LOGINFiona meringis menahan tangannya yang kepanasan. Kedua bola matanya terasa bergetar melihat apa yang ia buat pagi ini berantakan di sekitarnya.
Tatapannya langsung tertuju kepada Darren. Pria itu tak merasa bersalah sedikitpun setelah melemparkan makanan yang ada di atas meja. Hati Fiona terasa semakin sakit. “Kalau kamu tak mau memakannya, ya sudah. Biar aku yang makan sendiri!” gerutu Fiona, meski suaranya gemetar menyahuti Darren. Makin menukin tatapan Darren. Pria itu tak peduli dengan apa yang dirasakan Fiona. Mungkin, baginya Fiona hanyalah wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya hanya karena kesalahan saudari Fiona. “Selain kamar tidurmu dan kamar mandi, aku tak sudi kamu meletakkan apapun di rumahku!” tegas Darren. Tanpa bicara lagi, Darren langsung pergi meninggalkan rumah. Sorot mata Fiona hanya melihat lantai yang sudah mulai sedikit mengering dengan minyak yang menempel. Air matanya membasahi wajahnya. Ia usap pelan pipinya yang basah, lalu memunguti dahulu mangkuk dan piring, serta lauk yang masih bisa dipungut. ‘Jahat! Harusnya dia batalkan saja pernikahan itu kalau tak mau aku menggantikan Helen!’ batin Fiona dengan amat sakit. Sambil sesekali sesenggukkan, Fiona benar-benar membereskan semua kekacauan. Makanan yang sudah terjatuh terpaksa ia buang. Ia buat dapur seperti bagaimana sebelum ia gunakan. Tak mau lagi ada perilaku tak menyenangkan dari Darren. Tak lama, Fiona keluar dari rumah itu sejenak. Rumah yang sekarang ia tinggali tak layak ia sebut sebagai rumahnya. Dia hanya numpang tinggal, hanya karena status pernikahan. Berjalan cukup jauh, Fiona pada akhirnya sampai di kafe favoritnya. Aroma manis minumannya membuat Fiona merasa jauh lebih tenang. Saat baru saja ia mulai menegak sedikit, sudut matanya langsung tertuju kepada seseorang. Di seberang sana, Fiona melihat Darren yang berdiri tak jauh dari mobil hitam yang mungkin adalah milik Darren. ‘Kenapa dia tak pergi bekerja di jam segini?’ batin Fiona, merasa penasaran. Sebuah toko yang terus dipandangi Darren membuat Fiona semakin penasaran. ‘Memang ada apa di sana?’ batin Fiona yang masih bergumam. Darren tampak langsung masuk ke dalam mobilnya, melaju dengan kencang. Fiona hanya memandangi kepergian mobil Darren. Menghampirinya adalah ide yang buruk, mengingat bagaimana Darren memperlakukannya hanya dalam satu hari. Fiona yang mengabaikan hal itu, kini beralih untuk berjalan menuju taman setelah ia mencari pada map internet. Ia perlu menarik energi positif lebih banyak, sebelum kembali ke tempat yang tak ada bedanya dengan rumah sebelumnya. Sebuah taman dengan lapangan luas yang didatangi, memberikan suasana nyaman serta aman bagi Fiona. Ia pandangi rerumputan yang hijau, serta berteduh di bawah pohon yang rindang. “Hai.” Sapaan seseorang membuat Fiona sontak menoleh, namun mundur satu langkah ke belakang. Seorang pria nyaris menyentuhnya, dan memberikan senyuman lebar serta manis melihat Fiona. Fiona kebingungan, karena ia tidak kenal akan pria ini. Raut wajahnya langsung berubah waspada. “Aku Jayden. Apa kamu tak ingat?” “Jayden?” Alis Fiona mengkerut setelah mendengar nama yang disebut. Tak ada bayangan yang keluar dalam ingatan Fiona setelah mendengar nama yang diucap. Rasa bingungnya semakin lama malah semakin besar setelah mencoba mengingat-ingat. “Teman kuliahmu. Kita satu kelas selama 3 semester, apa kamu tak mengenaliku?” ujarnya. Melesat begitu jauh. Fiona akhirnya mendapatkan ingatan mengenai siapa pria itu. Ia langsung pasang senyumannya yang ramah, sembari membalas jabatan tangan Jayden yang sudah menunggunya daritadi. “Haha, maaf. Sudah lama sekali,” balas Fiona. “Yah, tak masalah. Wajar kamu tak mengingatku. Kita hanya bertemu di awal perkuliahan,” ucap Jayden. “Maaf ya. Kamu apa kabar?” Fiona berbasa-basi. “Tak ada perubahan. Masih sama seperti saat kita bertemu pertama kali,” jawab Jayden. “Begitukah?” Keduanya asik mengobrol mengungkapkan bagaimana mereka sudah lama tak bertemu. Jayden menjadi satu-satunya teman pria yang berhasil membuat Fiona bisa bicara dengan tenang. Pria dihadapannya adalah seseorang