LOGINFiona meredamkan diri di dalam kamarnya. Rasanya isi pikirannya dibuat kacau oleh hadiah dari sang mertua.
‘Apa mereka pikir, Darren mau melakukan hal itu padaku? Mustahil! Dia melirikku saja tak sudi!’ batin Fiona. Ia ratapi kotak hadiah yang diletakkan di atas kasur. Masih terbayang bagaimana pakaian tersebut di dalam kepala. Segera diraihnya kotak itu, dan dimasukkan ke bawah kasur oleh Fiona. Ia tak ingin melihat benda itu berada di atas kasur lagi sekarang. Langkah kakinya berjalan menuju dapur. Diambil segelas air putih, dan ia tegak dengan perlahan. Berusaha dijernihkan pikirannya, karena kepalanya harus benar-benar tenang sekarang ini. “Ekhmmmm.” Suara itu menghentikan Fiona yang tengah menegak air. Ketika memutar kepala, ia melihat Darren datang dengan pakaian casualnya, dan memandanggi Fiona. Tatapannya berbeda. Tak ada amarah, ataupun kebencian. ‘Ada apa?’ “Kamu aneh.” Satu kalimat yang dilontarkan membuat Fiona seketika tersentak. Kedua alisnya mengerut, bahkan ia memasang wajah heran dengan kalimat Darren. Darren berjalan mendekatinya. Ia rebut gelas yang ada di tangan Fiona, mengisi ulangnya dengan air, lalu menegakkan dalam satu kali hentakan sampai habis. Semakin dekat dia dengan posisi Darren, Fiona merasa gemetar. Berada di dekat Darren membuat Fiona seperti berada di tepi jurang yang dalam. Menakutkan. “Ayo ke supermarket,” ajak Darren, dengan nada dingin. “Apa?” Darren yang sudah balik badan dan berjalan sedikit jauh, kembali berbalik melihat ke arah Fiona. “Ini permintaan mama dan papaku. Mereka memintaku mengajakmu membeli isi kulkas. Sebaiknya jangan banyak komentar. Kamu sudah bersandiwara, sebaiknya lakukan dengan serius!” Pria itu berlalu pergi dengan segera. Sandiwara? Fiona melakukan itu secara tiba-tiba. Respon Delia-lah yang membuat Fiona secara tak langsung ikut berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. “Cepat!” Suara itu memekik dari lantai dua. Fiona segera melangkah, dan berganti pakaian di dalam kamarnya. ia tak punya banyak pakaian bagus. Namun, Ia punya pakaian favorit yang selalu digunakan tiap kali keluar. Dengan pakaiannya yang berwarna ungu lilac, rok di atas lutut, serta rambutnya yang digerai, membuat Fiona merasa sangat cantik hari ini. Ia menunggu di dekat tangga sembari membuka ponselnya. Tak ada yang berbeda dari isi ponselnya. ada banyak caci maki dari saudarinya yang telah kabur, hingga membuat Fiona harus menjadi pengantin penggantinya. Tap…. Tap… Tap…. Suara langkah kaki yang menuruni tangga dengan segera menarik perhatian Fiona. Darren turun dengan penampilan yang sedikit terbilang cukup aneh bagi Fiona. Fiona memandanginya dari atas sampai bawah, dan tak menyembunyikan reaksi wajahnya. “Apa?!” Fiona tak tersentak atau takut sekarang ini. Ia justru merasa sedikit terheran. “Seharusnya kamu tak pakai kemeja di dalam pakaianmu.” Suasana jadi hening sejenak. Tampaknya, Darren tersinggung dengan ucapan Fiona sesaat. “Maksudku, coba kamu pakai baju lebih santai. Kaos mungkin? Kamu takkan bertemu rekan kerja, bukan?” tanya Fiona. Darren memandang dengan tatapan sinis. Rautnya menyiratkan bahwa dia tak senang dengan cara Fiona bicara. Namun, dia kembali ke kamarnya untuk berganti. Setelah beberapa saat, ia turun, dan kini memakai pakaian yang cukup membuat Fiona terkesan. Ia tak menyangka, bahwa Darren langsung berubah jauh dari sebelumnya. “Bukankah ini buruk? Aku kelihatan seperti gembel!” gerutu Darren. “Hah? Tidak. Justru ini lebih bagus!” seru Fiona, sambil memberikan jempol. “Tckk, terserah! Kalau aku sampai ditertawakan di luaran sana, aku takkan segan!” kesal Darren, sambil berjalan mendahului. Mereka berdua pergi ke supermarket dengan Darren yang terus memasang wajahnya yang masam. Kelihatan jelas bagaimaan Darren tak menyukai Fiona berada di sekitarnya. Meski kelihatan Darren tak seemosi sebelumnya, ia masih belum mau berada di dekat Fiona. Darren masih menganggap Fiona orang lain. Ketika berbelanja, Fiona sibuk memilih bahan-bahan yang harus dibeli. Sementara Darren, ia sengaja berdiri cukup jauh bersama trolinya, seolah menjaga jarak di antara mereka