Mag-log in6. Alexa's Boobs
Kebun binatang. Oke. Hanya dua kata, tetapi benar-benar mampu menggema di otak Kenzo pagi itu hingga pria itu hanya bisa berharap jika dunia berhenti berputar. Dari sekian banyak orang yang mengunjungi Jepang, mereka ingin melihat indahnya bunga sakura. Karena ini adalah musim panas bunga sakura tidak mekar, tetapi masih banyak wisata lain yang bisa Alexa kunjungi. Bukan mengunjungi kebun binatang. Kenzo bermaksud menginterupsi gagasan konyol Alexa untuk pergi ke kebun binatang, tetapi ibunya menatap dengan tatapan tajam seolah mengatakan jangan coba-coba menentang keinginan Alexa. Konyolnya lagi gadis kecil itu tidak bersedia menggunakan mobil, ia ingin menggunakan kereta. Bukan masalah besar karena layanan kereta di Jepang sangat baik dan nyaman, masih bisa di terima oleh akal, tetapi pergi ke kebun binatang? Gagasan terkonyol yang pernah Kenzo dengar seumur hidupnya. Beberapa kali Kenzo berusaha meregangkan otot-ototnya, tadi malam ia tidak bisa tidur dengan nyaman karena Alexa tidak bersedia tidur di kamar yang telah di sediakan untuknya, gadis itu beralasan tidak bisa tidur tanpa di temani lebih dulu oleh ibunya atau ayahnya. Kenzo akhirnya mengalah, setelah memastikan Alexa tertidur, Kenzo merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berukuran lebih pendek dari tinggi badannya dan hasilnya pagi ini otot-otot tubuhnya menegang. Bukan hanya menegang, ia juga merasa kepalanya sedikit berat karena kurang tidur dan tentunya kualitas tidurnya tadi malam sangat buruk. “Cepatkah, kau lambat sekali seperti seekor kerang,” gerutu Alexa sambil memberengut. “Apa di London tidak ada kebun binatang?” tanya Kenzo sambil tertawa mengejek. Alexa mengerutkan bibirnya. “Kebun binatangnya lebih baik, tapi aku ingin melihat Panda di sini,” ujarnya. Kenzo mengepalkan telapak tangannya dan meletakkannya di depan bibirnya, ia tertawa hingga bahunya terguncang. “Hanya itu?” tanyanya kemudian. Alexa menatap Kenzo dengan tatapan kesal. “Cepatlah!” Ia meraih pergelangan tangan Kenzo, menyeret pria tinggi itu seolah ia anak kecil yang sedang menyeret kakaknya. Setelah berulang kali membaca denah lokasi untuk mencari kandang Panda, akhirnya mereka berdua tiba di sana. “Ken, lihat! Dia sangat lucu.” “Lihat! Dia sangat menggemaskan.” “OMG! So cute!” “Aku ingin menggendongnya.” “Aku ingin memeluknya.” Kenzo yang berdiri di sambil Alexa hanya tersenyum, ia bersedekap menyaksikan gadis itu begitu antusias melihat Panda. Semua pose Panda diabadikan oleh Alexa menggunakan ponselnya. “Aku akan meminta Daddy untuk membelikan satu untukku,” gumam Alexa sambil terus mengarahkan kamera ponselnya kepada Panda yang berada di dalam kandangnya. Kenzo meletakkan telapak tangannya di atas kepala Alexa. Menepuknya dengan lembut beberapa kali sambil bibirnya mengilas senyum samar, ia tidak ingat lagi kapan bersenang-senang. