تسجيل الدخول"Ahh i-itu ... kalau kau tidak keberatan kok! Nanti aku ganti! Pasti! Aku janji! Tapi setelah aku minta uang pada Aegon ya .... Jadi mmm ...."
"Untuk apa?" tanya Mimi.
Aku menoleh pada konter kafetaria yang terus-terusan bikin perutku keroncongan. Daging panggang, kentang, dan teman-temannya sudah menantiku.
"Aku lapar sekali. Aku belum makan dari pagi," lirihku sambil memegangi perut.
"Ooh. Kantin kita kan gratis. Kau langsung sebut namamu saja, nanti mereka akan berikan makananmu."
"Eh?! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!"
Dengan penuh semangat, aku melangkah cepat ke konter. Seorang pria tinggi bertanduk rusa bertugas menjaga makanan-makanan ini. Aroma daging panggang dan sosis bakar langsung menyeruak ke dalam hidungku.
"Aku mau pesan makanan."
"Oh ... Nona Lysa Valerya. Anda jarang sekali ke kafetaria. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Aku ... mau pesan makanan, bisa?"
"Tentu bisa, Nona Lysa. Saya akan antarkan ke kamar Anda."
"Eh? Di antar ke kamar?"
"Ya. Seperti biasanya, bukan?"
Aku menoleh kepada Mimi, berharap ia tahu jawabannya.
"Bukankah biasanya kau makan sendirian di kamarmu?"
Aku mengelus dagu. Menyadari sebuah kebiasaan Lysa Valerya yang dulu. Apa dia tidak kesepian ya, selalu makan sendiri di kamar?
"Apa bisa makan di sini?"
"Tentu bisa, Nona Lysa. Silahkan tunggu di area VIP."
Ia menunjuk ke salah satu bagian kantin. Sebuah area yang dipagari. Ada ornamen-ornamen khusus. Meja kursinya lebih indah dengan macam-macam ukiran. Tidak seperti meja biasa dengan kursi panjang yang sangat komunal dan sesak. Area VIP dibuat benar-benar khusus.
"Baiklah. Oh! Satu lagi! Tolong bawakan makanan untuk temanku, Mimi," ucapku mantap sambil menepuk bahunya.
"Baik, Nona Lysa."
Aku pun menggiring Mimi untuk ikut denganku ke area VIP.
"Eh! Itu! Ummm ... Lysa, aku tidak bisa ikut!"
"Kenapa?"
"Karena ... area itu cuma untuk bangsawan dan orang kaya. Aku tidak boleh kesana, aku tidak ingin kena masalah."
"Sudah tidak apa-apa. Tenang saja. Aku yang mengundangmu. Lagipula, ada hal yang ingin kutanyakan padamu. Ayo."
Area VIP ini lebih lengang dari area umum. Bahkan lebih sepi. Meja bulat yang dihias taplak emas bermotif, juga kursi empuk yang sangat nyaman. Sayang tak ada yang menempati siang ini selain aku dan Mimi. Mungkin para keturunan bangsawan dan anak-anak orang kaya memang lebih suka makan sendirian di kamar.
Aku tak bisa membayangkan Aegon Valerya nongkrong-nongkrong di kantin seperti anak gaul. Dia pasti akan mengomeli orang-orang yang semeja dengannya.
'Ah dasar rakyat jelata! Minggir sana.'
Mungkin itu yang akan keluar dari mulutnya. Pastinya dengan muka songong paling ningrat sedunia.
Tak butuh waktu lama, petugas kantin mulai mengeluarkan berbagai macam makanan. Daging-gading panggang dan sosis untukku, lalu sup dan berbagai masakan aneka sayuran untuk Mimi. Gadis kelinci itu ternganga dengan semua makanan yang datang. Kami pun mulai makan dengan lahap. Lebih tepatnya, aku pun mulai makan dengan lahap.
Hingga semua makanan ludes, dan datanglah makanan penutup. Aku suka kue lemon, dan Mimi memilih kue wortel yang manis.
"Lysa ... aku masih tidak mengerti. Kenapa kau baik padaku?" tanya Mimi pada akhirnya.
"Hmm? Hm ... mungkin karena kau membantuku saat aku tiba di akademi."
"Maksudmu?"
"Yah. Kemarin saat aku tersesat, kau bantu aku menemukan kamar."
"Memangnya kau tidak ingat? Kita kan sudah satu semester di akademi."
Kunyahanku terhenti. Aku menelan suapan kue lemonku.
"Sebetulnya ... sewaktu libur kemarin, aku mengalami kecelakaan dan ... aku hilang ingatan sebagian," dustaku.
"Aaahhh ...," Mimi mengangguk-angguk. Kurasa ia akhirnya paham dengan hal-hal janggal yang ada padaku. "Jadi ... kau sama sekali tidak ingat soal ...."
