LOGIN5. Call Me Kenzo
"Kenapa kita tidak menggunakan kelas ekonomi?" Itu adalah pertanyaan ketiga yang terlontar dari bibir Alexa. Demi Tuhan, Kenzo merasa ingin menyumbat telinganya agar terbebas dari suara berisik Alexa. Pria tampan itu menarik napasnya perlahan lalu mengembuskannya. "Gadis kecil, apa kau tahu berapa jam perjalanan kita?" tanyanya dengan nada ramah dan tentunya perasaan yang disabar-sabarkan. "Aku ingin sekali merasakan kelas ekonomi." Gadis kecil itu merengek dengan ekspresi wajah yang begitu serius bahkan alisnya berkerut dalam. Diam-diam Kenzo mengeraskan rahangnya. Oh, andai saja jendela di dalam pesawat bisa dibuka ia akan melemparkan Alexa dari pesawat saat ini juga. "Alexa, perjalanan kita lebih dari sebelas jam." Alexa memperbaiki posisinya, bibirnya mencebik. "Orang lain baik-baik saja," katanya. Kenzo nyaris putus asa, sebagai putra dan pewaris kekayaan keluarga Yamada, ia mampu menyewa pesawat bahkan keluarganya juga memiliki satu pesawat pribadi. Dan yang terpenting adalah sekarang ia membawa putri salah satu konglomerat di Inggris, apa pantas jika mereka duduk di bangku ekonomi? Membawa Alexa di kelas bisnis saja menurutnya kurang pantas, tetapi mau bagaimana lagi karena kelas pertama telah penuh terisi. "Lebih baik kau tidur." Akhirnya Kenzo memilih mengucapkan kalimat yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan Alexa. "Aku tidak bisa tidur tanpa ibuku di sampingku," gumam Alexa. Biasanya ia ditemani oleh ibunya hingga ia tertidur dan baru akan ibunya meninggalkan saat ia benar-benar telah terlelap. Baiklah, satu kesulitan kembali muncul. Kenzo semakin menyadari jika dirinya dalam bahaya besar. Sangat besar malah karena gadis bertubuh kecil itu bukanlah balita melainkan seorang bayi yang mungkin harus dinyanyikan sebelum tidur atau dibacakan dongeng. "Apa kau ingin menyalakan lampu?" tanya Kenzo. Anggukan lemah Alexa sedikit membuat Kenzo sedikit merasa panik, ia takut jika gadis kecil itu menangis. Kenzo memang memiliki beberapa orang keponakan, tetapi bukan berarti ia harus memperlakukan Alexa seperti keponakannya. Oh, ayolah. Dia tampaknya sungguh-sungguh dan hendak menangis. Setelah menyalakan lampu baca untuk Alexa, Kenzo kembali duduk lalu ia berdehem. "Apa kau ingin makan sesuatu?" Alexa hanya menggelengkan kepalanya, ia lalu memeluk boneka lumba-lumba yang ia bawa dari salah satu koleksinya di kamarnya. "Jadi, ini pertama kali kau tidak tidur di kamarmu?" Alexa dengan malas melirik Kenzo dengan lirikan mengabaikan. "Aku pernah kok menginap di apartemen Grace." Kenzo menelan ludahnya, ia tahu siapa yang di maksud Alexa. Grace adalah salah satu kakak perempuannya, anak angkat di keluarga Johanson yang dinikahi oleh putra pertama keluarga itu. "Apa kau ingin menonton?" Kenzo melembutkan nada bicaranya karena bagaimanapun gadis kecil itu tampak sedang berjuang melawan kesedihannya berpisah dari keluarganya untuk pertama kali. Alexa menoleh ke arah Kenzo. "Bukankah kau tadi menyuruhku untuk tidur?" tanyanya dengan nada sangat ketus. Kesabaran Kenzo mulai terkikis, ia telah berusaha dengan baik menghadapi gadis kecil itu, tetapi hasilnya sama sekali tidak ada yang benar. Ia menawarkan semua kebaikan, tatapi semua berujung