LOGIN4. Alexa's Acting
"Ha... ha... ha...." Gabriel tertawa hingga memegangi perutnya mendengarkan semua cerita yang di tuturkan oleh Kenzo. "Kupikir kau adalah pria cerdas, nyatanya kau masih kalah cerdas dari Alexa." Wajah Kenzo tampak masam, ia menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya lalu menaikkan sebelah kakinya. "Teruslah menertawakan aku," katanya dengan nada kesal. "Kenapa kau tidak mengatakan kebenarannya kepada pamanku? Aku yakin dia mengerti. Lagi pula, Alexa memang seperti itu, dia memang menyusahkan dan pembuat ulah," ujar Gabriel dengan nada sangat santai seolah penderitaan Kenzo bukanlah hal serius. Mengingat Alexa membuat Kenzo benar-benar geram. Bagaimana tidak? Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia kini telah menghiasi beberapa portal berita online meski bukan menjadi topik utama. "Jika dia bukan sepupumu, aku tidak sudi bekerja sama dengannya." "Sekarang apa rencanamu?" tanya Gabriel sambil mengangkat cangkir yang berisi kopi. "Untuk apa lagi kau bertanya, tentu saja membawa Alexa ke Tokyo," jawab Kenzo. Gabriel nyaris menyemburkan kopi yang baru saja ia seruput. Ia meletakkan cangkir kopinya lalu meraih selembar tisu, mengusap bibirnya dengan lembut sambil matanya menatap sahabatnya. "Pamanku mengizinkan?" "Ya," jawab Kenzo. "Dan apa kau tahu? Malam ini aku harus bertamu ke rumah keluarga pamanmu itu untuk memperkenalkan diri kepada seluruh keluarga Johanson... sebagai kekasih Alexa." "Apa kau perlu kutemani?" Gabriel menaikkan sebalah alisnya seolah menggoda Kenzo. "Kau pikir aku banci? Hanya makan malam dan memperkenalkan diri, itu mudah." "Kau yakin?" "Jangan menyepelekan aku," jawab Kenzo meski di dalam benaknya nyalinya sedikit mengerucut karena Alexander Johanson sama sekali tidak ramah, pria itu begitu dingin saat menatapnya. Gabriel menatap Kenzo dengan tatapan menyelidik. "Apa kau telah memberi tahu Luna?" "Aku akan memberitahunya nanti, lagi pula Alexa hanya dua Minggu di Tokyo dan Luna juga sedang berada di China," jawab Kenzo, sebenarnya ia tidak mengingat Luna. "Bagaimana jika ia membaca berita online?" "Kau seperti tidak tahu dia saja," jawab Kenzo. Kali ini pria itu meraih cangkir kopinya dan menyesap isinya. "Benar-benar wanita sibuk dan mandiri, ya?" Gabriel adalah salah satu korban perusahaan pialang yang didirikan oleh Luna dan teman-temannya, jika Gabriel tidak menderita kerugian, ia tidak akan meminta bantuan Kenzo untuk menyelidiki perusahaan itu. Dengan kata lain, Gabriel juga yang menjembatani pertemuan Kenzo dan Luna di masa lalu. Kenzo tidak menjawab, tetapi ia diam-diam menyiagakan apa yang Gabriel ucapkan. "Kenapa kau tidak menghapus berita online saja?" Kali ini Kenzo yang nyaris tersedak kopinya. "Pamanmu akan menganggap aku mempermainkan anak gadisnya, padahal faktanya anak gadisnyalah yang mempermainkan aku," ucap Kenzo disertai dengan dengusan kecil. Setiap kali mengingat Alexa membuat Kenzo benar-benar ingin melipat-lipat tubuh kecil gadis itu lalu melemparkannya. Tadi malam saat ayah gadis kecil itu datang dengan penuh sandiwara Alexa justru berakting, ia sengaja merapatkan tubuhnya juga mengeratkan lengannya di pinggang Kenzo. "Bekerja sama denganku, maka kau akan aman," bisik Alexa. Perasaan Kenzo sedikit tidak nyaman, tetapi sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain. Lagi pula posisinya saat ini, bagaimanapun juga tidak menguntungkan, jika gadis kecil itu menuduhnya telah melakukan usaha pencabulan, bisa jadi akan menang karena gaunnya telah terkoyak. "Daddy, biarkan aku dan kekasihku melepas rindu," ucap Alexa sambil beringsut ke samping Kenzo, tetapi ia sama sekali tidak melepaskan lengannya dari pinggang pria tampan yang baru saja ia temui dua kali. Seketika Kenzo membeku mendengar pengakuan anak kecil yang berada di dalam pelukannya itu. Tetapi, tidak ada cara lain selain mencoba mengikuti alur yang di buat Alexa. Alexander tampak mengerutkan keningnya menyaksikan putrinya bersama seorang pria asing. "Daddy, kekasihku ini jauh-jauh datang dari Jepang. Sayang, perkenalkan dirimu pada daddyku," kata Alexa dengan