berdua. Langkah Fiona yang kecil membuatnya terengah karena harus bolak-balik cukup jauh dari tempatnya membeli bahan. “Tak bisakah kamu berdiri tak terlalu jauh? Aku lelah harus ke sana ke sini berkali-kali!” Fiona mulai kesal. Lirikan kecil Darren tak peduli. Ia memutar bola mata, tak peduli dengan kekesalan yang diungkapkan olehnya. Ketika sibuk melihat kentang dan wortel di tangannya, Fiona memilih membawa dua barang itu ke arah Darren. “Hei, aku tak tahu kamu suka ini atau tidak. Kalau aku beli dua ini, apa kamu akan memakannya kalau aku masak?” tanya Fiona, seraya menunjukkan dua benda di tangannya. Darren memang berdiri menghadapnya. Namun, tatapannya jauh melewati Fiona yang berada di sana. Melihat itu, Fiona bebalik badan, melihat ke mana sebenarnya Darren memandang. Kedua tangannya yang semula terangkat karena memegang sayuran, kini turun. Ia membeku sejenak, ketika melihat seseorang yang dengan sengaja membuat Fiona masuk ke dalam pernikahan tak diduga ini. “Helen?” gumam Fiona, kecil. Suara roda troli terdengar berpindah. Fiona langsung melihat ke arah Darren, yang ternyata sudah pergi meninggalkannya dengan membawa semua belanjaan mereka. Fiona tanpa sadar membawa barang di tangannya, dan akhirnya memasukkan ke dalam troli setelah mengejar Darren. “Itu Helen, kan? Kenapa kamu tak hampiri dia? Supaya kamu bisa mendapatkan kejelasan!” Fiona menuntut. Ia pun sebenarnya punya rasa kesal yang sama kepada sang adik. Hanya saja, Fiona tak bisa mengutarakannya. Entah darimana ia harus memulai kalau ada keberanian tersebut. Tak ada gubrisan. Darren dengan sengaja buru-buru membayar semua bahan yang sudah ia beli. “Bawa ke mobil! Aku akan menunggu di sana!” tegas Darren. “A- Apa?! Hei!” Fiona berusaha menghentikan. Pria itu tampak emosional. Emosi yang berbeda dari yang sudah dilihat. Bukan emosi marah, tetapi kecewa berat. Kedua tangan Fiona penuh membawa barang-barang belanjaan. Dengan langkah segera, Fiona membawa beban yang susah payah dia bawa. Baru saja masuk ke basement, Fiona dibuat berhenti, saat seseorang memanggilnya. “Fiona?” Suara yang tak pernah sopan memanggilnya, meski ia lebih tua. Fiona meletakkan barang belanjaan di bawah, kemudian berbalik badan. Helen, adiknya yang kabur di hari pernikahannya kini muncul dengan seorang pria yang ia gandeng dengan eratnya. Ekspresi wajah Fiona sangat masam. “Wah, Hahahaha. Lihatlah dirimu sekarang. Bagaimana rasanya menikah dengan Darren?” tawanya, dengan penuh kepuasan. Sambil mengerutkan wajah, Fiona memasang wajah cuirga. “Apa maksudmu? Kamu sengaja?” tanya Fiona. “Hmmm. Gimana ya? Yah, daripada disembunyikan terus, aku kasihtau secara gratis deh,” Helen dengan angkuh berbicara. Fiona merasakan debaran jantungnya makin lama makin besar. “Ingat kan, kalau perusahaan ayah perlu donatur besar? Nah, dengan aku pacaran dengan Darren, semua jadi berjalan lancar. Tapi, aku tak mau dengannya,” ujar Helen mulai menjelaskan, sambil menggelengkan kepala dan raut wajahnya yang centil. Napan Fiona makin lama makin memburu. Ia tahu, Helen merencanakan sesuatu. “Dia itu cukup kasar dengan orang lain, Fiona. Aku tahu dia akan begitu padamu, jadi, aku berikan padamu, sebagai bentuk lanjutan dari tugas ayah. Baik sekali kan aku?!”Kedua tangan Fiona langsung gemetar setelah mendengar ucapan Helen. Sementara itu, Helen malah tertawa kecil melihat respon Fiona. ‘Jadi, dia sengaja kabur?’“Tapi tenang saja, Fiona. Dia tak tersentuh sama sekali. Jadi, kamu mungkin orang pertama yang akan disentuhnya. Itupun kalau dia mau!” Tawa ledek Helen benar-benar melukai perasaan Fiona.“Seharusnya, kalau kamu tak mau dengannya, kamu tak perlu sampai merencanakan pernikahan dengannya,” lirih Fiona, dengan suara yang sudah gemetar.“Yah, mau bagaimana lagi? Perusahaan ayah perlu dana. Dan perusahaan Darren solusinya,” ujar Helen.“Lalu kenapa kamu sampai kabur? Kamu dulu pacarnya. Kamu berselingkuh darinya?!” Fiona mulai mengkonfrontasinya.“Haha, tidak,” Helen kembali dengan kepribadiannya yang angkuh.“Tapi, lebih tepatnya aku cari yang lebih baik. Marvel, rencananya akan diangkat jadi pemimpin perusahaan keluarganya. Sementara Darren? Dia tak jelas. Aku perlu kelas sosial yang lebih tinggi,” ujar Helen, sambil mengusap dada
