Share

SEBELUM RABU

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-09-17 10:49:02

Senin, 21 Januari 2002.

Sejak bangun pagi, empat kata masih memenuhi halaman buku kecil di meja Nadya: supplier, customer, delivery, schedule. Di bawahnya sudah bertambah beberapa kata yang ia tulis sepanjang Minggu, sebagian dicari melalui kamus, sebagian lagi diingat dari percakapan pelanggan Ginza: production, purchasing, order, quantity, price. Arti price tentu tidak perlu dicari. Order pun cukup mudah. Yang membuatnya beberapa

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   SATU KAMAR

    Senin, 11 Februari 2002.Sore itu Nadya datang ke Ginza lebih awal. Mami sedang memeriksa daftar reservasi ketika ia duduk di kursi seberang dan langsung mengatakan bahwa Yamamoto mengajaknya ke Bali selama empat hari.“Empat juta di luar tiket, hotel, makan, sama transport. Kamis sama Jumat dia masih ada urusan kerja. Sabtu Minggu libur.”Mami hanya mengangguk. “Kamarnya?”Nadya terdiam.Pertanyaan itu memang sudah muncul di bukunya beberapa jam lalu, tetapi belum mempunyai jawaban.“Belum tanya.”“Ya tanya dulu.”Nadya sempat menunggu komentar lain, tetapi Mami kembali melihat daftar reservasi. Ketika ditanya apakah hanya itu sarannya, perempuan itu malah mengangkat bahu.“Soal uang kamu sudah bisa hitung sendiri. Mau pergi atau enggak juga bukan aku yang mutusin. Yang penting, jangan sampai ada hal yang baru kamu tahu setelah sampai Bali.Jawaban itu cukup.

  • Nadya di Antara Dua Dunia   EMPAT HARI

    Senin, 11 Februari 2002.“Kalau aku ikut, aku ikut sebagai apa?”Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah beberapa menit Nadya memandangi Yamamoto. Lelaki Jepang itu sempat berpikir sebelum menjelaskan bahwa Kamis dan Jumat ia mempunyai urusan perusahaan di Bali. Meeting berlangsung siang hari dan mungkin dilanjutkan dinner bersama relasi pada malamnya. Sabtu dan Minggu tidak ada agenda kerja. Nadya tidak perlu ikut meeting, hanya beberapa dinner kalau diperlukan, sedangkan waktu lainnya bisa mereka gunakan bersama.“Jadi aku kerja atau liburan?”“Both.”Nadya mengernyit. “Enak banget jawabnya.”Yamamoto tertawa kecil. Ia lalu menegaskan bahwa Nadya tidak dibawa sebagai penerjemah. Bahasa Jepangnya memang mulai membaik, tetapi belum cukup untuk mengikuti pembicaraan teknis yang cepat. Ia hanya menyukai cara Nadya mendengarkan, mengingat orang, dan mencoba memahami pembicaraan. Gunawan dan Kobayas

  • Nadya di Antara Dua Dunia   LIHAT AKU

    Sabtu, 16 Maret 2002.Pagi itu Nadya sudah mengenakan bikini biru di balik kaus putih dan celana pendek krem ketika Yamamoto keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengatakan ingin ke pantai. Yamamoto mengikutinya tanpa banyak bertanya, mungkin masih mengingat ucapan semalam bahwa hari itu Nadya yang menentukan.Di bawah payung pantai, Yamamoto melepas kaus. Tangan Nadya yang sedang membuka tas langsung berhenti. Selama ini ia lebih sering melihat lelaki itu dalam kemeja atau jas. Di bawah matahari, tubuhnya ternyata masih sangat terawat. Bahunya lebar, dada dan lengannya padat, sementara perutnya cukup rata. Garis otot di punggung ikut bergerak ketika ia membungkuk mengambil handuk.“Umur kamu sebenarnya berapa?”“Thirty-nine.”Nadya memandang sekali lagi, kali ini terang-terangan. Yamamoto menangkap tatapannya dan tersenyum sebelum berjalan menuju air. Nadya ikut menahan senyum. Ia teringat lelaki itu pernah menyebut jogging dan gym, sementara pilihan makannya hampir selalu sederhana. Pa