dengan sikap menjengkelkan Alexa yang seolah menganggapnya musuh. Ia bersumpah ingin sekali melemparkan Alexa dari atas pesawat. *** "Ini adalah liburan pertamaku!" seru Alexa sambil menyeret kopernya yang berukuran kecil setelah mereka keluar dari pengecekan imigrasi. Ia menolak bantuan Kenzo yang menawarkan diri untuk membawakan kopernya yang berukuran mini dan berwarna merah jambu. Mendengar itu Kenzo mengerutkan keningnya. "Kau tidak pernah berlibur?" Rasanya mustahil jika anggota keluarga Johanson tidak pernah berlibur. "Ini adalah liburan pertamaku sendirian, tanpa bodyguard, tanpa siapa pun dan aku bebas. Terima kasih kau telah memuluskan semua rencanaku," ucap Alexa sambil menyeringai lebar. Kenzo tiba-tiba berdiri di depan Alexa membuat gadis itu menabrak dada bidangnya. "Apa maksudmu?" Alexa mengerjapkan matanya beberapa kali. "Terima kasih kau telah memuluskan rencanaku terbebas dari bodyguard dan aturan keluargaku," ucap Alexa sambil meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya. "Aku akan mencari taksi, menuju hotel dan mencari seorang guide." "Apa kau sinting?" Kenzo bukan hanya terkejut mendengar ucapan Alexa. Tetapi, seribu kali terkejut karena Alexa ternyata memanfaatkanya untuk kepentingan pribadi. Gadis itu ingin bebas dari belenggu keluarganya. Ia membawa Alexa, mendapatkan kepercayaan orang tua Alexa dengan mudah bukan tanpa jaminan. Pertama, keluarga Johanson mengenal kakeknya Edward Pollini sebagai seorang komposer yang tidak diragukan lagi ketenarannya sebagai pianis juga pemimpin orkestra. Kedua, nama baik keluarga Yamada beserta perusahaannya pasti akan menjadi taruhannya jika sedikit saja ia membuat Alexa dalam bahaya. Apa lagi yang Kenzo dengar dari Gabriel, Alexa adalah putri kesayangan ayahnya. Alexa mengulurkan tangannya, gadis itu menepuk pundak Kenzo. "Kau tenang saja, aku jamin keluargamu dan perusahaanmu juga aman, aku akan mengatakan kepada Daddy bahwa kita tidak cocok dan kita putus. Mudah, bukan?" Begitu ringan kata-kata itu terlontar dari bibir Alexa, seringan bulu, tanpa beban apa pun. Baiklah, Kenzo mengakui gadis kecil itu pandai membaca situasi, tetapi semua tidak semudah yang Alexa ucapkan. "Kau tinggal di rumahku, rumah orang tuaku sesuai perkataanmu, aku akan mengenalkan kau pada orang tuaku sebagai kekasihku," ucap Kenzo setengah menggeram. Alexa ternganga. "Hah?" Kenzo meraih pergelangan tangan Alexa, ini adalah masalah tanggung jawab. Tadi malam ia telah menyanggupi untuk menjaga Alexa sebaik mungkin, hanya menjaganya selama dua Minggu gadis itu berada di Tokyo. Tidak akan sulit, ia bisa mengatur pekerjaannya nanti, ia bisa pergi ke perusahaan jika situasi sangat mendesak atau mungkin ia juga bisa membagi waktunya. Pria itu menyeret Alexa menuju pintu keluar di mana sopir pribadinya telah menunggu. "Tuan Yamada, aku telah merencanakan liburanku sendiri, aku tidak ingin bersamamu, tidak ingin bersama siapa pun." Alexa berusaha membebaskan pergelangan tangannya. Tuan Yamada. Entah kenapa, ia tidak suka Alexa memanggilnya dengan panggilan seformal itu. "Panggil aku, Kenzo!" Alexa tidak peduli, ia masih berusaha meronta untuk membebaskan pergelangan tangannya yang di cengkeram telapak tangan Kenzo yang lebar. "Lepaskan atau aku berteriak!" Kesabaran Kenzo telah menguap bersama dengan udara yang ia hirup, dengan sekali sentakan ia meraih tubuh kecil Alexa, mengangkatnya seolah mengangkat benda ringan lalu meletakkan tubuh Alexa di sebelah pundaknya kemudian meraih pegangan koper milik Alexa dan menyeretnya. Melangkah dengan langkah kaki lebar dan tegap menuju pintu keluar. Bersambung.... Jangan lupa tinggalkan jejak komentar. Salam manis dari Cherry yang manis. 