yang bagi Fiona merupakan hal istimewa, karena akhirnya dia bisa percaya diri berbicara pada seorang pria. Obrolan mereka terasa semakin nyaman selayaknya dua sahabat yang sudah lama tak bertemu. Namun, tanpa disadari, seseorang menarik tubuh Fiona dan memegangi lengannnya dengan kuat. Spontan menoleh, Fiona lebih terkejut bahwa yang menariknya adalah seseorang yang dari awal mereka saling bertatap muka, sudah begitu kasar padanya. Tatapan Darren tampak dingin, namun tajam kepada Jayden. Sementara, Jayden tak bergeming dengan masih tersenyum ramah memandangi Darren. “Kamu, siapanya?” tanya Jayden, dengan lembut. Mengiraukan pertanyaan Jayden, Darren menoleh ke arah Fiona yang membuat wanita itu langsung ciut hanya dengan satu kali lirikan. “Beginikah kamu di luaran?” tanya Darren. “A- Apa?” gugup Fiona. “Jawab!” Jayden refleks mencoba menjauhkan Fiona dari Darren. Bahkan wajah ramah Jayden langsung sirna menjadi mode pengamanan melihat suara tegas Darren. “Jangan kasar begitu! Kamu membuatnya tak nyaman!” tegas Jayden. Alih-alih memberitahukan Jayden jawaban, Darren justru makin mengeratkan tangannya, dan melirik ke arah Fiona. Seolah sorot matanya berucap, meminta Fiona yang maju memberikan jawaban. “Tak apa, Jayden. Dia… Suamiku,” ucap Fiona, sembari menyingkirkan tangan Jayden yang masih berusaha menjarakkan ia dengan Darren. Jayden terkejut dengan jawaban Fiona. Tatapannya yang kaget tak percaya bahwa Fiona sudah menikah. “Sudah dengar? Jadi jangan mengusik!” tegas Darren. Darren menepis tangan Fiona, lalu menarik wanita yang tengah ia genggam. Semakin berjalan jauh dengan Darren yang memeganginya, Fiona semakin merasakan bahwa jantungnya semakin tak tenang. Di dalam mobil Darren, Fiona baru pertama kali masuk ke dalam sana. Suasananya mencengkram, bahkan mencekik pernapasannya. “Darren, maaf, aku tak-” “TCKk!” Hanya dengan suara itu, Fiona langsung berhenti bicara, saat hendak menjelaskan. Kepalanya hanya bisa menunduk sambil memegangi tangannya sendiri. Kemungkinan terburuk sudah terbayang dalam kepalanya. Darren bisa marah hanya perkara hal yang tak perlu dipermasalahkan. Tetapi, sekarang ada masalahnya. Tak mungkin ia tak marah besar. ‘Mampus aku habis ini.’Fiona takkan menjadi seseorang seperti yang mereka harapkan lagi. Bukan Fiona yang mengalah ata akan menuruti semua permintaan mereka lagi. Sekarang, Fiona akan tetap memegang teguh pendiriannya.“Berani kamu seperti itu?!” pekik Hanna, yang kali ini sudah kembali pada mode biasanya.“Ya! Ibu sendiri yang menangis di depanku, memintaku menggantikan posisi Helen untuk menikah dengan Darren. Lalu, untuk apa sekarang dia ingin kembali?!” Fiona membalas dengan suara yang sedikit meninggi.“Karena Helen lebih pantas bersanding dengan Darren! Kamu mana bisa menghadapi kehidupan yang berat berada di samping Darren!” tegas Hanna.Fiona menyungginggkan senyuman. Dia mengerti maksud omongan Hanna mengarah ke mana. Tetapi, dibalik ucapan barusan, Fiona lebih menangkap maksud mengenai apa yang sudah Darren dapatkan sekarang.“Bukannya Helen sudah dapat? Kata dia, pacarnya yang sekarang itu calon penerus, jauh lebih baik daripada Darren yang hanya pegawai saja. Kenapa sekarang justru dia mengingin
Bagaimanapun Darren memperlakukannya, Fiona sudah merasa biasa saja. Ia sudah mulai terbiasa dengan apa yang dipinta sang suami. Bahkan, Fiona merasa bahwa nyaman dengan semua yang dilakukan Darren kepadanya.Siang ini, Darren meminta Fiona untuk ikut pergi ke suatu tempat yang diminta oleh sang suami. Ia kenakan pakaian yang cantik, dan pastinya tidak memalukan bagi Fiona.Selama perjalanan, Fiona melihat ke sekeliling jalanan, memperhatikan bagaimana semuanya masih tetap sama.“Kamu tak mau tahu kemana aku ingin mengajakmu?” tanya Darren.“Hmmm? Selama itu sama kamu, aku tak masalah,” balas Fiona.Darren tersenyum tipis membalasnya, lalu kembali melajukan mobil ke arah yang seharusnya. Tak lama kemudian, Fiona sampai ke tempat yang dituju oleh Darren. Pinggiran danau yang benar-benar hijau. Banyak orang di sana menikmati bagaimana danau yang begitu asri dan juga suasana yang nyaman.Fiona yang baru turun dari mobil sudah senyum sumringah. Dia menyukai tempat yang ditunjukkan kepada
