. Seusai acara makan malam di kediaman keluarga Johanson, Alexander meminta William menggantikannya bermain catur bersama Kenzo. William dengan senang hati menggantikan ayahnya bermain catur karena ia juga ingin mengenal pria yang akan menjadi suami dari adiknya, Alexa. "Sama sekali tidak," sahut Kenzo kepada pria bermanik mata berwarna Hazel di depannya. Otak yang memiliki pembawaan sedikit kaku tetapi faktanya tidak selalu yang tampak dari luar, bagi Kenzo, William cukup ramah. Ia memang telah berpura-pura mengalah agar Alexander mendapatkan kemenangan dua kali dalam bermain catur meskipun tidak sepenuhnya Kenzo berpura-pura lemah karena bagaimanapun juga permainan catur Alexander tidaklah buruk. Tetapi, tetap saja calon mertuanya itu bukanlah lawan yang seimbang baginya. William tersenyum simpul. "Kau mengalah dua kali dari ayahku, kau hanya ingin mengetahui kemampuan permainan catur ayahku,

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   39. New Rival

    Alexander dan Kenzo duduk berseberangan, fokus kedua orang itu sepenuhnya tertuju pada papan catur yang ada di atas meja di antara mereka. “Kenapa tidak menyerah saja?” tanya Alexander, nada bicaranya sarat dengan ejekan. Bibir Kenzo mengulas senyum tipis, sudah hari ketiga dan ia belum mengalahkan Alexander. “Jika aku menyerah, putrimu akan patah hati.” Alexander tersenyum miring. “Gilbert akan dengan cepat mengobati patah hati putriku.” Kenzo memindahkan ke arah depan salah satu bidak caturnya. “Aku tidak yakin jika Gilbert mampu mengambil hati Alexa.” Alexander juga tahu itu, ia sadar sepenuhnya jika Gilbert tidak mampu mengambil hati Alexa selama bertahun-tahun. “Kau memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi, ya?” “Bukankah itu bagus?” Alexander memindahkan salah satu bidak caturnya ke arah samping. “Kau sangat percaya diri dalam segala hal, sayangnya aku masih belum bisa percaya dengan kemampuanmu menjaga putriku kelak.” “Aku tidak menjanjikan apa pun kepadamu, juga ke

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   38. Long Time No See

    Satu tangan Kenzo meraih telapak tangan Alexa, ia menautkan jari jemari mereka, dan saling menggenggam sepanjang jalan sementara satu tangannya memegang kemudi mobil. Sesekali Kenzo mendaratkan kecupan-kecupan kecil di jemari gadis yang sangat ia cintai. “Sayangku,” ucap Kenzo saat mobil telah berhenti dengan sempurna di basemen parkir hotel yang dikelola oleh Alexa. Ia melepaskan seat belt-nya juga seat belt yang dikenakan oleh Alexa, matanya lalu menatap Alexa dengan tatapan serius. “Aku tidak akan melarang menjadi apa pun yang kau inginkan nanti setelah kita menikah. Tetapi, apa pun jalan yang kau ambil, kau harus bertanggung jawab,” Alexa mengangguk, ia mengerti apa yang Kenzo maksudkan. Benar apa yang Kenzo ucapkan, ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia kerjakan. Apa lagi menyangkut masalah pekerjaan, jika ia mengundurkan diri secara mendadak, bukan hanya membuat jadwal William berantakan karena bertambahnya pekerjaan baru tetapi seluruh jajaran stafnya juga akan ke

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   13. Heart Beating

    “Aaa....” Alexa mendekatkan sendok yang berisi es krim penuh ke mulut Kenzo. Pria itu tertegun, ia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menatap es krim yang berada sangat dekat dari bibirnya lalu menatap Alexa dengan perasaan geli. “Tenang saja, aku membeli dua es krim. Jadi, sendoknya bukan bekas

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   12. Like a Fairy

    "Selamat pagi, Ken." Luna mengecup sebelah pipi Kenzo, ekor matanya mengarah kepada Alexa yang duduk tepat di depan Kenzo. "Selamat pagi." Kenzo membalas sapaan Luna tanpa membalas kecupan kekasihnya. Pagi itu suasana di kamar yang mereka tempati teramat sangat kaku, entah hanya Kenzo yang merasa

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   11. Back to London

    Luna membeku di ambang pintu ketika mendapati kekasihnya membukakan pintu kamar hotel untuknya, pria itu mengenakan celaan pendek kain di padukan dengan kaos longgar berwarna putih. Rambutnya tampak berantakan dan ia beberapa kali menguap, tampaknya ia letih dan sangat mengantuk. Tetapi, bukan itu

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   9. Playing Together

    Seperti biasa Kenzo bangun lebih awal. Setelah melakukan olah raga ringan, ia membersihkan tubuhnya lalu bergegas pergi menuju perusahaan tanpa menyantap sarapannya. Ia bisa mendapatkan sarapan di perjalanan atau meminta sekretarisnya untuk membelinya. Yang jelas ia tidak ingin bertemu Alexa pagi i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status