Share

Bab 2

Author: Richy
Jika… jika sampai ada yang melihat….

Begitu menyadari pemikiran berbahaya ini, diriku sendiri bahkan sampai terkejut.

Ternyata aku benar-benar hanya belum menemukan kelainan yang kusukai? Setelah melepaskan hasratku, ternyata… aku adalah orang seperti ini?

Aku menelan ludah. Begitu mendongak, pandanganku tertuju pada seorang pria kekar dengan potongan rambut cepak di area aula.

Dia memakai kacamata hitam. Otot-ototnya yang kekar membuat seluruh tubuhku semakin basah. Rasanya sangat ingin kedua tangannya menopang bokongku, membiarkanku merasakan sensasi melayang di udara.

Lalu dengan seluruh berat badanku untuk duduk di atas benda miliknya yang menegang.

Itu pasti nikmat sekali.

Membayangkan hal itu, hasratku semakin membara, sampai-sampai seluruh organ tubuhku terasa hangus terbakar.

Lagipula imajinasi itu bebas, jadi aku membiarkan adegan liar itu melintas bebas di benakku.

Jika melihatku saat ini, dia pasti akan mendatangiku, lalu….

Begitu pikiran itu muncul, tiba-tiba aku tersadar bahwa pikiranku sedang jatuh ke dalam jurang yang semakin dalam.

Aku ini masih seorang mahasiswi yang polos, mana boleh berpikiran seperti itu…!

Namun, hasrat di dalam hati tak sanggup dipendam lagi.

Justru orang seperti diriku yang paling memiliki sisi kontras.

Di luar terlihat dingin, padahal di dalam hati jauh lebih haus akan sensasi mendebarkan dibanding siapa pun.

Di dalam kamar mandi yang tertutup ini, aku mengupas tuntas setiap lapisan hatiku, membiarkan pemikiran sebenarnya yang selama ini tertekan bisa terluapkan sepenuhnya.

Dan saat ini, aku berhadapan dengan sebuah kesempatan langka yang bisa meluapkan hasratku sepuasnya, hingga diriku tak mampu lagi menahan gejolak di dalam hati.

Aku menggerakkan bokongku dengan liar, menjulurkan jariku seolah-olah itu adalah aset seorang pria dan terus-menerus menggesek bagian yang memalukan itu.

Tubuhku bagaikan keran air yang terus mengeluarkan cairan.

Sampai-sampai lantai pun menjadi basah.

Tepat pada saat itu, pria kekar di seberang sana mendadak menoleh, menatapku dari balik kacamata hitamnya.

Hatiku tersentak kaget. Bagian yang sedang dia tatap adalah bagian tubuhku yang paling memalukan ini.

Namun, untungnya ini adalah kaca satu arah, jadi dia tak bisa melihatku.

Sensasi ditatap langsung olehnya, membuat rasa maluku semakin menjadi-jadi.

Aku sengaja membuka kedua kakiku lebih lebar lagi, bahkan membuka bagian dalamnya untuk memperlihatkan bagian yang lebih tersembunyi.

Dia pasti tak tahu kalau ada seorang gadis yang sedang memamerkan tubuh padanya di balik kaca ini.

Sensasi bisa melepas seluruh hasrat di dalam hati tanpa perlu memikirkan moral ini benar-benar terasa luar biasa.

Pria kekar itu melihat sejenak, lalu tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.

Sepertinya dia mau buang air.

Begitu membayangkan dia hanya terhalang satu dinding denganku sambil mengeluarkan benda miliknya, kedua kakiku langsung lemas.

Bagaimana ini? Tubuhku sangat menginginkannya, benar-benar sudah tak bisa ditahan lagi.

Tiba-tiba, aku merasa pintu kamar mandi di belakangku sedang dibuka.

Aku membuka pintu dan bersiap untuk memarahinya habis-habisan.

Namun, siapa sangka orang yang berdiri di luar pintu adalah pria kekar itu.

Kok dia berani masuk ke kamar mandi wanita?

Belum sempat aku bereaksi, pria itu langsung mendorong pintu dengan kuat dan menerjang masuk.

Otot dadanya yang bidang menempel erat pada tubuhku.

Berduaan dengan seorang pria di ruangan sempit seperti ini membuat jantungku berdetak kencang.

Untungnya saat berdiri aku sempat merapikan rokku tepat waktu, jadi tak sampai terlihat olehnya.

Dengan gugup, aku menatap matanya di balik kacamata hitam itu.

“Kok… kok kamu malah masuk ke kamar mandi wanita? Nggak takut ketahuan?”

Dia maju selangkah mendekatiku, tubuhnya yang besar benar-benar menutupi diriku sepenuhnya.

