Share

Sandiwara

Author: Dek ita
last update publish date: 2026-03-19 22:08:29

Fiona meredamkan diri di dalam kamarnya. Rasanya isi pikirannya dibuat kacau oleh hadiah dari sang mertua.

‘Apa mereka pikir, Darren mau melakukan hal itu padaku? Mustahil! Dia melirikku saja tak sudi!’ batin Fiona.

Ia ratapi kotak hadiah yang diletakkan di atas kasur. Masih terbayang bagaimana pakaian tersebut di dalam kepala.

Segera diraihnya kotak itu, dan dimasukkan ke bawah kasur oleh Fiona. Ia tak ingin melihat benda itu berada di atas kasur lagi sekarang.

Langkah kakinya berjalan menuju dapur. Diambil segelas air putih, dan ia tegak dengan perlahan. Berusaha dijernihkan pikirannya, karena kepalanya harus benar-benar tenang sekarang ini.

“Ekhmmmm.”

Suara itu menghentikan Fiona yang tengah menegak air. Ketika memutar kepala, ia melihat Darren datang dengan pakaian casualnya, dan memandanggi Fiona.

Tatapannya berbeda. Tak ada amarah, ataupun kebencian. ‘Ada apa?’

“Kamu aneh.”

Satu kalimat yang dilontarkan membuat Fiona seketika tersentak. Kedua alisnya mengerut, bahkan ia memasang wajah heran dengan kalimat Darren.

Darren berjalan mendekatinya. Ia rebut gelas yang ada di tangan Fiona, mengisi ulangnya dengan air, lalu menegakkan dalam satu kali hentakan sampai habis.

Semakin dekat dia dengan posisi Darren, Fiona merasa gemetar. Berada di dekat Darren membuat Fiona seperti berada di tepi jurang yang dalam. Menakutkan.

“Ayo ke supermarket,” ajak Darren, dengan nada dingin. “Apa?”

Darren yang sudah balik badan dan berjalan sedikit jauh, kembali berbalik melihat ke arah Fiona.

“Ini permintaan mama dan papaku. Mereka memintaku mengajakmu membeli isi kulkas. Sebaiknya jangan banyak komentar. Kamu sudah bersandiwara, sebaiknya lakukan dengan serius!”

Pria itu berlalu pergi dengan segera.

Sandiwara? Fiona melakukan itu secara tiba-tiba. Respon Delia-lah yang membuat Fiona secara tak langsung ikut berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.

“Cepat!”

Suara itu memekik dari lantai dua. Fiona segera melangkah, dan berganti pakaian di dalam kamarnya. ia tak punya banyak pakaian bagus. Namun, Ia punya pakaian favorit yang selalu digunakan tiap kali keluar.

Dengan pakaiannya yang berwarna ungu lilac, rok di atas lutut, serta rambutnya yang digerai, membuat Fiona merasa sangat cantik hari ini.

Ia menunggu di dekat tangga sembari membuka ponselnya. Tak ada yang berbeda dari isi ponselnya. ada banyak caci maki dari saudarinya yang telah kabur, hingga membuat Fiona harus menjadi pengantin penggantinya.

Tap…. Tap… Tap….

Suara langkah kaki yang menuruni tangga dengan segera menarik perhatian Fiona. Darren turun dengan penampilan yang sedikit terbilang cukup aneh bagi Fiona.

Fiona memandanginya dari atas sampai bawah, dan tak menyembunyikan reaksi wajahnya. “Apa?!”

Fiona tak tersentak atau takut sekarang ini. Ia justru merasa sedikit terheran. “Seharusnya kamu tak pakai kemeja di dalam pakaianmu.”

Suasana jadi hening sejenak. Tampaknya, Darren tersinggung dengan ucapan Fiona sesaat.

“Maksudku, coba kamu pakai baju lebih santai. Kaos mungkin? Kamu takkan bertemu rekan kerja, bukan?” tanya Fiona.

Darren memandang dengan tatapan sinis. Rautnya menyiratkan bahwa dia tak senang dengan cara Fiona bicara.

Namun, dia kembali ke kamarnya untuk berganti. Setelah beberapa saat, ia turun, dan kini memakai pakaian yang cukup membuat Fiona terkesan. Ia tak menyangka, bahwa Darren langsung berubah jauh dari sebelumnya.

“Bukankah ini buruk? Aku kelihatan seperti gembel!” gerutu Darren.

“Hah? Tidak. Justru ini lebih bagus!” seru Fiona, sambil memberikan jempol.

“Tckk, terserah! Kalau aku sampai ditertawakan di luaran sana, aku takkan segan!” kesal Darren, sambil berjalan mendahului.

