로그인Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Liburan kecil kecilan kalau kata Samudra. Setelah diskusi yang terbilang singkat pantai Anyer lah yang menjadi tujuan mereka dan agar liburan ini semakin terasa, Anton selaku ayah dari Samudra menyewa mobil bis agar mereka bisa berangkat dalam satu kendaraan yang sama. "Happy, sayang?" tanya Dewi mengelus lembut tangan putra tunggalnya. Samudra membalas elusan tangan ibunya. "Sangat happy. Thank you mom, i love you mentok sementok mentoknya." Mobil yang dikendarai supir melaju menuju rumah kediaman masing-masing. Awalnya mereka mau janjian di satu tempat, tapi setelah berdiskusi antar orang tua mereka memutuskan untuk dijemput satu satu saja ke rumah masing-masing dan berhubung mobilnya di sewa keluarga Anton, maka keluarga mereka lah yang sekarang berkeliling menjemput satu satu. *** Di rumah Rain dan Dirgantara, semua orang sedang bersiap-siap. Rain masih memilih baju yang cocok. Entah kenapa ia ingin tampil cantik hari ini. Untuk siap
Terkadang hal yang terlihat biasa saja bisa sangat berarti untuk segelintir orang. Bukan karena kemewahan, jalan jalan ke luar negeri, pergi ke tempat-tempat mahal dan terkenal. Cukup pergi ke mall dan menonton film saja sudah membuat Samudra bahagia karena menurutnya bukan ke mana kita pergi tapi dengan siapa kita pergi. Samudra berikrar hari ini adalah salah satu hari yang tidak akan pernah ia lupakan selama jantung dan napasnya masih ingin berjuang bersama tubuhnya. "Makan dulu yuk!" ajak Anton setelah mereka selesai dengan tontonannya. "Ayah udah lapar lagi?" tanya Samudra keheranan karena beberapa jam lalu mereka baru saja makan kan di rumah. Anton terkekeh seraya mengacak rambut berponi milik putranya tersebut. "Perut ayah kan perut karet, gampang laparnya." Dewi ikut terkekeh melihat interaksi 2 pangerannya tersebut, kemudian dengan suara lembutnya ia mengajak untuk mengisi perut terlebih dahulu. *** "Bee," panggil Binar pada kekasihnya. Dirgantara menoleh padan
"Tuh kan ayah curang!" protes Samudra tidak terima kekalahan sedangkan Anton justru tertawa senang melihat putranya merajuk padanya. "Ah gagal deh nge timezone seharian," gerutu Samudra benar-benar merasa kesal karena kekalahan telaknya. Memang sejak dulu jika tanding catur dengan ayahnya ia tidak pernah menang. Ayahnya bukan curang memang jago saja. "Next kalahin ayah ya," ujar Anton lebih seperti meledeknya. Anton mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam yang melingkar pas di pergelangan tangannya. "Oke karena ayah yang menang, sekarang ganti baju ya kita bakal pergi keluar." "Ke mana?" tanya Samudra. "Entar juga kamu tau. Udah sana gih ganti baju, jangan lupa bawa jaket!" Samudra terus menebak-nebak ke mana mereka akan pergi, tapi kemana pun ia senang sekali hari ini karena bersama kedua orang tuanya. Ayahnya benar-benar menepati janjinya untuk berubah.Sampai mobil hitam yang dikendarainya berhenti disebuah bangunan menjulang tinggi, banyak orang berlalu lalang membawa
Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku
Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala
Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se
Sedari tadi Dirgantara hanya memainkan ponselnya. Benda pipih itu berputar-putar di atas meja. Pemuda itu begitu penasaran dengan jawaban yang nantinya akan dia dapatkan. Jujur saja menunggu adalah hal yang paling dibenci olehnya. "Bang Di kenapa sih?" tanya Rain pusing melihat tingkah kakaknya ya
Mata Baskara berbinar masih belum percaya bisa duduk bersama di meja makan dengan ayah dan kedua kakaknya. Sebuah moment yang dulu hanya sebatas angan kini telah menjadi kenyataan. Mereka sedang sarapan bersama di meja makan. Tidak ada yang berbicara hanya terdengar suara sendok dan garpu yang salin
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Anton. "Istri Bapak tidak apa-apa. Ia hanya syok saja," tutur sang dokter. "Lalu, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Anton lagi. Dokter yang ber-name tag Toni itu hanya menghela napas. "Maaf, saya harus menyampaikan ini, kondisi anak bapak semakin me
Samudra terperanjat ketika rasa sakit itu kembali menyapanya. Dengan napas yang tersengal, ia mencoba meraih toples obat yang ada di samping tempat tidur. Namun, kali ini rasa sakit itu tidak dapat ditahan lagi. Bagaikan beribu belati yang sangat panas ditancapkan tepat ke jantungnya. Pemuda itu ter







