LOGINSakti hanya diam, ketika Laura mendekatinya. Wanita itu memang lebih agresif di banding Sakti. Tinggi badannya hanya setelinga Sakti, hingga dia harus mendongak mencapai bibir Sakti. Bahkan dua gunung kembarnya itu menempel pada dada Sakti.
"Kenapa kamu menolak melakukannya? Aku hanya mau sama kamu," bisik Laura kembali meraih bibir Sakti dan menyesapnya.Sakti tidak mau terpancing lagi. Apalagi sudah ada yang mulai bergerak di balik celananya."Sudah hentikan LauSakti menyiapkan jurus andalannya. Dia sudah siap walaupun saat ini tidak ada yang mendukung. "Gue gak tau kenapa elu harus bertemu dengan gue. Hari paling sial dalam sejarah elu. Bertarung dengan gue!" teriak Brewok.Brewok juga sudah siap. Dia membuka kaos hingga bertelanjang dada. Kalau Sakti terlihat perutnya yang penuh otot sedangkan Brewok mirip gentong dengan perut yang besar. Tiga anak buah Brewok berdiri di pinggir sambil berkacak pinggang. Menonton apa yang akan ditampilkan Sakti. "Hiaaaat!" Brewok dan Sakti maju secara bersamaan. Sakti menyerang dengan pukulan tangan kanan. Ditangkis Brewok dengan tangannya. Nampaknya Brewok memang sangat jago. Beberapa jurus serangan Sakti bisa ditangkis. Mereka melompat dari satu sisi ke sisi lain. Suara tendangan dan pukulan silih berganti. Bahkan anak buah Brewok ikut bersuara. Mereka geregetan hingga sampai badannya gerak sendiri. BRAAAAAKSatu pukulan Brewok mendadak mengenai kaki saat Sakti sedikit tidak fokus. Sakti hingga dia
Kabar pertarungan antara Sakti dan ketua preman-Brewok- sudah tersebar. Semua penghuni rumah liar yang ada di sekitar pembuangan sampah itu berharap dengan cemas. Bagaimana tidak? Orang baru akan melawan bos preman yang menguasai tempat itu bertahun-tahun.Kalau orang itu berhasil kalah dengan Brewok. Alamat mereka akan menjadi budak Brewok selamanya. Mencari rongsok harus setor tiap hari dengan Brewok. Tidak bisa menikmati hasil jerih payah. Sudah miskin diperas pula. Itulah kehidupan pinggir jalan para pemulung. Tempat lapang itu bukannya rame justru terlihat sepi. Tidak ada lampu penerangan sama sekali. Mereka masih bersembunyi di balik rumah kardus atau rumah yang terbuat dari barang rongsok. "Sakti, elu jadi berangkat bertarung dengan Brewok? Apa elu yakin dia akan datang dengan tantangan elu?" Jabrik berusaha duduk. Tangannya sudah mendingan setelah minum obat dan diurut Sakti. "Gue gak akan mundur Bang. Kalau dibiarkan orang itu tambah kurang ajar. Kalau emang nanti gue k
Sakti pulang ke bedeng dengan basah kuyup. Tidak memegang uang atau makanan. Bahkan dia tidak tau harus jual rongsok di mana?"Sakti, kenapa pulang lebih cepat? Apa kamu sudah dapat uang?" tanya Jabrik masih tergeletak di kasur lantai. "Gue gak dapat uang,Bang. Diganggu sama anak buah Brewok. Nanti malam gue mau tempur sama dia," jelas Sakti. Dia membuka semua baju yang kotor akan membersihkan diri. "Wah Bangsat! Ada berapa anak buah Brewok yang ganggu?""Ada tiga, Bang. Aman. Mereka udah gue lumpuhin. Tinggal nanti malam saja.""Maafin gue, Bang. Semua besi dijual sama orang-orang. Gue gak mau mereka berebut.""Ya sudahlah. Kali ini kita harus nahan lapar," ujar Jabrik akhirnya. "Nanti gue keluar, Bang. Nyari makanan. Kasihan Bang Jabrik harus makan," tandas Sakti. Dia menghempaskan tubuhnya di lantai. Masih memikirkan ulah anak buah Brewok. "Bang, emang di sini kayak gitu ya? Kalau gak
