로그인"Pekan depan Bintang diundang untuk mengisi acara di kafé Kenanga. Mama sama Papa datang, kan?" tanya Bintang kepada orang tuanya.
"Iya, papa datang," jawab Bram, ayahnya. "Mama datang, kan?" tanya Bintang pada ibunya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, tidak mempedulikan perbincangan antara suami dan anak laki-lakinya yang kini sedang menunggu jawaban darinya. "Bima, kamu dari mana aja? Kamu gak melihat jam? Ini sudah larut malam." Marah Bram ketika melihat anak sulungnya baru pulang seraya menenteng jaket kulitnya. "Biasalah Pa, anak muda," jawab putra sulungnya itu dengan santai. "Kamu ini--" "Sudah sekarang kamu pergi mandi, ya," suruh Rita memotong ucapan suaminya. Wanita paruh baya itu selalu menjadi tameng untuk membela si sulung. "Bima! Papa belum selesai bicara," geram Bram ketika putra sulungnya malah naik ke atas. "Sudahlah Mas, Bima juga baru aja pulang, kasian," lerai sang istri. "Bela aja terus! Dia jadi seenaknya karena terlalu kamu manjain," timpal Bram dengan nada keras karena masih emosi. Bintang hanya menunduk menyaksikan pertengkaran kecil orang tuanya. Pemuda itu bingung harus berbuat apa. Ini bukan kali pertama ia melihat kedua orang tuanya bertengkar hanya karena masalah kecil seperti ini. "Bintang, masuk kamar!" Perintah Bram dengan tegas walaupun manik matanya tak lepas dari sang istri. Ia segera beranjak, tetapi tidak benar-benar pergi melainkan diam di anak tangga sehingga masih bisa mendengar pertengkaran orang tuanya dengan jelas. "Bima itu putra tertua! Jangan terus kamu manjakan jadi seenak dia," kata Bram menasehati sang istri. "Mas yang terlalu keras padanya. Mas sendiri juga memanjakan anak itu," balas Rita, yang ia maksud anak itu adalah Bintang. Bintang hanya menghela napasnya ketika ibunya mulai mengait-ngaitkan dirinya lagi. "Apa salahnya aku memanjakan anakku sendiri?" lanjut wanita itu tidak kalah emosinya. "Rita, stop! Harus berapa ratus kali aku bilang, kamu harus adil pada mereka, Bintang anak kamu juga!" bentak Bram tidak terima ketika istrinya selalu membedakan kasih sayang putra-putranya. "Dia bukan anakku. Sampai kapan pun anakku hanya Bima!" Tegas Rita serta langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya. "Rita!" Bram benar-benar geram dengan kelakuan sang istri yang begitu keras kepala. "Dasar tukang nguping," cibir Bima dari atas tangga. Tidak ingin hatinya semakin sakit, Bintang beranjak dari tempat menyakitkan itu lalu pergi ke kamarnya. *** "Gue boleh masuk?" tanya Bima seraya melenggang masuk. "Ngapain meminta ijin kalau main nyelonong aja," Bintang mendengkus. "Haha! Selow kali, tegang amat tuh muka," Pemuda itu tertawa, Bintang hanya memutar bola matanya, malas meladeni kakaknya yang terkadang menyebalkan. "Ngapain ke sini? Sana balik ke kamar lo!" Usir Bintang seraya mendorong tubuh kekar milik Bima. Bima membaringkan tubuhnya di tempat tidur sang adik. "Galaknya," eluhnya. Bintang sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan kakaknya itu, ia kembali sibuk dengan buku-buku tebalnya atau lebih tepatnya untuk menghindari tatapan selidik dari Bima. "Mata lo gak sakit baca buku setebel itu? Gue sih baru buka sampulnya aja mau muntah." Pemuda itu meringis melihat betapa tebalnya buku-buku yang sedang adiknya baca. "Mata mata gue, bukan mata lo." Jawab Bintang masih fokus dengan buku psikologinya, Bima hanya mendengkus melihat betapa kerasnya adiknya