Se connecterSenin, 10 Februari 2003
Nadya baru sadar betapa sempit kamarnya ketika dua wadah makanan dari Bangka tidak lagi menemukan tempat. Koper masih terbuka di kaki ranjang, kerupuk dari Mak Su tergantung di sisi lemari, pakaian kotor menumpuk, sementara meja sudah penuh buku kuliah, kamus Jepang, map, dan telepon birunya. Setelah menggeser beberapa buku tanpa hasil, ia akhirnya menaruh wadah makanan itu di atas koper.
Dua tahun lalu kamar itu sudah terasa lebih dari cukup dibanding hi
Minggu, 16 Februari 2003Telepon Nadya berbunyi tidak lama setelah makan siang. Ia sedang duduk di tepi ranjang sambil merapikan catatan kuliah ketika nama Januar muncul di layar. Senyum tipis sudah terbit sebelum ia sempat mengangkatnya.“Bang?”“Aku sudah di Jakarta.”Hanya lima kata, tetapi tubuh Nadya langsung mengingat sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perjalanan dari Bangka. Dadanya terasa lebih peka, putingnya menegang di balik kaus, dan hangat yang sudah dikenalnya mulai berkumpul di pangkal paha. Ia merapatkan kaki, lalu malah semakin sadar pada sesuatu yang sudah ditunggunya lebih dari seminggu.“Kapan sampai?”“Tadi pagi. Mak Su nitip makanan buat kau.” Januar berhenti sebentar. “Sore aku antar ke Radio Dalam.”Nadya menatap koper yang belum sepenuhnya dibereskan sejak pulang. “Abang sekarang di mana?”“Rumah.”“R
Nadya tak perlu melihat nomor pintu ketika keluar dari lift. Ia sudah hafal lorong menuju apartemen Yamamoto, sampai tempat biasa menaruh tas setelah lelaki itu membukakan pintu.Apartemen itu hampir tidak berubah. Sofa, meja makan, karpet, dinding dekat jendela, bahkan lorong menuju kamar menyimpan jejak malam-malam mereka. Hampir setiap sudut pernah menjadi tempat mereka bercinta.Yamamoto mengambil dua cangkir dari dapur. “Tea?”“Boleh.” Nadya duduk di ujung sofa, tempat yang berkali-kali berakhir dengan tubuhnya berada di pangkuan lelaki itu. “Sekarang bilang. Semalam bikin orang kepikiran.”Yamamoto meletakkan teh lalu duduk di sebelahnya. Kemeja kerjanya masih melekat, hanya dasi yang sudah dilepas dan lengan digulung sampai siku. “My assignment may finish.”Nadya menahan tangan yang hendak meraih cangkir. “Finish apa?”“Indonesia. Head office is preparing another rotati
Senin, 10 Februari 2003Nadya baru sadar betapa sempit kamarnya ketika dua wadah makanan dari Bangka tidak lagi menemukan tempat. Koper masih terbuka di kaki ranjang, kerupuk dari Mak Su tergantung di sisi lemari, pakaian kotor menumpuk, sementara meja sudah penuh buku kuliah, kamus Jepang, map, dan telepon birunya. Setelah menggeser beberapa buku tanpa hasil, ia akhirnya menaruh wadah makanan itu di atas koper.Dua tahun lalu kamar itu sudah terasa lebih dari cukup dibanding hidupnya di Belinyu. Ia punya ranjang, lemari, dan pintu yang bisa dikunci, tetapi sekarang harus melangkahi koper dan berbagi kamar mandi mulai terasa merepotkan. Mungkin suatu hari ia perlu tempat yang sedikit lebih besar, meski bukan sekarang karena uang kuliah, kos, makan, transportasi, dan kiriman ke Bangka tetap lebih penting.Pikirannya masih tertinggal di Bangka sampai ke ruang kelas. Rumah Mak Su, warung Lina, halaman timbang, Riko yang semakin akrab membantu Ahin, Januar, lalu ban
Minggu, 9 Februari 2003Koper Nadya sudah tertutup sejak pagi, tetapi Mak Su masih menemukan barang yang harus ikut ke Jakarta. Sekantong kerupuk, beberapa bungkus makanan, lalu satu wadah yang menurutnya harus langsung dimasukkan kulkas begitu Nadya sampai. Nadya sempat mengingatkan ada batas bagasi, tetapi Mak Su hanya menjawab bahwa dulu orang naik kapal tidak seribet itu. Riko yang berdiri dekat pintu tertawa sampai akhirnya Nadya menyuruhnya membantu membawa koper ke depan.Anak itu kemudian bertanya kapan Nadya akan pulang lagi. Nadya tidak bisa memberi jawaban. Kuliahnya kembali berjalan, pekerjaan menunggu, dan Jakarta sudah mempunyai terlalu banyak hal yang tidak bisa ditinggalkan lama-lama. Ia hanya berjanji akan lebih sering menelepon, lalu kembali mengingatkan agar Riko tidak terlalu sering pulang malam dari halaman timbang.Selama lebih dari seminggu di Belinyu, Nadya sudah beberapa kali datang ke warung Lina. Pada hari Imlek ia bahkan membantu hamp
Minggu, 2 Februari 2003Rumah Bu Rahma berada di jalan yang cukup tenang di Pangkalpinang. Bangunannya satu lantai dengan pagar besi setinggi dada dan halaman yang cukup untuk dua mobil. Tidak semegah yang sempat dibayangkan Nadya, tetapi jelas lebih besar dan terawat dibanding rumah Mak Su maupun Lina. Sebuah sedan Toyota warna gelap terparkir di samping rumah, sementara satu motor berada dekat pintu samping.“Mobil siapa?” tanya Nadya ketika Januar membawa Land Cruiser masuk ke halaman.“Pak Ridwan.”“Ayah tiri Abang?”“Iya.”Nadya memastikan tas kecil dan bungkusan makanan dari Belinyu tidak tertinggal. Januar baru mematikan mesin ketika pintu rumah terbuka. Perempuan yang keluar membuat Nadya langsung mengenali wajah yang dua hari sebelumnya dilihatnya dalam foto di rumah Januar. Rambutnya sebahu, pakaiannya sederhana tetapi rapi. Di belakangnya muncul lelaki sekitar lima puluhan dengan kau
Jumat, 31 Januari 2003Motor Januar berhenti dekat teras menjelang pukul sepuluh. Nadya melepaskan tangannya dari pinggang lelaki itu dan membuka helm sambil memandang rumah besar yang hampir tidak berubah.Dalam perjalanan tadi ia sempat mengenali tikungan yang pernah dilewatinya malam 22 Juni 2001. Waktu itu ia datang sendirian dengan sepeda, setelah berbohong kecil kepada Mak Su bahwa masih ada urusan keberangkatan dan Riko yang harus dibicarakan. Padahal tiket sudah selesai dan soal Riko tidak membutuhkan pembicaraan lagi.Ia tetap mengayuh sampai rumah ini muncul dalam gelap.Hampir dua tahun kemudian, Nadya kembali dengan tangannya melingkar di pinggang lelaki yang malam itu dipilihnya.Perempuan paruh baya yang sedang membersihkan teras langsung mengenalinya.“Anaknya Lina, kan?”Nadya tersenyum. “Iya.”“Yang di Jakarta.”“Masih.”“Lina masih buka warung







