LOGINKuyakin kali ini bukan Mimi yang gemetar dan pucat. Tapi aku. Tubuhku lemas lunglai tiba-tiba. Punggung langsung bersandar di kursi.
Benar-benar gila.
"Apa yang sebetulnya terjadi sampai-sampai aku memaksanya untuk makan sampah?"
"Hm. Seingatku karena Elina mengobrol dengan Aegon."
"Ha? Hanya gara-gara itu?"
"Eh? Sepertinya kau betul-betul tidak ingat ya? Kau itu sangat memuja Aegon. Kau rela melakukan apapun untuknya. Kebanyakan gadis yang kau rundung adalah yang tidak sengaja bicara atau berpapasan dengan Aegon."
Aku meraupkan tanganku ke wajah begitu frustasi. Kukira Aegon sudah sinting. Ternyata ada yang lebih gila lagi. Pantas saja pengembang game membunuh Lysa di awal cerita. Karena apabila Lysa tetap ada, dia akan jadi karakter yang paling dibenci sepanjang masa. Atau ... justru game itu akan jadi lebih mudah? Aegon bisa saja melindungi para gadis lajang dari si perundung Lysa. Tapi ... kalau aku memutuskan untuk menjadi si jahat seperti yang dikehendaki oleh pembuat game. Besar kemungkinannya Aegon akan membunuhku.
Tanganku mengepal erat. Sekelibat rasa takut menjalariku. Aku pernah merasakan kematian. Mengerikan.
Tiba-tiba suara lonceng berbunyi nyaring dan halus.
"Apa itu?" tanyaku.
"Oh! Waktunya beribadah. Aku harus pergi ke kuil."
"Mmm ... apa aku juga harus ke kuil?" tanyaku.
Mimi meringis. "Kau ... setauku tidak pernah beribadah, Lysa."
Aku menghela untuk kesekian kalinya. "Hhh. Aku akan beribadah mulai sekarang. Aku harus bertobat," ucapku.
Kami pun beranjak dari kursi makan area VIP. Aku dan Mimi melangkah menyusuri koridor, melewati lobi utama, dan mengikuti rambu bergambar lilin dengan tulisan 'Kuil'.
Banyak siswa yang juga datang ke tempat ini.
Langkahku terhenti, aku sedikit terkejut. Aku melihat Lilia Aerion lagi! Aku pun membisik kepada Mimi. Teringat pertemuan kami di lorong asrama saat ia memberiku petunjuk arah kamarku.
Lilia yang sekarang begitu penuh senyum sembari membagikan lilin-lilin kecil di atas pisin khusus.
"Mimi ... apa aku pernah berbuat salah kepada Lilia?"
"Seingatku sih tidak. Tapi kudengar Lilia tidak menyukaimu. Kata orang-orang, Lilia jelmaan malaikat surga, sedangkan kau ... iblis neraka. Maafkan aku, Lysa."
Aku cuma bisa murung.
Yah. Mungkin aku akan coba bicara dan berbaikan dengannya. Siapa tahu dia 'malaikat' yang penuh ampunan.
Aku ikut mengantri seperti siswa lain dan Mimi untuk mendapatkan lilin. Abigail pernah membahas ini. Agama di Benua Eldros.
Hanya ada satu agama di dunia ini. Tapi agama ini punya tiga dewa. Dewa Terravon pencipta bumi, biasanya disembah oleh orang-orang seperti Mimi klan serigala dan klan ular. Dewa Vorthys pencipta Agharta atau dunia bawah, disembah oleh klan naga, dan klan ikan. Lalu Dewa Aetherion pencipta langit dan angkasa yang disembah oleh klan burung seperti Lilia. Tapi sejatinya para Animari boleh menyembah siapa saja sesuai keinginan dan kebutuhan mereka.
Aku berdiri di belakang Mimi. Lilia memberinya pisin lilin seperti yang lain. Kini giliranku menghadap pada Lilia.
Mata jernihnya statis, wajahnya juga lempeng saja tanpa menggurat ekspresi apapun.
"Lilia ... aku ...."
"Selamat datang orang asing. Berdoalah kepada dewa dan dapatkanlah berkat-Nya."
'Orang ... asing? Bukankah kami berpapasan di koridor asrama pagi ini?'
Apa karena dia membenciku, makanya dia mengabaikanku? Atau pura-pura tidak kenal padaku? Huh.
Lilia memberiku pisin dengan lilin kecil berdiri di atasnya.
