Share

Hadiah Mertua

Author: Dek ita
last update publish date: 2026-03-19 22:07:55

“Sampai mana pendidikanmu?” tanya Darren, dengan nadanya yang dingin menusuk. “Ya?” spontan Fiona menoleh.

Tak diulang dua kali, namun, tatapan pria yang sedang mengemudi membuat Fiona undur diri untuk bertanya kedua kalinya.

“Kuliah. Aku tamat kok,” balas Fiona.

Satu kali lirikan, dan sekali hembusan napas, Darren mengucapkan kalimat kasarnya kembali dengan nada tidak mengenakkan untuk didengar.

“Lalu dimana otakmu yang keluar dengan pria lain saat sudah menikah!” DEGH. Rasanya, kesadaran Fiona dibuat tercabik dengan ucapan Darren. “Bukannya kamu tak menerimaku di pernikahan ini, seharusnya tak-” PLAKKKKK.

Sebuah tamparan yang mendarat dengan mulus meski Darren sedang menyetir, membuat Fiona syok. Pipinya terasa kebas karena tamparan Darren. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya mulai berair.

Tangannya yang gemetar membuat Fiona lemas. Neraka ini jauh lebih buruk. Tak ada bedanya.

Sampai di rumahpun, tak sedikitpun Darren menyadari sikapnya. Ia bahkan membanting pintu saat keluar, membuat Fiona yang masih berada di dalam terkejut.

Fiona merasakan napasnya panas memburu, ia segera atur dengan baik. Ia tak mau luapkan emosinya selain di tempat teramannya.

Langkah kakinya yang masuk ke dalam rumah, tak membuat Fiona merasa aman. Di ujung sana, ia melihat Darren tengah berdiri di dekat meja sambil menegak segelas air.

Keberadaannya membuat Fiona semakin takut.

‘Apa sebenarnya mau pria ini?!’ kesalnya dalam hati. “Masuk!” pekiknya.

Sontak Fiona langsung melangkah. Ia takut, takut apabila akan terjadi hal lebih buruk dari sekedar yang tadi.

Dengan menjaga jarak, Fiona berada di dekat Darren. Pria itu mengeluarkan sebuah map dari dalam laci, membukanya di atas sana. Fiona hanya melirik sedikit, dan membaca judul atasnya.

‘SURAT PERJANJIAN.’

“Tanda tangan di sini!” tegas Darren.

Fiona baru berani mendekat saat Darren menunjuk salah satu bagian dari kertas kosong. Dengan cepat, Fiona menangkap isi dari surat perjanjian yang membuat Fiona terheran. Namun, ada satu yang tak masuk di akal.

‘Tak boleh ikut campur urusan masing-masing.’ Ia menoleh ke arah Darren.

“Kamu baru saja mencampuri urusanku, ingat?” ujar Fiona, secara tak sengaja. “Berani?”

Fiona langsung tersadarkan. Ia segera raih pena yang ada di atas meja, lalu menandatangani apa yang diminta. Ia lupa, sedang berhadapan dengan Darren yang begitu kasarnya.

Setelah selesai, Darren menutup map itu, memasukkannya kembali ke bagian paling bawah dari tumpukan kertas yang ada di laci.

Kini, mereka berdua berdiri dengan jarak yang cukup dekat. Untuk pertama kalinya setelah bertemu, Darren menadangi Fiona lamat-lamat. Namun, Fiona justru merasa risih dengan cara pandang Darren.

“Kamu senang kan, karena kamu yang menikah denganku?” ucap Darren. Fiona terkejut. Ia merasa difitnah oleh ucapan Darren.

“Aku?! Menurutmu aku senang menikah denganmu?!” spontan ujar Fiona, sambil menunjuk dirinya sendiri.

Alisnya kemudian naik satu, mengisyaratkan jawaban dari pikiran Darren. “Wow. Apa sejak kemarin, kamu kasar-”

CKLEKKKK.

Suara Fiona langsung berhenti saat mendengar suara pintu dibuka. Mereka berdua, secara bersamaan menoleh ke sudut yang sama.

