Share

ORANG DARI TOKYO

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-10-15 16:49:47

Senin, 24 Februari 2003 

Mobil Januar masuk ke gerbang Yamashiro beberapa menit sebelum pukul sembilan. Nadya duduk di belakang bersama Arman, mengenakan blus putih, rok hitam di bawah lutut, dan blazer tipis. Di dalam tasnya tersimpan kartu nama Bumi Lintas serta salinan kronologi yang selama seminggu terakhir sudah mereka baca berkali-kali.

Gedung kantor tidak berbeda dari kunjungannya tiga bulan lalu. Dulu Nadya melewati gerbang itu membawa kartu baru bertuliskan

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   YANG SEBENARNYA ADA

    Selasa, 25 Februari 2003Pukul setengah sembilan pagi, halaman gudang Bumi Lintas sudah berjalan seperti biasa. Satu truk sedang dipanaskan mesinnya, dua pekerja memindahkan beberapa barang di sisi gudang, sementara Arman berdiri di depan kantor kecil dengan map di tangan.Januar keluar dari dalam dan melihat sekeliling. “Jangan ada yang dibikin beda cuma karena mereka datang.”Arman tersenyum tipis. “Kalau ada kardus miring, dibiarin juga?”“Kalau memang biasanya miring, iya.”Nadya yang berdiri dekat pintu menahan senyum. Sejak tadi pagi Januar sudah tiga kali mengingatkan hal yang sama: tidak ada bunga baru, tidak ada meja yang sengaja dikosongkan, tidak ada truk pinjaman yang didatangkan hanya supaya halaman terlihat penuh.Permintaan Kuroda sehari sebelumnya terlalu jelas.Ia ingin melihat Bumi Lintas sebagaimana adanya.Mobil dari Yamashiro masuk beberapa menit sebelum pukul sembilan. K

  • Nadya di Antara Dua Dunia   ORANG DARI TOKYO

    Senin, 24 Februari 2003Mobil Januar masuk ke gerbang Yamashiro beberapa menit sebelum pukul sembilan. Nadya duduk di belakang bersama Arman, mengenakan blus putih, rok hitam di bawah lutut, dan blazer tipis. Di dalam tasnya tersimpan kartu nama Bumi Lintas serta salinan kronologi yang selama seminggu terakhir sudah mereka baca berkali-kali.Gedung kantor tidak berbeda dari kunjungannya tiga bulan lalu. Dulu Nadya melewati gerbang itu membawa kartu baru bertuliskan Nadya Thung, Sales Executive, berharap Bumi Lintas mendapat kesempatan. Sekarang nama yang sama tercantum dalam dokumen kantor pusat dan menjadi salah satu alasan seseorang datang dari Tokyo.Seorang staf Purchasing membawa mereka ke ruang meeting. Yamamoto sudah berada di sana bersama dua staf Indonesia. Di ujung meja duduk lelaki Jepang berkacamata tipis, mungkin awal empat puluhan, mengenakan setelan gelap dengan map tebal di depannya. Seorang perempuan Indonesia duduk di sam

  • Nadya di Antara Dua Dunia   NAMA KETIGA

    Nadya masih memandangi lembar fax di tangannya. Di bawah nama Yamamoto dan Sato tercetak satu nama yang membuat urusan kantor pusat Yamashiro mendadak terasa jauh lebih dekat.Nadya Thung.Januar ikut membaca dari sampingnya. “Mereka dapat nama lengkap kau dari mana?”“Waktu meeting pertama aku kasih kartu nama ke Sato.” Nadya masih ingat ruang meeting Yamashiro, Arman yang memimpin presentasi, dan dirinya yang diperkenalkan sebagai Sales Executive Bumi Lintas. “Hari itu pertama kali aku ketemu dia.”Arman menarik fax lebih dekat. “Berarti wajar nama Mbak Nadya ada. Dari awal memang datang mewakili sales.”Januar mengangguk. Di samping nama Yamamoto terdapat catatan mengenai introduction awal, sementara Sato tercatat sebagai Purchasing Manager yang menangani evaluasi vendor. Nama Nadya muncul sebagai pihak Bumi Lintas yang beberapa kali berkomunikasi langsung dengan Purchasing.“

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TERLALU CEPAT

    Senin, 17 Februari 2003Selepas kuliah, Nadya langsung menuju Cakung. Tidurnya hanya beberapa jam setelah malam panjang di rumah Januar, tetapi rasa lelah itu seperti tertinggal begitu ia turun dari taksi dan melihat dua truk Bumi Lintas terparkir di depan gudang. Sejak bangun pagi, satu kalimat Januar terus mengikutinya: Sato ditarik kembali ke Jepang.Di dalam kantor kecil yang menyatu dengan gudang, Januar sudah duduk bersama Arman. Beberapa lembar fax tergeletak di meja, bercampur dengan copy company profile, dokumen vendor, dan laporan pengiriman Yamashiro. Nadya menarik kursi tanpa banyak bicara.Sebelum membuka dokumen, Nadya menceritakan singkat peringatan Yamamoto lima hari lalu bahwa kantor pusat mulai mempertanyakan cepatnya proses Bumi Lintas.“Jadi bagaimana?” tanyanya.Arman menyerahkan satu lembar fax. Informasinya pendek: Sato tidak lagi menangani account Bumi Lintas dan seluruh komunikasi sementara dialihka

  • Nadya di Antara Dua Dunia   GILIRAN

    Minggu, 16 Februari 2003Telepon Nadya berbunyi tidak lama setelah makan siang. Ia sedang duduk di tepi ranjang sambil merapikan catatan kuliah ketika nama Januar muncul di layar. Senyum tipis sudah terbit sebelum ia sempat mengangkatnya.“Bang?”“Aku sudah di Jakarta.”Hanya lima kata, tetapi tubuh Nadya langsung mengingat sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perjalanan dari Bangka. Dadanya terasa lebih peka, putingnya menegang di balik kaus, dan hangat yang sudah dikenalnya mulai berkumpul di pangkal paha. Ia merapatkan kaki, lalu malah semakin sadar pada sesuatu yang sudah ditunggunya lebih dari seminggu.“Kapan sampai?”“Tadi pagi. Mak Su nitip makanan buat kau.” Januar berhenti sebentar. “Sore aku antar ke Radio Dalam.”Nadya menatap koper yang belum sepenuhnya dibereskan sejak pulang. “Abang sekarang di mana?”“Rumah.”“R

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TIGA BULAN

    Nadya tak perlu melihat nomor pintu ketika keluar dari lift. Ia sudah hafal lorong menuju apartemen Yamamoto, sampai tempat biasa menaruh tas setelah lelaki itu membukakan pintu.Apartemen itu hampir tidak berubah. Sofa, meja makan, karpet, dinding dekat jendela, bahkan lorong menuju kamar menyimpan jejak malam-malam mereka. Hampir setiap sudut pernah menjadi tempat mereka bercinta.Yamamoto mengambil dua cangkir dari dapur. “Tea?”“Boleh.” Nadya duduk di ujung sofa, tempat yang berkali-kali berakhir dengan tubuhnya berada di pangkuan lelaki itu. “Sekarang bilang. Semalam bikin orang kepikiran.”Yamamoto meletakkan teh lalu duduk di sebelahnya. Kemeja kerjanya masih melekat, hanya dasi yang sudah dilepas dan lengan digulung sampai siku. “My assignment may finish.”Nadya menahan tangan yang hendak meraih cangkir. “Finish apa?”“Indonesia. Head office is preparing another rotati

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status