"Jaga api kebajikan ini baik-baik. Jika redup sebelum berdoa, kematian dan kemalangan akan mengikutimu," ucapnya dengan sebuah senyum yang menyeramkan.
Aku menelan ludah. Antrean yang menunggu di belakangku bikin aku harus cepat-cepat menyingkir. Padahal aku belum bertanya apa maksudnya. Padahal sebelum itu Lilia tak berkata apa-apa pada Mimi. Tapi ... kenapa dia bicara begitu padaku ya? Apa mungkin karena aku ini jarang ke kuil jadi dia pun berpikir aku tidak tahu aturan kuil.
Uh! Sudahlah. Pokoknya aku coba berdoa saja. Semoga para dewa menerima tobatku.
Kakiku melangkah mengikuti Mimi sambil tetap memerhatikan kobaran kecil api lilin yang seakan hidup. Pelipisku berkeringat dingin dan aku napas dengan hati-hati supaya tidak menyembur ke lilin mungil ini.
"Lysa, kau tidak seharusnya kesini. Para bangsawan dan orang-orang kaya beda ruangan."
"Oh ...," aku mendongak. Ternyata ada dua pintu. Yang satu lebih ramai orang masuk, sementara satu lagi lebih sepi dan terasa eksklusif dengan karpet merah. Ada pula seorang klan burung yang menyambut mereka.
Padahal aku ingin bisa bersama Mimi saja. Sayang takdir dunia ini melarangku untuk bersamanya. Tanpa bisa berbuat apa-apa, aku pun masuk ke pintu sebelah kiri, ruangan lain yang lebih lengang. Begitu hati-hati aku meniti jalanku agar api lilin kecil yang ringkih ini bisa kujaga kobarannya.
Saat memasuki ruangan, aroma bunga yang manis menyeruak, begitu menyenangkan dan jauh berbeda dari udara hambar di depan tadi. Ruangan ini besar dengan langit-langit yang tinggi. Ada tiga buah lukisan di sana. Lukisan yang cukup besar.
Di sebelah kiri, kuduga adalah Aetherion, mengenakan zirah emas melapisi jubah putih bersih dengan sepasang sayap besar dan megah berkilauan di belakang punggungnya. Tangan kanan memegangi bola yang memancarkan cahaya kekuningan. Di tengah kurasa adalah Terravon, pria tua dengan jubah berlumut dan tanduk rusa yang bercabang-cabang di kepalanya. Dan yang terakhir ... pastilah Vorthys. Tubuhnya biru seperti laut dalam. Ia memegang trisula di tangan kanan, kaki dan tangannya seperti tentakel gurita.
Aku memerhatikan bagaimana orang-orang lain berdoa. Mereka cukup berdiri di depan pagar depan ketiga lukisan itu, komat-kamit, lalu meniup lilinnya. Sudah. Begitu saja. Aku tak tahu apakah ada mantra-mantra khusus yang harus diucapkan. Tapi yang jelas kuketahui adalah ... lilinku tak boleh padam.
Aku menghela pasrah. Dan ... itu adalah hal yang kusesali!
Lilinku mati!
Matilah aku!
Aegon malah kini memasang wajah bingung. Sepasang mata emas yang selalu dingin menghujam padaku. Aku lihat tangannya mengerat pada gulungan perkamen yang tengah ia pegang. Napasnya memburu, aku yakin dia akan menghajarku saat ini, sekarang juga."Seharusnya kubiarkan kau mati," ketusnya dengan nada rendah. Membuatku betul-betul merinding. Kalimatnya berhasil menyengatku ngeri.Pria itu mengangkat bokongnya dari kursi dan meninggalkan meja kami. Aku bisa dengar desis bisikan-bisikan orang di meja belakang. Terutama dari meja para duyung. Jubah Aegon melandai seiring langkah kakinya seakan hidup di punggung sang tuan.Aku mendengkus.Kesal dan takut di saat yang bersamaan.Aku ingat rantai di lehernya yang berpendar keunguan dengan angka minus yang begitu jelas. Kuyakin angka minusnya akan lebih jatuh dari sebelumnya. Tenggorokanku menelan ludah. Ini lebih sulit dari yang aku bayangkan. Mungkin jika aku hanya menatap layar ponsel dan memilih menu-men
"Hihi. Padahal waktu itu dia sangat marah padamu, Elina. Cuma gara-gara kau bicara pada Aegon.""Eh, tahu-tahu pertunangan mereka batal.""Biasanya dia tidak mau lepas dari Aegon. Sekarang tempat duduk saja jauh-jauhan.""Menurutmu siapa yang membatalkan pertunangan mereka?"Kudengar cekikikan mereka di belakang sana. Aku tidak berani menoleh. Sedangkan Aegon, wajahnya menjadi merah. Tangan kanan mengepal erat di atas meja. Kurasa dia potensi terkena darah tinggi. Marah-marah melulu."Kita bertemu lagi ya," seseorang menyapaku.Aku menoleh kaget, dan Aegon melirik tidak suka.