Betapa tak terduganya kedatangan kedua orang tua Darren dari balik pintu. Senyuman seorang wanita dewasa begitu berbinar, didampingi seorang pria yang penuh wibawa dengan seringai kecil.

“Astaga, apa mama dan papa mengganggu waktu kalian berdua?”

Fiona terbata hendak memberikan jawabannya. Namun, Darren secara tiba-tiba meraih pinggang Fiona, merangkulnya e dan membuat posisi mereka semakin dekat.

“Tidak Ma, kami hanya sedang berbincang sedikit,” balas Darren.

Fiona nyaris melongo mendengar jawaban Darren. Tak terduga bahwa ada sisi Darren yang tidak Fiona tahu sebelumnya. Bahkan, dia kelihatan begitu ramah kali ini.

Mama Darren mendekat mereka berdua. Ia memeluk Fiona dengan segera, dan memberikan ciuman pipi dengan begitu hangat.

Kali ini, Fiona merasa hatinya berbunga-bunga. Bahkan, tanpa sadar dia tersenyum mendapati salam hangat dari seseorang yang mendadak jadi mertuanya.

“Maaf ya Nak, Mama sudah mendengar insiden kemarin. Apa kamu keberatan menjadi istri Darren?”

Saking senangnya Fiona menggelengkan kepalanya segera. Ia tak sadar, bahwa jawabannya akan membuat dirinya jadi masuk lebih dalam di keluarga Darren.

“Oh syukurlah. Mama senang kamu tak keberatan. Kalian sudah saling mengenal lebih dekat, kan?” tanya Mama Darren.

Fiona melihat ke arah Darren. Mereka berdebat dengan batin mereka yang tak bisa saling mendengar. Dengan Darren yang marah karena respon Fiona, sementara Fiona yang bingung harus merespon bagaimana.

Delia, Mama Darren, yang melihat mereka berdua hanya saling pandang itu salah menangkap maksud. Ia mengira, tatapan di antara mereka berdua itu tanda penuh cinta pada satu sama lainnya.

“Astagaaa, kalian benar-benar pasangan pengantin baru yang serasi! Mama suka!” seru Delia.

“Baguslah, Nak. Kamu menikah dengannya. Papa lebih suka dengan Fiona sedari awal, daripada dengan Helen,” ucap Mahesa, Papa Darren.

Fiona dan Darren hanya bisa saling lempar senyum kikum menanggapi ucapan mereka. Entah mengapa, Fiona terlarut pada sandiwara yang tak mereka rencanakan saat bertemu orang tua Darren.

“Kebetulan, mama hanya ingin mampir memberikan ini,” ujar Delia, memberikan sebuah box yang cukup besar seukuran kedua tangannya.

“Ini apa, Ma?” Fiona merasa tak nyaman saat menyebutkan panggilan tersebut.

Baru saja Fiona hendak membukanya, Delia segera memegangi kembali tangan Fiona, membuat hadiah di depannya tertutup kembali.

Dengan saling memandangi, Delia memberikan jawaban yang sedikit mengusik pikiran Fiona sejenak.

“Dibuka nanti saja, ya?” pintanya. “I- Iya..,” Gugup Fiona.

“Kalau begitu, selamat menikmati suasana pengantin baru ya,” ucap Delia, seraya merangkul lengan sang suami, dan berjalan meninggalkan mereka berdua.

Senyuman di antara pasangan terpaksa ini sirna, pasca pintu tertutup, membuat dua tamu tak diundang hilang dari dalam rumah.

Senyuman Darren yang palsu langsung ia buang. Bahkan kali ini melirik tajam ke arah Fiona yang masih merasa canggung.

Fiona merasakan tatapan Darren. Ia melirik, dan sadar bahwa Darren tak senang dengan perilaku Fiona barusan.

Saat matanya melirik ke arah kotak di tangan Fiona, ia langsung rebut tanpa pikir panjang. Tanpa merasa curiga atau menerka, Darren membukanya dengan menarik tutupnya, membuat Fiona yang berdiri di depan tak bisa melihat.

Namun, wajahnya tiba-tiba memerah. Wajah sangarnya berubah menjadi tomat. Fiona malah tambah bingung.

