LOGIN3. A Little girl
Alexa mengamati sekeliling, ia memastikan ayahnya sedang tidak memedulikannya, kemudian ia juga memastikan keberadaan Gabriel. Sepupunya itu tampak sedang berbincang dengan anggota keluarga yang lain. Sedangkan bodyguard-nya tentu saja tidak ada karena saat itu masih di dalam acara pesta pernikahan. Gadis itu mengendap-endap menuju keluar ruangan untuk kembali ke lounge. Setahu Alexa, teman-temannya biasanya pergi berpesta tengah malam, bukan pukul tujuh malam. Jadi, ia ingin memastikan tempat itu sekali lagi, ia tadi hanya berpura-pura pada Gabriel mengakui kalau ia tidak merasa penasaran lagi. Setelah berhasil keluar dari tempat pesta, Alexa melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju tangga yang melingkar lalu menuju lift. Ia menunduk untuk menghindari beberapa orang wartawan yang diizinkan untuk meliput berita pernikahan Grace dan William. William adalah kakak kandung Alexa sedangkan Grace adalah putri angkat di keluarga Johanson, mereka saling jatuh cinta kemudian menikah. Pernikahan mereka menjadi incaran para pemburu berita karena Grace berkecimpung dalam dunia hiburan juga seorang perancang sepatu, di luar itu keluarganya adalah keluarga terpandang yang sehingga menjadi incaran untuk dijadikan berita di London ditambah lagi Johanson Coorporation memiliki sebuah anak perusahaan yang bergerak di bidang entertainment bernama Glamour Entertainment. Baru saja lift terbuka, Alexa menubruk seseorang dan payahnya lagi gaunnya tersangkut di kancing jas pria yang ia tubruk. "Sial!" Umpat Alexa dengan suara pelan. Gadis itu mendongakkan wajahnya dan terkejut mendapati siapa pria yang ia tubruk. Pria itu adalah teman Gabriel yang ia sendiri tidak mengingat namanya. "Alexa?" Sama halnya dengan Alexa, Kenzo pun tidak menyangka jika mereka bertemu kembali. "Maaf, gaunku, tersangkut. Bisakah kau diam sebentar?" Kenzo mengalihkan pandangannya, benar gaun Alexa tersangkut di kancing lengan jasnya. Bagaimana bisa? Kenzo menggeser posisi mereka yang berada di depan pintu masuk lift, sayangnya ia salah mengambil langkah. Seharusnya ia membawa Alexa masuk ke dalam lift bukan malah keluar dari lift dan berada di depan wartawan seperti ini. Diam-diam ia mengutuk kesialannya. Lounge berada di lantai bawah, kebetulan ia melupakan sesuatu dan hendak menemui Gabriel untuk menyerahkan sesuatu yang ia simpan di saku jasnya. Saat berbincang dengan Gabriel tadi, mereka terlalu asyik dan sedikit terburu-buru membuat Kenzo melupakan bahwa selain bertemu sahabatnya itu, ia juga hendak memberikan benda yang diminta oleh Gabriel. Saat Alexa menabraknya otomatis Kenzo refleks menangkap pinggang gadis kecil itu agar gadis itu tidak kehilangan keseimbangannya. Tetapi, ia tidak menyangka jika niat baiknya justru berujung dengan kancing lengan jas yang ia kenakan tersangkut di gaun yang dikenakan Alexa, tepat di bagian pinggangnya hingga membuat terkesan ia sedang memeluk Alexa dengan cara yang sangat posesif. Posisi yang tidak menguntungkan karena beberapa kilatan lampu blitz kamera mulai mengarah kepada mereka. "Celaka...," gumam Kenzo. Benar-benar sial, mereka terlihat seperti pasangan yang tertangkap basah oleh wartawan. Kenzo tahu siapa keluarga Johanson karena ia sangat dekat dengan Gabriel. Jika ia menarik paksa lengannya dari gaun yang Alexa kenakan bukan tidak mungkin gaun itu akan sobek karena dari yang Kenzo lihat, bahan gaun itu terbuat dari brokat tipis yang terlihat rapuh. "Mereka mengambil foto kita," ucap Alexa lirih. "Dengar, bagaimana jika kita mencari tempat yang sepi agar aku bisa melepaskan kancing yang tersangkut ini?" Alexa mengangguk, gadis itu merasa kikuk karena ia belum pernah berada di dalam pelukan seorang pria selain ayahnya, William, dan Leonel, kedua kakak laki-lakinya. Kedua orang itu berjalan dengan santai melewati beberapa orang wartawan yang terus saja mengarahkan kamera dan dengan leluasa mengambil gambar mereka. Alexa yakin, ia akan masuk ke dalam headline berita dengan judul : Alexa Johanson tampil di pernikahan kakaknya bersama kekasihnya. Setibanya di ujung lorong yang sepi, mereka berhenti di dekat sofa berwarna