LOGINKedua tangan Fiona langsung gemetar setelah mendengar ucapan Helen. Sementara itu, Helen malah tertawa kecil melihat respon Fiona.
‘Jadi, dia sengaja kabur?’ “Tapi tenang saja, Fiona. Dia tak tersentuh sama sekali. Jadi, kamu mungkin orang pertama yang akan disentuhnya. Itupun kalau dia mau!” Tawa ledek Helen benar-benar melukai perasaan Fiona. “Seharusnya, kalau kamu tak mau dengannya, kamu tak perlu sampai merencanakan pernikahan dengannya,” lirih Fiona, dengan suara yang sudah gemetar. “Yah, mau bagaimana lagi? Perusahaan ayah perlu dana. Dan perusahaan Darren solusinya,” ujar Helen. “Lalu kenapa kamu sampai kabur? Kamu dulu pacarnya. Kamu berselingkuh darinya?!” Fiona mulai mengkonfrontasinya. “Haha, tidak,” Helen kembali dengan kepribadiannya yang angkuh. “Tapi, lebih tepatnya aku cari yang lebih baik. Marvel, rencananya akan diangkat jadi pemimpin perusahaan keluarganya. Sementara Darren? Dia tak jelas. Aku perlu kelas sosial yang lebih tinggi,” ujar Helen, sambil mengusap dada pria yang berdiri di sebelahnya dengan manja. Dada Fiona terasa makin lama semakin sesak. Ia tak menyangka, bahwa menjatuhkan dirinya ke dalam pernikahan ini memang direncanakan oleh sang adik, yang tak pernah menyukainya. Helen memandangi Fiona dengan barang belanjaannya yang begitu banyak. Sambil menggelengkan kepala dan memasang raut wajah mengejeknya, Helen kembali berkata, “Sepertinya Darren memperlakukanmu dengan buruk. Tapi itu bagus. Aku masih ingin melihatmu dengan luka yang tak terlihat,” ujar Helen. Fiona menahan amarahnya. Bila sebelum-sebelumnya Helen melakukannya dengan kesenangan dan memang sengaja menimbulkan rasa sakit. Namun, sekarang Helen membuatnya terjebak pada sebuah hubungan. Hubungan yang tak pernah Fiona mau, ataupun Fiona tahu. “Yah, selain itu dia terlalu kaku. Dia sama sekali tak mau tidur denganku dulu,” kesal Helen. “Ah, sudah ya. Aku mau pergi dengan pacarku. Selamat menikmati hari terberatmu, Fiona,” ujar Helen dengan nadanya yang menyebalkan. Bahkan, pria di sebelah Helen mendukung perbuatannya yang melontarkan kata-kata tak menyenangkan. Helen berlalu dengan pacarnya, dengan mobil yang mereka kendarai. Fiona masih membeku, mematung, memproses apa yang sebenarnya terjadi. Fakta yang ia dapatkan langsung dari mulut Helen membuat Fiona merasa terluka. Harga dirinya makin diinjak, seolah dirinya tak pantas dihargai. Mobil Darren mendadak berhenti di sebelahnya. Pria itu sudah lebih dulu di basement. Dia memilih diam sampai Helen pergi, dan baru menghampiri saat Fiona hanya bisa berdiri. “Ayo masuk,” ucap Darren. Kali ini, nada suara Darren berubah sangat tenang. Tak ada bentakan, dan juga tak ada nada tinggi pada ucapannya. Darren bahkan memasukkan belanjaannya sendiri, dan membukakan Fiona pintu. “Ayo kita pulang,” ajak Darren. Fiona yang masih mematung hanya manut saja. ‘Pulang? Sejak kapan dia dan aku menjadi kita?’ batin Fiona. Perasaannya menjadi begitu campur aduk. Fiona hanya bisa menatap kosong ke depan. Ia tak mau mengambil belanjaan itu, dan langsung berjalan masuk ke rumah. Baru saja ia pegang gagang pintu kamarnya, Darren memanggil. “Ke kamarku