FAZER LOGIN2. First Meet
Memiliki tubuh kecil dan tinggi badan yang tidak seberapa bukanlah pilihannya, Alexa juga tidak mempermasalahkannya. Tetapi, terkadang tinggi badannya itu mengganggu juga. Dari semua saudaranya, mengapa hanya dirinya yang dikaruniai tubuh mungil? Mengapa ia harus mewarisi gen ibunya yang tidak tumbuh tinggi? Parahnya ibunya malah memiliki tinggi badan 2 cm lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya. Bukan hanya satu atau dua kali ia dianggap anak sekolah menengah pertama. Padahal usianya telah menginjak sembilan belas tahun, ia adalah seorang mahasiswi ilmu ekonomi di Universitas of Cambridge, London. Universitas itu adalah salah satu universitas terbaik yang berada di peringkat kedua terbaik di Inggris dan berada di peringkat keenam di dunia. Kesulitan lain adalah saat ini ia harus mengenakan sepatu dengan hak di atas 10 centimeter karena tidak mungkin mengenakan sepatu sneaker atau sepatu boots untuk menghadiri pesta pernikahan Grace dan William. Meskipun sepatu yang ia kenakan cukup nyaman karena Grace mendesain khusus untuknya, tetap saja Alexa kesulitan untuk melangkah dan bertahan lama berdiri di atas sepatu dengan tumit runcing seperti ujung tombak. "Gabe...," rengek Alexa sambil menarik ujung jas yang dikenakan Gabriel. Saat itu mereka berdua masih berada di tengah-tengah acara pesta pernikahan Grace dan William. Gabriel sudah biasa menghadapi rengekan manja Alexa, sepupunya. Alexa memiliki empat saudara, tetapi ia lebih sering merengek kepada Gabriel. Padahal jika dipikir-pikir Gabriel memiliki adik yang usianya hanya terpaut dua tahun dari Alexa, kenapa Alexa tidak menempel kepada Wilson saja? "Apa lagi?" tanya Gabriel yang tampak enggan. Meskipun merasa terganggu nyatanya Gabriel tidak bisa mengabaikan Alexa. Mungkin karena ia tidak memiliki adik perempuan, nalurinya sebagai anak pertama membuatnya bersikap lembut terhadap Alexa dan memperlakukan gadis itu selayaknya adik kandungnya. "Kau belum diizinkan," ucap Gabriel yang tahu dengan apa maksud Alexa. Gadis itu menatap gelas berisi wine di tangannya. "Wilson meminumnya," protes Alexa, bibirnya tampak memberengut. Gabriel meletakkan gelas di tangannya lalu dengan gerakan lembut mengelus rambut di atas kepala Alexa. "Wilson dua puluh satu tahun." "Kenapa begitu rumit peraturan di keluarga kita?" Gabriel tersenyum lembut kepada Alexa, pria itu merogoh saku jasnya dan menggeser layar ponselnya, mengamati barisan huruf yang tertera di sana kemudian membalas pesan. Ia melirik jam di bagian atas layar ponselnya lalu menekan kunci layar ponselnya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam sakunya kembali. "Kau saja yang berpikir begitu, kami tidak masalah dengan aturan itu," ucap Gabriel sambil sedikit menggelengkan kepalanya. Di dalam keluarga besar mereka ada sebuah aturan, di mana semua anak-anak di keluarga Johanson tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi minuman beralkohol hingga usia dia puluh satu tahun. Awalnya hanya keluarga Johanson saja yang menerapkan aturan tersebut, tetapi keluarga Smith juga ikut menerapkannya. Menjadi Alexa bukan hanya harus mematuhi aturan keluarga yang bisa dibilang sangat ketat, tetapi juga ia harus menghadapi keposesifan ayahnya yang memperlakukannya bak seorang putri di mana dirinya bahkan memiliki dua bodyguard pribadi yang terus menguntitnya ke mana pun dirinya pergi dan Alexa benci itu. "Ayo, ikut denganku," ucap Gabriel. "Ke mana?" "Ke lounge, bukankah kau ingin melihat tempat itu?" Gabriel menaikkan sebelah alisnya. Bibir Alexa sedikit menganga, sorot tampak matanya berkilat. "Kau serius?" "Apa aku terlihat sedang bercanda?" "Bagaimana jika Daddy tahu?" "Aku yang akan bertanggung jawab, lagi pula hanya sepuluh menit dan kau juga kupastikan hanya meminum orange juice di sana." Gabriel lalu merengkuh bahu Alexa menggunakan lengannya lalu mengajak gadis itu keluar dari tempat di selenggarakannya pesta pernikahan paling mewah tahun ini di London. Sesampainya di lounge, Alexa mengernyit seraya mengamati desain lounge yang ia kira adalah tempat yang menakjubkan, tetapi nyatanya hanya ada meja dan sofa, meja bartender dan kursi tinggi di depan meja bartender juga sebuah panggung live music yang tidak begitu besar. Dibandingkan dengan tempat itu bahkan masih mewah ruang mini bar milik keluarganya. "Sudah terjawab penasaranmu, 