Share

2. First Meet

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-17 19:03:18

2. First Meet

Memiliki tubuh kecil dan tinggi badan yang tidak seberapa bukanlah pilihannya, Alexa juga tidak mempermasalahkannya. Tetapi, terkadang tinggi badannya itu mengganggu juga. Dari semua saudaranya, mengapa hanya dirinya yang dikaruniai tubuh mungil? Mengapa ia harus mewarisi gen ibunya yang tidak tumbuh tinggi? Parahnya ibunya malah memiliki tinggi badan 2 cm lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya.

Bukan hanya satu atau dua kali ia dianggap anak sekolah menengah pertama. Padahal usianya telah menginjak sembilan belas tahun, ia adalah seorang mahasiswi ilmu ekonomi di Universitas of Cambridge, London. Universitas itu adalah salah satu universitas terbaik yang berada di peringkat kedua terbaik di Inggris dan berada di peringkat keenam di dunia.

Kesulitan lain adalah saat ini ia harus mengenakan sepatu dengan hak di atas 10 centimeter karena tidak mungkin mengenakan sepatu sneaker atau sepatu boots untuk menghadiri pesta pernikahan Grace dan William. Meskipun sepatu yang ia kenakan cukup nyaman karena Grace mendesain khusus untuknya, tetap saja Alexa kesulitan untuk melangkah dan bertahan lama berdiri di atas sepatu dengan tumit runcing seperti ujung tombak.

"Gabe...," rengek Alexa sambil menarik ujung jas yang dikenakan Gabriel. Saat itu mereka berdua masih berada di tengah-tengah acara pesta pernikahan Grace dan William.

Gabriel sudah biasa menghadapi rengekan manja Alexa, sepupunya. Alexa memiliki empat saudara, tetapi ia lebih sering merengek kepada Gabriel. Padahal jika dipikir-pikir Gabriel memiliki adik yang usianya hanya terpaut dua tahun dari Alexa, kenapa Alexa tidak menempel kepada Wilson saja?

"Apa lagi?" tanya Gabriel yang tampak enggan.

Meskipun merasa terganggu nyatanya Gabriel tidak bisa mengabaikan Alexa. Mungkin karena ia tidak memiliki adik perempuan, nalurinya sebagai anak pertama membuatnya bersikap lembut terhadap Alexa dan memperlakukan gadis itu selayaknya adik kandungnya.

"Kau belum diizinkan," ucap Gabriel yang tahu dengan apa maksud Alexa. Gadis itu menatap gelas berisi wine di tangannya.

"Wilson meminumnya," protes Alexa, bibirnya tampak memberengut.

Gabriel meletakkan gelas di tangannya lalu dengan gerakan lembut mengelus rambut di atas kepala Alexa. "Wilson dua puluh satu tahun."

"Kenapa begitu rumit peraturan di keluarga kita?"

Gabriel tersenyum lembut kepada Alexa, pria itu merogoh saku jasnya dan menggeser layar ponselnya, mengamati barisan huruf yang tertera di sana kemudian membalas pesan. Ia melirik jam di bagian atas layar ponselnya lalu menekan kunci layar ponselnya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam sakunya kembali.

"Kau saja yang berpikir begitu, kami tidak masalah dengan aturan itu," ucap Gabriel sambil sedikit menggelengkan kepalanya.

Di dalam keluarga besar mereka ada sebuah aturan, di mana semua anak-anak di keluarga Johanson tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi minuman beralkohol hingga usia dia puluh satu tahun. Awalnya hanya keluarga Johanson saja yang menerapkan aturan tersebut, tetapi keluarga Smith juga ikut menerapkannya.

Menjadi Alexa bukan hanya harus mematuhi aturan keluarga yang bisa dibilang sangat ketat, tetapi juga ia harus menghadapi keposesifan ayahnya yang memperlakukannya bak seorang putri di mana dirinya bahkan memiliki dua bodyguard pribadi yang terus menguntitnya ke mana pun dirinya pergi dan Alexa benci itu.

"Ayo, ikut denganku," ucap Gabriel.

"Ke mana?"

"Ke lounge, bukankah kau ingin melihat tempat itu?" Gabriel menaikkan sebelah alisnya.

Bibir Alexa sedikit menganga, sorot tampak matanya berkilat. "Kau serius?"