nada lembut, tetapi memerintah. Berakhir dengan berkenalan, bercakap-cakap sebentar dengan ayah Alexa yang ekspresinya begitu dingin membuat Kenzo merasa bergidik, apa lagi Alexa terus menempel dengan manja di pinggangnya membuat Kenzo benar-benar kehabisan akal selain mengiyakan apa titah ayah Alexa yang memerintahkan dirinya untuk mengantarkan putrinya kembali ke rumahnya. Tetapi, faktanya gadis kecil itu menipunya lagi. Alexa menolak untuk kembali ke rumahnya, ia bersikeras untuk pergi ke tempat tinggal Kenzo dan terus mengancam menggunakan gaunnya yang telah terkoyak. Enggan berdebat, akhirnya Kenzo membawa Alexa kembali ke tempat tinggalnya. Di London, ia tinggal di mansion kakeknya, masih seperti dulu ketika ia menimba ilmu. Kali ini ia memiliki urusan penting di London, ia juga tinggal di kediaman kakeknya. Lucunya, neneknya sangat menyukai gadis kecil itu, memperlakukannya seolah gadis itu bukan orang lain. Tidak cukup sampai di situ, Alexa bersikeras untuk menginap di kamar Kenzo dan sialnya lagi anak kecil itu mengenakan kaos miliknya ketika tengah malam ayahnya ternyata datang menjemput paksa putrinya sambil menatap dengan tatapan dingin ke arah Kenzo seolah ia adalah seorang pria cabul yang telah menculik lalu meniduri putrinya. "Master, senang sekali sepertinya kita akan menjadi keluarga," ucap Alexander Johanson kepada kakeknya, Edward Pollini. Itu adalah berita gembira, tetapi diucapkan dengan nada dingin yang membuat Kenzo merasa dunianya telah tamat malam itu. "Sayang, kau berjanji akan mengenalkan aku pada orang tuamu bukan? Bukankah lusa kau akan kembali ke Tokyo?" tanya Alexa, membuat Kenzo benar-benar mengakui gadis kecil yang ia hadapi tidak bisa dianggap enteng. Gadis itu bahkan tahu jika lusa ia akan kembali ke Tokyo. Padahal selama ia mengobrol bersama Gabriel di lounge, Alexa tampak sangat acuh dan hanya peduli kepada gadgetnya saja, tapi nyatanya Alexa tahu apa yang ia bicarakan bersama Gabriel. Kenzo bersumpah, ia akan membalas semua perbuatan Alexa nanti. Ya, nanti saat mereka berada di Tokyo. Gadis kecil itu harus diberikan pelajaran yang berharga agar tidak terus semena-mena. Bersambung.... Salam manis dari Cherry yang manis. 🍒Alexa mengentakkan kakinya beberapa kali di lantai, ia merasa sangat kesal kepada Kenzo karena di matanya, pria itu banyak sekali memiliki dosa kepadanya. Ya, dosa. Pertama, tadi malam Kenzo membiarkannya tidur sendiri. Apa pria itu tidak tahu jika Alexa harus meminta bantuan Grace untuk menemaninya mengobrol melalui panggilan video hingga ia tertidur, padahal Alexa telah berjanji kepada orang tuanya untuk tidak merepotkan siapapun. Tetapi, Kenzo tetaplah pengecualian. Pria itu boleh direpotkan. Ia ingin sekali Kenzo datang ke kamarnya. Kedua, Kenzo menghilang seharian dan baru kembali saat makan malam tiba, Alexa yakin jika Kenzo menemui Luna, kekasihnya.Alexa membenci itu, sangat membencinya. Rasanya ia ingin sekali menyingkirkan Luna sejauh mungkin dari Kenzo. Gadis itu adalah pengganggu liburannya yang menyenangkan bersama Kenzo, liburan yang semula berjalan sesuai keinginannya, tetapi kemunculan Luna membuat segalanya menjadi tidak menarik lagi di mata Alexa. Gadis itu naik ke
"Ken, aku telah memikirkannya," ucap Luna yang duduk di samping Kenzo. Mereka berada di sebuah bangku taman tak jauh dari di area apartemen yang di tempati Luna.Kenzo menatap dua orang yang sedang menikmati sore itu di taman sambil sang pria mendorong stroller bayi sementara si wanita tampak sibuk dengan ponselnya mengambil foto suami dan anaknya. Wanita itu tampak begitu ceria, begitu juga sang pria. Ia tidak keberatan meski si wanita memerintahkannya berpose berulang kali untuk mendapatkan foto terbaik bersama anaknya yang masih bayi.Kenzo meninggalkan bandara karena ayahnya dan Alexa tidak ada di daftar penumpang pesawat yang ia cek dan ketika memeriksa GPS ponsel ayahnya dan Alexa, ternyata kedua orang itu berada di tempat tinggal kakak tirinya. Kenzo benar-benar telah dibodohi oleh ibunya sendiri, hingga merasa sangat geram. Ia tidak langsung kembali ke tempat tinggal orang tuanya tetapi, ia memilih pergi ke perusahaan. Yang ia perlukan saat itu hanya ingin sendiri agar bisa be