merah. Kenzo melepas jas semi formal yang ia kenakan, menyisakan kaos santai yang ia kenakan. Ia duduk di sofa itu sementara Alexa masih berdiri, perlahan ia menarik kancing yang tersangkut di bagian pinggang gaun Alexa. Tetapi, untung tidak dapat diraih dan malang tidak bisa ditolak. Gaun itu justru sobek. Alexa memekik. Wajahnya merah padam, ia belum pernah memperlihatkan bagian tubuhnya kepada pria mana pun meski itu ayahnya sejak ia telah dewasa. Ia selalu mengenakan kaos, ia tidak menyukai pakaian terbuka dan kini kulit pinggangnya dilihat oleh seorang pria asing. "Kau merobek gaunku!" seru Alexa. Kenzo mendengus pelan, itu hanya sedikit robek bukan sampai menelanjangi, untuk apa anak kecil itu begitu heboh. Ia menatap Alexa dengan tatapan lurus. "Aku tidak sengaja," kata Kenzo. "Kau pasti ingin mencabuliku!" bentak Alexa. "Kau pikir aku seorang pedofil? Mana mungkin aku mencabuli anak lima belas tahun," jawabnya dengan nada geli dan tidak bisa untuk menahan tawa kecil. Alexa membeliak. "Umurku sembilan belas tahun, asal kau tahu," ucapnya dengan nada kesal. Kenzo mengernyit. "Oh, ya... anak kecil lain kali kalau berjalan hati-hati, lihat sekarang gaun mahalmu sia-sia," katanya sambil bangkit dari posisi duduk lalu memakaikan jasnya ke bahu Alexa. "Kubilang umurku sembilan belas tahun! Sembilan belas tahun!" ucap Alexa sambil berkecak pinggang di depan Kenzo. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi agar bisa menatap wajah Kenzo dengan ekspresi menantang. Kenzo tertawa ringan, ia bermaksud menyentuh puncak kepala Alexa karena gemas, sayangnya Alexa menghindar dan insiden tidak mengenakan terjadi kembali. Gadis itu kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh, Kenzo kembali refleks menangkap pinggang kecil Alexa. Baru saja ia berhasil menangkap pinggang Alexa, bersamaan dengan itu, Alexander Johanson muncul dan posisi mereka sungguh tidak menguntungkan apa lagi Alexa juga refleks lengannya melingkar di pinggang Kenzo. Posisi mereka terlihat sangat intim, teramat sangat dekat dan demi Tuhan, hari ini Kenzo merasa benar-benar sial. "Alexa...." Pria itu memanggil putrinya. Bersambung.... Slow update! Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan rate bintang. Salam manis dari Cherry yang manis. 🍒Alexa mengentakkan kakinya beberapa kali di lantai, ia merasa sangat kesal kepada Kenzo karena di matanya, pria itu banyak sekali memiliki dosa kepadanya. Ya, dosa. Pertama, tadi malam Kenzo membiarkannya tidur sendiri. Apa pria itu tidak tahu jika Alexa harus meminta bantuan Grace untuk menemaninya mengobrol melalui panggilan video hingga ia tertidur, padahal Alexa telah berjanji kepada orang tuanya untuk tidak merepotkan siapapun. Tetapi, Kenzo tetaplah pengecualian. Pria itu boleh direpotkan. Ia ingin sekali Kenzo datang ke kamarnya. Kedua, Kenzo menghilang seharian dan baru kembali saat makan malam tiba, Alexa yakin jika Kenzo menemui Luna, kekasihnya.Alexa membenci itu, sangat membencinya. Rasanya ia ingin sekali menyingkirkan Luna sejauh mungkin dari Kenzo. Gadis itu adalah pengganggu liburannya yang menyenangkan bersama Kenzo, liburan yang semula berjalan sesuai keinginannya, tetapi kemunculan Luna membuat segalanya menjadi tidak menarik lagi di mata Alexa. Gadis itu naik ke
"Ken, aku telah memikirkannya," ucap Luna yang duduk di samping Kenzo. Mereka berada di sebuah bangku taman tak jauh dari di area apartemen yang di tempati Luna.Kenzo menatap dua orang yang sedang menikmati sore itu di taman sambil sang pria mendorong stroller bayi sementara si wanita tampak sibuk dengan ponselnya mengambil foto suami dan anaknya. Wanita itu tampak begitu ceria, begitu juga sang pria. Ia tidak keberatan meski si wanita memerintahkannya berpose berulang kali untuk mendapatkan foto terbaik bersama anaknya yang masih bayi.Kenzo meninggalkan bandara karena ayahnya dan Alexa tidak ada di daftar penumpang pesawat yang ia cek dan ketika memeriksa GPS ponsel ayahnya dan Alexa, ternyata kedua orang itu berada di tempat tinggal kakak tirinya. Kenzo benar-benar telah dibodohi oleh ibunya sendiri, hingga merasa sangat geram. Ia tidak langsung kembali ke tempat tinggal orang tuanya tetapi, ia memilih pergi ke perusahaan. Yang ia perlukan saat itu hanya ingin sendiri agar bisa be