sebentar,” pintanya, halus. Fiona melihat dahulu ke arah Darren yang sudah berdiri di dekat tangga, kemudian ia menoleh ke atas, melihat kamar Darren di sana. “Bukannya-” “Aku bilang naik, naik!” tegas Darren. Fiona langsung terkejut. Ia segera mendekati Darren. Melihat Fiona sudah berjalan, Darren mendahuluinya. Menaiki setiap anak tangga membuat Fiona mulai mempertanyakan apa alasan Darren memintanya ke atas sana. Karena, Darrenlah yang tak memberikan izin Fiona untuk naik ke atas. Jadi, kalau bukan ada sesuatu, tak mungkin Darren sampai memintanya naik. Baru melewati pintu kamar, Fiona sempat terkesan melihat betapa luasnya kamar Darren. Ia lihat pria itu pergi ke kamar mandi dalamnya sejenak. ‘Ini kamarnya? Luas sekali! Kalau ini punyaku, aku bisa bagi jadi 3 tempat untuk barangku saja!’ batin Fiona. Langkahnya berhenti melihat pajangan mobil mainan H*t Wheels milik Darren. Ia jadi kembali ke masa kecilnya, yang sempat meminta hal seperti ini. ‘Aku ingin punya rak untuk bonekaku.’ Permintaan kecilnya itu terngiang, karena tak pernah kesampaian. Di saat Fiona sedang sibuknya memandangi pajangan, tanpa sadar, Darren yang sudah keluar dari kamar mandi mendadak memeluknya dari belakang. “Da- Darren! Apa yang kamu lakukan!” kaget Fiona. Tak ada gubrisan sejenak. Darren mulai bernapas di belakang telinganya, membuat Fiona merasakan gejolak sesuatu yang ikut mengembang di dalam dirinya. Ini kali pertama ia sedekat ini dengan lawan jenis. “Jika dulu kata Helen aku tak mau menidurinya, sekarang aku mau, denganmu, yang sudah jadi istriku,” bisik Darren. ‘Dia dengar? Dia dengar semua ucapan helen?!’ batin Fiona. “A- Apa?! Tiba-tiba sekali! Bukannya kamu-” SRETTT. Kedua tangan Darren kini sudah memegang buah dadanya. Dia mulai meremasnya dengan pelan, dan memberikan pijatan lembut di sana. “Aku juga marah, Fiona. Ayo kita lepaskan emosi kita malam ini,” ajak Darren dengan suaranya yang serak basah. Pijatan demi pijatan mulai membuat Fiona terlarut dalam permainan. Bahkan, Fiona mulai merasa suka dengan sentuhan Darren. “Eunghhh,” desahannya mulai keluar. Tangan Darren kini mulai berpindah, menaikkan pakaian Fiona dan kini memegang lebih dekat dengan buah dadanya. Ini juga kali pertama bagi Darren, menyentuh bagian tubuh seorang wanita. “Kamu mau, Fiona?” Darren mulai mengajak, dengan penuh gairah. Fiona semakin mendesah, mengabaikan ajakan Darren. Jemari pria itu mulai masuk ke dalam bra, menemukan benda yang sudah mengeras karena rangsangannya. ‘Tak ada salahnya, kan? Toh kami sudah menikah. Mau melakukan ini atas dasar cinta atau bukan, kami punya status,’ batin Fiona, yang sudah terselimuti emosi yang perlu dikeluarkan. Melihat Fiona semakin menikmati pijatannya, membuat Darren langsung melepaskan pakaian Fiona. Tanpa paksaan, Fiona tak mengenakan sehelai benangpun di hadapan pria yang baru ia nikahi. “Tubuhmu indah sekali,” puji Darren, sambil membalikkan tubuh Fiona menghadapnya. “Mmm, Kamu takkan bermain kasar, kan?” Fiona masih ingat bagaimana Darren pertama kali bertemu. Sambil senyum menyeringai, Darren suka dengan raut wajah malu Fiona. “Tidak akan. Aku penasaran, bagaimana rasanya, Fiona,” ujarnya. “Aku….. aku