Pagi di Tokyo, karena akhir pekan Kenzo tidak pergi ke perusahaan. Ia melatih fisiknya lebih lama dari biasanya sambil menenangkan perasaan kalut yang menderanya. Tadi malam Alexa tidak mengganggunya, dalam artian gadis itu benar-benar mencoba tidur sendirian di kamarnya. Seharusnya ia merasa tenang karena tidak harus meninabobokan bayi besar, faktanya ia justru tidak bisa tenang. Berulang kali ia mengecek Alexa di kamarnya dan gadis manja itu terlihat baik-baik saja meski ia menendang selimut hingga terjatuh dari tempat tidur. "Mom, Alexa telah bangun?" tanya Kenzo sambil menarik kursi dia ruang makan seusai membersihkan tubuhnya setelah berolah raga. "Kenapa?" Kenzo meraih tempat roti, membukanya lalu mengambil dua lembar roti gandum lalu meletakan di atas piring. "Aku mengetuk kamarnya, tidak ada jawaban," katanya sambil meraih tempat selai. Livia yang sedang menyusun bunga segar di dalam vas menghentikan gerakannya, wanita itu menarik kursi tepat di seberang putra bungsunya ya
Sepanjang pagi Alexa terus bungkam membuat Kenzo merasa sedikit kebingungan karena gadis itu tiba-tiba kehilangan keceriaannya, apa lagi setelah sarapan Alexa tiba-tiba berubah pikiran dan meminta kembali ke Tokyo. Parahnya lagi gadis itu juga merengek ingin kembali ke London hari itu juga. Berulang kali Kenzo menggoda Alexa agar suasana kaku di antara mereka melunak, tetapi semua usaha Kenzo belum membuahkan hasil. Seperti saat ini contohnya, Alexa terus menatap ke arah luar kereta dengan bibir terkatup rapat. Kenzo menduga gadis itu merasa malu karena tadi malam mereka berciuman penuh gairah dan pastinya Kenzo nyaris lepas kendali jika ia tidak memikirkan risikonya. Alexa adalah seorang perawan dan ia adalah putri seorang konglomerat yang tidak bisa diusik. Setelah Alexa tertidur Kenzo harus menyelesaikan gairahnya sendiri di kamar mandi sambil membayangkan bagaimana hangatnya lidah Alexa dan bagaimana kenyalnya dada Alexa yang sempat ia remas perlahan. Sedangkan Alexa, ia merasa
Kenzo keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang melingkar rendah di pinggang, menampakkan dadanya yang bidang. Ia tidak mendapati Alexa berada di atas tempat tidur seperti biasa, biasanya gadis itu bermain game sambil duduk bersila di sana. Kenzo menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati Alexa tampak duduk dengan posisi setengah meringkuk di soda. Pria itu bergegas menghampirinya dan sedikit terkejut karena gadis itu tampaknya tertidur. Kenzo menekuk kakinya, matanya mengamati wajah Alexa yang tampak begitu rapuh setiap kali gadis itu tertidur. Bukan hanya kali ini ia mengagumi wajah Alexa, mengagumi indahnya alis gadis itu, mengagumi bulu matanya yang tebal seindah kupu-kupu dan yang utama adalah mengagumi bibirnya yang tampak ranum. Perlahan Kenzo mengangkat tubuh Alexa untuk memindahkannya ke atas tempat tidur. Sayangnya hawa dingin dari kulit Kenzo seusai mandi rupanya membangunkan Alexa, gadis itu membuka matanya. Jarak wajah mereka sangat dekat
“Aaa....” Alexa mendekatkan sendok yang berisi es krim penuh ke mulut Kenzo. Pria itu tertegun, ia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menatap es krim yang berada sangat dekat dari bibirnya lalu menatap Alexa dengan perasaan geli. “Tenang saja, aku membeli dua es krim. Jadi, sendoknya bukan bekas dari mulutku,” ucap Alexa seolah ia menebak isi pikiran Kenzo. Kenzo membuka mulutnya, melahap es krim yang disodorkan Alexa, rasa manis langsung menjalari rongga mulutnya. Manis dan lembut, mungkin seperti bibir Alexa. “Aku tidak keberatan jika itu bekasmu,” ucapnya menggoda Alexa. “Kata Mommy, coklat bisa memperbaiki suasana hati kita yang kacau,” ucap Alexa sambil kembali menyendok es krim lalu menyodorkan kepada Kenzo. Kenzo yang sedang menerima suapan es krim buru-buru menelan es krim di mulutnya tanpa menikmati terlebih dahulu. “Jadi, kau sedang menghiburku?” “Anggap saja aku sedang menebus kesalahanku, kau mungkin akan di putuskan oleh Luna gara-gara ulahku,” jawab Alexa sambil me







