تسجيل الدخولMimpi buruk yang kutakutkan terjadi. Tangan kiri Aegon yang bebas ... kini justru beralih memegang dada kananku. Aku bisa merasakan seluruh jarinya di bawah sana.
"Oh ... yang tadi kupegang ini rupanya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Le-Lepaskan!"
Tangannya malah makin menjadi. Ia meremas-remas seperti orang bodoh yang baru saja pegang benda asing. Aku merintih. Mataku berkaca-kaca. Baru kali ini ada yang sekurang ajar ini padaku. Tubuh Aegon semakin dekat. Ia menyeringai kepadaku, nampak menikmati wajahku yang menderita. Sial.
"Aku ... mumbuncimu," gumamku sulit setengah mati. Mulutku masih monyong karena tangan Aegon menjepit kedua pipiku.
"Ha? Apa?"
"Aku ... membencimu!" Senyumannya raib. Seperti sesuatu telah direnggut darinya. "Aku membencimu," desisku lagi.
Aku sudah siap akan menendang selangkangannya jika dia tidak beranjak dariku. Namun sebelum tindakan itu datang ... pintu kembali terbuka.
"AEGON!"
Rupanya Elron! Dan dia membawa dua orang pengawal. Seketika mereka bertiga menghalangi pandangan dengan tangan. Begitu kompak, karena melihat tubuhku yang polos dan basah.
Aegon sontak melepaskan cengkeramannya dariku. Dan aku membalikkan tubuh ke arah lain, berusaha menyembunyikan seluruh tubuhku. Berjongkok dan memeluk diriku sendiri.
"ASTAGA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"A-Aku-!"
"Hari ini kau benar-benar buat kesabaranku habis! Mau sampai kapan kau berulah begini?!" bentak Elron. "Kalau kau birahi, lakukan di tempatmu sendiri! INI TEMPAT SUCI!"
"T-Tapi aku tidak-!"
"SUDAH! CUKUP! Aku mau kau keluar dari sini! Dan aku tidak mau dengar kau melakukan kesalahan lagi!"
Lalu mereka bertiga pergi meninggalkanku dan Aegon. Aku gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena malu dan marah. Dan ... frustrasi yang tidak bisa dijelaskan.
Tanganku buru-buru meraih handuk yang terjatuh, membalut tubuhku secepat mungkin. Nafasku masih tidak teratur.
"Aku ... membencimu."
Suaraku serak. Namun cukup jelas. Aegon tidak langsung menjawab.
Ia berdiri diam beberapa langkah dariku. Rahangnya mengeras. Tatapannya ... aneh. Bukan marah sepenuhnya. Bukan juga tenang.
Aku tidak peduli. Aku terlalu kesal.
"Dasar gila ... tidak tahu diri ... kurang ajar ...." gumamku sambil merapatkan handuk.
Tanpa menoleh lagi padanya, aku berjalan cepat keluar dari pemandian. Tidak peduli lantai masih licin. Tidak peduli siapa yang mungkin melihat. Aku hanya ingin pergi.
Menjauh dari pria itu. Menjauh dari semua ini.
xxx
Malam itu aku duduk di tepi ranjang.
Masih kesal. Masih malu. Masih ingin menjerit.
"Sial," gumamku pelan. Kuratapi rasa muak ini. Di kehidupan sebelumnya, aku belum pernah menghadapi situasi sememalukan itu. Malang betul nasib Lysa Valerya. Mengapa dia bisa cinta mati pada begundal sinting bernama Aegon Valerya. Dasar gadis bodoh. Kelak si brengsek itu akan dengan mudah melupakan sosok Lysa Valerya. Dalam permainan, bahkan dia jarang sekali menyebut namanya.
Lysa Valerya cuma disebut sebagai 'tunanganku sebelumnya yang sudah tewas' oleh pria itu. Bahkan dia menggunakannya untuk mendapatkan simpati gadis-gadis lain. Dasar brengsek.
Dan saat aku asyik merenung, tiba-tiba pintu terbuka.
Aku langsung menoleh. Kukira Hanna. Tapi ...Aegon. Dia masuk tanpa permisi. Kupikir dia hendak meminta maaf. Dalam hati aku tidak akan sudi memaafkannya.
"Keluar," kataku dingin.
Ia menutup pintu di belakangnya.
"Tidak."
