Share

TERLALU CEPAT

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-10-14 09:01:08

Senin, 17 Februari 2003

Selepas kuliah, Nadya langsung menuju Cakung. Tidurnya hanya beberapa jam setelah malam panjang di rumah Januar, tetapi rasa lelah itu seperti tertinggal begitu ia turun dari taksi dan melihat dua truk Bumi Lintas terparkir di depan gudang. Sejak bangun pagi, satu kalimat Januar terus mengikutinya: Sato ditarik kembali ke Jepang.

Di dalam kantor kecil yang menyatu dengan gudang, Januar sudah duduk bersama Arman. Beberapa lembar fax tergeletak di

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   NAMA KETIGA

    Nadya masih memandangi lembar fax di tangannya. Di bawah nama Yamamoto dan Sato tercetak satu nama yang membuat urusan kantor pusat Yamashiro mendadak terasa jauh lebih dekat.Nadya Thung.Januar ikut membaca dari sampingnya. “Mereka dapat nama lengkap kau dari mana?”“Waktu meeting pertama aku kasih kartu nama ke Sato.” Nadya masih ingat ruang meeting Yamashiro, Arman yang memimpin presentasi, dan dirinya yang diperkenalkan sebagai Sales Executive Bumi Lintas. “Hari itu pertama kali aku ketemu dia.”Arman menarik fax lebih dekat. “Berarti wajar nama Mbak Nadya ada. Dari awal memang datang mewakili sales.”Januar mengangguk. Di samping nama Yamamoto terdapat catatan mengenai introduction awal, sementara Sato tercatat sebagai Purchasing Manager yang menangani evaluasi vendor. Nama Nadya muncul sebagai pihak Bumi Lintas yang beberapa kali berkomunikasi langsung dengan Purchasing.“

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TERLALU CEPAT

    Senin, 17 Februari 2003Selepas kuliah, Nadya langsung menuju Cakung. Tidurnya hanya beberapa jam setelah malam panjang di rumah Januar, tetapi rasa lelah itu seperti tertinggal begitu ia turun dari taksi dan melihat dua truk Bumi Lintas terparkir di depan gudang. Sejak bangun pagi, satu kalimat Januar terus mengikutinya: Sato ditarik kembali ke Jepang.Di dalam kantor kecil yang menyatu dengan gudang, Januar sudah duduk bersama Arman. Beberapa lembar fax tergeletak di meja, bercampur dengan copy company profile, dokumen vendor, dan laporan pengiriman Yamashiro. Nadya menarik kursi tanpa banyak bicara.Sebelum membuka dokumen, Nadya menceritakan singkat peringatan Yamamoto lima hari lalu bahwa kantor pusat mulai mempertanyakan cepatnya proses Bumi Lintas.“Jadi bagaimana?” tanyanya.Arman menyerahkan satu lembar fax. Informasinya pendek: Sato tidak lagi menangani account Bumi Lintas dan seluruh komunikasi sementara dialihka

  • Nadya di Antara Dua Dunia   GILIRAN

    Minggu, 16 Februari 2003Telepon Nadya berbunyi tidak lama setelah makan siang. Ia sedang duduk di tepi ranjang sambil merapikan catatan kuliah ketika nama Januar muncul di layar. Senyum tipis sudah terbit sebelum ia sempat mengangkatnya.“Bang?”“Aku sudah di Jakarta.”Hanya lima kata, tetapi tubuh Nadya langsung mengingat sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perjalanan dari Bangka. Dadanya terasa lebih peka, putingnya menegang di balik kaus, dan hangat yang sudah dikenalnya mulai berkumpul di pangkal paha. Ia merapatkan kaki, lalu malah semakin sadar pada sesuatu yang sudah ditunggunya lebih dari seminggu.“Kapan sampai?”“Tadi pagi. Mak Su nitip makanan buat kau.” Januar berhenti sebentar. “Sore aku antar ke Radio Dalam.”Nadya menatap koper yang belum sepenuhnya dibereskan sejak pulang. “Abang sekarang di mana?”“Rumah.”“R