Paggilan dimatikan oleh Darren. Fiona hanya memaku sejenak memandangi pakaian-pakaian tersebut. Ia tak tahu, kalau Darren menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuannya.‘Yang diberikan mamanya dulu, belum pernah kucoba. Dan sekarang, dia mau aku tampil menggunakan ini semua?’Batinnya sempat bergemuruh karena merasa runtuh melihat Darren yang kini semakin memperlihatkan jelas perubahannya ke arah mana.Namun, saat pikiran Fiona beralih melihat bagaimana dia bisa bebas dari hidupnya yang penuh tekanan dan selalu dikorbankan, Fiona menemukan sebuah titik yang memperlihatkan tak seharusnya dia demikian.‘Iya juga…. kalau bukan karena Darren, tak mungkin aku bisa pergi dari rumah. Aku harus balas budi, kan? Paling tidak, aku harus senangkan dia.,Fiona ambil salah satu pakaian dinas yang ia rasa paling seksi. Ia pakai pakaian itu dengan begitu ketat di badannya. Ia pakai make up, dan juga buat rambutnya bergelombang untuk memancarkan aura seksi yang tidak pernah ia tunjukkan.Fiona muncul di
Fiona yang masih sibuk meratakan coklat pada rotinya, merasakan bahwa Darren tengah tersenyum. Terasa lewat dagunya yang naik.“Kamu takkan meninggalkanku, kan?” tanya Darren, berbisik di telinganya.“Tentu saja tidak,” balas Fiona. Ia kunyah terlebih dahulu roti yang baru ia buat, sembari menyahut kembali. “Aku sudah bilang, aku berhasil keluar rumah itu berkatmu. Meninggalkanm, sama saja mengmbalikanku ke rumah itu, kan?” Fiona.Mendengar jawaban Fiona, membuat Darren menarik wajah Fiona, lalu memberikan kecupan pada bibirnya secara tiba-tiba. Senyum smirk dari Darren terlihat tak memasang wajah bahagia biasanya. Itu adalah senyuman kepuasan yang baru kali ini Fiona lihat.“Kalau begitu…. aku ingin membuat berbagai aturan bersamamu, boleh?” Darren bertanya, sambil memandangi Fiona.Tanpa ragu dengan penawaranan, Fiona menganggukkan kepala, dengan terus melanjutkan makan roti yang ia bawa.Pelukan Darren yang mulanya begitu erat pada tubuh Fiona, kini beralih. Sebelah tangan Darren m
Darren mulai dengan gemas memainkan dada Fiona, dan juga meletakkan terlebih dahulu ponsel Fiona. Tak lama, Darren mulai menaikkan baju Fiona, dan melihat buah dada Fiona yang mengeras karena tegang.Fiona menerima perlakuan Darren, membiarkan Darren melepaskan semua pakaiannya, sampai membuat Fiona merasa malu karena tak mengenakan apapun di hadapannya.“Baby… you look sexy,” ucap Darren.Fiona malah makin merona mendengar ucapan Darren yang memujinya. Tangan Darren menyentuh pipinya dengan lembut, dan sedikit mencubit karena merasa gemas.“Tubuhmu benar-benar indah, Baby,” ucap Darren, yang semakin tak bisa menahan.Sembari malu-malu, Fiona berusaha memasang wajah paling menggoda untuk bisa merayu Darren. Ia suka, sangat menyukai bagaimana Darren menyentuhnya.“Kalau begitu, tunggu apa lagi, Sayang? Kemari,” ucap Fiona.Darren yang sudah bersiap, segera menyesap pucuk dada Fiona. Ia remas dengan keras, dan membuat Fiona mendesah dengan nikmat. Mendengarkan Fiona dengan suara indahny
Darren yang merasa muak dengan drama keluarga ini ingin berperilaku kasar. Ia tak suka, ada orang-orang yang datang dengan tidak tahu dirinya, dan bersikap seenak hati tanpa memikirkan perasaan orang lain.Emosinya yang membesar, membuat napas Darren memanas, dan matanya bahkan melotot memandangi dua wanita tidak tahu diri di hadapannya.“Itu dulu, Darren. Tak bisakah kamu lupakan apa yang sudah berlalu? Sekarang, kami datang untuk memperbaiki, apa yang salah selama ini,” Hanna berbicara, masih dengan tidak tahu dirinya.Darren makin tertawa. Ini tawa muak hati dan juga menunjukkan betapa buruk perasaan yang dia rasakan saat ini.“Berlalu? Kalau begitu, biarkan saja. Mau ada kesalahan atau tidak di masa lalu, sekarang, Fiona adalah istriku, dan tetap akan menjadi istriku!” tegas Darren.Hanna yang melihat kegigihan Darren merasa tak menemukan celah untuk bisa membuat Darren kembali kepada Helen. Jadi, dia menarik lengan Fiona, dan membuat wanita yang sudah ketakutan itu berdiri di seb