itu belajar. Meskipun Bintang anak IPA, tetapi dia juga senang membaca semua jenis buku. Bima saja jika masuk ke ruangan ini merasa kalau ia sedang berada di perpustakaan sekolah, hanya bedanya perpustakaan yang memiliki sebuah tempat tidur. "Lo baik-baik aja, kan?" tanya Bima kemudian dan Bintang tetap diam seakan menunggu kalimat apa yang akan diucapkan kakaknya lagi. "Sama perkataan mama tadi," lanjut Bima dengan hati-hati. Takut melukai perasaan sang adik. Bintang memejamkan matanya seraya mengepalkan kedua tangannya. "Hmm. Udah biasa." Raut wajah Bima tampak cemas. Ia tahu adiknya itu pasti sakit hati dengan perkataan sang ibu dan itu sangatlah wajar, siapapun pasti akan merasa sakit hati jika selama hidupnya selalu dibedakan dan tidak diberi kasih sayang yang seharusnya. "Lo juga kalau main itu harus tahu waktu, jangan bikin papa marah terus." Bintang menghentikan aktivitasnya lalu menatap kakaknya dengan tatapan serius. "Lo tega liat mama nangis terus gara-gara berantem sama papa?" Bima tersenyum sinis, bisa-bisanya adiknya itu masih memikirkan perasaan ibunya di saat ia tidak dianggap oleh sang ibu. "Hoam ... gue balik kamar, ngantuk." Bima melenggang keluar kamar begitu saja. Sebenarnya ia hanya ingin memberi ruang tersendiri untuk adiknya itu. Setelah memastikan sang kakak sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya, Bintang kembali menarik napas dalam lalu membuangnya dengan keras. Ia tidak munafik meski sudah sering mendengar ibunya bicara seperti itu, tetapi hatinya masih tetap saja merasa sakit. Pemuda malang itu hanyalah korban dari kekhilafan ayahnya di masa lalu. Jika bisa memilih, Bintang juga tidak menginginkan hidup seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi? Ini sudah garis takdir dari yang maha kuasa. Sebagai seorang hamba ia hanya harus menerimanya dan percaya bahwa suatu saat nanti ibunya akan berubah menyayanginya. Bintang hanya harus menunggu sampai waktu itu tiba. *** Baskara duduk terdiam di teras rumahnya, memandangi langit yang gelap tanpa cahaya bulan dan gemerlapnya bintang-bintang. Langit malam ini sangat mewakili hatinya yang sepi. Tidak ada keluarga, tidak ada yang menemani. Ia hanya sendiri di rumah sederhananya. Salah satu rumah milik kakeknya. Pemuda itu kembali menengadahkan kepalanya menatap ke atas langit. Ia memejamkan matanya seraya menghirup udara malam yang cukup dingin sama seperti perasaannya. Bertahun-tahun terjebak dalam kesepian yang tak berujung. Mungkin, saat bersama dengan Nature Squad saja rasa itu sedikit berkurang, tetapi ketika tidak bersama mereka perasaan itu mendatanginya lagi, membuatnya sangat tersiksa dan rasanya ingin menghilang saja. "Babas," Wina memanggil pemuda itu, tetapi ia hanya menoleh lalu kembali menatap ke atas langit yang hanya berwana hitam gelap. "Nenek masuk rumah sakit," lanjut gadis itu dengan raut wajah yang sangat cemas. Baskara sangat terkejut mendengar kabar tersebut sampai-sampai tubuhnya mendadak lemas. Tanpa mengindahkan pertanyaan Wina, ia segera mengambil kunci motornya yang tergantung di dekat kamar lalu langsung pergi ke rumah sakit menaiki motor hitam kesayangannya. Tahu pemuda itu sedang tidak baik-baik saja, Wina memutuskan untuk menemaninya. "Bas, tunggu! Aku ikut." *** Saat sampai di pekarangan rumah sakit, Baskara langsung memarkirkan motornya di sembarang tempat, tidak peduli motornya akan diamankan karena tidak mematuhi