LOGINFiona menatap sayu mata Darren yang memandanginya. Ada sebuah semangat yang menggebu, dan emosi yang berpadu menjadi satu. Perlahan, pria itu mendekatkan wajahnya, dan kini mendaratkan bibir di wajah Fiona.
“Eunghhh,” Fiona merasakan gejolak dari dalam tubuhnya saat Darren menyentuh wajahnya. Endusan Darren begitu tajam seperti menemukan mangsa. Tangannya mulai meraba setiap jengkal tubuh Fiona. Rasa penasaran yang kian membesar, membuat Darren mulai agresif. “Kamu wangi sekali,” bisik Darren di telinga Fiona. Wajah Fiona terasa panas membara setelah bisikan penuh gairah Darren melalui. “Kamu…. yakin mau melakukan ini?” tanya Fiona, dengan napas memburu. Senyum smirk Darren tak terlihat. Tetapi, suara kecilnya membuat Fiona menerka. Sebelah tangan Darren memegangi leher Fiona, ototnya yang berurat membuat Fiona semakin merasa membara. “Mungkin? Tapi aku akan pelajari dulu setiap jengkalnya, sebelum aku nikmati puncaknya,” balas Darren. Ciuman Darren kini berpindah ke leher Fiona, memberikan kecupan panas yang semakin menggelorakan hawa tubuhnya. Pria yang baru saja mendapatkan mangsa yang sangat seksi mulai meremas dada Fiona yang ranum. ‘Apa ini? Ini apa! Kenapa disentuh oleh pria begini rasanya?!’ Fiona mulai bermonolog dalam hati merasakan tiap sentuhan Darren. “Ahhhh, Ahhhh,” desah Fiona ketika Darren mulai memainkan pucuk dadanya dengan gemas. Mendengar suara Fiona membuat Darren semakin liar. Dia mulai turun, dan kini memandangi dada Fiona dengan rakus. Ia lahap dengan wajah kelaparan, dan meremas sebelahnya dengan ganas. Sebelah tangannya mulai turun membelai paha Fiona yang mulus. Ia rasakan tiap senti sambil mendengarkan suara Fiona yang lolos di dalam ruangan. ‘Aku… aku suka ini!’ seru Fiona dalam hatinya. Ketika jemari Darren mulai berulah, dengan sebelah jarinya kini berada tepat di depan bibir kewanitaannya. “Da… Darre..” panggil Fiona di sela desahnya yang masih terdengar jelas. “Diam! Rasakan saja! Aku tak memintamu berkomentar saat kusentuh!” perintahnya. Ucapan Darren terdengar cukup kasar. Namun, Fiona menurut dan menikmati kembali sentuhan Darren yang kini mulai memainkan klitnya dengan begitu agresif. “Ahhhh… Hentika.. Geli…” Fiona berusaha menarik tangan Darren yang semakin lama terus mengoyak dengan sensasi geli yang semakin menyelimuti. Tak suka dengan Fiona yang hendak melawan, Darren sedikit bangun, menarik kedua tangan Fiona ke atas, menahannya dengan kuat sambil menatap Fiona yang sudah kalang kabut akan nafsu. “Aku bilang rasakan, paham?! Sekali lagi kamu melawan, aku akan melakukan hal lebih buruk!” tegas Darren. Pria yang berkata tak akan bermain kasar itu tak memegang omongannya. Sambil menahan tangan Fiona, ia terus mengaduk klit Fiona dengan begitu bergairahnya. Fiona memejamkan matanya, semakin ia rasakan, semakin jelas bahwa akan ada sesuatu yang meledak di bawah sana. Namun, saat ia baru saja mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, tangan Darren mendadak berhenti. Sontak Fiona membuka matanya dengan segera. Ia terkaget, ketika melihat Darren sudah membuka semua pakaiannya, membuat mereka berdua sama-sama tak mengenakan apapun. Baru saja membuka mata, Fiona dikejutkan dengan tongkat Darren yang sudah berdiri tegak. wajahnya langsung memerah saat melihat benda yang tak ia pikirkan