Share

LS 7. Nyaris Saja

Penulis: Ziya_Khan21
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 13:15:46

Setelah mie mereka habis, keduanya keluar dari minimarket. Udara malam London menusuk, membuat napas tampak seperti asap tipis.

Liora merapatkan coat-nya, siap pulang dan melupakan kejadian absurd itu, ketika suara pintu otomatis minimarket berbunyi lagi di belakangnya. Steven muncul dengan dua cone es krim di tangan, keseimbangan sedikit goyah karena hanya tangan kiri yang bisa dipakai.

Ia berjalan mendekat, lalu menyodorkan salah satu es krim itu pada Liora.

Tanpa penjelasan. Tanpa konteks. Hanya tatapan serius campur gonggongan kesal khas Steven.

“Apa maksudmu?” tanya Liora heran, alisnya terangkat.

“Ambil,” jawab Steven datar.

“Aku … tidak minta es krim.”

“Aku tahu,” Steven mendengus. “Tapi dulu kau selalu merengek minta dibelikan es krim. Padahal uang jajananmu banyak.”

“Itu dulu,” bantah Liora cepat, seolah ingin menutup pintu masa lalu selamanya.

Steven tetap menyodorkannya. Bahkan sengaja menggoyang-goyangkannya, seperti orang yang hendak menjatuhkan barang berharga. “Mau atau tidak? Kalau tidak, aku buang!”

“Jangan buang-buang makanan!” potong Liora refleks sambil merebut cone itu dari tangan Steven.

Senyum kecil muncul di sudut bibir Steven. Ia menang. Dan Liora tahu itu. Namun, ia tidak ingin membahasnya, jadi ia pura-pura sibuk menjilat ujung es krimnya seolah itu hal paling serius di dunia.

Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar sepi, lampu-lampu kota memantul lembut di aspal basah. Langkah mereka pelan, tanpa arah pasti, tetapi tidak ada yang mempersoalkan itu. Seolah kaki mereka otomatis tahu ke mana harus pergi.

Steven akhirnya membuka suara. “Jadi … rumahmu di sekitar sini?”

Liora mengangguk tanpa menoleh. “Beberapa blok dari sini. Aku biasa jalan kaki kalau pulang malam.”

“Kau pulang tengah malam sendirian?” Nada Steven mengeras, lebih ke marah daripada cemas atau mungkin keduanya.

“Ya,” jawab Liora simpel.

“Merepotkan.”

Liora melotot. “Merepotkan siapa?”

Steven tidak menjawab. Ia malah menggigit es krimnya terlalu besar, langsung menggigil kedinginan, lalu mencoba bertingkah seolah baik-baik saja. Liora harus menahan tawa melihatnya.

“Kenapa tidak naik taksi?” tanya Steven lagi.

“Karena aku suka jalan kaki. Dan aku tidak butuh bodyguard,” balas Liora tajam.

“Tapi kau punya satu,” gumam Steven sambil melirik gips-nya. “Sementara.”

Liora berpura-pura tidak mendengar dan fokus pada es krimnya. Namun, ada sesuatu di antara mereka, sesuatu yang mengambang, samar, seperti bayangan masa lalu yang belum selesai.

Entah itu nostalgia. Entah amarah. Entah sisa-sisa cinta yang tidak mau mati meski dihabisi jutaan kali.

Mereka terus berjalan berdampingan, tanpa menyadari bahwa jarak di antara mereka mengecil sedikit demi sedikit.

Malam itu semakin dingin ketika mereka hampir sampai di gang rumah Liora. Lampu-lampu jalan berpendar kuning pucat, menambah kesan sepi. Liora menghentikan langkahnya dan menatap Steven.

“Sampai sini saja,” katanya sambil menyilangkan tangan di dada. “Kau bisa pulang sendiri. Aku sudah dekat rumah.”

Steven memicingkan mata. “Yang mana rumahmu?”

Liora menunjuk sebuah rumah berwarna putih, tidak terlalu besar, tetapi tampak nyaman. Di halaman depan ada taman kecil dengan ayunan besi yang bergoyang pelan tertiup angin malam.

“Itu. Yang putih,” jawab Liora.

Steven mengangkat alis. “Gelap begitu.”

“Lampu tamannya mati, belum sempat aku ganti.”

“Kau tinggal sendirian?”

“Itu bukan urusanmu.” Liora mendengus, lalu melambaikan tangan seperti mengusir kucing liar. “Sekarang pergilah. Aku mau masuk.”

Steven mendesah panjang, jelas tidak puas, tetapi akhirnya berbalik sambil menggerutu pelan. “Kau selalu menyuruhku pergi. Aneh.”

Liora memutar bola mata. “Bagus kalau kau sadar.”

Steven berjalan menjauh, langkahnya lambat, tetapi ia tidak menoleh. Liora menatap punggungnya sekilas, lalu menuju pintu pagar kecil yang mulai berkarat. Ia meraih kunci dan hendak membukanya—.