Pagi di Tokyo, karena akhir pekan Kenzo tidak pergi ke perusahaan. Ia melatih fisiknya lebih lama dari biasanya sambil menenangkan perasaan kalut yang menderanya. Tadi malam Alexa tidak mengganggunya, dalam artian gadis itu benar-benar mencoba tidur sendirian di kamarnya. Seharusnya ia merasa tenang karena tidak harus meninabobokan bayi besar, faktanya ia justru tidak bisa tenang. Berulang kali ia mengecek Alexa di kamarnya dan gadis manja itu terlihat baik-baik saja meski ia menendang selimut hingga terjatuh dari tempat tidur. "Mom, Alexa telah bangun?" tanya Kenzo sambil menarik kursi dia ruang makan seusai membersihkan tubuhnya setelah berolah raga. "Kenapa?" Kenzo meraih tempat roti, membukanya lalu mengambil dua lembar roti gandum lalu meletakan di atas piring. "Aku mengetuk kamarnya, tidak ada jawaban," katanya sambil meraih tempat selai. Livia yang sedang menyusun bunga segar di dalam vas menghentikan gerakannya, wanita itu menarik kursi tepat di seberang putra bungsunya ya
Sepanjang pagi Alexa terus bungkam membuat Kenzo merasa sedikit kebingungan karena gadis itu tiba-tiba kehilangan keceriaannya, apa lagi setelah sarapan Alexa tiba-tiba berubah pikiran dan meminta kembali ke Tokyo. Parahnya lagi gadis itu juga merengek ingin kembali ke London hari itu juga. Berulang kali Kenzo menggoda Alexa agar suasana kaku di antara mereka melunak, tetapi semua usaha Kenzo belum membuahkan hasil. Seperti saat ini contohnya, Alexa terus menatap ke arah luar kereta dengan bibir terkatup rapat. Kenzo menduga gadis itu merasa malu karena tadi malam mereka berciuman penuh gairah dan pastinya Kenzo nyaris lepas kendali jika ia tidak memikirkan risikonya. Alexa adalah seorang perawan dan ia adalah putri seorang konglomerat yang tidak bisa diusik. Setelah Alexa tertidur Kenzo harus menyelesaikan gairahnya sendiri di kamar mandi sambil membayangkan bagaimana hangatnya lidah Alexa dan bagaimana kenyalnya dada Alexa yang sempat ia remas perlahan. Sedangkan Alexa, ia merasa
Kenzo keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang melingkar rendah di pinggang, menampakkan dadanya yang bidang. Ia tidak mendapati Alexa berada di atas tempat tidur seperti biasa, biasanya gadis itu bermain game sambil duduk bersila di sana. Kenzo menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati Alexa tampak duduk dengan posisi setengah meringkuk di soda. Pria itu bergegas menghampirinya dan sedikit terkejut karena gadis itu tampaknya tertidur. Kenzo menekuk kakinya, matanya mengamati wajah Alexa yang tampak begitu rapuh setiap kali gadis itu tertidur. Bukan hanya kali ini ia mengagumi wajah Alexa, mengagumi indahnya alis gadis itu, mengagumi bulu matanya yang tebal seindah kupu-kupu dan yang utama adalah mengagumi bibirnya yang tampak ranum. Perlahan Kenzo mengangkat tubuh Alexa untuk memindahkannya ke atas tempat tidur. Sayangnya hawa dingin dari kulit Kenzo seusai mandi rupanya membangunkan Alexa, gadis itu membuka matanya. Jarak wajah mereka sangat dekat
“Aaa....” Alexa mendekatkan sendok yang berisi es krim penuh ke mulut Kenzo. Pria itu tertegun, ia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menatap es krim yang berada sangat dekat dari bibirnya lalu menatap Alexa dengan perasaan geli. “Tenang saja, aku membeli dua es krim. Jadi, sendoknya bukan bekas dari mulutku,” ucap Alexa seolah ia menebak isi pikiran Kenzo. Kenzo membuka mulutnya, melahap es krim yang disodorkan Alexa, rasa manis langsung menjalari rongga mulutnya. Manis dan lembut, mungkin seperti bibir Alexa. “Aku tidak keberatan jika itu bekasmu,” ucapnya menggoda Alexa. “Kata Mommy, coklat bisa memperbaiki suasana hati kita yang kacau,” ucap Alexa sambil kembali menyendok es krim lalu menyodorkan kepada Kenzo. Kenzo yang sedang menerima suapan es krim buru-buru menelan es krim di mulutnya tanpa menikmati terlebih dahulu. “Jadi, kau sedang menghiburku?” “Anggap saja aku sedang menebus kesalahanku, kau mungkin akan di putuskan oleh Luna gara-gara ulahku,” jawab Alexa sambil me