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan terkadang bermain game. Mungkin terakhir kali ia menginjakkan kakinya di kebun binatang adalah umurnya delapan tahun, ia nyaris tidak bisa mengingatnya. Seperti gagasan pergi ke kebun binatang tidak buruk. “Lihat Panda yang berada di sebalah sana, kuperhatikan dia tidak berhenti makan! Oh, dia sangat rakus. Pantas saja badannya besar,” ucap Alexa sambil menunjuk seekor Panda yang tampak lahap memakan batang bambu muda. “Karena nutrisi yang terkandung di dalam batang bambu muda itu sangat sedikit, sehingga Panda memerlukan banyak batang bambu untuk ia konsumsi,” ujar Kenzo memberikan penjelasan dengan sabar seolah ia sedang berbicara dengan Crystal, keponakannya. “Apa dia hanya memakan bambu muda?” “Ya.” “Kenapa bukan wortel saja?” Kenzo terkekeh. “Karena dia bukan kelinci,” jawabnya dengan nada geli. “Aku ingin ke sini setiap hari untuk melihat Panda,” ujar Alexa. Kenzo tersenyum. “Kau akan bosan jika ke sini setiap hari,” ujarnya. “Andai bisa memberi makan Panda sendiri....” gadis itu bergumam. Sebenarnya ada satu tempat di mana pengunjung dapat berinteraksi dan memberi makan Panda secara langsung, sayangnya tempat itu bukan di Tokyo, tetapi di Chengdu, China. Kenzo tahu itu dan ia tidak ingin memberi tahu Alexa karena akan merepotkan nantinya. Alexa menggeser layar ponselnya. “Aku akan mencari informasi siapa tahu ada tempat khusus yang memperbolehkan kita memberi makan Panda,” ujarnya. Mendengar itu, Kenzo tiba-tiba panik. “Bagaimana jika kita membeli permen kapas dulu?” tanyanya sambil dengan gerakan halus menarik ponsel di tangan Alexa. Ia mengingat di tempat khusus penjual makanan ada yang menjual permen kapas, karena Alexa dianggap anak kecil olehnya, Kenzo berharap permen kapas bisa mengalihkan perhatiannya. “Tapi....” Alexa bermaksud meraih ponselnya kembali, sayangnya Kenzo telah menyimpan benda itu ke dalam saku celananya. Pria itu tersenyum manis dan hangat. “Setelah itu kita akan bertanya kepada petugas kebun binatang, lagi pula aku juga merasa haus," katanya sambil berpura-pura mengelus lehernya. “Ide bagus. Ayo, membeli permen kapas!” Gadis itu tampak kegirangan. Pendar di matanya tampak berkilat-kilat, ia menyeringai lebar kemudian melangkah mendahului Kenzo. *** Kenzo menghela napasnya lalu mengembuskannya, perasaannya sangat lega. Diam-diam ia mengamati penampilan Alexa dari belakang, gadis itu mengenakan rok mini berwarna merah dipadukan dengan kaos berlengan panjang dan sepatu berwarna putih dengan corak senada dengan pakaiannya. Rambut panjangnya yang lurus dibiarkan tergerai, rambut berwarna coklat keemasan itu tampak berkilat-kilat terkena cahaya matahari. Benar-benar seperti anak kecil. Sayangnya saat mengamati bokong Alexa yang tampak meliuk, pikirannya mulai mengembara menyusuri tubuh gadis itu. Tubuhnya memang tidak terlalu tinggi, tetapi Alexa tidak kurus dan bentuk tubuhnya sintal, padat dan terbentuk sempurna di tempat yang tepat. Tanpa sadar ia menelan menelan liurnya sambil membayangkan jika ia meremasnya, sepertinya kenyal dan lembut. Bukan hanya di sana, pikiran pria itu juga membayangkan dada Alexa yang selalu ia tutupi menggunakan pakaian longgar. Kenzo yakin area itu juga sempurna seperti bokongnya.Epilogue"Luna mengirimkan beberapa hadiah untuk Ryu," ujar Alexa, matanya tertuju pada layar ponselnya yang berisi pesan dari Luna. Yamada Ryuu adalah nama putra pertama mereka yang baru saja satu Minggu yang laku dilahirkan oleh Alexa. Bayi mungil itu tampak gemuk dan sehat, Ryuu juga memiliki hobi menangis dan tidak penyabar saat menginginkan air susu ibunya saat merasa lapar. "Sampaikan salam kami untuknya," ujar Kenzo yang sedang menggendong Ryuu. "Bagaimana perkembangan terapinya?" "Ia mengatakan operasi pertama beberapa bulan yang lalu sangat membantu, Minggu ini ia mulai belajar melangkahkan kakinya." Kenzo menyentuh pipi putranya menggunakan ujung hidungnya. "Syukurlah." Pada akhirnya, baik Alexa maupun Luna, keduanya memilih saling berdamai dengan keadaan. Terutama Luna, wanita malang itu memilih menerima kenyataan jika ia harus melepaskan Kenzo, juga kesempurnaannya raganya. Namun, Tuhan tidak tinggal diam karena pada akhirnya, mungkin dengan cara itulah ia bert
