LOGINSenin, 11 Februari 2002.
“Kalau aku ikut, aku ikut sebagai apa?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah beberapa menit Nadya memandangi Yamamoto. Lelaki Jepang itu sempat berpikir sebelum menjelaskan bahwa Kamis dan Jumat ia mempunyai urusan perusahaan di Bali. Meeting berlangsung siang hari dan mungkin dilanjutkan dinner bersama relasi pada malamnya. Sabtu dan Minggu tidak ada agenda kerja. Nadya tidak perlu ikut meeting, hanya beberapa dinner kalau diperlukan, seda
November 2003Tas kerja baru Nadya diletakkan di sudut sofa, cukup jauh dari ember es, botol whisky, dan piring makanan kecil di atas meja rendah. Sudah beberapa minggu tas itu ikut dibawanya ke Ginza. Blazer yang dibeli bersamaan dengannya lebih sering tergantung di kamar atau dipakai ketika ia datang ke kantor Bumi Lintas, tetapi buku kecil dan kartu namanya sekarang hampir selalu berada di dalam tas tersebut.Malam itu Fujita datang bersama tiga orang Jepang. Dua di antaranya pernah beberapa kali Nadya lihat, sedangkan seorang lelaki berkacamata yang duduk di sebelah Fujita belum pernah masuk ke ruang karaoke mereka sebelumnya. Usianya mungkin mendekati empat puluh dan sejak datang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.“Dira-san, malam ini jangan cuma duduk,” kata Fujita dalam bahasa Jepang setelah lagu pertama selesai. “Mori-san datang dari Cikarang. Dia belum pernah dengar kamu menyanyi.”Nadya yang sedang memasukkan e
Oktober 2003Nadya sudah melewati toko itu dua kali sebelum akhirnya berhenti. Di balik kaca, sebuah blazer warna gelap dipasang pada manekin bersama blus polos dan celana bahan. Tidak ada sesuatu yang mencolok, justru karena itu matanya tertahan lebih lama.Ia melihat jam tangan. Masih ada waktu sebelum harus berangkat ke Ginza, jadi Nadya mendorong pintu toko dan langsung disambut udara dingin serta seorang pramuniaga yang membiarkannya melihat-lihat tanpa mengikuti terlalu dekat.Nadya berjalan menyusuri rak sambil sesekali menyentuh kain, kemudian berhenti di depan blazer yang bentuknya hampir sama dengan yang dilihat dari luar. Tangannya bergerak lebih dulu ke label harga, kebiasaan lama yang belum hilang meski keadaan keuangannya sudah tidak sama seperti beberapa tahun sebelumnya.Angkanya membuatnya diam beberapa detik.Dulu ia tidak perlu berpikir lama. Barang seperti itu akan langsung dikembalikan ke gantungan karena selalu ada kos, makan,
September 2003Restoran Jepang di kawasan Blok M belum terlalu ramai ketika Nadya dan Januar mendapat meja dekat jendela. Mereka baru selesai dari Cakung mengecek beberapa dokumen Bumi Lintas. Setelah makan, Januar akan kembali ke kantor, sementara Nadya harus mengejar kelas sore.“Surya belum telepon lagi?” tanya Januar sambil membuka menu.“Belum.”“Berarti belum ada trial.”Nadya menggeleng. “Arman bilang jangan dikejar terus. Nanti malah kelihatan butuh banget.”Januar tersenyum. “Memang butuh.”“Ya jangan kelihatan.”“Sekarang udah mulai ngerti jualan.”Nadya mengambil menu dari tangannya. “Dari dulu.”Percakapan tentang Bumi Lintas sudah menjadi bagian biasa di antara mereka. Kadang berlangsung di rumah Taman Buaran Indah, kadang melalui telepon, dan kadang seperti siang itu, diselipkan di antara kuliah Nadya dan
Agustus 2003Mobil yang dikendarai Arman berbelok memasuki kawasan industri Karawang ketika Nadya membuka buku kecil di pangkuannya. Di salah satu halaman ada nama yang sudah diberinya tiga tanda: Surya — Logistics, nomor telepon kantor, kebutuhan kendaraan tambahan ketika produksi naik, dan catatan terakhir yang ditulis dua hari sebelumnya.Meeting — bawa company profile.Nama Surya sudah berada di buku kecilnya sejak Juni. Awalnya hanya satu nama yang didapatnya dari percakapan di Ginza.Nadya sudah menelepon, mengirim company profile Bumi Lintas, lalu melakukan follow-up sampai akhirnya Surya bersedia menerima mereka. Belum ada pekerjaan, bahkan belum ada permintaan harga. Hanya kesempatan untuk duduk dan bicara.“Masih dibaca terus?” tanya Arman sambil melirik buku itu.“Biar enggak salah ngomong.”“Yang ditanya paling mobil.”“Kalau cuma mobil, Abang aja yang masuk.&rdquo
Juli 2003Telepon genggam Nadya berbunyi ketika ia baru keluar dari gedung kampus. Nama Rikomuncul di layar, sesuatu yang beberapa bulan lalu belum biasa dilihatnya. Adiknya baru membeli Nokia 3310 bekas dari sebagian upah di halaman timbang supaya tidak perlu terus menumpang telepon Mak Su kalau ingin menghubungi Jakarta.Nadya sempat memarahinya karena menganggap uang itu lebih baik ditabung. Riko hanya menjawab bahwa ia bekerja juga supaya bisa membeli sesuatu dengan uang sendiri. Sejak itu Nadya berhenti mempermasalahkan ponsel tersebut, meski adiknya masih sering buru-buru mengakhiri percakapan kalau merasa pulsa mulai terlalu banyak terpakai.“Ce, aku diterima.”Nadya menggeser tas di bahu sambil berjalan menuju gerbang kampus. “Diterima apa?”“SMA.”Langkahnya melambat. Beberapa minggu terakhir Riko memang sedang menunggu hasil penerimaan, tetapi seperti biasa ia tidak pernah terdengar terlalu
Pertengahan Juni 2003Kamar baru Nadya tidak lagi terasa seluas ketika pertama ditempati. Buku kuliah memenuhi sebagian meja, bercampur kartu nama, kosmetik, buku kecil berisi nomor telepon, dan map Bumi Lintas yang dua hari terakhir selalu lupa dikembalikannya ke tas. Gaun Ginza tergantung di belakang pintu karena lemari pun mulai penuh.Pagi itu Nadya hampir terlambat kuliah hanya karena mencari satu lembar catatan yang ternyata tertindih company profile. Ia memasukkannya ke tas sambil mengomel pelan. Baru beberapa bulan lalu kamar yang lebih luas terasa seperti solusi. Ternyata yang semakin sulit ditampung bukan barang-barangnya, melainkan seluruh hal yang harus dikerjakannya dalam sehari.Dua mata kuliah selesai menjelang siang. Nadya baru keluar kelas ketika Arman menelepon dan mengabarkan salah satu perusahaan yang namanya pernah ia dapat dari pelanggan Ginza bersedia menerima company profile Bumi Lintas. Belum ada permintaan harga atau pekerjaan. Mereka h







