تسجيل الدخولFiona cukup kaget dengan ucapan Darren. Matanya memandang dengan cukup dalam, dan bahkan memberikan sedikit kecanggungan yang terasa. Selama beberapa saat, mereka saling memandang. Namun, lama-lama, ada rasa berbeda yang muncul dari dalam hati Fiona. DEG… DEGH…. DEGH… Fiona merasakan sebuah getaran dalam hatinya yang perlahan mulai membuat Fiona meras mabuk. Wajahnya kini kian memerah padam. Ada perasaan yang kini membara dalam hatinya. “Kamu… sungguh meminta izin?” Fiona memastikan. Darren kembali tetap memandang. Ia mendekati Fiona dengan perlahan, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Fiona dengan lembut. “Aku… rasa sudah sepantasnya. Kamu tak kasar seperti wanita yang pernah kutemui. Kamu lembut. Jadi, sudah seharusnya aku juga lembut seperti itu, bukan?” ujar Darren. Jantung Fiona semakin tidak terkendali. Ia merasakan dengan jelas, perubahan sikap Darren yang kini berhasil menarik hatinya, menarik perhatiannya, bahkan menarik rasa suka yang tak pernah ia berani mil
Fiona masih tetap tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepala. Ia raih tangan Darren yang berdiri di sebelahnya, sambil berbicara sedikit. “Ada apa Mama dan Papa mengundang kami?” Fiona bertanya dengan lembut. Awalnya situasi terasa sunyi dan juga tak ada yang bicara. Tetapi, Segera Delia sadar setelah disiku Mahesa yang melihat Delia diam mematung. “Oh, ayo, masuk Nak. Mama hanya ingin mengundang. Supaya kita bisa lebih dekat,” balas Delia. Meski masih tersirat bagaimana Delia khawatir, Fiona berusaha untuk mengajak Darren untuk tak marah saat ini. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Ini kali pertama Fiona datang ke kediaman utama dari keluarga Darren. Sebelum-sebelumnya, Fiona hanya mendengar cerita dari Helen. Berjalan menuju dapur, Fiona melihat bagaimana berantakannya Dapur. Kelihatannya, sang mama mertua sedang berusaha untuk memasak untuk kedatangan mereka berdua. “Kalian tunggulah sambil berkeliling, mama akan panggil saat makan siang sudah selesai,” ujar Delia. “T
Pandangannya tak salah tertuju, ketika Fiona melihat papa mertuanya. Mahesa, tengah duduk bersama di sana.Fiona yang merasa kikuk itu segera mencoba untuk menutup pintu kembali, hendak keluar dari dalam ruangan barusan.“Ehhh, Nak, ayo masuk!” seru Mahesa, memanggil Fiona dengan senyumannya yang lebar.Fiona yang tak enak hati, akhirnya membuka pintu ruangan lagi, dan masuk ke dalam. Ia berikan senyumannya yang tulus untuk membalas sang mertua.“Pa..” sapa Fiona dengan lembut.“Astaga, kenapa kamu tak bilang mau ke sini?!” seru Mahesa, yang menghampiri Fiona dengan begitu sumringah.Fiona salim pada tangan sang mertua sebagai bentuk hormat. Darren juga menghampirinya, meski dengan raut wajah khasnya yang tak berubah.“Oh iya, Pa… ini…” Fiona ragu memberikan jawaban.“Aku yang minta dibawakan makan siang,” sela Darren.Mahesa yang tadinya hanya senang melihat ke arah Fiona, kini menoleh, melihat Darren yang serius dengan ucapannya barusan.“Kamu yang minta?” tanya Mahesa, memastikan s
Fiona mulai terlelap. Esok harinya, Fiona berusaha untuk lebih terbiasa dengan keadaan tempat tinggal barunya ini. Sambil menguap, Fiona keluar kamar dengan pakaian tidurnya yang kebesaran.Ia menoleh dengan matanya yang masih sipit karena masih mengantuk. Sembari memperhatikan sekitar, Fiona dibuat langsung melek saat mendapati adanya Darren yang tengah membawa sapu di tangannya.Mereka sama-sama membeku, dan juga menatap satu sama lain dengan mode sedikit kaget. Fiona awalnya ingin menyapa, tetapi, suasana sudah berubah jadi cukup canggung. Fiona ingin melambaikan tangan, tetapi merasa ragu.“Kamu sudah bangun?” tegur Darren.Semakin hari, perbedaan cara Darren bicara dari hari ke hari semakin kentara, membuat Fiona semakin tak terbiasa.“Ah….. iya..,” sahut Fiona, ragu.Ia mengalihkan pandangan ke arah sapu yang dipegang oleh Darren.“Kamu… mau menyapu?” tanya Fiona, sedikit memastikan.Darren mengalih pandang ke arah tangannya sendiri.“Oh, iya. Katanya, ini juga skill dasar, kan?
(“Da- Darren?!”) Roy kaget dari seberang.“Iya. Ini aku. Fiona sudah menikah denganku. Jadi, apapun yang mau dilakukan, itu atas persetujuanku.” Darren menegaskan posisinya.(“Kamu seharusnya mengajak Helen pulang juga, Darren. Bukankah kamu pernah punya hubungan dengan Helen? Seharusnya kamu tahu betul, kalau Helen tak bisa pulang sendirian,”) Roy malah menambahkan sebuah ucapan yang menunjukkan bagaimana dia memanjakan Helen selama ini.Darren masih dengan tatapannya yang tegas, tak merasa tersentuh dengan ucapan Roy. Pria itu hanya menanggapi datar bagaimana seorang pria bisa pilih kasih kepada kedua putri yang dimiliki.“Lalu anda tak bisa menjemputnya? Jemput saja. Tak perlu merepotkanku atau Fiona lagi,” balas Darren.(“Tapi dia iparmu, Darren,”) Terdengar, Roy mencoba menarik simpati.“Hanya karena dia iparku, aku harus mengurusnya sepertimu? Takkan. Sepertinya kamu lupa, soal apa yang sudah kubicarakan, kan?” celetuk Darren.Fiona yang masih berdiri di sana, mendengar bahwa a
Fiona kembali dibuat terkejut dengan cara Darren tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ditambah dia baru saja melihat pria dingin ini tersenyum.‘Diam tersenyum! Omaygat! Dia sungguh bisa tersenyum?!’ batin Fiona yang kaget.Fiona semakin terkesima. Ada sisi yang Fiona belum kenal. Ada sisi yang sengaja disembunyikan. ‘Dia orang baik. Aku yakin,’ batin Fiona.“Kamu sering makan di sini?” tanya Fiona, mulai sedikit berbasa-basi.“Ya, mungkin? tak tentu,” Darren menjawab dengan tak yakin.Fiona mencuri pandang melirik ke arah Helen. Ini tempat favorit sang adik.“Apa kamu pernah ke sini dengan Helen?” Fiona melontarkan kembali sebuah pertanyaan.“Helen? Tidak. Aku tak pernah membawa orang lain kemari sebelumnya,” balas Darren.Jadi, dia orang pertama diajak Darren? Fiona merasa sedikit dispesialkan oleh Darren. Pria itu seolah melepaskan senyuman lebar pada Fiona. Hidangan yang mereka pesan datang. Fiona makin terpukau melihat bagaimana steak terlihat begitu menggoda hanya dari luarnya!







