ログイン“Sampai mana pendidikanmu?” tanya Darren, dengan nadanya yang dingin menusuk. “Ya?” spontan Fiona menoleh.
Tak diulang dua kali, namun, tatapan pria yang sedang mengemudi membuat Fiona undur diri untuk bertanya kedua kalinya. “Kuliah. Aku tamat kok,” balas Fiona. Satu kali lirikan, dan sekali hembusan napas, Darren mengucapkan kalimat kasarnya kembali dengan nada tidak mengenakkan untuk didengar. “Lalu dimana otakmu yang keluar dengan pria lain saat sudah menikah!” DEGH. Rasanya, kesadaran Fiona dibuat tercabik dengan ucapan Darren. “Bukannya kamu tak menerimaku di pernikahan ini, seharusnya tak-” PLAKKKKK. Sebuah tamparan yang mendarat dengan mulus meski Darren sedang menyetir, membuat Fiona syok. Pipinya terasa kebas karena tamparan Darren. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya mulai berair. Tangannya yang gemetar membuat Fiona lemas. Neraka ini jauh lebih buruk. Tak ada bedanya. Sampai di rumahpun, tak sedikitpun Darren menyadari sikapnya. Ia bahkan membanting pintu saat keluar, membuat Fiona yang masih berada di dalam terkejut. Fiona merasakan napasnya panas memburu, ia segera atur dengan baik. Ia tak mau luapkan emosinya selain di tempat teramannya. Langkah kakinya yang masuk ke dalam rumah, tak membuat Fiona merasa aman. Di ujung sana, ia melihat Darren tengah berdiri di dekat meja sambil menegak segelas air. Keberadaannya membuat Fiona semakin takut. ‘Apa sebenarnya mau pria ini?!’ kesalnya dalam hati. “Masuk!” pekiknya. Sontak Fiona langsung melangkah. Ia takut, takut apabila akan terjadi hal lebih buruk dari sekedar yang tadi. Dengan menjaga jarak, Fiona berada di dekat Darren. Pria itu mengeluarkan sebuah map dari dalam laci, membukanya di atas sana. Fiona hanya melirik sedikit, dan membaca judul atasnya. ‘SURAT PERJANJIAN.’ “Tanda tangan di sini!” tegas Darren. Fiona baru berani mendekat saat Darren menunjuk salah satu bagian dari kertas kosong. Dengan cepat, Fiona menangkap isi dari surat perjanjian yang membuat Fiona terheran. Namun, ada satu yang tak masuk di akal. ‘Tak boleh ikut campur urusan masing-masing.’ Ia menoleh ke arah Darren. “Kamu baru saja mencampuri urusanku, ingat?” ujar Fiona, secara tak sengaja. “Berani?” Fiona langsung tersadarkan. Ia segera raih pena yang ada di atas meja, lalu menandatangani apa yang diminta. Ia lupa, sedang berhadapan dengan Darren yang begitu kasarnya. Setelah selesai, Darren menutup map itu, memasukkannya kembali ke bagian paling bawah dari tumpukan kertas yang ada di laci. Kini, mereka berdua berdiri dengan jarak yang cukup dekat. Untuk pertama kalinya setelah bertemu, Darren menadangi Fiona lamat-lamat. Namun, Fiona justru merasa risih dengan cara pandang Darren. “Kamu senang kan, karena kamu yang menikah denganku?” ucap Darren. Fiona terkejut. Ia merasa difitnah oleh ucapan Darren. “Aku?! Menurutmu aku senang menikah denganmu?!” spontan ujar Fiona, sambil menunjuk dirinya sendiri. Alisnya kemudian naik satu, mengisyaratkan jawaban dari pikiran Darren. “Wow. Apa sejak kemarin, kamu kasar-” CKLEKKKK. Suara Fiona langsung berhenti saat mendengar suara pintu dibuka. Mereka berdua, secara bersamaan menoleh ke sudut yang sama. Betapa tak terduganya kedatangan kedua orang tua Darren dari balik pintu. Senyuman seorang wanita dewasa begitu berbinar, didampingi seorang pria yang penuh wibawa dengan seringai kecil. “Astaga, apa mama dan papa mengganggu waktu kalian berdua?” Fiona terbata hendak memberikan jawabannya. Namun, Darren secara tiba-tiba meraih pinggang Fiona, merangkulnya e dan membuat posisi