Suara langkah mendekat dari belakang.

Liora mengembuskan napas keras. “Steven! Aku bilang pulang saja, jangan—”

Ia berbalik sambil bersiap menyindir, tetapi suara yang keluar dari tenggorokannya justru berubah menjadi teriakan patah.

Yang berdiri di sana bukan Steven.

Melainkan seorang pria asing dengan coat panjang warna gelap … yang tiba-tiba membuka coat-nya lebar-lebar.

Liora membeku.

Pria itu tertawa rendah, tawa aneh yang membuat bulu kuduk berdiri. Dengan jelas sekali terlihat bahwa pria itu … tidak memakai celana.

“Cantik sekali mukanya kalau takut,” ucap pria itu sambil mendekat, langkahnya cepat dan agresif.

Liora panik. Ia ingin lari, tetapi kakinya seperti membeku. Ia ingin berteriak lagi, tetapi suaranya tercekat. Napasnya memburu, pandangan kabur oleh ketakutan.

Pria itu semakin dekat.

Semakin dekat.

Tangannya hampir menyentuh lengan Liora.

Tiba-tiba seseorang menarik kerah coat pria itu dari belakang.

Dengan satu gerakan keras, tubuh pria itu terlempar dan menghantam tanah berbatu.

Liora terbelalak.

Steven.

Steven berdiri di antara Liora dan pria itu. Nafasnya berat, rahangnya mengeras, dan tangan kirinya menahan tubuh pria itu sementara tangan kanannya yang digips terhempas keras ke tanah.

Gips-nya retak. Bahkan pecah sebagian.

Namun, Steven tidak memedulikannya.

“Berani-beraninya kau mendekat,” desis Steven, suaranya rendah, dingin, dan mematikan, sisi Steven yang jarang sekali muncul, bahkan sepanjang masa pacaran mereka dulu.

Pria itu mencoba bangkit, tetapi Steven menendang kakinya, membuatnya kembali jatuh.

“Pergi sebelum kupatahkan kaki satumu lagi.”

Pria itu yang tadinya begitu percaya diri sekarang pucat ketakutan. Ia bangkit terbirit-birit, menutup coat-nya dan berlari secepat mungkin menyusuri jalan, menghilang di kelokan seperti seekor tikus yang baru hampir diterkam kucing.

Liora masih berdiri terpaku.

Butuh beberapa detik sebelum ia bisa bernafas normal lagi.

Steven berbalik perlahan menghadapnya. Di bawah lampu jalan yang temaram, wajahnya tampak sedikit kesakitan, tetapi lebih terlihat khawatir.

“Kau baik-baik saja?” suaranya rendah, tanpa sarkasme, tanpa sinis, hal yang jarang sekali terjadi.

Liora menatap gips yang pecah itu. “Tanganmu .…”

Steven mengangkat bahunya. “Hanya gips.”

“Tapi—”

“Aku sudah bilang,” Steven mendekat sedikit, suaranya lebih lembut dari biasanya, “pulang sendirian tengah malam itu merepotkan.”

Liora tidak bisa bicara. Kata-katanya hilang.

Sosok Steven yang berdiri bagai perisai untuknya beberapa detik lalu masih menari-nari di benaknya. Gaya bertarungnya, keberaniannya, cara ia berdiri tepat di depannya seolah dunia boleh runtuh, tetapi Liora tidak boleh disentuh.

“Kenapa … kau kembali?” Suara Liora hampir berbisik.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (28)
goodnovel comment avatar
Masruroh Masruroh
untung saja Steve balik, jadi Liora gak sempat di anu,,, dia kembali karena kawatir sama kamu ra
goodnovel comment avatar
Nur nh
untung saja ada Steven kalau gak gimana udah nasib Liora
goodnovel comment avatar
ida sari
waduh siapa tuh orang, ngeri banget dah bikin Liora ketakutan, untung Steven datang tepat waktu klu ga sdh melakukan sesuatu dia ke Liora,,ga aman tau pulang malam sendiri.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 101. Ini Jebakan?

    Suasana meja itu kembali berat.Liora menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya sendiri. Ia tidak mau terlihat goyah.“Jadi,” ia menatap Julian kembali, “itu alasanmu memperkenalkanku pada Jessica?”Julian mengangkat alis. “Jessica?”“Ya. Kau tiba-tiba membuatku bertemu dengan Jessica. Semua terasa seperti… sudah diatur.”Julian tertawa kecil. “Tidak sengaja.”Liora menatapnya curiga.“Hanya kebetulan Jessica tertarik pada gaunmu,” lanjut Julian. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya membuka pintu. Kau sendiri yang masuk dan membuat mereka terkesan.”Liora terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya bahwa semuanya memang kebetulan. Bahwa Julian hanya membantu karena ia peduli.Namun sebagian kecil lainnya bertanya… apakah benar hanya itu?“Julian,” ucapnya akhirnya, “aku tidak ingin hidupku dipenuhi kecurigaan.”“Aku tidak bermaksud membuatmu curiga.”“Tapi kau m

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 100. Hanya Kebetulan?