“Sial! Seharusnya aku tak melihat ini!” ucap Darren, menyodorkan kasar kotak itu, lalu meninggalkannya ke kamar.

‘Apaan sih!’ kesal Fiona dalam hati.

Fiona melihat ke arah kotak, dan membukanya tanpa ragu. Hingga akhirnya dia sadar, bahwa pemberian mertuanya benar-benar membuat Fiona merasa malu.

Sebuah ‘Baju Dinas’ berwarna merah menyala, dengan akses dua sisi pada dua aset yang membuat siapapun akan berpikir ke arah sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Di Sisi Fiona

    Fiona kembali dibuat terkejut dengan cara Darren tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ditambah dia baru saja melihat pria dingin ini tersenyum.‘Diam tersenyum! Omaygat! Dia sungguh bisa tersenyum?!’ batin Fiona yang kaget.Fiona semakin terkesima. Ada sisi yang Fiona belum kenal. Ada sisi yang sengaja disembunyikan. ‘Dia orang baik. Aku yakin,’ batin Fiona.“Kamu sering makan di sini?” tanya Fiona, mulai sedikit berbasa-basi.“Ya, mungkin? tak tentu,” Darren menjawab dengan tak yakin.Fiona mencuri pandang melirik ke arah Helen. Ini tempat favorit sang adik.“Apa kamu pernah ke sini dengan Helen?” Fiona melontarkan kembali sebuah pertanyaan.“Helen? Tidak. Aku tak pernah membawa orang lain kemari sebelumnya,” balas Darren.Jadi, dia orang pertama diajak Darren? Fiona merasa sedikit dispesialkan oleh Darren. Pria itu seolah melepaskan senyuman lebar pada Fiona. Hidangan yang mereka pesan datang. Fiona makin terpukau melihat bagaimana steak terlihat begitu menggoda hanya dari luarnya!

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Sikap yang Mengejutkan

    Meski memang sesuai dengan faktanya, Fiona malah tak suka karena Jayden mengatakan itu pada Fiona. Ia kepalkan tangannya, tapi berusaha tetap tenang.“Apa urusannya denganmu?” tanya Fiona, dengan sedikit kesal.“Urusan? Hmmm. tak ada sebenarnya. Tapi, aku punya tujuan,” balas Jayden.Fiona sedikit memiringkan kepala setelah mendengar ucapan Jayden. Pria itu datang dengan sangat percaya. Bahkan, ia menyinggung sesuatu yang sebenarnya tidak perlu sama sekali.“Apa kamu sadar bicara padaku seperti itu?” Fiona memastikan.“Sangat sadar, Fiona. Justru aku yang harusnya bertanya padamu. Apa kamu sadar, bagaimana perasaanku selama mengenalmu?” tanya Jayden.Fiona tak kaget dengan pertanyaan Jayden. Ia tahu betul. Itu adalah alasan kenapa mereka berdua tiba-tiba menjauh tanpa kabar. Bukan karena Jayden tak baik. Hanya saja, Fiona punya alasan tersendiri.“Lalu, aku harus menanggapi bagaimana lagi? Kamu sudah tahu jawabannya,” balas Fiona.Jayden hanya menyeringai. Bukan menyeringai senang ata

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Berbelanja

    Fiona segera turun dari mobil, dan mulai mengikuti Darren. Fiona merasa senang datang kemari lagi. Bukan karena dia sering ke sini untuk healing. Melainkan mencari uang saku di masa sekolahnya.Tak seperti pasangan pada umumnya, Fiona dan Darren melangkah tak bersebelahan. Seperti orang yang saling mengikuti.Darren masuk ke salah satu toko baju di sana, dan berada di antara pakaian wanita yang begitu cantik. Fiona hanya bisa kagum melihat banyaknya barang di sana. Ia terkesima.“Bagaimana dengan yang ini?” ucap Darren, sambil mengeluarkan sebuah dress putih bergaris hitam, dengan jaket mini untuk luarannya.“Cantik,” sahut Fiona.Darren memberikan kepada Fiona lebih dekat. Terkaget, FIona menerima dengan mata membulat besar. Namun, saat Fiona melihat label harganya, ia jauh lebih terkejut sampai nyaris bersuara dengan keras.Buru-buru Fiona kembalikan pada Darren, mendekatinya dan mulai berbisik protes.“Mahal sekali! Siapa yang beli satu pasang baju dengan harga satu juta!” Darren