Mereka berdua pergi ke supermarket dengan Darren yang terus memasang wajahnya yang masam. Kelihatan jelas bagaimaan Darren tak menyukai Fiona berada di sekitarnya.

Meski kelihatan Darren tak seemosi sebelumnya, ia masih belum mau berada di dekat Fiona. Darren masih menganggap Fiona orang lain.

Ketika berbelanja, Fiona sibuk memilih bahan-bahan yang harus dibeli. Sementara Darren, ia sengaja berdiri cukup jauh bersama trolinya, seolah menjaga jarak di antara mereka berdua.

Langkah Fiona yang kecil membuatnya terengah karena harus bolak-balik cukup jauh dari tempatnya membeli bahan.

“Tak bisakah kamu berdiri tak terlalu jauh? Aku lelah harus ke sana ke sini berkali-kali!” Fiona mulai kesal.

Lirikan kecil Darren tak peduli. Ia memutar bola mata, tak peduli dengan kekesalan yang diungkapkan olehnya.

Ketika sibuk melihat kentang dan wortel di tangannya, Fiona memilih membawa dua barang itu ke arah Darren.

“Hei, aku tak tahu kamu suka ini atau tidak. Kalau aku beli dua ini, apa kamu akan memakannya kalau aku masak?” tanya Fiona, seraya menunjukkan dua benda di tangannya.

Darren memang berdiri menghadapnya. Namun, tatapannya jauh melewati Fiona yang berada di sana. Melihat itu, Fiona bebalik badan, melihat ke mana sebenarnya Darren memandang.

Kedua tangannya yang semula terangkat karena memegang sayuran, kini turun. Ia membeku sejenak, ketika melihat seseorang yang dengan sengaja membuat Fiona masuk ke dalam pernikahan tak diduga ini.

“Helen?” gumam Fiona, kecil.

Suara roda troli terdengar berpindah. Fiona langsung melihat ke arah Darren, yang ternyata sudah pergi meninggalkannya dengan membawa semua belanjaan mereka.

Fiona tanpa sadar membawa barang di tangannya, dan akhirnya memasukkan ke dalam troli setelah mengejar Darren.

“Itu Helen, kan? Kenapa kamu tak hampiri dia? Supaya kamu bisa mendapatkan kejelasan!” Fiona menuntut.

Ia pun sebenarnya punya rasa kesal yang sama kepada sang adik. Hanya saja, Fiona tak bisa mengutarakannya. Entah darimana ia harus memulai kalau ada keberanian tersebut.

Tak ada gubrisan. Darren dengan sengaja buru-buru membayar semua bahan yang sudah ia beli.

“Bawa ke mobil! Aku akan menunggu di sana!” tegas Darren.

“A- Apa?! Hei!” Fiona berusaha menghentikan.

Pria itu tampak emosional. Emosi yang berbeda dari yang sudah dilihat. Bukan emosi marah, tetapi kecewa berat.

Kedua tangan Fiona penuh membawa barang-barang belanjaan. Dengan langkah segera, Fiona membawa beban yang susah payah dia bawa.

Baru saja masuk ke basement, Fiona dibuat berhenti, saat seseorang memanggilnya.

“Fiona?” Suara yang tak pernah sopan memanggilnya, meski ia lebih tua.

Fiona meletakkan barang belanjaan di bawah, kemudian berbalik badan. Helen, adiknya yang kabur di hari pernikahannya kini muncul dengan seorang pria yang ia gandeng dengan eratnya.

Ekspresi wajah Fiona sangat masam.

“Wah, Hahahaha. Lihatlah dirimu sekarang. Bagaimana rasanya menikah dengan Darren?” tawanya, dengan penuh kepuasan.

Sambil mengerutkan wajah, Fiona memasang wajah cuirga. “Apa maksudmu? Kamu sengaja?” tanya Fiona.

“Hmmm. Gimana ya? Yah, daripada disembunyikan terus, aku kasihtau secara gratis deh,” Helen dengan angkuh berbicara.

Fiona merasakan debaran jantungnya makin lama makin besar.

“Ingat kan, kalau perusahaan ayah perlu donatur besar? Nah, dengan aku pacaran dengan Darren, semua jadi berjalan lancar. Tapi, aku tak mau dengannya,” ujar Helen mulai menjelaskan, sambil menggelengkan kepala dan raut wajahnya yang centil.

Napan Fiona makin lama makin memburu. Ia tahu, Helen merencanakan sesuatu.

