Beranda / Lainnya / Nature Squad / Bab 3-Aku anakmu

Share

Bab 3-Aku anakmu

Penulis: seni_okt
last update Terakhir Diperbarui: 2021-05-12 15:34:36

"Pekan depan Bintang diundang untuk mengisi acara di kafé Kenanga. Mama sama Papa datang, kan?" tanya Bintang kepada orang tuanya.

"Iya, papa datang," jawab Bram, ayahnya.

"Mama datang, kan?" tanya Bintang pada ibunya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, tidak mempedulikan perbincangan antara suami dan anak laki-lakinya yang kini sedang menunggu jawaban darinya.

"Bima, kamu dari mana aja? Kamu gak melihat jam? Ini sudah larut malam." Marah Bram ketika melihat anak sulungnya baru pulang seraya menenteng jaket kulitnya.

"Biasalah Pa, anak muda," jawab putra sulungnya itu dengan santai.

"Kamu ini--"

"Sudah sekarang kamu pergi mandi, ya," suruh Rita memotong ucapan suaminya. Wanita paruh baya itu selalu menjadi tameng untuk membela si sulung.

"Bima! Papa belum selesai bicara," geram Bram ketika putra sulungnya malah naik ke atas.

"Sudahlah Mas, Bima juga baru aja pulang, kasian," lerai sang istri.

"Bela aja terus! Dia jadi seenaknya karena terlalu kamu manjain," timpal Bram dengan nada keras karena masih emosi. Bintang hanya menunduk menyaksikan pertengkaran kecil orang tuanya. Pemuda itu bingung harus berbuat apa. Ini bukan kali pertama ia melihat kedua orang tuanya bertengkar hanya karena masalah kecil seperti ini.

"Bintang, masuk kamar!" Perintah Bram dengan tegas walaupun manik matanya tak lepas dari sang istri.

Ia segera beranjak, tetapi tidak benar-benar pergi melainkan diam di anak tangga sehingga masih bisa mendengar pertengkaran orang tuanya dengan jelas.

"Bima itu putra tertua! Jangan terus kamu manjakan jadi seenak dia," kata Bram menasehati sang istri.

"Mas yang terlalu keras padanya. Mas sendiri juga memanjakan anak itu," balas Rita, yang ia maksud anak itu adalah Bintang.

Bintang hanya menghela napasnya ketika ibunya mulai mengait-ngaitkan dirinya lagi.

"Apa salahnya aku memanjakan anakku sendiri?" lanjut wanita itu tidak kalah emosinya.

"Rita, stop! Harus berapa ratus kali aku bilang, kamu harus adil pada mereka, Bintang anak kamu juga!" bentak Bram tidak terima ketika istrinya selalu membedakan kasih sayang putra-putranya.

"Dia bukan anakku. Sampai kapan pun anakku hanya Bima!" Tegas Rita serta langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya.

"Rita!" Bram benar-benar geram dengan kelakuan sang istri yang begitu keras kepala.

"Dasar tukang nguping," cibir Bima dari atas tangga.

Tidak ingin hatinya semakin sakit, Bintang beranjak dari tempat menyakitkan itu lalu pergi ke kamarnya.

***

"Gue boleh masuk?" tanya Bima seraya melenggang masuk.

"Ngapain meminta ijin kalau main nyelonong aja," Bintang mendengkus.

"Haha! Selow kali, tegang amat tuh muka," Pemuda itu tertawa, Bintang hanya memutar bola matanya, malas meladeni kakaknya yang terkadang menyebalkan.

"Ngapain ke sini? Sana balik ke kamar lo!" Usir Bintang seraya mendorong tubuh kekar milik Bima.

Bima membaringkan tubuhnya di tempat tidur sang adik. "Galaknya," eluhnya.

Bintang sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan kakaknya itu, ia kembali sibuk dengan buku-buku tebalnya atau lebih tepatnya untuk menghindari tatapan selidik dari Bima.