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Mulai Membuka Pintu

    Darren masih bisa meluapkan emosinya. Hanya saja, ia terdiam karena melihat raut wajah Fiona yang sedih. Bahkan air matanya tampak mengering di pipi.Semakin hening suasananya, semakin terdengar suara isak tangis Fiona. Wanita yang dari awal datang ke Darren dengan paksaan, meminta untuk menjauhi keluarga, tapi tetap mendapatkan penyiksaan.Dengan kesadaran penuh, Darren memeluk Fiona dengan erat. Ia membuat wajah FIona membekap di atas kemeja putih yang ia kenakan. Ia bisa rasakan, Fiona justru semakin terisak.‘Seberharga itu baginya?’Fiona berusaha menelan tangisannya. Ia baru menyadari, betapa memalukan dirinya menangis di depan pria yang seharusnya ia tak dekati seperti ini.Didorongnya Darren untuk melepaskan pelukannya. Ia segera lap air matanya dengan kedua tangan, sambil berusaha meredakan sesenggukkan yang sempat menyesakkan.“Ma- Maaf, Darren. Kamu pasti tak nyaman dengan sikapku. Aku akan jaga sikap-”“Seberapa besar kamu dibedakan di sana?” Darren menyela.Fiona terdiam.

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Helen Tak Percaya

    Helen makin geram melihat Fiona yang merespon demikian. Apa yang ia inginkan sampai datang kemari, malah berbanding terbalik dan menyerangnya.“Kamu pasti berbohong! Kamu pasti tahu betul rumor apa yang beredar soal Darren!” pekik Helen, sambil menunjuk kasar ke arah wajah Fiona.Meski ketakutan, Fiona berusaha untuk tetap bisa berhadapan dengan Helen. Ia sudah melakukan kesepakatan dengan Darren. Jadi, ia hanya menjalankan peran yang diberikan.“Kamu percaya dengan rumor itu?” tanya Fiona, tenang.Semakin melihat Fiona bisa menjawab ucapannya, Helen semakin merasa kesal. Tak pernah sebelumnya Fiona berani menyahut. Bahkan mengangkat kepala saja ia tak pernah.‘Sialan! Kenapa dia jadi bisa melawan begini! Harusnya dia semakin ketakutan karena sikap Darren lebih buruk daripada ayah kepadanya!’ batin Helen yang tak senang.Tangannya yang mengepal menunjukkan seberapa banyak Helen menahan emosi. Dengan sudut matanya, ia lirik ke sana dan kemari, mendapati ada banyak orang yang berlalu la

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Maju, Lawan Dia

    Senyum Darren tak berubah. Dia memegang tangan Fiona yang merangkul, mengusap dengan perlahan punggung tangan, sembari memberikan tatapan bersinar.Roy justru terpaku mendengar ucapan Darren. Ia disindir di depan matanya, dengan rekan-rekan bisnis yang masih berada di sana. Helen hanya bisa kaget dengan cara bicara Darren.“A- wah, astaga, Nak. Bukan begitu!” tawa Roy menggelegar sambil menepuk bahu Darren.Pria tua itu bahkan tertawa kecil melihat para rekannya, mencoba mengklarifikasi mengenai situasi. Fiona masih tak paham kemana arah pembicaraan yang dibawa Darren.“Helen hanya belum siap dengan dunia pernikahan, Fiona lebih siap, jadi dia yang meminta agar menggantikannya,” ujar Roy.Fiona makin terkaget. Ucapan ayahnya benar-benar sebuah kebohongan besar. Ia mencoba menyangkal ucapan sang ayah. Namun, Darren dengan sekali tarikan kecil membuat keinginan Fiona tertunda.“Lalu kenapa tak ada yang datang ke rumah untuk menjelaskan? Apa orang tuaku maklum soal ini? Apa para tamu mak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status