mereka semakin dekat. “Tidak Ma, kami hanya sedang berbincang sedikit,” balas Darren. Fiona nyaris melongo mendengar jawaban Darren. Tak terduga bahwa ada sisi Darren yang tidak Fiona tahu sebelumnya. Bahkan, dia kelihatan begitu ramah kali ini. Mama Darren mendekat mereka berdua. Ia memeluk Fiona dengan segera, dan memberikan ciuman pipi dengan begitu hangat. Kali ini, Fiona merasa hatinya berbunga-bunga. Bahkan, tanpa sadar dia tersenyum mendapati salam hangat dari seseorang yang mendadak jadi mertuanya. “Maaf ya Nak, Mama sudah mendengar insiden kemarin. Apa kamu keberatan menjadi istri Darren?” Saking senangnya Fiona menggelengkan kepalanya segera. Ia tak sadar, bahwa jawabannya akan membuat dirinya jadi masuk lebih dalam di keluarga Darren. “Oh syukurlah. Mama senang kamu tak keberatan. Kalian sudah saling mengenal lebih dekat, kan?” tanya Mama Darren. Fiona melihat ke arah Darren. Mereka berdebat dengan batin mereka yang tak bisa saling mendengar. Dengan Darren yang marah karena respon Fiona, sementara Fiona yang bingung harus merespon bagaimana. Delia, Mama Darren, yang melihat mereka berdua hanya saling pandang itu salah menangkap maksud. Ia mengira, tatapan di antara mereka berdua itu tanda penuh cinta pada satu sama lainnya. “Astagaaa, kalian benar-benar pasangan pengantin baru yang serasi! Mama suka!” seru Delia. “Baguslah, Nak. Kamu menikah dengannya. Papa lebih suka dengan Fiona sedari awal, daripada dengan Helen,” ucap Mahesa, Papa Darren. Fiona dan Darren hanya bisa saling lempar senyum kikum menanggapi ucapan mereka. Entah mengapa, Fiona terlarut pada sandiwara yang tak mereka rencanakan saat bertemu orang tua Darren. “Kebetulan, mama hanya ingin mampir memberikan ini,” ujar Delia, memberikan sebuah box yang cukup besar seukuran kedua tangannya. “Ini apa, Ma?” Fiona merasa tak nyaman saat menyebutkan panggilan tersebut. Baru saja Fiona hendak membukanya, Delia segera memegangi kembali tangan Fiona, membuat hadiah di depannya tertutup kembali. Dengan saling memandangi, Delia memberikan jawaban yang sedikit mengusik pikiran Fiona sejenak. “Dibuka nanti saja, ya?” pintanya. “I- Iya..,” Gugup Fiona. “Kalau begitu, selamat menikmati suasana pengantin baru ya,” ucap Delia, seraya merangkul lengan sang suami, dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Senyuman di antara pasangan terpaksa ini sirna, pasca pintu tertutup, membuat dua tamu tak diundang hilang dari dalam rumah. Senyuman Darren yang palsu langsung ia buang. Bahkan kali ini melirik tajam ke arah Fiona yang masih merasa canggung. Fiona merasakan tatapan Darren. Ia melirik, dan sadar bahwa Darren tak senang dengan perilaku Fiona barusan. Saat matanya melirik ke arah kotak di tangan Fiona, ia langsung rebut tanpa pikir panjang. Tanpa merasa curiga atau menerka, Darren membukanya dengan menarik tutupnya, membuat Fiona yang berdiri di depan tak bisa melihat. Namun, wajahnya tiba-tiba memerah. Wajah sangarnya berubah menjadi tomat. Fiona malah tambah bingung. “Sial! Seharusnya aku tak melihat ini!” ucap Darren, menyodorkan kasar kotak itu, lalu meninggalkannya ke kamar. ‘Apaan sih!’ kesal Fiona dalam hati. Fiona melihat ke arah kotak, dan membukanya tanpa ragu. Hingga akhirnya dia sadar, bahwa pemberian mertuanya benar-benar membuat Fiona merasa malu. Sebuah ‘Baju Dinas’ berwarna merah menyala, dengan akses dua sisi pada dua aset yang membuat siapapun akan berpikir ke arah sana.Helen tak mengira, bahwa Darren tak menganggap serius ucapannya barusan sebagai sebuah ancaman. Dia malah bisa bersantai saja setelah melihat Helen mengatakan yang barusan.