"Mata lo gak sakit baca buku setebel itu? Gue sih baru buka sampulnya aja mau muntah." Pemuda itu meringis melihat betapa tebalnya buku-buku yang sedang adiknya baca.

"Mata mata gue, bukan mata lo." Jawab Bintang masih fokus dengan buku psikologinya, Bima hanya mendengkus melihat betapa kerasnya adiknya itu belajar.

Meskipun Bintang anak IPA, tetapi dia juga senang membaca semua jenis buku. Bima saja jika masuk ke ruangan ini merasa kalau ia sedang berada di perpustakaan sekolah, hanya bedanya perpustakaan yang memiliki sebuah tempat tidur.

"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Bima kemudian dan Bintang tetap diam seakan menunggu kalimat apa yang akan diucapkan kakaknya lagi.

"Sama perkataan mama tadi," lanjut Bima dengan hati-hati. Takut melukai perasaan sang adik.

Bintang memejamkan matanya seraya mengepalkan kedua tangannya. "Hmm. Udah biasa."

Raut wajah Bima tampak cemas. Ia tahu adiknya itu pasti sakit hati dengan perkataan sang ibu dan itu sangatlah wajar, siapapun pasti akan merasa sakit hati jika selama hidupnya selalu dibedakan dan tidak diberi kasih sayang yang seharusnya.

"Lo juga kalau main itu harus tahu waktu, jangan bikin papa marah terus." Bintang menghentikan aktivitasnya lalu menatap kakaknya dengan tatapan serius.

"Lo tega liat mama nangis terus gara-gara berantem sama papa?"

Bima tersenyum sinis, bisa-bisanya adiknya itu masih memikirkan perasaan ibunya di saat ia tidak dianggap oleh sang ibu.

"Hoam ... gue balik kamar, ngantuk." Bima melenggang keluar kamar begitu saja. Sebenarnya ia hanya ingin memberi ruang tersendiri untuk adiknya itu.

Setelah memastikan sang kakak sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya, Bintang kembali menarik napas dalam lalu membuangnya dengan keras. Ia tidak munafik meski sudah sering mendengar ibunya bicara seperti itu, tetapi hatinya masih tetap saja merasa sakit.

Pemuda malang itu hanyalah korban dari kekhilafan ayahnya di masa lalu. Jika bisa memilih, Bintang juga tidak menginginkan hidup seperti ini.

Namun, mau bagaimana lagi? Ini sudah garis takdir dari yang maha kuasa. Sebagai seorang hamba ia hanya harus menerimanya dan percaya bahwa suatu saat nanti ibunya akan berubah menyayanginya. Bintang hanya harus menunggu sampai waktu itu tiba.

***

Baskara duduk terdiam di teras rumahnya, memandangi langit yang gelap tanpa cahaya bulan dan gemerlapnya bintang-bintang. Langit malam ini sangat mewakili hatinya yang sepi. Tidak ada keluarga, tidak ada yang menemani. Ia hanya sendiri di rumah sederhananya. Salah satu rumah milik kakeknya.

Pemuda itu kembali menengadahkan kepalanya menatap ke atas langit. Ia memejamkan matanya seraya menghirup udara malam yang cukup dingin sama seperti perasaannya. Bertahun-tahun terjebak dalam kesepian yang tak berujung.

Mungkin, saat bersama dengan Nature Squad saja rasa itu sedikit berkurang, tetapi ketika tidak bersama mereka perasaan itu mendatanginya lagi, membuatnya sangat tersiksa dan rasanya ingin menghilang saja.

"Babas," Wina memanggil pemuda itu, tetapi ia hanya menoleh lalu kembali menatap ke atas langit yang hanya berwana hitam gelap.

"Nenek masuk rumah sakit," lanjut gadis itu dengan raut wajah yang sangat cemas.