Untungnya pagi itu masih sepi. Lorong asrama laki-laki, lobi dan koridor-koridor bertiang marmer di akademi masih lengang. Cuma satu dua orang, atau petugas kebersihan yang mengepel lantai pagi ini.Aku, Lysa Valerya dengan tubuh berbalut jubah tidur merah darah, lari terbirit-birit tanpa alas kaki di lantai yang dingin. Kuberlari secepat yang kubisa dari kamar seorang pria di asrama laki-laki. Sesampainya di lorong asrama wanita, segera kunaiki tangga dan masuk ke kamarku. Kukunci rapat-rapat pintu ini. Napasku terengah, dadaku kembang kempis, dan tubuhku lemas seketika. Aku terduduk bersandarkan pintu ini.Kuraupkan wajahku, berusaha menyadarkan diri dan mengumpulkan segala kewarasan dalam kepala. Mukaku memerah padam. Aku kembali teringat apa yang barusan terjadi kepadaku, apa yang barusan aku lakukan pada Aegon.
Dingin.Dingin sekali.Aku mendengar seseorang terengah. Napasnya memburu. Ia mengerang pelan. Aku bisa mendengarnya mendesah dengan sebuah ritme.Samar-samar pandanganku mulai jelas meski masih agak buram. Aku melihat seseorang di atasku. Dekat sekali.Leher itu, dililit oleh tato rantai yang berpendar ungu.'Ungu?'Ia berpendar seperti asap yang mengamuk. Angka yang ada di rantai itu jelas.'-85%'Minus delapan puluh lima persen? Minus lima belas persen lagi pasti aku sudah dibunuh olehnya. Tapi ... dia siapa? Apa aku sedang bermimpi?"Sial! Ah! Ah! Ah! Hhh. Sadarlah!"Ia berseru di tengah desahan-desahan itu. Tubuh yang pejal, dada bidang dan terlihat sangat kuat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi. Ia begitu dekat. Aku tak bisa menjawab apapun, atau merespon apapun. Betapa i
Aegon terlihat sangat marah. Aku tahu dia suka marah-marah. Tapi ... dicemooh oleh Felix seperti itu, aku yakin dia lebih mengamuk lagi. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan kepadaku. Apa mungkin ia akan menyiksaku? Atau lebih buruk, membunuhku?!Oh sial. Berapa kali aku harus mendapat percobaan pembunuhan dalam sehari?!Langkahnya tak berhenti. Aku susah payah mengimbanginya, dengan tubuh dan baju basah kuyup yang mulai dingin. Dengan kakiku yang tak sepanjang Aegon. Ia menyeretku dengan kasar dan tergesa. Semua orang yang melihat kami kini berbisik-bisik, atau menatap ngeri pada wajah mengamuk Aegon. Atau mungkin juga mengataiku yang basah dengan jejak air yang membuat lantai koridor akademi jadi becek.Kemudian ia membawaku ke suatu tempat lain. Aku bisa melihat ramb
Napasku tinggal sedikit lagi. Mungkin beberapa detik yang akan datang, aku hanya akan bisa menghirup air ke dalam paru-paru.Aku takut.Di sini gelap sekali.Jauh lebih menyeramkan dibandingkan saat aku mati tersedak mie instan murah. Setidaknya aku masih bisa melihat langit. Aku masih bisa melihat Abigail yang meraung dan menangis untukku. Tapi sekarang ... tidak ada siapa-siapa lagi. Aku akan mati di sini tanpa seorang pun menyadarinya. Aku akan mati ... sendirian.Aku tak bisa melepaskan diri dari jeratan tanaman ini. Dan udara di atas sana jauh sekali.Jika aku bisa menangis, mungkin aku sudah menangis, tapi aku yakin air di kolam ini telah melaru