“Kamu saja yang pamer tubuh nggak takut, masa aku hanya masuk ke kamar mandi wanita harus takut?”

Mendengar kalimat itu, seluruh tubuhku langsung merinding.

Kok dia bisa tahu? Bukannya ini kaca satu arah?

Melihat ekspresiku yang terkejut, dia berkata dengan nakal,

“Kacamata hitam yang kupakai ini bisa menembus kaca dari luar. Setiap gerak-gerikmu di dalam semuanya terlihat jelas oleh mataku.”

Seketika, hatiku tersentak kaget. Kalau begitu, aksiku membuka kaki lebar-lebar dan membuka bagian dalamnya tadi… terlihat jelas olehnya?

Tiba-tiba, dia menyingkap rok pendekku. Aku tak memakai apa pun di dalamnya!

“Bukannya kamu suka memamerkannya? Sini, tunjukkan padaku!”

Aku dengan panik merapatkan kedua kaki, berusaha keras untuk menjelaskan,

“Bu… bukan seperti yang kamu bayangkan….”

“Jangan pura-pura lagi, lantainya saja sudah basah kuyup begitu. Kamu pasti sangat lelah menahannya, ‘kan?”

Mataku membelalak kaget, dia telah melihat semuanya.

Selanjutnya, dia menepuk bokongku dengan keras, lalu tangannya yang kekar merangkul pinggulku.

“Balikkan badanmu, angkat bokongmu, biar kulihat lebih jelas….”

Diperintah seperti itu olehnya, tubuhku merasakan sensasi menjalar seperti tersengat listrik. Seluruh tenaga untuk melawan langsung hilang begitu saja, hingga aku hanya bisa pasrah diarahkan ke posisi yang memalukan olehnya.

Detik berikutnya, aku mendengar suara celana yang dilepas, disusul dengan sensasi panas dan membara yang perlahan menegang.

Aku memejamkan mata, tak sanggup lagi menahan desahan yang keluar dari mulutku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nasib Seorang Gadis   Bab 7

    Sambil memperlihatkan ekspresi malu-malu, aku mendekat ke telinganya dan berbisik manja, “Ayo tuan, manjakan aku.”Hal ini benar-benar memancing amarah Calvin. Akhirnya, hasrat yang sudah lama dia tahan pun meledak. Dia merangkul pinggangku, lalu membalikkan badanku hingga diriku tertekan di atas ranjang.“Pandai sekali menggoda pria?”Tatapan mata Calvin yang tajam menyapu seluruh tubuhku, napasnya memburu dan terasa panas.Aku berinisiatif menyambutnya, sambil melepaskan mantelku.“Semua ini berkat didikan kakak.”Nada bicaraku yang manja membuat wajah Calvin merona. Hasrat yang nyaris meledak membuatnya kehilangan akal sehat. Dia langsung merobek pakaianku dan melemparkannya ke lantai.Aku menggeliatkan pinggang dengan gelisah, lalu merajuk manja, “Kakak galak sekali….”Mata Calvin menyala-nyala saat meraba tubuhku dan membenamkan wajahnya ke leherku.Seiring dengan pakaian yang lepas satu demi satu, pikiranku malah semakin kacau dan melayang entah ke mana.“Masih sempat-sempatnya m

  • Nasib Seorang Gadis   Bab 6

    Pelayan itu mengulurkan jarinya menunjuk ke arah ruangan di ujung koridor, lalu berkata padaku. Dengan langkah kaki yang berat, aku mengetuk pintu.Namun, ternyata pintu itu tak dikunci dan terbuka begitu saja mengikuti dorongan tanganku.Sepertinya ruangan itu adalah ruang kerja pria tersebut. Di sebelah kiri terdapat dinding penuh rak buku yang menjulang tinggi, membuat ruangan ini tampak megah dan serius.“Sini.”Tiba-tiba, terdengar suara serak yang membuat jantungku berdetak kencang.Dengan kaki yang kaku, aku melangkah maju dan melihat seorang pria duduk di kursi dengan posisi membelakangiku.“Halo, aku ingin bertanya ini di mana, ya?”Aku tahu tak boleh menyinggung orang seperti ini, jadi diriku pun bertanya dengan sangat hati-hati.Pria itu tak bergerak sama sekali, dia hanya melambaikan tangannya ke arahku, mengisyaratkan agar aku berjalan mendekat.Melihat tangannya yang penuh kerutan itu, firasat buruk langsung muncul di dalam hatiku.Sambil melangkah dengan perasaan tak te