Fiona meredamkan diri di dalam kamarnya. Rasanya isi pikirannya dibuat kacau oleh hadiah dari sang mertua.‘Apa mereka pikir, Darren mau melakukan hal itu padaku? Mustahil! Dia melirikku saja tak sudi!’ batin Fiona.Ia ratapi kotak hadiah yang diletakkan di atas kasur. Masih terbayang bagaimana pakaian tersebut di dalam kepala.Segera diraihnya kotak itu, dan dimasukkan ke bawah kasur oleh Fiona. Ia tak ingin melihat benda itu berada di atas kasur lagi sekarang.Langkah kakinya berjalan menuju dapur. Diambil segelas air putih, dan ia tegak dengan perlahan. Berusaha dijernihkan pikirannya, karena kepalanya harus benar-benar tenang sekarang ini.“Ekhmmmm.”Suara itu menghentikan Fiona yang tengah menegak air. Ketika memutar kepala, ia melihat Darren datang dengan pakaian casualnya, dan memandanggi Fiona.Tatapannya berbeda. Tak ada amarah, ataupun kebencian. ‘Ada apa?’“Kamu aneh.”Satu kalimat yang dilontarkan membuat Fiona seketika tersentak. Kedua alisnya mengerut, bahkan ia memasang
“Sampai mana pendidikanmu?” tanya Darren, dengan nadanya yang dingin menusuk. “Ya?” spontan Fiona menoleh.Tak diulang dua kali, namun, tatapan pria yang sedang mengemudi membuat Fiona undur diri untuk bertanya kedua kalinya.“Kuliah. Aku tamat kok,” balas Fiona.Satu kali lirikan, dan sekali hembusan napas, Darren mengucapkan kalimat kasarnya kembali dengan nada tidak mengenakkan untuk didengar.“Lalu dimana otakmu yang keluar dengan pria lain saat sudah menikah!” DEGH. Rasanya, kesadaran Fiona dibuat tercabik dengan ucapan Darren. “Bukannya kamu tak menerimaku di pernikahan ini, seharusnya tak-” PLAKKKKK.Sebuah tamparan yang mendarat dengan mulus meski Darren sedang menyetir, membuat Fiona syok. Pipinya terasa kebas karena tamparan Darren. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya mulai berair.Tangannya yang gemetar membuat Fiona lemas. Neraka ini jauh lebih buruk. Tak ada bedanya.Sampai di rumahpun, tak sedikitpun Darren menyadari sikapnya. Ia bahkan membanting pintu saat keluar,
Fiona meringis menahan tangannya yang kepanasan. Kedua bola matanya terasa bergetar melihat apa yang ia buat pagi ini berantakan di sekitarnya.Tatapannya langsung tertuju kepada Darren. Pria itu tak merasa bersalah sedikitpun setelah melemparkan makanan yang ada di atas meja. Hati Fiona terasa semakin sakit.“Kalau kamu tak mau memakannya, ya sudah. Biar aku yang makan sendiri!” gerutu Fiona, meski suaranya gemetar menyahuti Darren.Makin menukin tatapan Darren. Pria itu tak peduli dengan apa yang dirasakan Fiona. Mungkin, baginya Fiona hanyalah wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya hanya karena kesalahan saudari Fiona.“Selain kamar tidurmu dan kamar mandi, aku tak sudi kamu meletakkan apapun di rumahku!” tegas Darren.Tanpa bicara lagi, Darren langsung pergi meninggalkan rumah. Sorot mata Fiona hanya melihat lantai yang sudah mulai sedikit mengering dengan minyak yang menempel.Air matanya membasahi wajahnya. Ia usap pelan pipinya yang basah, lalu memunguti dahulu mangkuk d
Dengan dress putih tema yang dipilih keluarganya, Fiona datang ke pernikahan sang adik yang sudah direncanakan dengan baik.Fiona tersenyum lebar. Bukan menandakan kebahagiaan. Namun, kebebasan. Kebebasan menjadi bayang-bayang negatif sang adik yang selama ini selalu diberikan kepadanya.Hendak melangkah menuju ruang pengantin wanita, Fiona dibuat tersentak melihat mamanya tengah menangis tersedu di dalam sana. Badannya membeku seketika.Hanna, ibunya- menoleh ke arah Fiona yang baru datang. Sambil berderai air mata, Hanna memegang kedua lengan Fiona dengan kuat sambil berucap dengan nada menyakitkan. “Nak! Fiona! Ibu mohon… bantu ibu Nak!” serunya seraya menangis.Dari tatapannya, Fiona mendapatkan sinyal negatif yang menembus akal sehatnya. “Hazel kabur. Ibu kira, yang tadi pagi menjemputnya itu Darren, Tetapi, ternyata ia kabur dengan pria lain,” jelas Hanna, singkat.DEGHHH. Jantung Fiona langsung terasa sakit. Ia sudah memungkinkan kemungkinan terburuk yang akan ditujukan kepadan