sebelumnya. “Sial! Begini rasanya!” keluh Darren. Darren mengarahkan tongkatnya ke arah Fiona, membuat Fiona langsung melahapnya dengan sempurna. Di dalam mulutnya, Fiona merasakan seisi sana penuh. Ia sempat tak bisa bernapas karena benda itu maju mundur di dalam mulut. ‘Ini… Aneh! Tapi, Aku suka!’ serunya kembali. Kembali Fiona memejamkan mata, dan kini mulai menyesap milik Darren sambil menggerakkan lidahnya. “OUGHHH! Gila! Rasanya luar biasa!” seru Darren sambil terus bergerak. Darren menunduk melihat Fiona yang mengulum miliknya dengan piawai. Ia lepaskan tangan Fiona, lalu kini memegangi wajah wanita di bawahnya. Saat Fiona membuka mata, pandangan mereka bertemu satu sama lain. Fiona hanya memberikan wajahnya yang sayu dengan merah merona yang membawa. Darren menggigit ujung bibirnya, ia tak tahan dengan wajah itu. Setelah beberapa saat, Darren menghentikan gerakannya, tetapi masih menenggelamkan miliknya di dalam mulut Fiona. “Sepertinya aku harus menjelajahimu, Fiona,” ucap Darren. Darren melepaskan miliknya dari dalam mulut Fiona, ia mulai dengan kasar menciumi bibir Fiona, membuat Fiona kewalahan menyambut. Lidahnya menerobos masuk, memainkan lidah sang gadis yang ia kasari. Fiona memegang dada Darren yang bidang. Dirinya hendak mendorong, namun hatinya menolak. Sebelah tangan Darren memegangi kepala belakang, membuat mereka tak terpisahkan dalam bersilat lidah. Darren meletakkan kaki Fiona di antara kedua kakinya, sambil membuatnya sedikit duduk di depannya. Fiona menikmati permainan ini. Seumur hidupnya, ini kali pertama Fiona merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tangan Fiona mulai memegangi perut six pack Darren yang terasa luar biasa. ‘Wow!’ Saat ciuman mereka terlepas, Darren mulai turun dan menciumi leher Fiona kembali. Bahkan, kini kedua tangannya memegangi gundukan empuk yang sangat nyaman. Sementara Fiona dengan erat menggerakkan tongkat Darren di bawah sana. Semakin lama, perasaan mereka mulai bercampur aduk. Beberapa kali Fiona merasa bahwa Darren mulai sedikit lebih kasar. Namun, ia biarkan. Sampai… “Darren…, mama-” Suara itu terputus. Kegiatan mereka berhenti. Pintu terbuka dengan seorang wanita paruh baya yang mendadak muncul di sana. Delia, mama Darren datang dengan rantang di tangannya. Mereka yang polos di atas kasur, berada posisi yang berdekatan, kini dilihat oleh sang wanita tua. “Astaga. Maaf, mama tidak tahu. Mama permisi ya,” ujar Delia, tanpa rasa bersalah, sembari menutup pintu. “Mama!” Darren langsung bangun, pria yang baru saja mencumbunya buru-buru mengenakan pakaian, dan meninggalkan Fiona. Fiona hanya bisa menutupi tubuhnya dengan selimut. Sakit? Jelas. Ia diberikan harapan palsu di atas ranjang ini. ‘Aku memang tak pantas bahagia.’Helen tak mengira, bahwa Darren tak menganggap serius ucapannya barusan sebagai sebuah ancaman. Dia malah bisa bersantai saja setelah melihat Helen mengatakan yang barusan.“Kamu pikir, aku akan terusik hanya karena kamu mengatakan dia anak angkat? Setidaknya sekarang semuanya jadi jelas, kenapa kamu dan orang tuamu sangat membedakannya, bukan?” ujar Darren.Sementara itu, Fiona sudah gemetar hebat karena ucapan Helen barusan. Darren yang begitu peka sekarang, langsung memegangi erat tangan Fiona. Ia tak biarkan Fiona terjatuh hanya karena omongan Helen.“Ha- harusnya…”Suara Helen justru gemetar sekarang.“Hentikan semua omong kosongmu. Aku takkan mundur sedikitpun hanya karena kamu terus menjelekkan Fiona. Dia istriku. Sampai kapanpun akan menjadi istriku!” tegas Darren.Darren kini mengajak Fiona meninggalkan restoran. Kencan makan siang mereka berdua menjadi sangat kacau karena kedatangan Helen yang seenaknya.Saat sudah sampai di dalam mobil. Fiona sudah menumpahkan seluruh air m