“Dia itu cukup kasar dengan orang lain, Fiona. Aku tahu dia akan begitu padamu, jadi, aku berikan padamu, sebagai bentuk lanjutan dari tugas ayah. Baik sekali kan aku?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Biar jadi Urusanku

    Selama beberapa hari belakangan, Fiona dan Darren tetap tinggal di rumah orang tua Darren. Fiona masih sering melamun tiba-tiba, bahkan beberapa kali sempat tiba-tiba menangis tanpa sebab.Tak bisa dipungkiri, bahwa Fiona merasa ingatan yang selama ini ia sudah biasakan kini menyakitinya kembali. Apapun pergerakan Fiona, selalu ada bekas ingatan yang terus menghantui.Ia masih bisa menerima bahwa fakta mengatakan ia adalah anak angkat. Tetapi, ia tidak bisa menerima, bahwa semua kesalahan yang selama ini terjadi selalu ditumpahkan kepadanya hanya untuk membuat Helen Kelihatan sempurna.“Sayang, jangan melamun lagi,” panggil Darren.Fiona seketika tersentak setelah mendengar Darren memanggilnya. Ia menoleh, dan melihat sang suami menatapnya dengan begitu sedih.“Maaf. Aku berusaha mengendalikan pikiranku,” Fiona sontak menjawab.Darren menarik bahu Fiona agar lebih dekat dengannya, kemudian membuat Fiona bersandar pada bahunya. ia juga memberikan tepukan kecil, menandakan agar Fiona ti

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Keributan yang Tak Pernah Usai

    Fiona merasa geram mendengar ucapan Roy. Tak habis-habisnya perkara Darren yang sudah dinikahkan dengannya. Sambil menggigit ujung bibirnya, Fiona jadi semakin tahu, bahwa tak ada yang benar-benar menyayanginya selama di rumah.“Bukankah ayah sudah tak menganggapku anak ayah lagi? Ah, lebih tepatnya, ayah memang bukan ayahku, kan?”Roy tersentak setelah mendengar ucapan Fiona. Dia sempat membeku, tatapannya gemetar. Bukan penuh penyesalah. Melainkan, karena ia merasa tak seharusnya ini terbongkar.“Aku sudah tahu kenapa kalian selalu pilih kasih padaku. Selalu menuduhku yang bukan tindakanku. Atau bahkan mengecapku buruk selalu. Itu karena aku adalah sasaran paling pas untuk disalahkan, karena tak ada hubungan darah kalian padaku!” tegas Fiona.Fiona menahan diri. Dadanya sesak dan juga merasa bahwa tubuhnya bisa jatuh kapan saja. Tetapi, ia mencoba menghadapi. Sudah lebih dari 20 tahun dia hidup menjadi anak yang penurut. Sekarang, sudah sepantasnya ia menjadi anak yang membela diri.

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Bukan Kenikmatan

    Helen yang tubuhnya sudah gemetar karena dipakai tadi, kini merasa takut. Pasalnya, setiap kali Marvel marah dan melampiaskan sesuatu, Helen selalu merasa bahwa semuanya berubah menjadi neraka yang menyakitkan.Pria itu berputar, melihat Helen dengan tatapan yang tajam. Degup jantung Helen semakin tidak karuan. ia merasakan ada sebuah serangan dari balik tubuhnya yang menolak pendekatan dari Marvel.“Sa- Sayang… itu tak seperti kelihatannya,” Helen berusaha membela diri. Namun, Marvel sudah tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Helen. Ia mendekati Helen, dan memasangkan sebuah benda kecil pada area kewanitaan Helen. Sebuah getaran hebat menyambar tubuh Helen, membuat Helen tak mampu menahannya.“Ahhhh!!!”Denyutan yang belum usai pada tubuhnya itu terlanjutkan kembali. Helen merasa sekujur tubuhnya menggelinjang karena tak kuat dengan rasa itu.“Kamu suka rasanya, kan? Sekarang, nikmati ini seperti kamu menikmati pria lain!” tegas Marvel.“Ti- Tidak.. Sayang…. maaf…. aku minta ma

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Nikmat tak Terkira

    Tanpa membiarkan Helen bisa sedikit bernapas lega, Gery sudah kembali mengikuti permainan. Ia dengan begitu ganasnya, menyesap pucu dada Helen dengan kasar. Bahkan, ia memilin kasar kedua ujungnya.“Ahhhh….. Sa… Sakit…..”Helen tak bisa berhenti mendesah karena pompaan dari Marvel yang justru semakin kuat. Gery bangun dari dada Helen.Marvel dengan cepat menarik Helen, membuat mereka berdua saling berhadapan dengan Helen berada di atasnya. Ia buat Helen menindih tubuhnya.Napas Helen benar-benar tersengal. Ia bahkan merasakan bagian bawahnya kini masih berkedut meski Marvel sudah berhenti bergerak. Tatapan Marvel puas melihat Helen tak berdaya.Selama ini, Marvel susah membuat Helen berada di bawah perintahnya. Tetapi, sekarang, ia dapatkan apa yang dia inginkan dengan mudahnya.‘Kalau begini terus, aku bisa melakukan apapun padanya!’ seru Marvel yang bersorak riang.“Bagaimana, sayang? Apa kamu suka dengan hari ini?” tanya Marvel, dengan penuh suara manis.“A…. Aku….” helen masih ber