  • Nasib Seorang Gadis   Bab 5

    Setelah melontarkan kalimat penuh arti itu, Calvin menutup mulutnya dan tak ada lagi suara yang terdengar dari earphone.Ternyata benar, sepasang tangan yang lembut meraih tanganku, menuntunku maju dengan perlahan.“Silakan naik anak tangganya.”Suara wanita yang dingin terdengar, bertolak belakang dengan telapak tangannya yang hangat, semakin memperparah kepanikan yang kurasakan.Nasi sudah menjadi bubur, aku hanya bisa menelan ludah dan tetap menurutinya.Begitu kakiku menaiki beberapa anak tangga, aku langsung merasakan ada banyak orang yang sedang memperhatikanku.Dan jumlahnya lebih dari satu orang.Seiring dengan sorotan lampu yang menyinari, tatapan yang tak terhitung jumlahnya tertuju pada tubuhku, seolah-olah mampu menembus lapisan kain tipis ini dan melihatku telanjang bulat.Sensasi pengintaian yang begitu kuat ini langsung membuat sekujur tubuhku lemas. Begitu pula dengan kedua kakiku, seolah-olah bisa terjatuh kapan saja di detik berikutnya.“Mari kita saksikan gadis canti

  • Nasib Seorang Gadis   Bab 4

    Lama-kelamaan, dia tak lagi puas dengan kenikmatan yang biasa saja. Dia mulai mencari cara bermain yang tak wajar.Misalnya, di tengah keramaian pusat kota, aku dipaksa memakai gaun pendek bertali tipis yang nyaris transparan. Tali bahunya longgar, seolah sedikit ditarik saja akan langsung terlepas, sementara aku terpaksa berdesakan mengikuti arus orang berlalu lalang.Atau di jalanan pinggiran kota yang sepi di tengah malam, dia memaksamu berjalan dengan tubuh telanjang, bahkan menyeretku masuk ke dalam semak-semak.“Bukannya kamu suka memamerkan tubuh? Ini biar kamu bisa memamerkannya puas-puas.”Cara bermainnya semakin hari semakin nekat. Sampai pada suatu hari, dia menutup mataku dan membawaku naik ke sebuah mobil van.Aku berusaha melepaskan penutup mata, tapi baru saja tanganku menyentuhnya, Calvin langsung menariknya kembali dengan kasar. Dia memegang tanganku erat-erat hingga aku tak bisa bergerak sama sekali.“Jangan melawan, sebentar lagi aku ajak kamu main yang jauh lebih se

  • Nasib Seorang Gadis   Bab 3

    Detak jantungku berdetak sangat kencang. Meski merasa sangat takut, tubuhku tetap saja tak bisa dikendalikan dan menginginkannya.Apalagi saat merasakan sentuhan yang intens itu, kedua kakiku sampai lemas tak berdaya.Namun, detik demi detik berlalu, dia malah tak melakukan apa-apa.Begitu menoleh, aku baru menyadari kalau dia memegang ponselnya dan memotret semua posisiku.Setelah selesai, dia pun berbalik dan pergi.Hanya meninggalkan satu kalimat yang penuh makna.“Kita bakal bertemu lagi.”Dia membiarkanku sendirian di dalam kamar mandi.Beberapa menit kemudian, dengan tubuh yang lemas dan terhuyung, aku memaksakan diri berdiri dan kembali ke tempat duduk.Melihatku baru kembali setelah sekian lama, teman-teman pun bertanya,“Kok kamu lama sekali di kamar mandi? Alkohol kita bahkan sudah hampir habis.”Aku menjawab dengan lemas, “Aku mungkin nggak cocok minum alkohol, rasanya agak nggak enak badan.”“Oh iya, kalian lihat pria berkacamata di seberang sana tadi? Dia siapa, sih?”Mel

  • Nasib Seorang Gadis   Bab 2

    Jika… jika sampai ada yang melihat….Begitu menyadari pemikiran berbahaya ini, diriku sendiri bahkan sampai terkejut.Ternyata aku benar-benar hanya belum menemukan kelainan yang kusukai? Setelah melepaskan hasratku, ternyata… aku adalah orang seperti ini?Aku menelan ludah. Begitu mendongak, pandanganku tertuju pada seorang pria kekar dengan potongan rambut cepak di area aula.Dia memakai kacamata hitam. Otot-ototnya yang kekar membuat seluruh tubuhku semakin basah. Rasanya sangat ingin kedua tangannya menopang bokongku, membiarkanku merasakan sensasi melayang di udara.Lalu dengan seluruh berat badanku untuk duduk di atas benda miliknya yang menegang.Itu pasti nikmat sekali.Membayangkan hal itu, hasratku semakin membara, sampai-sampai seluruh organ tubuhku terasa hangus terbakar.Lagipula imajinasi itu bebas, jadi aku membiarkan adegan liar itu melintas bebas di benakku.Jika melihatku saat ini, dia pasti akan mendatangiku, lalu….Begitu pikiran itu muncul, tiba-tiba aku tersadar b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status