Fiona sudah terbiasa dari dulu dimaki dan dihina. Saat mendengar Helen memakinya lagi, ia tak sakit hati. Yang ada, justru Fiona menyeringai melihat bahwa Helen masih bisa memaki dirinya.Tak mau kalah lagi seperti bagaimana ia dahulu, Fiona tak merasa gentar menghadapi Helen dengan kekuatannya. Ditariknya lebih kuat kepala Helen sampai ia terdengar merintih.“Jalang, ya? Ya, dari dulu kamu selalu memanggilku begitu. Lalu kenapa? Aku sudah pergi dari rumah, harusnya panggilan itu berhenti, kan?”Perlahan, Helen yang sudah kesakitan melepaskan tangannya dari kepala Fiona. Helen sudah terlihat mengeluarkan air matanya. Setelah ini, Helen pasti akan membawa dramanya.‘Basi! Aku sudah hafal semua tingkahnya!’ kesal Fiona.Saat tangan Helen sudah lepas dari rambut Fiona, Helen terjatuh ke lantai, bersamaan dengan Fiona yang sengaja tak menahan sampai Helen membentur kursi di dekatnya.Suara tangis khas yang selalu Helen gunakan untuk menarik simpati, serta skenario yang sudah disiapkan sel
Fiona sedikit melamun memikirkan ucapan Darren. Semua terasa baru, dan begitu membuat Fiona merasa seperti seseorang yang baru. Semua terasa seperti mimpi, atau layak ia katakan memang mimpi.“Sudah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Komentar orang-orang bisa berpengaruh baik dan buruk padamu. Jadi, kakmu fokus pada dirimu sendiri, ya?” pinta Darren.Fiona matikan ponselnya yang masih menyala. Dan memegang balik tangan Darren. Rasa berbunga yang muncul dalam hatinya, tak bisa ia sembunyikan.Makan siang mereka datang. Darren memang tak mencoba membuat Fiona merasa tersanjung. Perlahan, Darren mulai menunjukkan bahwa dia juga bisa hidup sederhana, dan tak terlalu glamour saat bersama Fiona.Makan siang mereka juga sama seperti bagaimana mereka menjalani hari. Rasanya hangat, dan juga hidup. Fiona merasa gemas berkali-kali setiap kali melihat Darren tersenyum. Cara Darren memperhatikan dan memperlakukannya selalu berhasil membuat Fiona terpesona. Secara tak langsung, bahkan Fiona meng
Fiona merasakan sebuah kepuasan setelah berhasil membuat Helen kalah telak. Rasanya benar-benar membanggakan bahwa ia bisa merasa diatas awan, dan tidak gampang di remehkan.Sambil bergelayut manja di lengan Darren, Fiona merasakan bahwa Darren juga membalas pelukannya.Darren mengajak Fiona duduk di sebuah meja taman bundar yang cukup untuk mereka berdua. Saat duduk bersama di sana, Fiona melihat bahwa Darren terus memandanginya dengan begitu dalam.“Ada apa, Darren?” tanya Fiona.“Tidak bisakah kamu memanggilku dengan panggilan yang manis? Aku memanggilmu sayang setiap kali bersama. Apa kamu tak ingin memberikanku panggilan?” balas Darren sambil terus melihatnya dengan senyuman lebar.Fiona semakin tersipu dengan sikap Darren yang membuat Fiona semakin jatuh hati.“Aku masih belum terbiasa. Memanggil namamu saja kadang aku masih terasa aneh,” balas Fiona.“Kenapa, Sayang? Bukannya kita suami istri?” tanya Darren.Fiona sempat tersenyum tipis sebelum memberikan jawaban.“Mungkin kare
