FAZER LOGIN"Selamat siang anak-anak," sapa Bu Mita, guru Seni Budaya.
"Siang, Bu," jawab mereka serempak. "Baik, materi kali ini tentang seni peran. Hari ini Ibu akan membagi kelompok, satu kelompok terdiri dari dua sampai tiga orang--" "Kelompoknya bebas atau ditentukan sama Ibu?" potong salah satu siswa di kelas XI IPA 1. Bu Mita mendengkus seraya menatap siswa yang memotong ucapannya itu, kesal karena sudah memotong perkataannya saat beliau masih menjelaskan. "Makanya jika Ibu sedang bicara jangan dulu disela. Untuk anggotanya Ibu yang akan menentukan. Di kotak ini sudah ada nomor kelompok, silakan kalian pilih dan bagi siapapun yang nomornya di panggil harap ke depan," jelas Bu Mita kembali serius. "Semoga aku bisa satu kelompok dengan Bintang," harap beberapa siswa di sana. Sementara para siswinya berharap bisa satu kelompok dengan Samudra, siswa yang dijuluki sebagai most wanted sekolah. "Semoga sama bebeb Sam." Harap siswi-siswi itu disertai dengan gerakan-gerakan centilnya "Huh!" Mereka disoraki oleh semua siswa yang ada di kelas itu. "Sudah! Sudah! Mari kita mulai," lerai Bu Mita, setelah itu murid-muridnya mulai maju ke depan untuk mengambil nomor undian. "Tiga," panggil Bu Mita secara acak. Sudah banyak yang maju, mereka yang belum terpanggil merasa senang sekaligus deg-degan. Bukan karena apa, tetapi karena dua orang yang mereka harapkan belum juga terpanggil. "Delapan," panggil Bu Mita lagi. Bintang berdiri kemudian maju untuk menunjukan nomor yang ia pegang. Namun, tidak ada yang menyusul, semuanya terheran-heran. "Kok sendirian?" heran mereka semua karena tidak ada lagi yang maju selain pemuda terpintar di kelas mereka itu. "Nomor delapan," panggil Bu Mita untuk kedua kalinya. Mereka tersentak ketika melihat siapa yang berdiri dari kursinya. Mereka semua mulai bertanya-tanya siapakah orang beruntung yang akan masuk ke kelompok dua pemuda terkenal itu. Sudah tampan otaknya juga cerdas. Itulah isi kepala para siswa-siswi di sana terhadap Bintang dan juga Samudra. Bu Mita kembali memanggil nomor selanjutnya sampai semuanya kebagian kelompok. "Bu, mereka kok cuma berdua?" protes salah satu siswi. "Kenapa? Ada masalah?" tanya Bu Mita dengan tatapan tajamnya. "Ya enggak sih Bu, tapi--" "Baiklah, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi pembelajaran kali ini Ibu cukupkan, terima--" "Iya, kenapa Bintang?" tanya Bu Mita ketika melihat salah satu siswanya mengacungkan tangan. "Saya mau bertukar kelompok Bu," tutur Bintang tanpa menoleh kiri-kanan. "Loh kenapa? kalian berteman baik, kan? Jadi tidak akan menjadi sebuah masalah bukan?" tanya Bu Mita merasa sedikit aneh. Pemuda itu terdiam, bingung harus memberi alibi apa. Sementara teman-temannya mulai berbisik-bisik tentang hubungan dua siswa tampan itu. Ya, sudah pasti mereka sedang ada masalah sehingga tidak ingin satu kelompok, pikir mereka. "Sudah, kelompok tadi tidak dapat diubah lagi. Ibu tidak peduli kalian sedang ada masalah apa, yang jelas jangan membawa masalah pribadi kalian ke pembelajaran," ingat Bu Mita kepada Bintang dan juga Samudra. *** Selama perjalanan ke perpustakaan, baik Sarah maupun Angkasa tidak berbicara sepatah katapun. Mereka seperti orang asing yang hanya melaksanakan perintah dari guru untuk membawa buku paket. "Semuanya tiga puluh buku, ya," ujar penjaga perpustakaan. "Silakan tanda tangan dulu." Lanjutnya menyodorkan sebuah buku besar yang di dalamnya terdapat banyak tanda tangan dari siswa-siswi maupun guru yang meminjam buku. Angkasa yang menandatanganinya kemudian mengambil setengah dari buku paket yang mereka pinjam. Sedari tadi Sarah masih sibuk menata buku yang akan ia bawa. Maklum, untuk seorang perempuan membawa buku sebanyak itu cukup merepotkan dan membutuhkan tenaga. Angkasa kembali dan tanpa basa basi dia membawa kembali lima buku paket bagian Sarah lalu segera pergi dari sana meninggalkan gadis itu yang masih terkejut dengan sikap manisnya. Senyum gadis itu merekah. "Dia lucu juga kalau lagi marah." Mereka berjalan beriringan, Angkasa yang berada di depan membawa dua puluh paket buku dan sisanya dibawa oleh Sarah. *** "Terima kasih Angka, Sarah," kata