aturan, bahkan ia tidak menunggu Wina yang masih duduk dengan perasaan gelisah di atas motornya. Gadis itu bisa memakluminya. Pasti Baskara sangat khawatir dengan kondisi sang nenek. Langkahnya terhenti ketika melihat salah satu saudarinya sedang duduk di depan ruangan UGD. "Ngapain kamu ke sini?" tanya kakaknya dengan sinis. "Aku mau lihat kondisi nenek." Baskara tertunduk memandangi sepatunya. Dia tidak berani menatap mata sang kakak yang penuh dengan sorot kebencian untuknya. "Pergi! Aku gak mau kamu bunuh nenek juga." Dia berkata dengan suara lantang, menunjuk arah parkiran. Tubuh Baskara menegang serta mengepalkan kedua tangannya kuat sampai urat-urat tangannya terlihat. Mungkin jika yang di hadapannya sekarang bukan kakaknya dan bukan seorang wanita, ia sudah melayangkan pukulannya. "Aku bukan pembunuh," ucapnya lirih, teramat lirih. "Brisia, ayo ma--" Nugroho menghentikan ucapannya ketika melihat putra bungsunya ada di sana. Keadaan semakin mencekam. Nugroho menatap tajam kepada anak lelaki yang juga sedang menatapnya. Mata Baskara panas menahan air mata yang bisa keluar kapan saja. Kalau saja bisa, ia ingin sekali memeluk pria dewasa di depannya itu dengan erat, meluapkan semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun lamanya. "Ayah," panggilnya lirih. Mata Nugroho membulat sempurna dan tangan besarnya melayang dengan sangat keras ke pipi milik Baskara. "Jangan panggil saya Ayah! Kamu bukan anak saya," serunya dengan penekanan di setiap kata. Wina sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Gadis itu melihat semuanya. "Jadi Babas masih punya orang tua?" tanya gadis itu entah pada siapa. Baskara masih bisa merasakan pipinya yang panas akibat tamparan yang dilayangkan Nugroho. Ia semakin tertunduk dalam dan satu tetes cairan bening itu akhirnya jatuh dari pelupuk matanya. Sakit, sedih, kecewa. Perasaannya begitu terluka. Bukan pelukan yang didapat justru tamparan dan penolakan keras. "Bas," panggil Wina. Ia mengusap punggung pemuda itu lembut. "Ayo pulang," kata Baskara dengan nada datar dan lagi-lagi berjalan meninggalkannya. Selama di perjalanan, Wina terus membayangkan kejadian yang baru saja ia saksikan. Bebagai pertanyaan bergelantungan dalam otaknya. Namun, melihat kondisi Baskara tadi, ia membiarkan pertanyaan itu tetap berada di dalam pikirannya saja. "Pergi! Aku aku gak mau kamu bunuh nenekku juga." "Jangan panggil saya Ayah! Kau bukan anak saya." Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran pemuda malang itu. Setelah sampai ke rumah, Baskara langsung membuka laci kamarnya dan mengambil benda yang berbulan-bulan tidak pernah ia sentuh lagi. Pria itu pergi ke kamar mandi serta menyalakan shower untuk menyamarkan suaranya, lalu benda dingin dan tajam itu ia goreskan pada tangannya yang sudah banyak bekas luka sayatan. Satu goresan, dua, tiga, menikmati rasa perihnya. Setidaknya rasa perih di tangannya bisa mengalihkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya. diam di sana, terus melukai seakan menyuruhnya mati secara perlahan.Langit oren ke merahan terbentang disepanjang mata memandang. Senja hari telah menyapa para anak adam. Entah itu sebuah sapaan dari senja atau justru salam perpisahan dari keindahannya? Banyak orang berkerumun dan beberapa orang bahkan ikut masuk ke bawah untuk membantu. Suara isakan juga memenuhi kerumunan itu. Seberapa keras berusaha mencoba untuk ikhlas bahkan