"Apa aku terlihat sedang bercanda?"

"Bagaimana jika Daddy tahu?"

"Aku yang akan bertanggung jawab, lagi pula hanya sepuluh menit dan kau juga kupastikan hanya meminum orange juice di sana." Gabriel lalu merengkuh bahu Alexa menggunakan lengannya lalu mengajak gadis itu keluar dari tempat di selenggarakannya pesta pernikahan paling mewah tahun ini di London.

Sesampainya di lounge, Alexa mengernyit seraya mengamati desain lounge yang ia kira adalah tempat yang menakjubkan, tetapi nyatanya hanya ada meja dan sofa, meja bartender dan kursi tinggi di depan meja bartender juga sebuah panggung live music yang tidak begitu besar. Dibandingkan dengan tempat itu bahkan masih mewah ruang mini bar milik keluarganya.

"Sudah terjawab penasaranmu, 'kan?"

"Ck, sama sekali tidak menarik," ucapnya dengan nada sinis.

Gabriel terkekeh, merasa geli karena kepolosan Alexa tempat itu masih sepi karena khusus live music belum dimulai, waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam, terlalu dini untuk orang-orang bersantai dan mengonsumsi minuman beralkohol.

"Teman-temanmu itu berbohong, aku yakin jika kau pergi ke club malam, tempatnya tidak lebih baik dari ini, kau pasti tidak akan merasa nyaman," ucap Gabriel meyakinkan Alexa.

"Kalau begitu, ayo pergi dari sini," ucap Alexa sambil menarik lengan Gabriel.

Gabriel menahan gadis itu. "Tunggu, aku harus bertemu temanku sebentar."

Alexa menatap Gabriel dengan bibir tampak mengerucut. "Sepuluh menit. Oke?"

Gabrile mengangguk, ia melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa di mana seorang pria duduk sementara Alexa masih menempel di lengan Gabriel dengan cara yang sangat posesif.

"Ken...." Gabriel menyapa pria yang sedang duduk sambil menatap layar ponsel di tangannya.

Pria itu mendongakkan wajahnya lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan berdiri.

"Gabe, apa kabar?" sapa pria yang bernama Kenzo.

Kenzo dan Gabriel, mereka telah bersahabat baik sejak Kenzo menimba ilmu di London dan karena telah selesai dengan pendidikannya, Kenzo kembali ke negara asalnya. Tetapi, setiap kali Kenzo mengunjungi London, ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Gabriel meski hanya duduk beberapa menit sambil menikmati secangkir kopi.

"Ah, kabarku sangat baik, bagaimana denganmu?" tanya Gabriel. "Oh, iya. Perkenalkan dia sepupuku, Alexandria Johanson."

Kenzo tersenyum, matanya menatap menatap Alexa. "Hai, senang bertemu denganmu," katanya.

"Hai." Hanya itu yang keluar dari bibir Alexa. Malas, tidak tertarik untuk berkenalan.

"Namanya Kenzo," ucap Gabriel dan Alexa hanya mengangguk.

Kedua sahabat itu mulai berbincang dalam obrolan yang tidak Alexa mengerti dan tidak ingin dia mengerti, ia meraih ponsel yang berada di dalam clutch bag miliknya lalu memiringkan posisi ponselnya, bermain game. Ia bahkan tidak memedulikan ketika Gabriel menempelkan sedotan ke bibirnya, ia hanya melirik menggunakan ekor matanya lalu menghisap orange juice melalui sedotannya lalu kembali melanjutkan kesibukannya bermain game.

Sekilas Kenzo melirik ke arah Alexa. Anak manja. Itulah kesan yang langsung terpatri di otaknya. Tiba-tiba otak Kenzo sibuk menilai Alexa yang tampak sedikit menyebalkan dan terlalu acuh. Memang sedikit menggemaskan, tetapi jika Kenzo harus menghadapi gadis itu sudah pasti ia tidak akan memiliki kesabaran seperti Gabriel.

Bersambung.

Jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan RATE.

Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   Epilogue

    Epilogue"Luna mengirimkan beberapa hadiah untuk Ryu," ujar Alexa, matanya tertuju pada layar ponselnya yang berisi pesan dari Luna. Yamada Ryuu adalah nama putra pertama mereka yang baru saja satu Minggu yang laku dilahirkan oleh Alexa. Bayi mungil itu tampak gemuk dan sehat, Ryuu juga memiliki hobi menangis dan tidak penyabar saat menginginkan air susu ibunya saat merasa lapar. "Sampaikan salam kami untuknya," ujar Kenzo yang sedang menggendong Ryuu. "Bagaimana perkembangan terapinya?" "Ia mengatakan operasi pertama beberapa bulan yang lalu sangat membantu, Minggu ini ia mulai belajar melangkahkan kakinya." Kenzo menyentuh pipi putranya menggunakan ujung hidungnya. "Syukurlah." Pada akhirnya, baik Alexa maupun Luna, keduanya memilih saling berdamai dengan keadaan. Terutama Luna, wanita malang itu memilih menerima kenyataan jika ia harus melepaskan Kenzo, juga kesempurnaannya raganya. Namun, Tuhan tidak tinggal diam karena pada akhirnya, mungkin dengan cara itulah ia bert

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   42. End

    Ending "Ayo, tunda pernikahan kita." Alexa menatap bayangan dirinya di cermin. Mereka berada di dalam kamar Kenzo, di kediaman Edward, kakek Kenzo. Mereka baru mengetahui kehamilan Alexa dua hari yang lalu, kandungan Alexa telah berusia enam Minggu. Kenzo menyipitkan kedua matanya, pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi dan Alexa mengatakan ingin menundanya. Tentu saja ia keberatan. "Sayangku, jangan bermain-main." Alexa berbalik menatap Kenzo dengan tatapan kesal. "Kau menghamiliku. Lihat, aku sangat gemuk sekarang," ucapnya terdengar sangat kesal sabil setengah merentangkan tangannya dan matanya menatap tubuhnya yang sedikit bertambah berat. "Aku tidak ingin foto pernikahanku terlihat tidak sempurna." Kenzo menjepitkan sejumput rambut ke belakang telinga Alexa. "Dengar, sayangku. Aku tidak masalah menikahimu kapan saja. Tapi, jika kita menikah menunggu calon buah hati kita lahir, orang tuamu tidak akan setuju." Juga orang tuaku tentunya, terutama ibuku yang su

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   41. My Benefit

    41. My BenefitBersamaan dengan itu Kenzo menginjak rem mobil yang ia kemudikan, pria itu dengan tenang keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Alexa dan Gilbert. "Jiel," sapa Kenzo. "Lama tidak berjumpa." Gilbert tersenyum. "Selamat atas pertunangan kalian." "Terima kasih." Kenzo menarik pinggang Alexa, merapatkan tubuh mereka seolah ia sedang menegaskan jika Alexa hanya miliknya. Pria itu mengecup pelipis sebelah kanan Alexa. "Selamat pagi, Sayang." "Selamat pagi, Ken." Alexa tersenyum manis, ia harus mendongak untuk menatap wajah Kenzo karena perbedaan tinggi mereka yang jauh. "Jiel, sayang sekali, aku harus pergi bekerja," ucap Alexa dengan nada tidak nyaman karena ia harus meninggalkan Gilbert. "Kita akan mengobrol lagi nanti, oke?" Gilbert memasukkan tangannya ke saku jaketnya. "Jangan khawatir, aku akan berada di sini satu Minggu. Kita memiliki banyak waktu." "Good," ujar Alexa. Gilbert melirik sekilas ke arah Kenzo. "Bagaimana jika siang ini kita makan sian

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   40. Your Fault

    40. Your Fault"Bermain denganku tidak perlu berpura-pura mengalah," ucap William. Seusai acara makan malam di kediaman keluarga Johanson, Alexander meminta William menggantikannya bermain catur bersama Kenzo. William dengan senang hati menggantikan ayahnya bermain catur karena ia juga ingin mengenal pria yang akan menjadi suami dari adiknya, Alexa. "Sama sekali tidak," sahut Kenzo kepada pria bermanik mata berwarna Hazel di depannya. Otak yang memiliki pembawaan sedikit kaku tetapi faktanya tidak selalu yang tampak dari luar, bagi Kenzo, William cukup ramah. Ia memang telah berpura-pura mengalah agar Alexander mendapatkan kemenangan dua kali dalam bermain catur meskipun tidak sepenuhnya Kenzo berpura-pura lemah karena bagaimanapun juga permainan catur Alexander tidaklah buruk. Tetapi, tetap saja calon mertuanya itu bukanlah lawan yang seimbang baginya. William tersenyum simpul. "Kau mengalah dua kali dari ayahku, kau hanya ingin mengetahui kemampuan permainan catur ayahku,