Baskara sangat terkejut mendengar kabar tersebut sampai-sampai tubuhnya mendadak lemas. Tanpa mengindahkan pertanyaan Wina, ia segera mengambil kunci motornya yang tergantung di dekat kamar lalu langsung pergi ke rumah sakit menaiki motor hitam kesayangannya. Tahu pemuda itu sedang tidak baik-baik saja, Wina memutuskan untuk menemaninya.

"Bas, tunggu! Aku ikut."

***

Saat sampai di pekarangan rumah sakit, Baskara langsung memarkirkan motornya di sembarang tempat, tidak peduli motornya akan diamankan karena tidak mematuhi aturan, bahkan ia tidak menunggu Wina yang masih duduk dengan perasaan gelisah di atas motornya. Gadis itu bisa memakluminya. Pasti Baskara sangat khawatir dengan kondisi sang nenek. Langkahnya terhenti ketika melihat salah satu saudarinya sedang duduk di depan ruangan UGD.

"Ngapain kamu ke sini?" tanya kakaknya dengan sinis.

"Aku mau lihat kondisi nenek." Baskara tertunduk memandangi sepatunya. Dia tidak berani menatap mata sang kakak yang penuh dengan sorot kebencian untuknya.

"Pergi! Aku gak mau kamu bunuh nenek juga." Dia berkata dengan suara lantang, menunjuk arah parkiran.

Tubuh Baskara menegang serta mengepalkan kedua tangannya kuat sampai urat-urat tangannya terlihat. Mungkin jika yang di hadapannya sekarang bukan kakaknya dan bukan seorang wanita, ia sudah melayangkan pukulannya.

"Aku bukan pembunuh," ucapnya lirih, teramat lirih.

"Brisia, ayo ma--" Nugroho menghentikan ucapannya ketika melihat putra bungsunya ada di sana. Keadaan semakin mencekam. Nugroho menatap tajam kepada anak lelaki yang juga sedang menatapnya.

Mata Baskara panas menahan air mata yang bisa keluar kapan saja. Kalau saja bisa, ia ingin sekali memeluk pria dewasa di depannya itu dengan erat, meluapkan semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun lamanya.

"Ayah," panggilnya lirih.

Mata Nugroho membulat sempurna dan tangan besarnya melayang dengan sangat keras ke pipi milik Baskara.

"Jangan panggil saya Ayah! Kamu bukan anak saya," serunya dengan penekanan di setiap kata.

Wina sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Gadis itu melihat semuanya.

"Jadi Babas masih punya orang tua?" tanya gadis itu entah pada siapa.

Baskara masih bisa merasakan pipinya yang panas akibat tamparan yang dilayangkan Nugroho. Ia semakin tertunduk dalam dan satu tetes cairan bening itu akhirnya jatuh dari pelupuk matanya. Sakit, sedih, kecewa. Perasaannya begitu terluka. Bukan pelukan yang didapat justru tamparan dan penolakan keras.

"Bas," panggil Wina. Ia mengusap punggung pemuda itu lembut.

"Ayo pulang," kata Baskara dengan nada datar dan lagi-lagi berjalan meninggalkannya.

Selama di perjalanan, Wina terus membayangkan kejadian yang baru saja ia saksikan. Bebagai pertanyaan bergelantungan dalam otaknya. Namun, melihat kondisi Baskara tadi, ia membiarkan pertanyaan itu tetap berada di dalam pikirannya saja.

"Pergi! Aku aku gak mau kamu bunuh nenekku juga."

"Jangan panggil saya Ayah! Kau bukan anak saya."

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran pemuda malang itu. Setelah sampai ke rumah, Baskara langsung membuka laci kamarnya dan mengambil benda yang berbulan-bulan tidak pernah ia sentuh lagi.

Pria itu pergi ke kamar mandi serta menyalakan shower untuk menyamarkan suaranya, lalu benda dingin dan tajam itu ia goreskan pada tangannya yang sudah banyak bekas luka sayatan.