🍒Alexa mengentakkan kakinya beberapa kali di lantai, ia merasa sangat kesal kepada Kenzo karena di matanya, pria itu banyak sekali memiliki dosa kepadanya. Ya, dosa. Pertama, tadi malam Kenzo membiarkannya tidur sendiri. Apa pria itu tidak tahu jika Alexa harus meminta bantuan Grace untuk menemaninya mengobrol melalui panggilan video hingga ia tertidur, padahal Alexa telah berjanji kepada orang tuanya untuk tidak merepotkan siapapun. Tetapi, Kenzo tetaplah pengecualian. Pria itu boleh direpotkan. Ia ingin sekali Kenzo datang ke kamarnya. Kedua, Kenzo menghilang seharian dan baru kembali saat makan malam tiba, Alexa yakin jika Kenzo menemui Luna, kekasihnya.Alexa membenci itu, sangat membencinya. Rasanya ia ingin sekali menyingkirkan Luna sejauh mungkin dari Kenzo. Gadis itu adalah pengganggu liburannya yang menyenangkan bersama Kenzo, liburan yang semula berjalan sesuai keinginannya, tetapi kemunculan Luna membuat segalanya menjadi tidak menarik lagi di mata Alexa. Gadis itu naik ke
"Ken, aku telah memikirkannya," ucap Luna yang duduk di samping Kenzo. Mereka berada di sebuah bangku taman tak jauh dari di area apartemen yang di tempati Luna.Kenzo menatap dua orang yang sedang menikmati sore itu di taman sambil sang pria mendorong stroller bayi sementara si wanita tampak sibuk dengan ponselnya mengambil foto suami dan anaknya. Wanita itu tampak begitu ceria, begitu juga sang pria. Ia tidak keberatan meski si wanita memerintahkannya berpose berulang kali untuk mendapatkan foto terbaik bersama anaknya yang masih bayi.Kenzo meninggalkan bandara karena ayahnya dan Alexa tidak ada di daftar penumpang pesawat yang ia cek dan ketika memeriksa GPS ponsel ayahnya dan Alexa, ternyata kedua orang itu berada di tempat tinggal kakak tirinya. Kenzo benar-benar telah dibodohi oleh ibunya sendiri, hingga merasa sangat geram. Ia tidak langsung kembali ke tempat tinggal orang tuanya tetapi, ia memilih pergi ke perusahaan. Yang ia perlukan saat itu hanya ingin sendiri agar bisa be
Pagi di Tokyo, karena akhir pekan Kenzo tidak pergi ke perusahaan. Ia melatih fisiknya lebih lama dari biasanya sambil menenangkan perasaan kalut yang menderanya. Tadi malam Alexa tidak mengganggunya, dalam artian gadis itu benar-benar mencoba tidur sendirian di kamarnya. Seharusnya ia merasa tenang karena tidak harus meninabobokan bayi besar, faktanya ia justru tidak bisa tenang. Berulang kali ia mengecek Alexa di kamarnya dan gadis manja itu terlihat baik-baik saja meski ia menendang selimut hingga terjatuh dari tempat tidur. "Mom, Alexa telah bangun?" tanya Kenzo sambil menarik kursi dia ruang makan seusai membersihkan tubuhnya setelah berolah raga. "Kenapa?" Kenzo meraih tempat roti, membukanya lalu mengambil dua lembar roti gandum lalu meletakan di atas piring. "Aku mengetuk kamarnya, tidak ada jawaban," katanya sambil meraih tempat selai. Livia yang sedang menyusun bunga segar di dalam vas menghentikan gerakannya, wanita itu menarik kursi tepat di seberang putra bungsunya ya