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   39. New Rival

    Alexander dan Kenzo duduk berseberangan, fokus kedua orang itu sepenuhnya tertuju pada papan catur yang ada di atas meja di antara mereka. “Kenapa tidak menyerah saja?” tanya Alexander, nada bicaranya sarat dengan ejekan. Bibir Kenzo mengulas senyum tipis, sudah hari ketiga dan ia belum mengalahkan Alexander. “Jika aku menyerah, putrimu akan patah hati.” Alexander tersenyum miring. “Gilbert akan dengan cepat mengobati patah hati putriku.” Kenzo memindahkan ke arah depan salah satu bidak caturnya. “Aku tidak yakin jika Gilbert mampu mengambil hati Alexa.” Alexander juga tahu itu, ia sadar sepenuhnya jika Gilbert tidak mampu mengambil hati Alexa selama bertahun-tahun. “Kau memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi, ya?” “Bukankah itu bagus?” Alexander memindahkan salah satu bidak caturnya ke arah samping. “Kau sangat percaya diri dalam segala hal, sayangnya aku masih belum bisa percaya dengan kemampuanmu menjaga putriku kelak.” “Aku tidak menjanjikan apa pun kepadamu, juga ke

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   38. Long Time No See

    Satu tangan Kenzo meraih telapak tangan Alexa, ia menautkan jari jemari mereka, dan saling menggenggam sepanjang jalan sementara satu tangannya memegang kemudi mobil. Sesekali Kenzo mendaratkan kecupan-kecupan kecil di jemari gadis yang sangat ia cintai. “Sayangku,” ucap Kenzo saat mobil telah berhenti dengan sempurna di basemen parkir hotel yang dikelola oleh Alexa. Ia melepaskan seat belt-nya juga seat belt yang dikenakan oleh Alexa, matanya lalu menatap Alexa dengan tatapan serius. “Aku tidak akan melarang menjadi apa pun yang kau inginkan nanti setelah kita menikah. Tetapi, apa pun jalan yang kau ambil, kau harus bertanggung jawab,” Alexa mengangguk, ia mengerti apa yang Kenzo maksudkan. Benar apa yang Kenzo ucapkan, ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia kerjakan. Apa lagi menyangkut masalah pekerjaan, jika ia mengundurkan diri secara mendadak, bukan hanya membuat jadwal William berantakan karena bertambahnya pekerjaan baru tetapi seluruh jajaran stafnya juga akan ke

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   37. Try It

    “Kau yakin bisa mengalahkan Daddy bermain catur?” Alexa menatap Kenzo dengan tatapan khawatir. Ia sengaja datang pagi-pagi ke kediaman kakek Kenzo untuk menemui kekasihnya setelah mendengar bahwa ayahnya memberikan syarat yang tidak masuk akal kepada Kenzo. Mengalahkannya bermain catur selama tuju

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   36. Protecting His Daughter

    Alexa membenamkan kepalanya di kursinya tanpa memedulikan Kenzo yang terus menatapnya dengan tatapan menggodanya, untuk apa mereka repot-repot bercinta di mobil kalau akhirnya Kenzo mengikutinya pergi ke London menggunakan jet pribadi milik keluarga Yamada. Meski sebenarnya ia sangat gembira karena

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   32. Let You Go

    "Kau membohongiku!" Alexa bersungut-sungut ketika mereka tiba di sebuah rumah bergaya bangunan Jepang asli. Rumah itu terletak di pinggir jalan yang bisa di lalui kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, letaknya tak jauh dari perkebunan teh yang telah mereka lewati sejauh lima kilo met

  • NAUGHTY BABY ON MY BED   28. 3 Years Ago

    "Aku seperti orang bodoh, ya?" Alexa menerima tisu dari tangan Kenzo untuk mengelak air mata yang berderai di pipinya."Aku tidak mengatakannya," ujar Kenzo."Jelas sekali, di sini akulah gadis yang paling bodoh di dunia," ucap Alexa tersengal-sengal. Ia sedang merasa menjadi gadis yang paling bod

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status