LOGINTubuhku memberontak tak berdaya.
"Aku tahu kau sedang birahi. Kuikat agar kau tidak bisa lagi berbuat semaumu."
Aku bisa melihat semuanya. Kali ini benda panjang itu merasuk perlahan di dalam tubuhku yang sudah basah dan licin. Aegon tersenyum kepadaku dengan penuh kemenangan. Inci demi inci, aku mulai merasakan setiap bagiannya merang
Tanganku nyaris bergetar, nyaris membuat kemersak suara pada kertas perkamen polos yang agak tebal. Aku tahu dari siapa surat ini.'Mereka akan membawa petinya untuk penguburan langit. Dan tubuh itu akan jadi makanan burung-burung di antara awan. Maaf sudah menipumu, Nancy. Aku melihat dalam ramalan bahwa aku memang akan mati. Tapi jika aku membiarkan Aegon membunuhku, dia pun akan mati. Dan kau tak akan bisa menuntaskan siklus ini.Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu. Pertama, seperti yang kubilang kemarin, kau harus memenangkan siklus ini. Menangkan semua pria sekaligus, pastikan rantai mereka menjadi hitam dan angka di leher semuanya seratus persen. Jadikan kelimanya sebagai suamimu, maka kau akan menang. Siklus berikutnya akan dimulai, kau bisa dekati salah satu dari mereka, fokus pada setiap adegan rantai yang a
Pernahkah kau berpikir di tengah malam, saat kau tidak bisa tidur ... di tengah keheningan alam yang sedang beristirahat. Pernahkah kau berpikir ... apa yang terjadi jika segala yang ada di dunia ini tidaklah nyata. Bahwa kau tidaklah nyata. Bahwa kehadiranmu di semesta ini tidak akan mengubah apapun. Bahwa apa yang kau lakukan tidak akan membuat pembeda sedikit pun. Bahwa kau tidak berarti sama sekali.Aku merasa tidak bersemangat. Yang kulakukan cuma menangis semalaman. Aku diberi tahu oleh Hanna ... bahwa besok pagi-pagi sekali seluruh akademi akan mengadakan pemakaman Lilia di kuil akademi. Hanna telah menyiapkan gaun hitam untukku. Gaun duka.Aku cuma diam dan memakainya. Kemudian turun ke lantai lorong asrama dan melangkah bersama-sama murid lain yang juga telah mengenakan baju hitam-hitam. Aku yakin ada beberapa dari m
Elina berkeringat. Dia terengah-engah. Sepertinya ia memberikan seluruh tenaga dan semangatnya untuk menuduhku. Semua mata tertuju kepadanya. Telunjuknya bergetar saat mata tajam Aegon memicing kepadanya."Katakan padaku, sejak kapan pertunanganku batal?" tanyanya."Se-sejak ... sejak ... sejak pertama mulai semester baru di akademi. K-Kau ... kalian ... kalian tidak duduk bersama dan ...."Aegon melangkah dekat padanya dan mengubah tangan kanannya kembali menjadi cakar naga. Semua orang cemas dan merinding, mengira-ngira apa yang akan dia lakukan pada Elina."Hanya karena aku tidak duduk bersama maka kau bilang pertunanganku batal? Menggelikan. Kau dan teman-temanmu terlalu sering bergosip sampai mengarang cerita b
"Apa yang sedang kalian lakukan?"Rombongan kami terhenti. Aku tidak bisa melihat wajah Aegon karena punggung dan tubuh Jin yang tinggi. Serta jubahnya yang menaungi."Kami menggiring terduga pelaku pembunuhan murid bernama Lilia. Kau pasti sudah dengar soal kematiannya, bukan?""Ya. Siapa pelakunya?"Mereka berdua menoleh kepadaku, lebih tepatnya Aegon melongok dari sebelah kanan tubuh Jin. Mata emas Aegon terkejut. Aku yang dikekang oleh dua pria di lengan kanan dan kiri, aku yang berlumuran air mata dan begitu kacau. Rambut berantakan, riasan hancur, dan sesenggukan.Aegon memang tidak lebih tinggi atau lebih besar dari Jin. Tapi, dia sudah pasti lebih bengi
Semalam aku ke kamar Lilia.Itu benar.Lalu aku keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa.Itu benar.Kepalaku penuh dengan isi ramalan dan Aegon dengan tangan cakarnya. Aku berusaha membuat ramalan itu tak terjadi! Sial! Aku bahkan tak memerhatikan keadaan di sekitarku! Bagaimana mungkin aku menjelaskan kepada Elina atau yang lain?! Sekarang malah aku kena getah dari ramalan itu!"Apa yang kau lakukan di kamar Lilia?" selidik Profesor Jin. Kini dirinya, Profesor Cleon yang bersayap coklat dan Tuan Baelon bertanduk naga hitam serta semua orang tertuju kepadaku."I-Itu ... saya ...."
Kakiku langsung berlari menaiki tangga. Benar saja, di lantai lorong kamarku sudah banyak sekali orang. Mereka berkerumun di depan kamar Lilia. Beberapa pria burung mengenakan jubah putih. Lalu beberapa guru yang kukenal. Profesor Cleon, Profesor Jin, dan sang pemimpin akademi, Baelon Valerya. Pria naga bertanduk hitam legam memakai jas dan jubah beludru hitam. Rambut yang beruban begitu kontras dengan seluruh warna pakaian dan sepasang tanduknya. Saat dekat aku baru melihat tubuh pria itu begitu tegap dan besar.Mereka, para pria berjubah putih berusaha dengan hati-hati mengeluarkan tandu dari kamar. Tubuh seorang gadis, ia bersimbah darah. Kain putih menutupinya. Lalu tandu yang lain keluar. Sepasang sayap emas yang berkilau dan agung ... kini ia lepas dari tubuhnya. Bercak-bercak darah menodai bulu keemasan yang terang saat ditimpa cahaya. Seseorang menutupinya dengan kain puti
Setidaknya aku tahu apa yang Reyna katakan adalah benar. Cara tercepat untuk membuat mereka takluk adalah dengan memakai tubuh ini. Gila sih. Aku tak bisa membayangkan Reyna yang kelimpungan mencari cara bagaimana supaya bisa memenangkan permainan i
Aku tersedak. Dan tak bisa bernapas. Tapi nampaknya Aegon tidak peduli. Ia terus mendorong dan menarik kepalaku kepada benda itu. Air mataku deras mengalir dan aku cuma bisa memejam. Antara rasa sakit dan terhina. Ia menggerak-gerakan sesukanya tanp
"Berto! Kunci semua pintu dan jendela! Jangan biarkan ada orang lain yang masuk dan mengganggu!"Berto si rusa pelayan ternganga melihat Aegon yang berbalut handuk di pinggang menggotongku yang
"I-Itu ... aku ...."Aku tak bisa fokus. Nyaris lupa dengan tujuanku kemari. Ini semua gara-gara tubuh Aegon yang berotot keras dan indah. Lengannya yang santai bertumpu pada tepian bak.