mempersiapkan diri jauh-jauh hari jika kondisi ini terjadi tetap saja pada kenyataannya tidak akan ada yang benar-benar siap ditinggalkan. Bayangkan saja anak yang kau rawat sejak masih dalam kandungan hingga kini tingginya melampaui dirimu justru kini ia berada di bawah sana. Terpejam, dingin, dan kaku. Jika seorang anak ditinggal meninggal ayahnya sebutannya yatim. Jika seorang anak ditinggalkan meninggal ibunya sebutannya piatu. Lantas jika orang tua yang ditinggal meninggal buah hatinya apa sebutannya? Tidak ada. Tidak ada sebutan untuk itu karena menurut logika orang tua yang akan pergi lebih dulu, taoi tidak denga
"Aku cinta sama kamu Samudra. Makasih udah hadir di hidup aku yang sebentar ini, makasih udah mewujudkan salah satu wish list ku. Aku bener-bener bersyukur ada kamu di hidup aku." Samudra masih saja diam, ia takut mengeluarkan suaranya yang justru akan menyakiti perasaan teman barunya tersebut. Selama ini Samudra berteman dengan Viola hanya karena ingin berteman bukan ada hal lain, ia membantu mewujudkan harapan gadis itu untuk membuatnya bahagia, semoga. "Vi.." belum selesai ia berbicara hal menakutkan itu sudah terjadi, Viola mimisan hebat dan merintih kesakitan. *** Samudra lagi-lagi menghela napas beratnya, ia tidak memiliki perasaan untuk memiliki Viola, perasaannya sebatas seorang teman, tapi ia juga takut mengecewakan gadis itu dan sekarang? Sam juga takut ia terlambat. "Sorry, Vi." "Sam," panggil seseorang seraya menyentuh bahunya pelan. "Boleh aku gabung?" Pemilik nama mengangguk dan secara otomatis menggeser tubuhnya. "Aku tau ini gak mudah buat kamu dan aku
Semua orang menunggu dokter yang menangani Viola di dalam ruangan gawat darurat dengan cemas. Ibunya Viola tak berhenti menangis dan terus memanggil nama putrinya dengan lirih. Samudra juga tak kalah gelisah. Ia adalah orang pertama yang melihat bagaimana gadis itu kesakitan sebelum akhirnya tak sadarkan diri dan yang membuat perasaannya semakin kacau adalah obrolan mereka sebelum gadis itu collapse. Ceklek! Setelah 30 menit berlalu akhirnya dokter keluar dari ruangan dan langsung menyampaikan kondisi Viola di dalam. Dokter bilang kondisi Viola kritis dan harus di rawat di ruangan ICU sampai kondisi gadis itu stabil. Tak cukup. sampai di sana, dengan berat hati dokter parub haya itu juga mengabarkan kabar buruk lainnya, bahwasanya Viola harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang lagi jika tidak kondisinya akan jauh lebih buruk lagi. Dengan kata lain keluarga harus siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Brangkar rumah sakit di dorong. Viola terbaring lemah di sana denga
Melihat senja dipinggir pantai jelas sangat memanjakan mata, warna oren dan laut biru merupakan visual yang sangat sempurna. "Ayo kita abadikan ini," ucap Rain mengeluarkan ponselnya dan diangguki oleh yang lainnya. Cekrek! Satu gambar terabadikan. Semuanya tersenyum lebar ke arah kamera. Dirgantara yang merangkul Binar dan Rain. Bintang, Bagaskara, dan Samudra yang berpose layaknya detektif. Sarah dan Viola sama-sama mengacungkan dua jarinya dan diletakan di samping kepala. Lalu foto berlanjut lagi, khusus anak-anak Nature Squad yang saling merangkul satu sama lain. clak! Setetes darah terjatuh tepat di depan kakinya. Dengan mimik biasa saja Viola mengusapnya dengan punggung tangan sebelum orang-orang di sana menyadarinya. Viola melihat Samudra dan Rain saling merangkul, tersenyum lebar, sangat terlihat bahagia dan jujur saja gadis itu merasa cemburu dengan kedekatan antara dua orang tersebut. *** Malam semakin larut, para orang tua lebih memilih masuk ke villa karena