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BUKAN BOOKING

    Minggu, 10 Februari 2002.Nadya bangun hampir pukul sebelas. Gaun Ginza masih tergeletak di kursi, sementara bekas merah di pergelangan tangannya sudah memudar. Malam ini ia tidak bekerja. Bukan berhenti, hanya satu malam tanpa contest, room karaoke, dan lelaki yang tidak dikenalnya.Menjelang sore ia menelepon Mami. Budi juga libur karena rahangnya masih bengkak, sedangkan urusan Harsono sudah diambil alih manajemen. Setelah menutup telepon, Nadya sengaja tidak membuka buku pengeluaran. Kos, Evergreen, Atma Jaya, dan kiriman ke Bangka memang tidak ikut libur, tetapi malam ini ia tidak ingin menghitung.Ia belajar sampai hampir pukul sepuluh sebelum ponselnya berbunyi.Yamamoto.Lelaki itu rupanya sempat menelepon Ginza dan mendengar kejadian semalam dari Mami.“How is your wrist?”“Sudah hampir hilang.”Yamamoto diam sebentar. “And you?”Pertanyaan kedua justru membuat Nadya terdiam.

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BATAS

    Sabtu, 9 Februari 2002.Sabtu malam membuat Ginza hampir selalu penuh sebelum pukul sembilan. Pintu-pintu karaoke tertutup rapat, tetapi lorong tetap sibuk oleh floor staff yang membawa es, botol, dan pesanan makanan. Dari ruang rias, perempuan keluar masuk untuk contest berikutnya.Pada contest ketiga malam itu, Nadya dipilih seorang lelaki Indonesia berusia sekitar empat puluhan bernama Harsono. Ia datang bersama tiga lelaki Jepang, sehingga Nadya masuk bersama tiga LC lain. Harsono langsung meminta Nadya duduk di sebelahnya, sementara ketiga perempuan lain mengambil tempat di samping masing-masing tamu Jepang.Setengah jam pertama berjalan biasa. Harsono tampaknya menjadi penghubung bagi ketiga tamunya. Ia beberapa kali menerjemahkan percakapan, memilih makanan, lalu tertawa paling keras setiap kali salah satu lelaki Jepang mencoba bahasa Indonesia. Kepada Nadya ia bertanya asal, lama tinggal di Jakarta, dan beberapa kali memujinya.“Bangka,&rdqu

  • Nadya di Antara Dua Dunia   NILAI TAMBAH

    Jumat, 8 Februari 2002.Menjelang siang, Nadya menelepon Mami dan meminta izin tidak masuk malam itu. Mami hanya memastikan ia memang sudah mempunyai janji, lalu mengizinkannya.“Kalau selesai cepat terus mau mampir, terserah. Tapi enggak usah dipaksain.”Malam itu Nadya bisa bersiap langsung di kamar Radio Dalam seperti pada business dinner pertama. Menjelang pukul enam, gaun biru tua yang sama sudah tergantung di sisi lemari. Ia sengaja tidak membeli pakaian baru. Yang berubah justru detailnya: sepatu hitam Charles & Keith, rambut yang baru dirapikan, riasan lebih ringan, dan sedikit L’Eau d’Issey di pergelangan tangan serta belakang telinga.Di depan cermin, perubahannya tidak mencolok. Gaun dan tasnya masih sama, tetapi keseluruhan penampilannya terasa lebih rapi dan matang.Buku pengeluaran di meja sempat menarik perhatiannya.Rp725.000.Malam ini Yamamoto baru menjanjikan Rp200.000. Nadya seg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status