“Kamu pikir, aku akan terusik hanya karena kamu mengatakan dia anak angkat? Setidaknya sekarang semuanya jadi jelas, kenapa kamu dan orang tuamu sangat membedakannya, bukan?” ujar Darren.Sementara itu, Fiona sudah gemetar hebat karena ucapan Helen barusan. Darren yang begitu peka sekarang, langsung memegangi erat tangan Fiona. Ia tak biarkan Fiona terjatuh hanya karena omongan Helen.“Ha- harusnya…”Suara Helen justru gemetar sekarang.“Hentikan semua omong kosongmu. Aku takkan mundur sedikitpun hanya karena kamu terus menjelekkan Fiona. Dia istriku. Sampai kapanpun akan menjadi istriku!” tegas Darren.Darren kini mengajak Fiona meninggalkan restoran. Kencan makan siang mereka berdua menjadi sangat kacau karena kedatangan Helen yang seenaknya.Saat sudah sampai di dalam mobil. Fiona sudah menumpahkan seluruh air m
Fiona sudah terbiasa dari dulu dimaki dan dihina. Saat mendengar Helen memakinya lagi, ia tak sakit hati. Yang ada, justru Fiona menyeringai melihat bahwa Helen masih bisa memaki dirinya.Tak mau kalah lagi seperti bagaimana ia dahulu, Fiona tak merasa gentar menghadapi Helen dengan kekuatannya. Ditariknya lebih kuat kepala Helen sampai ia terdengar merintih.“Jalang, ya? Ya, dari dulu kamu selalu memanggilku begitu. Lalu kenapa? Aku sudah pergi dari rumah, harusnya panggilan itu berhenti, kan?”Perlahan, Helen yang sudah kesakitan melepaskan tangannya dari kepala Fiona. Helen sudah terlihat mengeluarkan air matanya. Setelah ini, Helen pasti akan membawa dramanya.‘Basi! Aku sudah hafal semua tingkahnya!’ kesal Fiona.Saat tangan Helen sudah lepas dari rambut Fiona, Helen terjatuh ke lantai, bersamaan dengan Fiona yang sengaja tak menahan sampai Helen membentur kursi di dekatnya.Suara tangis khas yang selalu Helen gunakan untuk menarik simpati, serta skenario yang sudah disiapkan sel
Fiona sedikit melamun memikirkan ucapan Darren. Semua terasa baru, dan begitu membuat Fiona merasa seperti seseorang yang baru. Semua terasa seperti mimpi, atau layak ia katakan memang mimpi.“Sudah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Komentar orang-orang bisa berpengaruh baik dan buruk padamu. Jadi, kakmu fokus pada dirimu sendiri, ya?” pinta Darren.Fiona matikan ponselnya yang masih menyala. Dan memegang balik tangan Darren. Rasa berbunga yang muncul dalam hatinya, tak bisa ia sembunyikan.Makan siang mereka datang. Darren memang tak mencoba membuat Fiona merasa tersanjung. Perlahan, Darren mulai menunjukkan bahwa dia juga bisa hidup sederhana, dan tak terlalu glamour saat bersama Fiona.Makan siang mereka juga sama seperti bagaimana mereka menjalani hari. Rasanya hangat, dan juga hidup. Fiona merasa gemas berkali-kali setiap kali melihat Darren tersenyum. Cara Darren memperhatikan dan memperlakukannya selalu berhasil membuat Fiona terpesona. Secara tak langsung, bahkan Fiona meng
Fiona merasakan sebuah kepuasan setelah berhasil membuat Helen kalah telak. Rasanya benar-benar membanggakan bahwa ia bisa merasa diatas awan, dan tidak gampang di remehkan.Sambil bergelayut manja di lengan Darren, Fiona merasakan bahwa Darren juga membalas pelukannya.Darren mengajak Fiona duduk di sebuah meja taman bundar yang cukup untuk mereka berdua. Saat duduk bersama di sana, Fiona melihat bahwa Darren terus memandanginya dengan begitu dalam.“Ada apa, Darren?” tanya Fiona.“Tidak bisakah kamu memanggilku dengan panggilan yang manis? Aku memanggilmu sayang setiap kali bersama. Apa kamu tak ingin memberikanku panggilan?” balas Darren sambil terus melihatnya dengan senyuman lebar.Fiona semakin tersipu dengan sikap Darren yang membuat Fiona semakin jatuh hati.“Aku masih belum terbiasa. Memanggil namamu saja kadang aku masih terasa aneh,” balas Fiona.“Kenapa, Sayang? Bukannya kita suami istri?” tanya Darren.Fiona sempat tersenyum tipis sebelum memberikan jawaban.“Mungkin kare