"Kamu oke?" tanya Sarah pada Rain. Mereka sekarang sudah sampai di villa yang mereka sewa dan kedua gadis itu sekarang sedang mengeluarkan barang-barangnya untuk diletakan pada lemari berbahan kayu jati yang disediakan villa. Satu kamar di isi 2 sampai 4 orang, dan mereka berdua menempati satu kamar yang sama. Rain menghentikan kegiatan beres-beresnya. "Aku? Emang aku kenapa?" Sarah terdengar menghela napas. "Di mobil tadi.." Gadis itu bahkan ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ah ia jadi menyesal sudah bertanya. "Duduk sama siapa pun aku oke oke aja sih. Gak ada masalah." Rain menjawabnya seraya kedua tangannya kembali bergerak membereskan helai demi helai pakaiannya. *** Villa ini sangatlah ramai sekarang. Di depan villa ada sebuah halaman yang cukup luas, biasa digunakan untuk acara bakar-bakar ataupun kegiatan seru lainnya. "Anak-anak sini makan dulu!" teriak Dewi yang sudah duduk lesehan bersama para orang tua dari nature squad, Sarah, Binar dan Viola. "Guys ayo uda
Sarah mengerutkan keningnya ketika mobil berhenti tepat di pelataran rumah sakit. Awalnya ia pikir mereka akan menjemput Leo, atau mungkin sepupunya ini harus melakukan cek up terlebih dahulu sebelum pergi. Samudra menoleh pada Sarah. "Bentar ya!" Setelah itu pemuda itu turun dan memasuki rumah sakit. Namun ia pergi sendiri, paman dan tantenya tenang-tenang saja menunggu di dalam mobil. Lima menit kemudian Samudra kembali muncul dari dalam bersama 2 orang wanita berbeda generasi. "Ayah, bunda, om, tante, kenalin ini Viola temen Sam, dan ini tante Dominic, ibunya Viola," ucap Samudra memperkenalkan temannya. "Hallo, om, tante. Perkenalkan saya Viola, temannya Samudra." Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Maaf sudah merepotkan," ucap wanita dewasa tersebut dengan sopan. Ibunya Samudra menjawab tak kalah sopan, "Tidak sama sekali. Happy happy di sini ya, Nak." Dewi tahu keadaan gadis manis tersebut, beberapa waktu lalu putranya sudah menceritakannya. Viola kem
Dirgantara tertawa keras melihat wajah kedua sahabatnya yang penuh dengan jepitan jemuran, sementara yang ditertawakan hanya mendengkus kesal karena kalah. "Camilan hari ini bakso goreng ala Rain dan Sarah," ujar Rain sangat bangga dengan kreasi yang ia buat kali ini. Setelah menaruh piring dan g
Sudah menjadi rutinitas setiap jam istirahat anak-anak Nature Squad selalu berkumpul di kantin untuk berbagi cerita selama di kelas atau hanya sekadar untuk menyusun rencana sepulang sekolah. Sama halnya dengan hari ini, mereka berkumpul untuk membahas rencana selepas pulang sekolah nanti. "Nanti
Jam istirahat telah berbunyi, semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Ada yang pergi ke kelas gebetan, ada yang memilih pergi ke perpustakaan, ada yang memilih bergosip di kelas serta 90 persen pergi ke kantin untuk menenangkan cacing-cacing yang sudah berdemo di dalam perut, dan itu yang Nature
"Aden nya belum pulang, Non," kata Teti, pekerja di rumah keluarga Aprilio, “mau nunggu di kamar aden saja?” "Gak apa-apa Bi, aku tunggu di sini aja," balas Rain dengan ramah. "Non mau minum apa? Biar Bibi buatkan," tanyanya menawarkan barangkali gadis cantik itu haus atau menginginkan sesuatu.







