Se connecterAku memakai baju tidurku sedini mungkin sebelum Hanna atau siapapun datang ke kamarku. Untunglah Hanna tak bertanya yang aneh-aneh melihat kamar yang berantakan. Pagi itu aku tidak menunggu lama setelah berdandan.
Dengan wajah masih panas dan kepala penuh tanda tanya, aku langsung keluar dari kamar. Langkahku cepat. Terlalu cepat. Aku sudah menunggu dari pagi.
Beberapa pelayan yang berpapasan langsung menyingkir, mungkin karena ekspresiku terlihat seperti mau membunuh seseorang.
Bagus. Karena memang begitu.
"Aegon ...," gumamku.
Aku tahu dia tidak akan jauh. Dan benar saja. Di ujung lorong, dekat balkon yang menghadap halaman kastil dia berdiri. Sendirian. Seperti biasa. Seolah dunia ini terlalu kecil untuknya. Aku langsung menghampiri.
"Aegon!"
Ia tidak langsung menoleh. Namun aku tahu dia mendengarku.
"Kau!" aku berhenti tepat di depannya, napasku masih berat, "Apa yang kau lakukan semalam kepadaku?!"
Baru kali ini ia menoleh. Tatapan emas itu tenang. Terlalu tenang. Bibirnya tersenyum menyebalkan.
"Apa maksudmu?" jawabnya santai.
Oh. Dia mau main begitu. Aku menyipit.
"Jangan pura-pura bodoh!" kataku dingin. "Aku seharusnya tidur di sofa! Tapi saat bangun aku ada di kasur!" lanjutku. "Kau pasti melakukan sesuatu!"
Hening. Angin pagi berhembus pelan. Rambut putihku sedikit tergerak. Aegon menatapku. Lama. Seolah sedang menimbang sesuatu. Lalu—
"PFFT!" Ia terkekeh.
Aku mengernyit dan tambah jengkel!
"Cepat bicara!"
"Kalau aku yang memindahkanmu," lanjutnya datar, "apa masalahnya?"
Aku langsung meledak.
"MASALAHNYA BESAR!"
Beberapa burung di kejauhan terbang kaget.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuhku lagi?!" bentakku. "Aku sudah bilang—"
"Tapi kau yang minta."
Kalimatnya memotongku. Tenang. Dingin. Aku terdiam sesaat.
".... Apa?"
"Kau mengigau dan memanggil-manggil namaku. Aku hanya memindahkanmu," katanya. "Kau hampir jatuh dari sofa."
Aku membeku.
Otakku mencoba memproses.
".... Bohong."
"Percaya atau tidak, terserah."
Aku menggertakkan gigi. "Lalu bajuku?!"
Tatapannya turun sekilas.
Lalu kembali ke mataku.
"Kau merintih dan mendesah sambil memanggil-manggil namaku. Lalu kau berkeringat dan minta aku melepas bajumu."
...
Apa.
Aku terbelalak.
"Tidak ... mungkin." Napasku nyaris raib.
Ia tersenyum sinis kepadaku. "Kau bilang membenciku. Tapi di malam hari kau masih memimpikanku. Cih. Munafik sekali. Apa kau mau ceritakan kepadaku apa yang kau mimpikan semalam?"
Sial. Aku betul-betul tidak tahu bermimpi apa semalam! Apa mungkin tubuh ini, kepala ini masih menginginkan Aegon? Aku membuka mulut lalu menutupnya lagi.
Sial.
Dia membalikkan keadaan. Aku benci ini.
"Jangan mengalihkan topik!" bentakku lagi. "Intinya kau tidak berhak menyentuhku!"
Hening. Aegon menatapku. Berbeda. Lebih dalam. Lebih tajam.
"Tidak berhak?" ulangnya pelan. Langkahnya mendekat. Refleks aku tidak mundur. "Kau tunanganku," katanya. "Kakimu, tanganku, tubuhmu, bahkan nyawamu, semuanya milikku." Suaranya rendah. Berat. "Kau pikir aku butuh izin?"
Dadaku menegang.
"YA!" Jawabku tegas. Satu kata. Namun cukup. Ia berhenti. Tatapannya berubah. Ada sesuatu yang retak. Sangat kecil. Tapi nyata. "Aku bukan milikmu," lanjutku pelan. "Dan aku tidak akan pernah jadi milikmu! Aku bukan mainan lelaki kurang ajar sepertimu!"
Sunyi. Angin berhembus lagi. Lebih dingin. Aegon tidak langsung menjawab. Namun aku bisa melihat rahangnya mengeras. Tangannya mengepal sedikit.
".... Menarik," gumamnya akhirnya. "Aku penasaran sampai kapan kau akan jual mahal seperti ini. Tingkahmu begitu menggelikan cuma untuk mendapatkan perhatianku."
Bisa-bisanya orang ini kelewat percaya diri. Cih! Siapa juga yang mau mendapatkan perhatiannya?!
"Ngaco," kataku dingin. "Aku tidak pernah-!"
"... mengingau? Atau bermimpi yang jorok-jorok tentangku?" potongnya santai. Aegon tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menatapku dengan senyum tipis, seolah aku ini tontonan pagi yang cukup menghibur. "Tenang saja," lanjutnya ringan, "aku tidak akan membocorkan rahasiamu ke seluruh istana."
Aku menyipit tajam.
"Rahasia?! Apa-apaan sih?!"
Ia tertawa kecil. Pelan. Menyebalkan.
"Sudahlah. Tidak usah defensif," katanya. "Kau cukup ... ekspresif saat tidur."
Wajahku langsung memanas.
"Diam!"
"Dan keras kepala juga," tambahnya. "Bahkan saat setengah sadar, kau masih memegangku seperti-."
"DIAM!"