Fiona takkan menjadi seseorang seperti yang mereka harapkan lagi. Bukan Fiona yang mengalah ata akan menuruti semua permintaan mereka lagi. Sekarang, Fiona akan tetap memegang teguh pendiriannya.“Berani kamu seperti itu?!” pekik Hanna, yang kali ini sudah kembali pada mode biasanya.“Ya! Ibu sendiri yang menangis di depanku, memintaku menggantikan posisi Helen untuk menikah dengan Darren. Lalu, untuk apa sekarang dia ingin kembali?!” Fiona membalas dengan suara yang sedikit meninggi.“Karena Helen lebih pantas bersanding dengan Darren! Kamu mana bisa menghadapi kehidupan yang berat berada di samping Darren!” tegas Hanna.Fiona menyungginggkan senyuman. Dia mengerti maksud omongan Hanna mengarah ke mana. Tetapi, dibalik ucapan barusan, Fiona lebih menangkap maksud mengenai apa yang sudah Darren dapatkan sekarang.“Bukannya Helen sudah dapat? Kata dia, pacarnya yang sekarang itu calon penerus, jauh lebih baik daripada Darren yang hanya pegawai saja. Kenapa sekarang justru dia mengingin
Bagaimanapun Darren memperlakukannya, Fiona sudah merasa biasa saja. Ia sudah mulai terbiasa dengan apa yang dipinta sang suami. Bahkan, Fiona merasa bahwa nyaman dengan semua yang dilakukan Darren kepadanya.Siang ini, Darren meminta Fiona untuk ikut pergi ke suatu tempat yang diminta oleh sang suami. Ia kenakan pakaian yang cantik, dan pastinya tidak memalukan bagi Fiona.Selama perjalanan, Fiona melihat ke sekeliling jalanan, memperhatikan bagaimana semuanya masih tetap sama.“Kamu tak mau tahu kemana aku ingin mengajakmu?” tanya Darren.“Hmmm? Selama itu sama kamu, aku tak masalah,” balas Fiona.Darren tersenyum tipis membalasnya, lalu kembali melajukan mobil ke arah yang seharusnya. Tak lama kemudian, Fiona sampai ke tempat yang dituju oleh Darren. Pinggiran danau yang benar-benar hijau. Banyak orang di sana menikmati bagaimana danau yang begitu asri dan juga suasana yang nyaman.Fiona yang baru turun dari mobil sudah senyum sumringah. Dia menyukai tempat yang ditunjukkan kepada
Paggilan dimatikan oleh Darren. Fiona hanya memaku sejenak memandangi pakaian-pakaian tersebut. Ia tak tahu, kalau Darren menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuannya.‘Yang diberikan mamanya dulu, belum pernah kucoba. Dan sekarang, dia mau aku tampil menggunakan ini semua?’Batinnya sempat bergemuru
Fiona yang masih sibuk meratakan coklat pada rotinya, merasakan bahwa Darren tengah tersenyum. Terasa lewat dagunya yang naik.“Kamu takkan meninggalkanku, kan?” tanya Darren, berbisik di telinganya.“Tentu saja tidak,” balas Fiona. Ia kunyah terlebih dahulu roti yang baru ia buat, sembari menyahut
Darren mulai dengan gemas memainkan dada Fiona, dan juga meletakkan terlebih dahulu ponsel Fiona. Tak lama, Darren mulai menaikkan baju Fiona, dan melihat buah dada Fiona yang mengeras karena tegang.Fiona menerima perlakuan Darren, membiarkan Darren melepaskan semua pakaiannya, sampai membuat Fion
“Iya! Benar nak, kamu harus merebut apa yang seharusnya milikmu!” Hanna mendukung keras keputusan Helen.“Jangan gegabah! Kalau kamu sampai melakukan itu, kamu sama saja menjatuhkan bom atom pada semua yang sudah ayah perjuangkan!” Roy justru menolak ide mereka.Helen berdiri, dan menghampiri sang