"Soal apa?"
"Soal kau."
Aku mengulum bibir, kemudian menggeleng pelan.
"Begitu ya. Yah ... itu menjelaskan banyak hal."
Aku menarik napas panjang. "Ya. Maka dari itu ... aku betul-betul tidak tahu banyak tentang diriku. Atau ... segala hal yang kuperbuat. Sepertinya orang-orang di akademi ini banyak yang tidak menyukaiku."
"Itu ... benar," jawab Mimi takut-takut.
Aku cuma bisa menghela pasrah. Aku tahu cepat atau lambat aku harus memahami karakter Lysa Valerya. Karakter yang mati lebih dahulu bahkan sebelum aku mengenalnya.
"Jadi ... apa saja yang sudah kuperbuat? Jelaskan saja padaku, aku tidak akan marah."
Mimi menelan ludah. "Yah ... kau ... sering menindas orang-orang sepertiku. Lalu ... kau juga berani menindas anak-anak kalangan elit lainnya."
"Hah? Seperti ... siapa?"
"Seperti ... Elina si Putri Duyung."
"Apa?!"
Lysa Valerya. Kukira dia jauh lebih sinting jika dibandingkan dengan Aegon. Orang gila mana yang menindas gadis secantik Elina si Putri Duyung?!
Elina Melthis atau dijuluki Elina si Putri Duyung adalah salah satu kandidat gadis lajang yang bisa dimenangkan dalam game "Jodoh Pangeran Naga". Menurutku Elina itu gadis yang baik dan periang. Rambut merah muda bergelombang seperti ombak laut, bra hijau bak mutiara yang selalu memantulkan cahaya di udara seperti bagian dalam kerang laut. Betul-betul seperti keluar dari buku dongeng. Wajahnya kombinasi antara imut dan cantik seperti anggota girlband Korea.
"Memangnya? Apa yang telah kulakukan padanya?"
"Mm ... yang paling parah adalah ... saat kau memaksa Elina untuk ... makan sampah."
Tanganku yang hendak menonjok sudah dihentikan oleh seorang pemuda. Rambutnya biru seperti langit musim panas yang cerah. Playboy kelas kakap yang siap memangsa gadis manapun di akademi ini. Bahkan aku tahu, guru pun berani ia setubuhi.Felix si duyung playboy."A-Apa yang kau- ukh!"Felix yang sudah menggenggam pergelangan tanganku justru menariknya hingga aku jatuh ke pelukan pria ini. Wajahnya dekat. Dan ia tersenyum begitu mempesona kepadaku. Aku tak bisa menebak apa isi otak di balik kepala berambut birunya itu. Lalu Felix mendekapku di depan semua orang. “Kan sudah kubilang, tanganmu cuma boleh menyentuhku, Sayang.”“Ha?”Lalu tanganku ia sentuhkan kepada pipinya yang hangat dan berkulit mulus.“Ya. Begini,” ucapnya seakan mengajariku cara menyentuhnya. “Benar begini. Ahh … aku suka sekali. Aku ingin disentuh di seluruh tubuh. Boleh kan?”Bulu kudukku berdiri saking merindingnya.Hiiiiihh!Geli banget!“A-Apa-apaan kalian berdua?!” hardik Elina yang masih tersungkur di tanah.
Tanganku terangkat, sudah mengepal siap untuk meninju. Di bawahku terbaring tak berdaya Elina si Putri Duyung yang tersohor karena kecantikannya. Gadis itu ketakutan dengan wajahku yang sudah merah bengis. Sebentar lagi mungkin ketenarannya akan musnah karena aku sudah kebelet merontokkan gigi-gigi depannya. Ucapkanlah selamat tinggal pada wajah cantik nan sempurna itu.Mengapa aku bisa ada di posisi ini?Yah. Ini terjadi beberapa menit yang lalu. Mungkin setengah jam.Seperti biasa aku, May, Mimi, Mina dan Momo, kami bergerombol membawa baki-baki makan siang kami. Bercanda tawa dan mengobrol seperti biasa. Kami duduk di salah satu meja bulat seperti biasa.Hingga sesuatu yang tak biasa terjadi."Wah-wah ... lihatlah siapa yang sedang makan! Rupanya sekumpulan gadis pecundang di akademi!" Seseorang berseru. Rupanya para gadis duyung telah berada di dekat meja mengelilingi kami. Dan yang menyerukan ejekan itu tidak lain tidak bukan, Elina si Putri Duyung.Aku menghela malas. Mimi, Mina