'kan?" "Ck, sama sekali tidak menarik," ucapnya dengan nada sinis. Gabriel terkekeh, merasa geli karena kepolosan Alexa tempat itu masih sepi karena khusus live music belum dimulai, waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam, terlalu dini untuk orang-orang bersantai dan mengonsumsi minuman beralkohol. "Teman-temanmu itu berbohong, aku yakin jika kau pergi ke club malam, tempatnya tidak lebih baik dari ini, kau pasti tidak akan merasa nyaman," ucap Gabriel meyakinkan Alexa. "Kalau begitu, ayo pergi dari sini," ucap Alexa sambil menarik lengan Gabriel. Gabriel menahan gadis itu. "Tunggu, aku harus bertemu temanku sebentar." Alexa menatap Gabriel dengan bibir tampak mengerucut. "Sepuluh menit. Oke?" Gabrile mengangguk, ia melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa di mana seorang pria duduk sementara Alexa masih menempel di lengan Gabriel dengan cara yang sangat posesif. "Ken...." Gabriel menyapa pria yang sedang duduk sambil menatap layar ponsel di tangannya. Pria itu mendongakkan wajahnya lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan berdiri. "Gabe, apa kabar?" sapa pria yang bernama Kenzo. Kenzo dan Gabriel, mereka telah bersahabat baik sejak Kenzo menimba ilmu di London dan karena telah selesai dengan pendidikannya, Kenzo kembali ke negara asalnya. Tetapi, setiap kali Kenzo mengunjungi London, ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Gabriel meski hanya duduk beberapa menit sambil menikmati secangkir kopi. "Ah, kabarku sangat baik, bagaimana denganmu?" tanya Gabriel. "Oh, iya. Perkenalkan dia sepupuku, Alexandria Johanson." Kenzo tersenyum, matanya menatap menatap Alexa. "Hai, senang bertemu denganmu," katanya. "Hai." Hanya itu yang keluar dari bibir Alexa. Malas, tidak tertarik untuk berkenalan. "Namanya Kenzo," ucap Gabriel dan Alexa hanya mengangguk. Kedua sahabat itu mulai berbincang dalam obrolan yang tidak Alexa mengerti dan tidak ingin dia mengerti, ia meraih ponsel yang berada di dalam clutch bag miliknya lalu memiringkan posisi ponselnya, bermain game. Ia bahkan tidak memedulikan ketika Gabriel menempelkan sedotan ke bibirnya, ia hanya melirik menggunakan ekor matanya lalu menghisap orange juice melalui sedotannya lalu kembali melanjutkan kesibukannya bermain game. Sekilas Kenzo melirik ke arah Alexa. Anak manja. Itulah kesan yang langsung terpatri di otaknya. Tiba-tiba otak Kenzo sibuk menilai Alexa yang tampak sedikit menyebalkan dan terlalu acuh. Memang sedikit menggemaskan, tetapi jika Kenzo harus menghadapi gadis itu sudah pasti ia tidak akan memiliki kesabaran seperti Gabriel. Bersambung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan RATE. Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis. 🍒Alexa mengentakkan kakinya beberapa kali di lantai, ia merasa sangat kesal kepada Kenzo karena di matanya, pria itu banyak sekali memiliki dosa kepadanya. Ya, dosa. Pertama, tadi malam Kenzo membiarkannya tidur sendiri. Apa pria itu tidak tahu jika Alexa harus meminta bantuan Grace untuk menemaninya mengobrol melalui panggilan video hingga ia tertidur, padahal Alexa telah berjanji kepada orang tuanya untuk tidak merepotkan siapapun. Tetapi, Kenzo tetaplah pengecualian. Pria itu boleh direpotkan. Ia ingin sekali Kenzo datang ke kamarnya. Kedua, Kenzo menghilang seharian dan baru kembali saat makan malam tiba, Alexa yakin jika Kenzo menemui Luna, kekasihnya.Alexa membenci itu, sangat membencinya. Rasanya ia ingin sekali menyingkirkan Luna sejauh mungkin dari Kenzo. Gadis itu adalah pengganggu liburannya yang menyenangkan bersama Kenzo, liburan yang semula berjalan sesuai keinginannya, tetapi kemunculan Luna membuat segalanya menjadi tidak menarik lagi di mata Alexa. Gadis itu naik ke
"Ken, aku telah memikirkannya," ucap Luna yang duduk di samping Kenzo. Mereka berada di sebuah bangku taman tak jauh dari di area apartemen yang di tempati Luna.Kenzo menatap dua orang yang sedang menikmati sore itu di taman sambil sang pria mendorong stroller bayi sementara si wanita tampak sibuk dengan ponselnya mengambil foto suami dan anaknya. Wanita itu tampak begitu ceria, begitu juga sang pria. Ia tidak keberatan meski si wanita memerintahkannya berpose berulang kali untuk mendapatkan foto terbaik bersama anaknya yang masih bayi.Kenzo meninggalkan bandara karena ayahnya dan Alexa tidak ada di daftar penumpang pesawat yang ia cek dan ketika memeriksa GPS ponsel ayahnya dan Alexa, ternyata kedua orang itu berada di tempat tinggal kakak tirinya. Kenzo benar-benar telah dibodohi oleh ibunya sendiri, hingga merasa sangat geram. Ia tidak langsung kembali ke tempat tinggal orang tuanya tetapi, ia memilih pergi ke perusahaan. Yang ia perlukan saat itu hanya ingin sendiri agar bisa be