Fiona takkan menjadi seseorang seperti yang mereka harapkan lagi. Bukan Fiona yang mengalah ata akan menuruti semua permintaan mereka lagi. Sekarang, Fiona akan tetap memegang teguh pendiriannya.“Berani kamu seperti itu?!” pekik Hanna, yang kali ini sudah kembali pada mode biasanya.“Ya! Ibu sendiri yang menangis di depanku, memintaku menggantikan posisi Helen untuk menikah dengan Darren. Lalu, untuk apa sekarang dia ingin kembali?!” Fiona membalas dengan suara yang sedikit meninggi.“Karena Helen lebih pantas bersanding dengan Darren! Kamu mana bisa menghadapi kehidupan yang berat berada di samping Darren!” tegas Hanna.Fiona menyungginggkan senyuman. Dia mengerti maksud omongan Hanna mengarah ke mana. Tetapi, dibalik ucapan barusan, Fiona lebih menangkap maksud mengenai apa yang sudah Darren dapatkan sekarang.“Bukannya Helen sudah dapat? Kata dia, pacarnya yang sekarang itu calon penerus, jauh lebih baik daripada Darren yang hanya pegawai saja. Kenapa sekarang justru dia mengingin
Bagaimanapun Darren memperlakukannya, Fiona sudah merasa biasa saja. Ia sudah mulai terbiasa dengan apa yang dipinta sang suami. Bahkan, Fiona merasa bahwa nyaman dengan semua yang dilakukan Darren kepadanya.Siang ini, Darren meminta Fiona untuk ikut pergi ke suatu tempat yang diminta oleh sang suami. Ia kenakan pakaian yang cantik, dan pastinya tidak memalukan bagi Fiona.Selama perjalanan, Fiona melihat ke sekeliling jalanan, memperhatikan bagaimana semuanya masih tetap sama.“Kamu tak mau tahu kemana aku ingin mengajakmu?” tanya Darren.“Hmmm? Selama itu sama kamu, aku tak masalah,” balas Fiona.Darren tersenyum tipis membalasnya, lalu kembali melajukan mobil ke arah yang seharusnya. Tak lama kemudian, Fiona sampai ke tempat yang dituju oleh Darren. Pinggiran danau yang benar-benar hijau. Banyak orang di sana menikmati bagaimana danau yang begitu asri dan juga suasana yang nyaman.Fiona yang baru turun dari mobil sudah senyum sumringah. Dia menyukai tempat yang ditunjukkan kepada
Fiona yang masih sibuk meratakan coklat pada rotinya, merasakan bahwa Darren tengah tersenyum. Terasa lewat dagunya yang naik.“Kamu takkan meninggalkanku, kan?” tanya Darren, berbisik di telinganya.“Tentu saja tidak,” balas Fiona. Ia kunyah terlebih dahulu roti yang baru ia buat, sembari menyahut
Darren mulai dengan gemas memainkan dada Fiona, dan juga meletakkan terlebih dahulu ponsel Fiona. Tak lama, Darren mulai menaikkan baju Fiona, dan melihat buah dada Fiona yang mengeras karena tegang.Fiona menerima perlakuan Darren, membiarkan Darren melepaskan semua pakaiannya, sampai membuat Fion
Fiona merasakan mulutnya begitu penuh dengan milik Darren, yang berkali-kali membuat Fiona merasa hampir kehabisan napas. Tetapi, ia merasa menikmati apa yang tengah berada di dalam mulutnya. Ia pejamkan mata seraya melingkarkan lidah di antara batang yang mengeras. Dan memberikan pijatan lembut d
Fiona cukup kaget dengan ucapan Darren. Matanya memandang dengan cukup dalam, dan bahkan memberikan sedikit kecanggungan yang terasa. Selama beberapa saat, mereka saling memandang. Namun, lama-lama, ada rasa berbeda yang muncul dari dalam hati Fiona. DEG… DEGH…. DEGH… Fiona merasakan sebuah getar