Ending "Ayo, tunda pernikahan kita." Alexa menatap bayangan dirinya di cermin. Mereka berada di dalam kamar Kenzo, di kediaman Edward, kakek Kenzo. Mereka baru mengetahui kehamilan Alexa dua hari yang lalu, kandungan Alexa telah berusia enam Minggu. Kenzo menyipitkan kedua matanya, pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi dan Alexa mengatakan ingin menundanya. Tentu saja ia keberatan. "Sayangku, jangan bermain-main." Alexa berbalik menatap Kenzo dengan tatapan kesal. "Kau menghamiliku. Lihat, aku sangat gemuk sekarang," ucapnya terdengar sangat kesal sabil setengah merentangkan tangannya dan matanya menatap tubuhnya yang sedikit bertambah berat. "Aku tidak ingin foto pernikahanku terlihat tidak sempurna." Kenzo menjepitkan sejumput rambut ke belakang telinga Alexa. "Dengar, sayangku. Aku tidak masalah menikahimu kapan saja. Tapi, jika kita menikah menunggu calon buah hati kita lahir, orang tuamu tidak akan setuju." Juga orang tuaku tentunya, terutama ibuku yang su
41. My BenefitBersamaan dengan itu Kenzo menginjak rem mobil yang ia kemudikan, pria itu dengan tenang keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Alexa dan Gilbert. "Jiel," sapa Kenzo. "Lama tidak berjumpa." Gilbert tersenyum. "Selamat atas pertunangan kalian." "Terima kasih." Kenzo menarik pinggang Alexa, merapatkan tubuh mereka seolah ia sedang menegaskan jika Alexa hanya miliknya. Pria itu mengecup pelipis sebelah kanan Alexa. "Selamat pagi, Sayang." "Selamat pagi, Ken." Alexa tersenyum manis, ia harus mendongak untuk menatap wajah Kenzo karena perbedaan tinggi mereka yang jauh. "Jiel, sayang sekali, aku harus pergi bekerja," ucap Alexa dengan nada tidak nyaman karena ia harus meninggalkan Gilbert. "Kita akan mengobrol lagi nanti, oke?" Gilbert memasukkan tangannya ke saku jaketnya. "Jangan khawatir, aku akan berada di sini satu Minggu. Kita memiliki banyak waktu." "Good," ujar Alexa. Gilbert melirik sekilas ke arah Kenzo. "Bagaimana jika siang ini kita makan sian
40. Your Fault"Bermain denganku tidak perlu berpura-pura mengalah," ucap William. Seusai acara makan malam di kediaman keluarga Johanson, Alexander meminta William menggantikannya bermain catur bersama Kenzo. William dengan senang hati menggantikan ayahnya bermain catur karena ia juga ingin mengenal pria yang akan menjadi suami dari adiknya, Alexa. "Sama sekali tidak," sahut Kenzo kepada pria bermanik mata berwarna Hazel di depannya. Otak yang memiliki pembawaan sedikit kaku tetapi faktanya tidak selalu yang tampak dari luar, bagi Kenzo, William cukup ramah. Ia memang telah berpura-pura mengalah agar Alexander mendapatkan kemenangan dua kali dalam bermain catur meskipun tidak sepenuhnya Kenzo berpura-pura lemah karena bagaimanapun juga permainan catur Alexander tidaklah buruk. Tetapi, tetap saja calon mertuanya itu bukanlah lawan yang seimbang baginya. William tersenyum simpul. "Kau mengalah dua kali dari ayahku, kau hanya ingin mengetahui kemampuan permainan catur ayahku,