Sepanjang pagi Alexa terus bungkam membuat Kenzo merasa sedikit kebingungan karena gadis itu tiba-tiba kehilangan keceriaannya, apa lagi setelah sarapan Alexa tiba-tiba berubah pikiran dan meminta kembali ke Tokyo. Parahnya lagi gadis itu juga merengek ingin kembali ke London hari itu juga. Berulang kali Kenzo menggoda Alexa agar suasana kaku di antara mereka melunak, tetapi semua usaha Kenzo belum membuahkan hasil. Seperti saat ini contohnya, Alexa terus menatap ke arah luar kereta dengan bibir terkatup rapat. Kenzo menduga gadis itu merasa malu karena tadi malam mereka berciuman penuh gairah dan pastinya Kenzo nyaris lepas kendali jika ia tidak memikirkan risikonya. Alexa adalah seorang perawan dan ia adalah putri seorang konglomerat yang tidak bisa diusik. Setelah Alexa tertidur Kenzo harus menyelesaikan gairahnya sendiri di kamar mandi sambil membayangkan bagaimana hangatnya lidah Alexa dan bagaimana kenyalnya dada Alexa yang sempat ia remas perlahan. Sedangkan Alexa, ia merasa
Kenzo keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang melingkar rendah di pinggang, menampakkan dadanya yang bidang. Ia tidak mendapati Alexa berada di atas tempat tidur seperti biasa, biasanya gadis itu bermain game sambil duduk bersila di sana. Kenzo menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati Alexa tampak duduk dengan posisi setengah meringkuk di soda. Pria itu bergegas menghampirinya dan sedikit terkejut karena gadis itu tampaknya tertidur. Kenzo menekuk kakinya, matanya mengamati wajah Alexa yang tampak begitu rapuh setiap kali gadis itu tertidur. Bukan hanya kali ini ia mengagumi wajah Alexa, mengagumi indahnya alis gadis itu, mengagumi bulu matanya yang tebal seindah kupu-kupu dan yang utama adalah mengagumi bibirnya yang tampak ranum. Perlahan Kenzo mengangkat tubuh Alexa untuk memindahkannya ke atas tempat tidur. Sayangnya hawa dingin dari kulit Kenzo seusai mandi rupanya membangunkan Alexa, gadis itu membuka matanya. Jarak wajah mereka sangat dekat
“Aaa....” Alexa mendekatkan sendok yang berisi es krim penuh ke mulut Kenzo. Pria itu tertegun, ia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menatap es krim yang berada sangat dekat dari bibirnya lalu menatap Alexa dengan perasaan geli. “Tenang saja, aku membeli dua es krim. Jadi, sendoknya bukan bekas dari mulutku,” ucap Alexa seolah ia menebak isi pikiran Kenzo. Kenzo membuka mulutnya, melahap es krim yang disodorkan Alexa, rasa manis langsung menjalari rongga mulutnya. Manis dan lembut, mungkin seperti bibir Alexa. “Aku tidak keberatan jika itu bekasmu,” ucapnya menggoda Alexa. “Kata Mommy, coklat bisa memperbaiki suasana hati kita yang kacau,” ucap Alexa sambil kembali menyendok es krim lalu menyodorkan kepada Kenzo. Kenzo yang sedang menerima suapan es krim buru-buru menelan es krim di mulutnya tanpa menikmati terlebih dahulu. “Jadi, kau sedang menghiburku?” “Anggap saja aku sedang menebus kesalahanku, kau mungkin akan di putuskan oleh Luna gara-gara ulahku,” jawab Alexa sambil me