    Liora tersenyum tipis, tapi ada getir di sana. “Saat itu kami masih muda. Ego lebih besar dari komunikasi. Hal sepele bisa terlihat seperti pengkhianatan.”Julian memperhatikannya dalam diam.“Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun,” lanjut Liora pelan. “Hidup berjalan sendiri-sendiri. Aku membangun butik. Dia mengembangkan bisnisnya. Kami seperti dua garis yang sempat berpotongan lalu menjauh sangat jauh.”“Dan kemudian?”“Entah takdir sedang bercanda atau memang punya rencana sendiri,” Liora menatap gelas airnya. “Kami bertemu lagi. Dalam situasi yang tidak terduga.”Julian tahu ada bagian cerita yang tidak ia ceritakan sepenuhnya, tapi ia tidak memotong.“Dan akhirnya kau menikah,” simpul Julian pelan.Liora mengangguk. “Ya.”Julian menyilangkan tangan di atas meja. “Bagaimana jika kesalahpahaman itu kembali terjadi?”Pertanyaan itu membuat Liora mengangkat wajahnya perlahan.“O

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 99. Bagaimana Dia di Sini?

    Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar tidur dan mulai melepas jasnya. Kancing kemeja bagian atas sudah terbuka ketika bel kamar berbunyi.Ding-dong.Steven berhenti sejenak. “Secepat itu?” pikirnya. Mungkin John sudah mengirimkan makanan.Ia berjalan santai menuju pintu tanpa banyak curiga, membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.Begitu pintu terbuka—Sosok yang berdiri di depannya membuat napasnya tertahan.“Amanda?”Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Amanda melangkah maju dan langsung memeluknya. Tubuhnya menempel erat pada dada bidang Steven. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol yang samar menyengat.“Steven…” bisiknya pelan, wajahnya menempel di dada Steven.Steven terkejut, refleks tangannya terangkat. “Amanda, apa yang kau lakukan?”Ia mencoba menarik tubuh wanita itu menjauh, tetapi Amanda justru semakin melekat, kedua tangannya melingkar di pinggang Steven.

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 98. Tamu Tak Terduga

    “Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akan memastikan setiap gaun untukmu bukan hanya indah … tapi tak terlupakan.”***Setelah percakapan itu berakhir dengan senyum dan kesepakatan awal, Liora dan Julian akhirnya berdiri untuk pamit. Jessica kembali menjabat tangan Liora dengan hangat, tatapannya penuh keyakinan.“Aku menunggu karya berikutnya,” ucapnya pelan.Liora mengangguk hormat. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Tania kemudian mengantar mereka keluar. Sesampainya di depan lobi utama,

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 97. Dia Menyukainya

    Jessica.Aktris film papan atas yang wajahnya sering menghiasi layar bioskop dan majalah fashion.Rambut hitam panjangnya tergerai lembut, kontras dengan mata birunya yang tajam namun hangat. Bibir kecilnya melengkung membentuk senyum ramah. Tubuhnya tinggi ramping dengan proporsi bak boneka barbie, anggun, hampir terlalu sempurna untuk nyata.“Julian,” sapanya hangat, lalu menoleh pada Liora. “Dan ini pasti Liora.”“Iya,” jawab Julian.Jessica melangkah mendekat dan menjabat tangan Liora tanpa kesan sombong sedikit pun. “Aku sudah melihat beberapa foto gaunmu. Aku tidak sabar melihat langsung.”Sambutan hangat itu sedikit meredakan ketegangan di dada Liora.“Terima kasih sudah memberi kesempatan,” jawab Liora sopan.Mereka duduk sejenak di ruang tamu suite yang luas. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Setelah berbincang ringan tentang proyek film terbaru Jessica dan rencana acara red

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 97. Bertemu Klien penting

    Butik Liora kembali ramai.Sejak pagi, pintu kaca itu tak berhenti terbuka dan tertutup. Beberapa klien baru datang dengan antusias, sebagian membawa foto dari ponsel mereka.“Ini gaun yang dipakai Amanda kemarin, kan?” tanya salah satu wanita muda sambil menunjukkan gambar yang sudah beredar di media sosial.Liora tersenyum sopan, meski di dalam hati ia benar-benar bingung.Bagaimana berita itu bisa menyebar secepat ini?Amanda bahkan belum secara resmi tampil di acara besar mana pun dengan gaun tersebut. Namun kabar bahwa model ternama itu mencoba koleksi Liora sudah cukup membuat nama butik kecilnya mendadak diperbincangkan.Beberapa klien bergantian mencoba gaun biru bertumpuk tulle. Ada juga yang langsung meminta melihat gaun putih dengan cape elegan. Bahkan gaun glitter biru yang sebelumnya disebut terlalu seperti putri dongeng kini justru paling banyak diminati.Liora berdiri di tengah ruangan, membantu mengatur j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status