Satu goresan, dua, tiga, menikmati rasa perihnya. Setidaknya rasa perih di tangannya bisa mengalihkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya. diam di sana, terus melukai seakan menyuruhnya mati secara perlahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nature Squad   BAB 61-Nature Squad (Chat)

    Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku

  • Nature Squad   Bab 60-Dirgantara dan Dua Gadisnya

    Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala

  • Nature Squad   Bab 59-Bertemu Camer di Depan Gereja Tua

    Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se

  • Nature Squad   Bab 58- Jalan Pagi dan Mengakui Kesalahan

    Suara kicau burung milik tetangga menyapa orang-orang yang sedang olahraga pagi di komplek perumahan. Sepasang saudara itu salah satunya. Walaupun si adik terus merengek kelelahan, tetapi si kakak mengabaikan daan justru menarik lengan si adik agar ikut berlari dengannya meski harus sedikit memelankan kecepatannya. Dirga memberikan semangat, "Dikit lagi Rain. Lo bisa!" Sedangkan gadis itu justru semakin merajuk bahkan hampir menangis karena kakinya sudah sangat pegal. Ia rasa sebentar lagi kakinya akan lepas dari tempatnya. "Capeeeek." Dirga menghela napas dan akhirnya mengajak Rain makan ke tukang bubur ayam langganan mereka di luar komplek perumahan. Kedua kakak beradik itu berjalan berdampingan dan sesekali yang lebih besar menggoda dengan kembali berlari meninggalkannya. Rain berteriak, "Bang Di tungguin!" Setelah sampai di tempat tukung bubur ayam langganan, Rain pun langsung duduk dengan wajah yang masih cemberut karena ditinggalkan. Sedangkan si pelaku justru anteng-a

  • Nature Squad   Bab 57-Ditemenin Bobo

    Dokter Leon meminta satu kamar inap untuk sepupunya dan setelah mendapatkan kamar kosong ia langsung membawanya ke sana. Samudra dipasang masker oksigen untuk membantu pernapasannya yang hilang timbul. Setelah itu Dokter Leon menghubungi seseorang dan jika dilihat dari gaya bicaranya tidak salah lagi ia menghubungi orang tuanya Samudra. “Kak.” Panggil Samudra melepas masker oksigennya. Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupu keras kepalanya tersebut Dokter Leon langsung menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk bulatan sedangkan tiga jari lainnya ia acungkan. Seakan mengatakan, oke tenang saja mereka tidak tahu kamu ada di sini. “Iya, Tante gak usah cemas Sam aman bersamaku,” pungkasnya sebelum mengakhiri teleponnya. “Bundamu gak tau kamu di sini. Aku bilang malam ini kamu menginap di rumahku karena besok ada ulangan dan meminta Sarah mengajarimu belajar.” Jelas Dokter Leon seraya memeriksa keadaan jantuk milik sepupunya tersebut. Samudra menimpali dengan su

  • Nature Squad   Bab 56-Bolehkah?

    Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan berkeliling sekolah tersebut. Samudra memasangkan helmnya membuat gadis itu harus menahan napas karena gugup. Viola tersenyum malu serta pura-pura membenarkan letak helm nya untuk menutupi kegugupannya. "Makasih." “Untuk?” tanya Samudra sengaja menggoda gadis itu. “Untuk ini.” Tunjuknya pada helm putih yang sudah terpasang di kepalanya, “dan untuk hari ini. Makasih udah mewujudkan mimpi yang kupikir cuma akan menjadi sebuah angan.” “Sama-sama,” balas Samudra juga mengulas senyum, “lo bisa ngandelin gue.” Lanjutnya dengan berbangga diri. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rasanya baru saja gadis itu mengeluh kepanasan, kini sang raja sinar sudah hampir bersembunyi. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Samudra, laki-laki yang mengubah warna hidupnya yang kelabu menjadi lebih berwarna. Kini Viola semakin takut dengan kematian. Ia tidak ingin meninggalkan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, ia tidak ingin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status