LOGINPandangannya tak salah tertuju, ketika Fiona melihat papa mertuanya. Mahesa, tengah duduk bersama di sana.Fiona yang merasa kikuk itu segera mencoba untuk menutup pintu kembali, hendak keluar dari dalam ruangan barusan.“Ehhh, Nak, ayo masuk!” seru Mahesa, memanggil Fiona dengan senyumannya yang lebar.Fiona yang tak enak hati, akhirnya membuka pintu ruangan lagi, dan masuk ke dalam. Ia berikan senyumannya yang tulus untuk membalas sang mertua.“Pa..” sapa Fiona dengan lembut.“Astaga, kenapa kamu tak bilang mau ke sini?!” seru Mahesa, yang menghampiri Fiona dengan begitu sumringah.Fiona salim pada tangan sang mertua sebagai bentuk hormat. Darren juga menghampirinya, meski dengan raut wajah khasnya yang tak berubah.“Oh iya, Pa… ini…” Fiona ragu memberikan jawaban.“Aku yang minta dibawakan makan siang,” sela Darren.Mahesa yang tadinya hanya senang melihat ke arah Fiona, kini menoleh, melihat Darren yang serius dengan ucapannya barusan.“Kamu yang minta?” tanya Mahesa, memastikan s
Fiona mulai terlelap. Esok harinya, Fiona berusaha untuk lebih terbiasa dengan keadaan tempat tinggal barunya ini. Sambil menguap, Fiona keluar kamar dengan pakaian tidurnya yang kebesaran.Ia menoleh dengan matanya yang masih sipit karena masih mengantuk. Sembari memperhatikan sekitar, Fiona dibuat langsung melek saat mendapati adanya Darren yang tengah membawa sapu di tangannya.Mereka sama-sama membeku, dan juga menatap satu sama lain dengan mode sedikit kaget. Fiona awalnya ingin menyapa, tetapi, suasana sudah berubah jadi cukup canggung. Fiona ingin melambaikan tangan, tetapi merasa ragu.“Kamu sudah bangun?” tegur Darren.Semakin hari, perbedaan cara Darren bicara dari hari ke hari semakin kentara, membuat Fiona semakin tak terbiasa.“Ah….. iya..,” sahut Fiona, ragu.Ia mengalihkan pandangan ke arah sapu yang dipegang oleh Darren.“Kamu… mau menyapu?” tanya Fiona, sedikit memastikan.Darren mengalih pandang ke arah tangannya sendiri.“Oh, iya. Katanya, ini juga skill dasar, kan?
(“Da- Darren?!”) Roy kaget dari seberang.“Iya. Ini aku. Fiona sudah menikah denganku. Jadi, apapun yang mau dilakukan, itu atas persetujuanku.” Darren menegaskan posisinya.(“Kamu seharusnya mengajak Helen pulang juga, Darren. Bukankah kamu pernah punya hubungan dengan Helen? Seharusnya kamu tahu betul, kalau Helen tak bisa pulang sendirian,”) Roy malah menambahkan sebuah ucapan yang menunjukkan bagaimana dia memanjakan Helen selama ini.Darren masih dengan tatapannya yang tegas, tak merasa tersentuh dengan ucapan Roy. Pria itu hanya menanggapi datar bagaimana seorang pria bisa pilih kasih kepada kedua putri yang dimiliki.“Lalu anda tak bisa menjemputnya? Jemput saja. Tak perlu merepotkanku atau Fiona lagi,” balas Darren.(“Tapi dia iparmu, Darren,”) Terdengar, Roy mencoba menarik simpati.“Hanya karena dia iparku, aku harus mengurusnya sepertimu? Takkan. Sepertinya kamu lupa, soal apa yang sudah kubicarakan, kan?” celetuk Darren.Fiona yang masih berdiri di sana, mendengar bahwa a
Fiona kembali dibuat terkejut dengan cara Darren tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ditambah dia baru saja melihat pria dingin ini tersenyum.‘Diam tersenyum! Omaygat! Dia sungguh bisa tersenyum?!’ batin Fiona yang kaget.Fiona semakin terkesima. Ada sisi yang Fiona belum kenal. Ada sisi yang sengaja disembunyikan. ‘Dia orang baik. Aku yakin,’ batin Fiona.“Kamu sering makan di sini?” tanya Fiona, mulai sedikit berbasa-basi.“Ya, mungkin? tak tentu,” Darren menjawab dengan tak yakin.Fiona mencuri pandang melirik ke arah Helen. Ini tempat favorit sang adik.“Apa kamu pernah ke sini dengan Helen?” Fiona melontarkan kembali sebuah pertanyaan.“Helen? Tidak. Aku tak pernah membawa orang lain kemari sebelumnya,” balas Darren.Jadi, dia orang pertama diajak Darren? Fiona merasa sedikit dispesialkan oleh Darren. Pria itu seolah melepaskan senyuman lebar pada Fiona. Hidangan yang mereka pesan datang. Fiona makin terpukau melihat bagaimana steak terlihat begitu menggoda hanya dari luarnya!
Meski memang sesuai dengan faktanya, Fiona malah tak suka karena Jayden mengatakan itu pada Fiona. Ia kepalkan tangannya, tapi berusaha tetap tenang.“Apa urusannya denganmu?” tanya Fiona, dengan sedikit kesal.“Urusan? Hmmm. tak ada sebenarnya. Tapi, aku punya tujuan,” balas Jayden.Fiona sedikit memiringkan kepala setelah mendengar ucapan Jayden. Pria itu datang dengan sangat percaya. Bahkan, ia menyinggung sesuatu yang sebenarnya tidak perlu sama sekali.“Apa kamu sadar bicara padaku seperti itu?” Fiona memastikan.“Sangat sadar, Fiona. Justru aku yang harusnya bertanya padamu. Apa kamu sadar, bagaimana perasaanku selama mengenalmu?” tanya Jayden.Fiona tak kaget dengan pertanyaan Jayden. Ia tahu betul. Itu adalah alasan kenapa mereka berdua tiba-tiba menjauh tanpa kabar. Bukan karena Jayden tak baik. Hanya saja, Fiona punya alasan tersendiri.“Lalu, aku harus menanggapi bagaimana lagi? Kamu sudah tahu jawabannya,” balas Fiona.Jayden hanya menyeringai. Bukan menyeringai senang ata
Fiona segera turun dari mobil, dan mulai mengikuti Darren. Fiona merasa senang datang kemari lagi. Bukan karena dia sering ke sini untuk healing. Melainkan mencari uang saku di masa sekolahnya.Tak seperti pasangan pada umumnya, Fiona dan Darren melangkah tak bersebelahan. Seperti orang yang saling mengikuti.Darren masuk ke salah satu toko baju di sana, dan berada di antara pakaian wanita yang begitu cantik. Fiona hanya bisa kagum melihat banyaknya barang di sana. Ia terkesima.“Bagaimana dengan yang ini?” ucap Darren, sambil mengeluarkan sebuah dress putih bergaris hitam, dengan jaket mini untuk luarannya.“Cantik,” sahut Fiona.Darren memberikan kepada Fiona lebih dekat. Terkaget, FIona menerima dengan mata membulat besar. Namun, saat Fiona melihat label harganya, ia jauh lebih terkejut sampai nyaris bersuara dengan keras.Buru-buru Fiona kembalikan pada Darren, mendekatinya dan mulai berbisik protes.“Mahal sekali! Siapa yang beli satu pasang baju dengan harga satu juta!” Darren