"Saya berpikir hari ini Nona Lysa merenung di kuil, mungkin itu salah satu penyebabnya," terka Ikaruz.Aku menarik napas dalam. “Tidak juga. Masalahku terlalu rumit.”“Saya bisa mendengarkan jika Nona Lysa berkenan.” Aku menoleh kepadanya. “Ahh … ma-maksud saya tentu jika Nona tidak keberatan. Maaf jika saya lancang.”“Tidak. Aku cuma sedang tidak bisa menjelaskan. Dijelaskan bagaimana pun, kupikir pasti kau tidak akan mengerti. Tidak akan ada yang bisa memahami.”Aku merenung, tertunduk lengang. Cukup lama hingga pikiranku kembali penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Juga gambaran ramalan dalam bola kristal. Ramalan tragis penuh dengan kematian.“Nona ….” Ikaruz menyodorkanku setangkai bunga putih cantik yang wangi. Entah kapan dia memetiknya. “Segala hal pasti akan punya jalan keluar. Mau serumit apapun itu.”Ikaruz tersenyum manis kepadaku. Wajahnya ringan tanpa beban. Seperti seorang anak kecil manis yang masih polos.‘Aku melihat kau mati’.Ingin aku berkata begitu kepadanya. Namu
Aku duduk, mungkin entah sudah berapa lama di kursi ini. Kursi di dalam kuil di depan tiga lukisan dewa yang berdiri terpajang dengan pose yang sama. Aetherion, Terravon dan Vorthys. Setelah beberapa minggu lebih semenjak kematian Lilia, atau gadis sungguhan yang bernama Reyna. Akhirnya aku bisa menemui salah satu dari mereka lagi. Sang Game Master. Atau para dewa dalam dunia ini. Mereka penentu nasib setiap makhluk di dunia ini.Kuil lengang. Waktu doa harian sudah usai. Lilin yang ada di tanganku sudah padam. Aku memerhatikan Aetherion dengan sepasang sayap dan jubah putihnya. Persis dengan yang kulihat dalam mimpi. Aku mulai mempertanyakan yang mana yang kenyataan dan mana yang ilusi."Apa kau belum selesai berdoa?" seseorang menegurku. Suaranya familiar. Kakek Daruz. Ia sudah duduk di sampingku dengan sayap compang-campingnya. Ia tersenyum kepadaku dengan lembut. Kali ini Ikaruz berada di sampingnya. Ia melambai singkat dan meringis ke arahku."Oh ... Kakek Daeruz. Sudah. Saya cum
Langit berubah kemerahan. Semakin lama semakin gelap. Abu hitam berterbangan di udara. Aku tak tahu aku tengah berdiri di mana. Mungkin seperti tebing di suatu tempat. Dekat Ashen Peak? Aku mengedarkan pandangan kepada seluruh bagian tempat yang bisa kujamah. Mataku terbelalak. Tubuh Felix seluruhnya berubah biru. Ia terbaring terkapar di tanah bebatuan dengan mata merah terbelalak. Ikaruz tak jauh dari sana, sayap emasnya telah hancur berkeping-keping. Ia tak bergerak. Profesor Jin juga tengkurap, tubuhnya terbelah menjadi dua entah bagaimana. Seseorang dengan tubuh hangus berlutut. Kupikir aku tahu itu siapa. Telinga anjingnya sedikit mencuat meski kulitnya sudah lumer sebagian besar. Pastilah itu Rex. Dan ... aku melihat diriku dan Aegon berbaring bersebelahan. Tubuh Aegon biru dengan mata merah. Dan aku ... sebuah belati menanjap di tenggorokanku. Aku berlumuran darah. Tanganku gemetar. Kupejamkan mata ini dengan penuh rasa takut. "Lysa ... Lysa!" Tubuhku digoyang-goyangkan ol
Langsung kusembunyikan diriku di balik daun pintu. Rasa takut menggelayuti hati ini. Apa yang akan dia pikirkan jika aku tahu kalau dia dan Profesor Cleon diam-diam telah ....Ah! Aku harus pergi dari sini!"Ukh!"Baru saja aku melangkah pergi, namun tanganku sudah tertahan oleh sebuah cengkeraman. Saat aku berbalik, benarlah itu adalah Felix. Ia menutup pintu itu rapat-rapat. Kemejanya belum terkancing, tapi ia sudah memakai celana bermotif sisik itu."Kau lihat semuanya?" tanyanya dengan sebuah senyuman.Aku menelan ludah. Apa mungkin jawabanku berikutnya akan menentukan rantai di leher pria ini? Saat ini lehernya masih dililit oleh rantai putih yang berkedip-kedip. Angkanya satu persen. Masih belum berubah dari terakhir kali kami berinteraksi.Aku diam. Menolak menjawab."Seberapa banyak yang kau lihat?" ia bertanya lagi."A-Aku tidak akan bilang kepada siapapun," ucapku."Aku tahu," katanya dengan percaya diri. Aku mengernyit, hendak protes dan bertanya mengapa ia bisa seyakin itu