Dua orang berkulit hitam dengan jaket kulit hitam. Memakai topi dan sarung tangan. Mendorong tubuh ibuk tua itu hingga tersungkur. "Dasar Tua bangka eot! Main ambil aja. Semua barang rongsok besi mahal di wilayah ini adalah milik Bang Brewok. Kalau elu macem-macem bisa dibabat sama Bang Brewok!"Pria berambut gondrong itu meludahi Ibuk Tua. Mengambil semua besi yang sudah dikumpulkannya. Wanita tua itu tidak berdaya. Tidak ingin nyawanya melayang hanya berebut besi dengan anak buah Brewok. Sakti melihat tingkah dua orang yang sangat menjijikkan itu. Dia langsung melompat ke atas. Padahal dia yang mengeruk sampah dan menemukan besi tua itu. Walau dengan badan kotor penuh lumpur, Sakti mendorong pria berambut gondrong itu. Hingga pria itu tersungkur. "Kurang ajar. Elu lagi. Gue udah bilang jangan ganggu gue. Enak aja main srobot aja. Gue yang menemukan. Kenapa elu yang mau ambil!" bentak Sakti. Si Gondrong bangkit. P
Esuk harinya, Jabrik justru gak bisa bangun. Dia terkapar sakit setelah bertarung dengan Sakti. Lengannya hampir patah. Tidak bisa digerakkan. Sakti merasa sangat bersalah karena sudah menyakiti Jabrik.Siapa yang salah? Dia kan yang menantang?Ketika membuka mata, Sakti duduk di sebelah Jabrik. Dia bingung tidak memegang uang sama sekali. Tidak mungkin dia menyulap makanan. Dia bukan penyihir. "Bang, gue bingung mau ngapain? Abang lapar kan? Gue juga sama. Tapi gak ada uang," lirih Sakti. Dia ingin mengumpat. Sungguh menyedihkan. Dia bilang tidak butuh uang. Hah! Nyatanya saat ini dia sangat membutuhkan uang. Orang kaya yang terlempar di dunia orang miskin sungguh sangat mengerikan. Kalau orang miskin sudah terbiasa dengan makan seadanya."Sakti, gue tidak punya uang sama sekali. Elu bisa berangkat nyari rongsok sekarang. Nanti setelah elu jual rongsokan bisa beli bubur buat gue," lirih Jabrik. Pria kuat dan tangguh itu hanya terbaring lemah. "Elu bisa kan?" Jabrik menatap Sakt
Malam itu sangat cerah. Bulan belum sepenuhnya purnama. Masih terlihat separuh di langit biru berbaur dengan bintang-bintang. Tantangan Jabrik untuk adu duel dengan Brewok menunggu purnama penuhArtinya harus menunggu seminggu lagi. Setelah makan malam yang hanya satu bungkus nasi kucing. Nasi sedikit dengan lauk tempe goreng dan sedikit ikan asin serta sambel untuk pelengkap rasa. Sakti dan Jabrik duduk di depan bedeng Jabrik. Mereka menghisap rokok sambil duduk di potongan kayu yang tidak terpakai. Mata Jabrik masih memandangi lampu-lampu di gedung bertingkat jauh di sana. Beda sekali dengan suasana di tumpukan sampah yang mulai menggunung. "Abang betah di sini?" tanya Sakti membuka percakapan di sela asap rokok. Sesekali Sakti terbatuk tidak kuat menghisap rokok yang tanpa menggunakan filter. Sebelumnya dia menerapkan hidup sehat tanpa mengenal rokok. Mendadak sekarang dia terlempar ke dunia yang mau enggak mau menginginkan dia m