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TIGA BULAN

    Nadya tak perlu melihat nomor pintu ketika keluar dari lift. Ia sudah hafal lorong menuju apartemen Yamamoto, sampai tempat biasa menaruh tas setelah lelaki itu membukakan pintu.Apartemen itu hampir tidak berubah. Sofa, meja makan, karpet, dinding dekat jendela, bahkan lorong menuju kamar menyimpan jejak malam-malam mereka. Hampir setiap sudut pernah menjadi tempat mereka bercinta.Yamamoto mengambil dua cangkir dari dapur. “Tea?”“Boleh.” Nadya duduk di ujung sofa, tempat yang berkali-kali berakhir dengan tubuhnya berada di pangkuan lelaki itu. “Sekarang bilang. Semalam bikin orang kepikiran.”Yamamoto meletakkan teh lalu duduk di sebelahnya. Kemeja kerjanya masih melekat, hanya dasi yang sudah dilepas dan lengan digulung sampai siku. “My assignment may finish.”Nadya menahan tangan yang hendak meraih cangkir. “Finish apa?”“Indonesia. Head office is preparing another rotati

  • Nadya di Antara Dua Dunia   KARTU YANG DISIMPAN

    Senin, 10 Februari 2003Nadya baru sadar betapa sempit kamarnya ketika dua wadah makanan dari Bangka tidak lagi menemukan tempat. Koper masih terbuka di kaki ranjang, kerupuk dari Mak Su tergantung di sisi lemari, pakaian kotor menumpuk, sementara meja sudah penuh buku kuliah, kamus Jepang, map, dan telepon birunya. Setelah menggeser beberapa buku tanpa hasil, ia akhirnya menaruh wadah makanan itu di atas koper.Dua tahun lalu kamar itu sudah terasa lebih dari cukup dibanding hidupnya di Belinyu. Ia punya ranjang, lemari, dan pintu yang bisa dikunci, tetapi sekarang harus melangkahi koper dan berbagi kamar mandi mulai terasa merepotkan. Mungkin suatu hari ia perlu tempat yang sedikit lebih besar, meski bukan sekarang karena uang kuliah, kos, makan, transportasi, dan kiriman ke Bangka tetap lebih penting.Pikirannya masih tertinggal di Bangka sampai ke ruang kelas. Rumah Mak Su, warung Lina, halaman timbang, Riko yang semakin akrab membantu Ahin, Januar, lalu ban

  • Nadya di Antara Dua Dunia   YANG DITINGGALKAN

    Minggu, 9 Februari 2003Koper Nadya sudah tertutup sejak pagi, tetapi Mak Su masih menemukan barang yang harus ikut ke Jakarta. Sekantong kerupuk, beberapa bungkus makanan, lalu satu wadah yang menurutnya harus langsung dimasukkan kulkas begitu Nadya sampai. Nadya sempat mengingatkan ada batas bagasi, tetapi Mak Su hanya menjawab bahwa dulu orang naik kapal tidak seribet itu. Riko yang berdiri dekat pintu tertawa sampai akhirnya Nadya menyuruhnya membantu membawa koper ke depan.Anak itu kemudian bertanya kapan Nadya akan pulang lagi. Nadya tidak bisa memberi jawaban. Kuliahnya kembali berjalan, pekerjaan menunggu, dan Jakarta sudah mempunyai terlalu banyak hal yang tidak bisa ditinggalkan lama-lama. Ia hanya berjanji akan lebih sering menelepon, lalu kembali mengingatkan agar Riko tidak terlalu sering pulang malam dari halaman timbang.Selama lebih dari seminggu di Belinyu, Nadya sudah beberapa kali datang ke warung Lina. Pada hari Imlek ia bahkan membantu hamp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status