Aku melangkah mendekat. Jarak kami kini terlalu dekat. Tapi aku tidak mundur.
"Aku tidak melakukan itu! Aku tidak memimpikanmu!" desisku.
Aegon menunduk sedikit. Mata emas itu berkilat.
"Jadi kau menyangkal semuanya?" tanyanya pelan.
"Aku menyangkal kebohonganmu!"
"Hm." Ia memiringkan kepala. Mengamatiku. Lama. Seolah sedang menilai sesuatu. Lalu .... "Kalau begitu," katanya santai, "kenapa kau terlihat panik? Kenapa harus marah-marah begini?"
Sial. Aku membeku sepersekian detik. Dan itu cukup. Ia tersenyum lebih lebar.
"Menarik," gumamnya. "Berarti ada bagian yang membuatmu cemas."
"Aku tidak—"
Belum selesai aku bicara tangannya bergerak. Cepat. Pergelangan tanganku tertangkap.
"Eh—!" Dalam satu tarikan ia membawaku mendekat ke arah pagar balkon. Punggungku hampir menyentuh batu dingin. Angin langsung menyambar lebih kencang. Jantungku melonjak. "Aegon—?!"
"Berhenti," katanya pelan. Nada suaranya berubah. Masih ringan. Tapi ada tekanan di dalamnya. "Berhenti berpura-pura."
Aku menegang.
"Lepaskan aku!"
"Tidak sebelum kau berhenti jadi munafik." Matanya menyipit. "Siang hari kau bilang membenciku," lanjutnya, "malam hari kau memanggil namaku."
"Itu ... bohong!"
"Lalu kenapa kau di sini sekarang? Permainan macam apa yang sedang kau lakukan?"
Sial. Aku membuka mulut tapi tidak ada jawaban. Tangannya sedikit mendorong. Lebih dekat ke tepi. Angin dari bawah terasa dingin menusuk. Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat ke bawah. Tinggi. Terlalu tinggi. Kakiku langsung lemas.
"A-Aegon ...," suaraku gemetar, "... jangan—!"
Ia mengangkat alis.
"Kau takut?"
Aku menelan ludah.
"Jangan dorong aku ...."
Nada suaraku benar-benar panik. Bukan pura-pura. Bukan marah. Takut. Dan itu membuatnya berhenti. Tatapannya berubah.
".... Apa?" Cengkeramannya melemah sedikit. "Kau ... takut jatuh?"
Aku menatapnya. Masih tegang. Masih gemetar.
"Lepaskan aku!"
Sunyi. Aegon menatapku beberapa detik. Lalu aneh. Alisnya mengernyit.
"Kau serius?" Aku tidak menjawab. Karena aku terlalu sibuk menahan napas. Ia melirik ke bawah. Lalu kembali ke wajahku. "Kau ini klan naga."
Aku membeku. "Jadi?" balasku cepat.
"Jadi?" ia mengulang. "Kau punya sayap."
Sunyi. Aku menatapnya.
".... Oh."
Sial.
SIAL.
Untuk beberapa detik kami berdua diam. Lalu Aegon melepaskan tanganku. Pelan. Seolah masih mencoba memahami sesuatu.
"Kau tidak ingat," gumamnya.
Bukan bertanya. Menyimpulkan. Aku langsung mundur. Menjauh darinya. Jantungku masih berdebar kencang. Wajahku panas.
Malu.
Marah.
Dan terbongkar.
"Diam!" bentakku. "Jangan sok tahu!"
Aegon menatapku. Lebih serius dari sebelumnya. Tidak mengejek. Tidak bercanda. Hanya memperhatikan. Itu lebih buruk. Aku menggertakkan gigi.
"Aku membencimu!" teriakku. Suaraku menggema di lorong. Dan kali ini tidak ada ragu.
"Aku benar-benar membencimu!" ulangku. "Dan mulai sekarang—" Aku menunjuknya. Tangan gemetar. "Aku tidak akan bicara lagi denganmu!"
Hening. Angin kembali berhembus. Aegon tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku. Lama. Lalu senyum tipis itu kembali. Namun kali ini lebih halus.
".... Kita lihat saja. Aktingmu yang buruk itu pasti akan berakhir."
Sial.
Aku langsung berbalik. Pergi. Langkahku cepat. Tanpa menoleh. Tanpa berhenti. Tapi satu hal yang aku tahu dia masih menatapku. Dan entah kenapa itu lebih mengganggu daripada saat dia menyentuhku.
Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu
Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t
Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat
Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak
Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti
Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan
"Nona Lysa? Anda tidak apa-apa?" Hanna membuyarkan lamunanku."A-Aku cuma ... sedang berusaha mengingat-ingat.""Ah ... begitu ... syukurlah. Saya harap Nona bisa betul-betul ingat," semburat kelegaan tercipta di wajahnya.Karakter seperti Hanna, ras tikus dan yang bukan termasuk ras-ras tokoh penti
Tubuhku lemas. Punggungku pasrah menyandar pada sandaran kasur. Gadis bernama Hanna begitu cemas memandangiku. Sementara aku, bengong seperti orang bodoh.Kucerna betul-betul apa yang tengah terjadi kepadaku.Aku, Nancy. Beberapa saat lalu hal terakhir yang kuingat adalah bersama sahabatku Abigail.
"Lysa lihat aku!" Aegon sang pangeran naga berseru. "Aku tunanganmu! Mereka bukan siapa-siapa! Ayo, pulanglah bersamaku!""Kau bicara apa hah?! Dia itu milikku! Aku telah menandainya sebagai pasanganku! Jangan macam-macam kau!" Rex si Alpha serigala menyahut dengan geraman beserta taring-taring buas
Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ...."Hey!"Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik."Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu,"