Aku menyipitkan mata. "Ini kamarku."
"Mulai malam ini," katanya santai, "juga kamarku."
"Hah?!"
Aku berdiri.
"Apa maksudmu?!"
"Perintah Ayah," jawabnya singkat. "Sebagai hukuman."
Aku membeku.
'Hukuman?!'
Seolah bisa membaca pikiranku, ia melanjutkan, "Karena 'menodai' pemandian suci."
Nada suaranya sinis. Aku menggertakkan gigi.
"Dan solusinya ... tidur di kamarku?!"
"Sepertinya Ayah ingin memastikan aku tidak membuat masalah di tempat lain."
Aku menatapnya tajam.
"Sialan."
Ia mengangkat alis.
"Aku juga tidak menginginkan ini. Asal kau tahu saja. Yang paling diuntungkan dalam kejadian ini adalah kau."
Aku menatap sinis. "Untung apanya? Aku ketiban sial terus-terusan kalau bersamamu."
Sunyi.
Namun juga ... panas. Aku memalingkan wajah.
"Kalau begitu," kataku dingin, "kau tidur di lantai."
Aegon langsung tertawa pendek.
"Kau bercanda?"
"Tidak."
"Aku tidak tidur di lantai."
"Ini kamarku."
"Dan aku pewaris tahta."
"Dan aku pemilik kamar ini sekarang."
Kami saling menatap. Tidak ada yang mau mengalah. Beberapa detik. Lalu aku mendecih.
"Ya sudah. Terserahlah" Aku berbalik. Melangkah ke sofa di sudut ruangan. Aku menjatuhkan tubuh ke sofa. Membelakanginya. Menarik selimut. "Jangan dekati aku."
Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah. Lalu ranjang berderit pelan. Ia benar-benar ... naik ke kasurku. Sial. Aku menutup mata. Berusaha tidur. Meski pikiranku masih berisik. Meski tubuhku masih mengingat kejadian tadi. Meski kehadirannya masih terasa di ruangan yang sama.
xxx
Pagi. Cahaya matahari masuk dari jendela. Hangat. Tenang ... terlalu tenang. Aku mengerjap pelan. Merasa ... aneh. Lembut. Hangat. Ini bukan sofa. Mataku langsung terbuka. Aku di kasur.
Jantungku langsung berdegup kencang. Aku duduk cepat. Selimut terbuka. Dan saat itu aku sadar. Baju tidurku raib! Mataku terbelalak. Ia sudah terkulai dingin di lantai.
Seolah aku berpindah tempat tanpa sadar. Aku membeku. Perlahan menoleh ke samping. Kosong. Aegon tidak ada. Ranjang di sisi lain tidak terpakai dengan rapi. Seolah seseorang sudah bangun lebih dulu dan pergi. Aku menelan ludah.
".... Apa yang terjadi semalam ... ?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan. Namun satu hal pasti aku tidak mungkin pindah sendiri dari sofa ke ranjang tanpa sadar. Tanganku mengepal pelan di atas selimut.
Wajahku memanas lagi.
".... Jangan bilang ...."
Sial.
Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu
Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t
Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat
Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak
Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti
Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan
Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ...."Hey!"Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik."Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu,"
Aku memakai baju tidurku sedini mungkin sebelum Hanna atau siapapun datang ke kamarku. Untunglah Hanna tak bertanya yang aneh-aneh melihat kamar yang berantakan. Pagi itu aku tidak menunggu lama setelah berdandan.Dengan wajah masih panas dan kepala penuh tanda tanya, aku langsung keluar dari kamar.
"Hhhh ... sialan. Kenapa Berto harus bikin kaget seperti itu sih," gerutunya.Aku masih diam dan menahan rasa malu yang luar biasa. Kami hening di posisi yang sama. Rasanya mau menangis. Aku bisa merasakan tangannya yang kasar dan jari-jarinya yang panjang menggenggam buah dadaku."Ah!"Dan akhirnya
Aku mondar-mandir di dalam kamarku. Insiden sore ini betul-betul bikin aku kepikiran. Aku jadi cemas dan gugup. Aku begitu sembrono menampar Aegon di depan semua orang. Sekarang apa? Pria itu gila. Dia bisa lakukan apapun untuk menyakitiku."Nona Lysa. Saya sudah siapkan handuk untuk Nona."Hanna ma