juga,” balas Fiona. Darren langsung menyambar dada Fiona, kemudian mengangkat wanita itu sampai berbaring di atas kasur. Ia begitu terpesona, melihat kemolekan tubuh seorang wanita. “Aku memang membenci pernikahan ini, bahkan dirimu, Fiona. Tapi, sepertinya untuk tubuhmu, akan kucoba.”Helen tak mengira, bahwa Darren tak menganggap serius ucapannya barusan sebagai sebuah ancaman. Dia malah bisa bersantai saja setelah melihat Helen mengatakan yang barusan.“Kamu pikir, aku akan terusik hanya karena kamu mengatakan dia anak angkat? Setidaknya sekarang semuanya jadi jelas, kenapa kamu dan orang tuamu sangat membedakannya, bukan?” ujar Darren.Sementara itu, Fiona sudah gemetar hebat karena ucapan Helen barusan. Darren yang begitu peka sekarang, langsung memegangi erat tangan Fiona. Ia tak biarkan Fiona terjatuh hanya karena omongan Helen.“Ha- harusnya…”Suara Helen justru gemetar sekarang.“Hentikan semua omong kosongmu. Aku takkan mundur sedikitpun hanya karena kamu terus menjelekkan Fiona. Dia istriku. Sampai kapanpun akan menjadi istriku!” tegas Darren.Darren kini mengajak Fiona meninggalkan restoran. Kencan makan siang mereka berdua menjadi sangat kacau karena kedatangan Helen yang seenaknya.Saat sudah sampai di dalam mobil. Fiona sudah menumpahkan seluruh air m
Fiona sudah terbiasa dari dulu dimaki dan dihina. Saat mendengar Helen memakinya lagi, ia tak sakit hati. Yang ada, justru Fiona menyeringai melihat bahwa Helen masih bisa memaki dirinya.Tak mau kalah lagi seperti bagaimana ia dahulu, Fiona tak merasa gentar menghadapi Helen dengan kekuatannya. Ditariknya lebih kuat kepala Helen sampai ia terdengar merintih.“Jalang, ya? Ya, dari dulu kamu selalu memanggilku begitu. Lalu kenapa? Aku sudah pergi dari rumah, harusnya panggilan itu berhenti, kan?”Perlahan, Helen yang sudah kesakitan melepaskan tangannya dari kepala Fiona. Helen sudah terlihat mengeluarkan air matanya. Setelah ini, Helen pasti akan membawa dramanya.‘Basi! Aku sudah hafal semua tingkahnya!’ kesal Fiona.Saat tangan Helen sudah lepas dari rambut Fiona, Helen terjatuh ke lantai, bersamaan dengan Fiona yang sengaja tak menahan sampai Helen membentur kursi di dekatnya.Suara tangis khas yang selalu Helen gunakan untuk menarik simpati, serta skenario yang sudah disiapkan sel
Fiona sedikit melamun memikirkan ucapan Darren. Semua terasa baru, dan begitu membuat Fiona merasa seperti seseorang yang baru. Semua terasa seperti mimpi, atau layak ia katakan memang mimpi.“Sudah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Komentar orang-orang bisa berpengaruh baik dan buruk padamu. Jadi, kakmu fokus pada dirimu sendiri, ya?” pinta Darren.Fiona matikan ponselnya yang masih menyala. Dan memegang balik tangan Darren. Rasa berbunga yang muncul dalam hatinya, tak bisa ia sembunyikan.Makan siang mereka datang. Darren memang tak mencoba membuat Fiona merasa tersanjung. Perlahan, Darren mulai menunjukkan bahwa dia juga bisa hidup sederhana, dan tak terlalu glamour saat bersama Fiona.Makan siang mereka juga sama seperti bagaimana mereka menjalani hari. Rasanya hangat, dan juga hidup. Fiona merasa gemas berkali-kali setiap kali melihat Darren tersenyum. Cara Darren memperhatikan dan memperlakukannya selalu berhasil membuat Fiona terpesona. Secara tak langsung, bahkan Fiona meng