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Mainan Kecilku

    Helen terpaku memahami apa maksud dari ucapan Marvel. Pria itu tak berusaha membantah atau sekedar menenangkannya.Ia justru memasang senyuman yang lebar, menunjukkan betapa dia serius dengan ucapannya. Helen yang masih syok berusaha berkata, meski dengan bibirnya yang gemetar.“Ka- Kamu memintaku melayani teman…. teman-temanmu?” tanya Helen, memastikan sekali lagi.“Iya, Sayang,” balas Marvel.“A- Apa kamu tak bisa meminta bantuan mereka? A- Atau-”Marvel mendekatkan tubuhnya pada Helen, dan memegangi dagunya dengan lembut.“Bagaimana dengan Gery dulu? Dia anak pemilik perusahaan Aim.J, kamu tahu, kan?” tanya Marvel, yang sudah terang-terangan menawarkan.Nama itu jelas tidak asing. Gery? Levelnya jauh di atas Marvel. ‘Kalau bisa membuatnya menyuntik dana ke perusahaan ayah… paling tidak, aku tidak akan jatuh miskin, kan?’ batin Helen.Masih mencoba memikirkan baik-baik tawaran dari Marvel. Helen sudah menelan ludah. Ia menyadari, tawaran itu terlalu menggiurkan untuk sekedar menjad

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Tak Mau Direndahkan

    Roy mengamuk setelah melihat raut wajah putri kesayangannya. Ia sudah menolak keras rencana sang anak yang ingin menjadi seorang pelakor. Tetapi, melihat bagaimana gemetarnya Helen menjawab, Roy tahu bahwa Helen telah melanggar apa yang ia perintahkan.Kembali Roy mengamuk, bahkan memecahkan vas bunga yang ada di atas meja. Ia marah besar.Penarikan dana yang dilakukan perusahaan Mahesa adalah ancaman terbesar baginya. Bagaimana tidak? Kekuatan perusahaan Mahesa sangat besar. Bahkan, hari pertama ia melakukan relasi dengannya, Roy meraih keuntungan besar.Tetapi, sekarang semuanya sirna. Perginya bantuan dari Mahesa, sama saja seperti memulai semuanya dari awal.“Ayah tidak mau tahu! Kalau kamu tak bisa membujuk Fiona untuk membuat mertuanya membatalkan penaarikan itu, sebaiknya kamu cari cara agar kita mendapatkan dana besar untuk perusahaan!” tegas Roy.Helen masih ketakutan. Tetapi, ia tahu persis berapa banyak uang yang didapat perusahaan ayahnya. Jelas, bagi Helen itu sulit didap

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Tak Berdasar

    Darren yang keluar mengejar sang mama itu buru-buru menghampiri. Ia pegang tangan wanita itu sebelum langkah kakinya sampai di lantai bawah.Spontan Delia menoleh ke belakang. Sebagai seorang ibu, ia mengetahui sekarang sang anak tengah berada di emosi yang paling tinggi dari yang pernah ia lihat

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Percobaan Pertama...

    Fiona menatap sayu mata Darren yang memandanginya. Ada sebuah semangat yang menggebu, dan emosi yang berpadu menjadi satu. Perlahan, pria itu mendekatkan wajahnya, dan kini mendaratkan bibir di wajah Fiona.“Eunghhh,” Fiona merasakan gejolak dari dalam tubuhnya saat Darren menyentuh wajahnya.Endus

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Emosi Memanas

    Kedua tangan Fiona langsung gemetar setelah mendengar ucapan Helen. Sementara itu, Helen malah tertawa kecil melihat respon Fiona. ‘Jadi, dia sengaja kabur?’“Tapi tenang saja, Fiona. Dia tak tersentuh sama sekali. Jadi, kamu mungkin orang pertama yang akan disentuhnya. Itupun kalau dia mau!” Tawa

  • NIKMAT PENGANTIN PENGGANTI   Hadiah Mertua

    “Sampai mana pendidikanmu?” tanya Darren, dengan nadanya yang dingin menusuk. “Ya?” spontan Fiona menoleh.Tak diulang dua kali, namun, tatapan pria yang sedang mengemudi membuat Fiona undur diri untuk bertanya kedua kalinya.“Kuliah. Aku tamat kok,” balas Fiona.Satu kali lirikan, dan sekali hembu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status