Alexander dan Kenzo duduk berseberangan, fokus kedua orang itu sepenuhnya tertuju pada papan catur yang ada di atas meja di antara mereka. “Kenapa tidak menyerah saja?” tanya Alexander, nada bicaranya sarat dengan ejekan. Bibir Kenzo mengulas senyum tipis, sudah hari ketiga dan ia belum mengalahkan Alexander. “Jika aku menyerah, putrimu akan patah hati.” Alexander tersenyum miring. “Gilbert akan dengan cepat mengobati patah hati putriku.” Kenzo memindahkan ke arah depan salah satu bidak caturnya. “Aku tidak yakin jika Gilbert mampu mengambil hati Alexa.” Alexander juga tahu itu, ia sadar sepenuhnya jika Gilbert tidak mampu mengambil hati Alexa selama bertahun-tahun. “Kau memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi, ya?” “Bukankah itu bagus?” Alexander memindahkan salah satu bidak caturnya ke arah samping. “Kau sangat percaya diri dalam segala hal, sayangnya aku masih belum bisa percaya dengan kemampuanmu menjaga putriku kelak.” “Aku tidak menjanjikan apa pun kepadamu, juga ke
Satu tangan Kenzo meraih telapak tangan Alexa, ia menautkan jari jemari mereka, dan saling menggenggam sepanjang jalan sementara satu tangannya memegang kemudi mobil. Sesekali Kenzo mendaratkan kecupan-kecupan kecil di jemari gadis yang sangat ia cintai. “Sayangku,” ucap Kenzo saat mobil telah berhenti dengan sempurna di basemen parkir hotel yang dikelola oleh Alexa. Ia melepaskan seat belt-nya juga seat belt yang dikenakan oleh Alexa, matanya lalu menatap Alexa dengan tatapan serius. “Aku tidak akan melarang menjadi apa pun yang kau inginkan nanti setelah kita menikah. Tetapi, apa pun jalan yang kau ambil, kau harus bertanggung jawab,” Alexa mengangguk, ia mengerti apa yang Kenzo maksudkan. Benar apa yang Kenzo ucapkan, ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia kerjakan. Apa lagi menyangkut masalah pekerjaan, jika ia mengundurkan diri secara mendadak, bukan hanya membuat jadwal William berantakan karena bertambahnya pekerjaan baru tetapi seluruh jajaran stafnya juga akan ke
“Aaa....” Alexa mendekatkan sendok yang berisi es krim penuh ke mulut Kenzo. Pria itu tertegun, ia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menatap es krim yang berada sangat dekat dari bibirnya lalu menatap Alexa dengan perasaan geli. “Tenang saja, aku membeli dua es krim. Jadi, sendoknya bukan bekas
"Selamat pagi, Ken." Luna mengecup sebelah pipi Kenzo, ekor matanya mengarah kepada Alexa yang duduk tepat di depan Kenzo. "Selamat pagi." Kenzo membalas sapaan Luna tanpa membalas kecupan kekasihnya. Pagi itu suasana di kamar yang mereka tempati teramat sangat kaku, entah hanya Kenzo yang merasa
Luna membeku di ambang pintu ketika mendapati kekasihnya membukakan pintu kamar hotel untuknya, pria itu mengenakan celaan pendek kain di padukan dengan kaos longgar berwarna putih. Rambutnya tampak berantakan dan ia beberapa kali menguap, tampaknya ia letih dan sangat mengantuk. Tetapi, bukan itu
Seperti biasa Kenzo bangun lebih awal. Setelah melakukan olah raga ringan, ia membersihkan tubuhnya lalu bergegas pergi menuju perusahaan tanpa menyantap sarapannya. Ia bisa mendapatkan sarapan di perjalanan atau meminta sekretarisnya untuk membelinya. Yang jelas ia tidak ingin bertemu Alexa pagi i