Pagi di Tokyo, karena akhir pekan Kenzo tidak pergi ke perusahaan. Ia melatih fisiknya lebih lama dari biasanya sambil menenangkan perasaan kalut yang menderanya. Tadi malam Alexa tidak mengganggunya, dalam artian gadis itu benar-benar mencoba tidur sendirian di kamarnya. Seharusnya ia merasa tenang karena tidak harus meninabobokan bayi besar, faktanya ia justru tidak bisa tenang. Berulang kali ia mengecek Alexa di kamarnya dan gadis manja itu terlihat baik-baik saja meski ia menendang selimut hingga terjatuh dari tempat tidur. "Mom, Alexa telah bangun?" tanya Kenzo sambil menarik kursi dia ruang makan seusai membersihkan tubuhnya setelah berolah raga. "Kenapa?" Kenzo meraih tempat roti, membukanya lalu mengambil dua lembar roti gandum lalu meletakan di atas piring. "Aku mengetuk kamarnya, tidak ada jawaban," katanya sambil meraih tempat selai. Livia yang sedang menyusun bunga segar di dalam vas menghentikan gerakannya, wanita itu menarik kursi tepat di seberang putra bungsunya ya
Sepanjang pagi Alexa terus bungkam membuat Kenzo merasa sedikit kebingungan karena gadis itu tiba-tiba kehilangan keceriaannya, apa lagi setelah sarapan Alexa tiba-tiba berubah pikiran dan meminta kembali ke Tokyo. Parahnya lagi gadis itu juga merengek ingin kembali ke London hari itu juga. Berulang kali Kenzo menggoda Alexa agar suasana kaku di antara mereka melunak, tetapi semua usaha Kenzo belum membuahkan hasil. Seperti saat ini contohnya, Alexa terus menatap ke arah luar kereta dengan bibir terkatup rapat. Kenzo menduga gadis itu merasa malu karena tadi malam mereka berciuman penuh gairah dan pastinya Kenzo nyaris lepas kendali jika ia tidak memikirkan risikonya. Alexa adalah seorang perawan dan ia adalah putri seorang konglomerat yang tidak bisa diusik. Setelah Alexa tertidur Kenzo harus menyelesaikan gairahnya sendiri di kamar mandi sambil membayangkan bagaimana hangatnya lidah Alexa dan bagaimana kenyalnya dada Alexa yang sempat ia remas perlahan. Sedangkan Alexa, ia merasa
Kenzo keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang melingkar rendah di pinggang, menampakkan dadanya yang bidang. Ia tidak mendapati Alexa berada di atas tempat tidur seperti biasa, biasanya gadis itu bermain game sambil duduk bersila di sana. Kenzo menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati Alexa tampak duduk dengan posisi setengah meringkuk di soda. Pria itu bergegas menghampirinya dan sedikit terkejut karena gadis itu tampaknya tertidur. Kenzo menekuk kakinya, matanya mengamati wajah Alexa yang tampak begitu rapuh setiap kali gadis itu tertidur. Bukan hanya kali ini ia mengagumi wajah Alexa, mengagumi indahnya alis gadis itu, mengagumi bulu matanya yang tebal seindah kupu-kupu dan yang utama adalah mengagumi bibirnya yang tampak ranum. Perlahan Kenzo mengangkat tubuh Alexa untuk memindahkannya ke atas tempat tidur. Sayangnya hawa dingin dari kulit Kenzo seusai mandi rupanya membangunkan Alexa, gadis itu membuka matanya. Jarak wajah mereka sangat dekat
“Aaa....” Alexa mendekatkan sendok yang berisi es krim penuh ke mulut Kenzo. Pria itu tertegun, ia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menatap es krim yang berada sangat dekat dari bibirnya lalu menatap Alexa dengan perasaan geli. “Tenang saja, aku membeli dua es krim. Jadi, sendoknya bukan bekas dari mulutku,” ucap Alexa seolah ia menebak isi pikiran Kenzo. Kenzo membuka mulutnya, melahap es krim yang disodorkan Alexa, rasa manis langsung menjalari rongga mulutnya. Manis dan lembut, mungkin seperti bibir Alexa. “Aku tidak keberatan jika itu bekasmu,” ucapnya menggoda Alexa. “Kata Mommy, coklat bisa memperbaiki suasana hati kita yang kacau,” ucap Alexa sambil kembali menyendok es krim lalu menyodorkan kepada Kenzo. Kenzo yang sedang menerima suapan es krim buru-buru menelan es krim di mulutnya tanpa menikmati terlebih dahulu. “Jadi, kau sedang menghiburku?” “Anggap saja aku sedang menebus kesalahanku, kau mungkin akan di putuskan oleh Luna gara-gara ulahku,” jawab Alexa sambil me







