LOGINSuara kicau burung milik tetangga menyapa orang-orang yang sedang olahraga pagi di komplek perumahan. Sepasang saudara itu salah satunya. Walaupun si adik terus merengek kelelahan, tetapi si kakak mengabaikan daan justru menarik lengan si adik agar ikut berlari dengannya meski harus sedikit memelankan kecepatannya. Dirga memberikan semangat, "Dikit lagi Rain. Lo bisa!" Sedangkan gadis itu justru semakin merajuk bahkan hampir menangis karena kakinya sudah sangat pegal. Ia rasa sebentar lagi kakinya akan lepas dari tempatnya. "Capeeeek." Dirga menghela napas dan akhirnya mengajak Rain makan ke tukang bubur ayam langganan mereka di luar komplek perumahan. Kedua kakak beradik itu berjalan berdampingan dan sesekali yang lebih besar menggoda dengan kembali berlari meninggalkannya. Rain berteriak, "Bang Di tungguin!" Setelah sampai di tempat tukung bubur ayam langganan, Rain pun langsung duduk dengan wajah yang masih cemberut karena ditinggalkan. Sedangkan si pelaku justru anteng-a
Dokter Leon meminta satu kamar inap untuk sepupunya dan setelah mendapatkan kamar kosong ia langsung membawanya ke sana. Samudra dipasang masker oksigen untuk membantu pernapasannya yang hilang timbul. Setelah itu Dokter Leon menghubungi seseorang dan jika dilihat dari gaya bicaranya tidak salah lagi ia menghubungi orang tuanya Samudra. “Kak.” Panggil Samudra melepas masker oksigennya. Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupu keras kepalanya tersebut Dokter Leon langsung menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk bulatan sedangkan tiga jari lainnya ia acungkan. Seakan mengatakan, oke tenang saja mereka tidak tahu kamu ada di sini. “Iya, Tante gak usah cemas Sam aman bersamaku,” pungkasnya sebelum mengakhiri teleponnya. “Bundamu gak tau kamu di sini. Aku bilang malam ini kamu menginap di rumahku karena besok ada ulangan dan meminta Sarah mengajarimu belajar.” Jelas Dokter Leon seraya memeriksa keadaan jantuk milik sepupunya tersebut. Samudra menimpali dengan su
Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan berkeliling sekolah tersebut. Samudra memasangkan helmnya membuat gadis itu harus menahan napas karena gugup. Viola tersenyum malu serta pura-pura membenarkan letak helm nya untuk menutupi kegugupannya. "Makasih." “Untuk?” tanya Samudra sengaja menggoda gadis itu. “Untuk ini.” Tunjuknya pada helm putih yang sudah terpasang di kepalanya, “dan untuk hari ini. Makasih udah mewujudkan mimpi yang kupikir cuma akan menjadi sebuah angan.” “Sama-sama,” balas Samudra juga mengulas senyum, “lo bisa ngandelin gue.” Lanjutnya dengan berbangga diri. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rasanya baru saja gadis itu mengeluh kepanasan, kini sang raja sinar sudah hampir bersembunyi. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Samudra, laki-laki yang mengubah warna hidupnya yang kelabu menjadi lebih berwarna. Kini Viola semakin takut dengan kematian. Ia tidak ingin meninggalkan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, ia tidak ingin
Setelah pulang sekolah Samudra tidak langsung pulang ke rumahnya ataupun pergi bersama anak-anak Nature Squad seperti yang selalu mereka lakukan. Lelaki itu pergi untuk menemui teman barunya — Viola, gadis yang sempat ia pikir sebagai laki-laki botak yang hendak bunuh diri. Diketuklah pintu kokoh tersebut. Pintu yang menghubungkan dengan sebuah ruangan penuh harapan. “Masuk,” ucap seorang wanita paruh baya dari dalam. Samudra menyembulkan kepalanya seperti seorang anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Baik wanita paruh baya ataupun gadis manis yang sedang duduk di kursi roda sama-sama tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat kelakuannya yang menggemaskan. “Ayo masuk, Nak Sam,” ujar ibu dari Viola. Ia sudah cukup tahu siapa lelaki yang mengaku sebagai teman putrinya itu dan ia juga senang karena kehadiran Samudra, putrinya terlihat jauh lebih ceria dan banyak tersenyum. Samudra masuk dan tidak lupa untuk menutup pintunya kembali. Kemudian ia salim ke ibunya Viola dengan me
Samudra langsung menuju ke ruangan Dokter Leon. Sesekali pemuda itu menarik napasnya dalam, meski sudah berulang kali melakukan pemeriksaan, tetapi tetap saja dia selalu gugup untuk mengetahui hasilnya. Dokter Leon mulai mengeluarkan kertas yang masih tersegel, mimik wajahnya langsung berubah ketika mengetahui hasilnya dan Samudra tahu arti dari raut wajah tersebut bukanlah kabar baik. *** "Makasih untuk hari ini," ucap Binar ketika mereka telah sampai di pekarangan rumahnya. Dirgantara menjawab dengan wajah sedih, "Maaf gak sesuai rencana." Gadis itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan terlalu mengumbar kata maaf. Aku senang kok." Dirgantara mencubit kedua pipi Binar dengan gemasnya. "Baik banget sih pacar aku ini, jadi makin cinta." "Kok ngobrol di luar. Ajak masuk dong, Bi," ucap seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari dalam rumah. "Hehe, iya, Ma." Binar hanya nyengir seraya memasukan tangannya ke belakang rambutnya, "yuk!" Awalnya Dirgantara
Samudra membawa Viola berjalan-jalan ke taman rumah sakit. Gadis itu baru mengenalnya kemarin, tetapi entah kenapa ia merasa nyaman berada di dekatnya. Dibalik kata-kata Samudra yang pedas seperti meremehkan keadaannya Viola tahu sebenarnya Samudra sedang menyemangatinya. “Kenapa Tuhan mempertemukan kita? Apa yang sedang Dia rencanakan?” tanya gadis itu dalam hati. Pemuda itu mengintip dari belakang, awalnya Samudra ingin mengecek apa Viola baik-baik saja karena sedari tadi ia tidak mendengar suaranya. Namun, kala melihatnya tersenyum, sifat kepedean nya muncul. Samudra mulai menggodanya seraya terus mendorong kursi roda tersebut mengelilingi taman rumah sakit. "Iya gue tau gue ganteng. Bayangin apa sih sampai senyam senyum gitu? Awas bayangin macam-macam gue lapor ke tante." Gadis itu menoleh ke belakang langsung menatap dengan tajam. "Dih kepedeaan banget. Dasar otak mesum." Cibirnya, tetapi tanpa sepengetahuan pemuda itu dia kembali menarik bibirnya. "Gue sadar diri bu