Fiona merasakan sebuah kepuasan setelah berhasil membuat Helen kalah telak. Rasanya benar-benar membanggakan bahwa ia bisa merasa diatas awan, dan tidak gampang di remehkan.Sambil bergelayut manja di lengan Darren, Fiona merasakan bahwa Darren juga membalas pelukannya.Darren mengajak Fiona duduk di sebuah meja taman bundar yang cukup untuk mereka berdua. Saat duduk bersama di sana, Fiona melihat bahwa Darren terus memandanginya dengan begitu dalam.“Ada apa, Darren?” tanya Fiona.“Tidak bisakah kamu memanggilku dengan panggilan yang manis? Aku memanggilmu sayang setiap kali bersama. Apa kamu tak ingin memberikanku panggilan?” balas Darren sambil terus melihatnya dengan senyuman lebar.Fiona semakin tersipu dengan sikap Darren yang membuat Fiona semakin jatuh hati.“Aku masih belum terbiasa. Memanggil namamu saja kadang aku masih terasa aneh,” balas Fiona.“Kenapa, Sayang? Bukannya kita suami istri?” tanya Darren.Fiona sempat tersenyum tipis sebelum memberikan jawaban.“Mungkin kare
Fiona takkan menjadi seseorang seperti yang mereka harapkan lagi. Bukan Fiona yang mengalah ata akan menuruti semua permintaan mereka lagi. Sekarang, Fiona akan tetap memegang teguh pendiriannya.“Berani kamu seperti itu?!” pekik Hanna, yang kali ini sudah kembali pada mode biasanya.“Ya! Ibu sendiri yang menangis di depanku, memintaku menggantikan posisi Helen untuk menikah dengan Darren. Lalu, untuk apa sekarang dia ingin kembali?!” Fiona membalas dengan suara yang sedikit meninggi.“Karena Helen lebih pantas bersanding dengan Darren! Kamu mana bisa menghadapi kehidupan yang berat berada di samping Darren!” tegas Hanna.Fiona menyungginggkan senyuman. Dia mengerti maksud omongan Hanna mengarah ke mana. Tetapi, dibalik ucapan barusan, Fiona lebih menangkap maksud mengenai apa yang sudah Darren dapatkan sekarang.“Bukannya Helen sudah dapat? Kata dia, pacarnya yang sekarang itu calon penerus, jauh lebih baik daripada Darren yang hanya pegawai saja. Kenapa sekarang justru dia mengingin
Bagaimanapun Darren memperlakukannya, Fiona sudah merasa biasa saja. Ia sudah mulai terbiasa dengan apa yang dipinta sang suami. Bahkan, Fiona merasa bahwa nyaman dengan semua yang dilakukan Darren kepadanya.Siang ini, Darren meminta Fiona untuk ikut pergi ke suatu tempat yang diminta oleh sang suami. Ia kenakan pakaian yang cantik, dan pastinya tidak memalukan bagi Fiona.Selama perjalanan, Fiona melihat ke sekeliling jalanan, memperhatikan bagaimana semuanya masih tetap sama.“Kamu tak mau tahu kemana aku ingin mengajakmu?” tanya Darren.“Hmmm? Selama itu sama kamu, aku tak masalah,” balas Fiona.Darren tersenyum tipis membalasnya, lalu kembali melajukan mobil ke arah yang seharusnya. Tak lama kemudian, Fiona sampai ke tempat yang dituju oleh Darren. Pinggiran danau yang benar-benar hijau. Banyak orang di sana menikmati bagaimana danau yang begitu asri dan juga suasana yang nyaman.Fiona yang baru turun dari mobil sudah senyum sumringah. Dia menyukai tempat yang ditunjukkan kepada