Bu Rere, guru Sejarah. "Oh iya, Angka, Ibu dengar Babas masuk rumah sakit. Apa kabar itu benar?" tanyanya. Angkasa hanya menganggukan kepalanya membenarkan. "Dia sakit apa?" tanya Bu Rere lagi. "Hanya sakit biasa, Bu," jawab Angkasa dengan sopan. "Ya sudah kalian silakan kembali ke tempat duduk masing-masing." Perintah Bu Rere lalu mulai mengabsen para siswa-siswinya. "Baik, sekarang Ibu akan menjelaskan materi tentang berdirinya bangsa Indonesia," tuturnya. “Negara Nusantara kita ini merupakan sebuah negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa banyaknya. Indonesia terletak di antara tanah besar Asia Tenggara dan Australia dan diantara Samudera Hindia dan Samudra Pasifik. Ada beberapa era sebelum Indonesia merdeka seperti sekarang, yang pertama adalah era pra kolonial atau biasa disebut sebagai era sebelum penjajah datang. Pada era ini banyak sekali kerajaan. Sebut saja kerajaan Hindu Budha, kerajaan Islam dan kerajaan-kerajaan lainnya. Kedua adalah era penjajahan kolonial. Karena Indonesia telah dikenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah yang bermula dari Malaka, bangsa Eropa mulai berbondong-bondong datang ke Indonesia yang saat itu masih bernama Nusantara untuk mengambil rempah-rempahnya. Sebut saja negara Portugis, Belanda, dan Jepang yang merupakan negara Asia ….” Bu Rere mulai menjelaskan awal mula berdirinya Bangsa Indonesia. Mulai dari jaman kerajaan, lalu dijajah oleh Belanda dan Jepang, berdirinya VOC, sampai Indonesia bisa merdeka. “PPKI atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia melantik Soekarno sebagai presiden pada tanggal 18 Agustus 1945 dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dengan menggunakan konstitusi yang telah dirancang. Kemudian tata letak dibentuk berupa KNIP atau Komite Nasional Indonesia Pusat hingga pemilu dapat dilaksanakan. Pada tanggal 31 Agustus, pemerintahan baru dideklarasikan dan menghendaki Republik Indonesia terdiri dari 8 provinsi yaitu, Sumatra, Kalimantan (tidak termasuk wilayah Sabah, Sarawak dan Brunei), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Sejak saat itu Indonesia telah merdeka dan terus berkembang negaranya hingga sekarang menjadi tanah air bangsa dan negara.” pungkas Bu Rere menjelaskan materinya yang telah ia baca dari buku juga internet. "Jadi itulah Sejarah Berdirinya Bangsa Indonesia. Sejak saat itu, Indonesia telah merdeka serta terus berkembang negaranya hingga sekarang menjadi tanah air bangsa dan negara," pungkasnya. Mereka sudah mendengar ini beratus-ratus kali. Materi ini selalu dijelaskan saat mereka duduk dibangku sekolah dasar. Namun, anehnya mereka tidak pernah hafal. "Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Bu Rere setelah berbicara panjang lebar. Angkasa mengacungkan tangan. "Bu, kenapa kita harus mengetahui sejarah? Menurut saya itu hanya akan mengingat masa-masa penderitaan pada jaman itu." Bu Rere mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan pertanyaan dari salah satu siswanya yang cukup menarik untuk dibahas. "Baik, sebelum Ibu yang menjawab barangkali ada yang mau memberikan tanggapannya?" tanya Bu Rere lagi. Kini giliran Sarah yang mengacungkan tangan. "Izin memberi pendapat, menurut saya karena sejarah itu sangatlah penting. Kita tidak akan bisa berdiri di titik ini tanpa adanya sejarah. Mungkin yang dikatakan Angka memang benar, bahwa dengan mempelajari sejarah kita akan selalu diingatkan pada cerita kelam bangsa ini yang menyakitkan hati siapaupn yang mendengarnya. Namun, dengan tahu sejarah, kita akan lebih mencintai, menjaga dan membela negeri ini, bukan? Karena para pahlawan berjuang mati-matiin hanya untuk memerdekakan negeri tercinta ini. Maka dari itu kenapa pentingnya kita sebagai generasi muda mengetahui akan sejarah. Jika bukan kita lantas siapa yang akan menjagi negeri ini sedangkan para pahlawan telah lama gugur?" Bu Rere tersenyum bangga akan tanggapan siswinya itu. Dia memang tidak salah mengikut sertakan gadis itu untuk pertukaran pelajaran tahun lalu. "Ya, benar kata Sarah, kalian sebagai generasi muda harus dapat mencintai, menjaga dan melindungi negeri tercinta ini. Karena jika penerus bangsanya saja tidak tahu akan sejarah negeri sendiri bagaimana mereka akan mencintai negerinya? Terima kasih Sarah atas tanggapannya." "Baik, jika tidak ada yang mau ditanyakan lagi pelajaran hari ini Ibu cukupkan," ucap Bu Rere mengakhiri pembelajaran.Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Liburan kecil kecilan kalau kata Samudra. Setelah diskusi yang terbilang singkat pantai Anyer lah yang menjadi tujuan mereka dan agar liburan ini semakin terasa, Anton selaku ayah dari Samudra menyewa mobil bis agar mereka bisa berangkat dalam satu kendaraan yang sama. "Happy, sayang?" tanya Dewi mengelus lembut tangan putra tunggalnya. Samudra membalas elusan tangan ibunya. "Sangat happy. Thank you mom, i love you mentok sementok mentoknya." Mobil yang dikendarai supir melaju menuju rumah kediaman masing-masing. Awalnya mereka mau janjian di satu tempat, tapi setelah berdiskusi antar orang tua mereka memutuskan untuk dijemput satu satu saja ke rumah masing-masing dan berhubung mobilnya di sewa keluarga Anton, maka keluarga mereka lah yang sekarang berkeliling menjemput satu satu. *** Di rumah Rain dan Dirgantara, semua orang sedang bersiap-siap. Rain masih memilih baju yang cocok. Entah kenapa ia ingin tampil cantik hari ini. Untuk siap
Terkadang hal yang terlihat biasa saja bisa sangat berarti untuk segelintir orang. Bukan karena kemewahan, jalan jalan ke luar negeri, pergi ke tempat-tempat mahal dan terkenal. Cukup pergi ke mall dan menonton film saja sudah membuat Samudra bahagia karena menurutnya bukan ke mana kita pergi tapi dengan siapa kita pergi. Samudra berikrar hari ini adalah salah satu hari yang tidak akan pernah ia lupakan selama jantung dan napasnya masih ingin berjuang bersama tubuhnya. "Makan dulu yuk!" ajak Anton setelah mereka selesai dengan tontonannya. "Ayah udah lapar lagi?" tanya Samudra keheranan karena beberapa jam lalu mereka baru saja makan kan di rumah. Anton terkekeh seraya mengacak rambut berponi milik putranya tersebut. "Perut ayah kan perut karet, gampang laparnya." Dewi ikut terkekeh melihat interaksi 2 pangerannya tersebut, kemudian dengan suara lembutnya ia mengajak untuk mengisi perut terlebih dahulu. *** "Bee," panggil Binar pada kekasihnya. Dirgantara menoleh padan
"Tuh kan ayah curang!" protes Samudra tidak terima kekalahan sedangkan Anton justru tertawa senang melihat putranya merajuk padanya. "Ah gagal deh nge timezone seharian," gerutu Samudra benar-benar merasa kesal karena kekalahan telaknya. Memang sejak dulu jika tanding catur dengan ayahnya ia tidak pernah menang. Ayahnya bukan curang memang jago saja. "Next kalahin ayah ya," ujar Anton lebih seperti meledeknya. Anton mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam yang melingkar pas di pergelangan tangannya. "Oke karena ayah yang menang, sekarang ganti baju ya kita bakal pergi keluar." "Ke mana?" tanya Samudra. "Entar juga kamu tau. Udah sana gih ganti baju, jangan lupa bawa jaket!" Samudra terus menebak-nebak ke mana mereka akan pergi, tapi kemana pun ia senang sekali hari ini karena bersama kedua orang tuanya. Ayahnya benar-benar menepati janjinya untuk berubah.Sampai mobil hitam yang dikendarainya berhenti disebuah bangunan menjulang tinggi, banyak orang berlalu lalang membawa
Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku
Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala
Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se
Sedari tadi Rita terus batuk-batuk, dia merasakan seluruh badannya tidak enak dan suhu tubuhnya sedikit hangat, sepertinya wanita itu terserang demam. Bintang yang menyadarinya langsung pergi ke dapur untuk membuatkan sup jagung kesukaan ibunya. Namun, setelah masakannya jadi dan siap untuk di antar
"Argh! Apa yang baru gue lakuin?" Netranya menerawang jauh ke laut lepas yang membentang kebiruan, membiarkan ombak menyapu kakinya. Pemuda itu masih tidak percaya dengan apa yang diakukannya, membongkar begitu saja rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Saat sedang melampiaskan kekesalannya
"Gue cemburu melihat kedekatan kalian. Gak ada sepupu yang memberikan perhatian lebih sampai meluk-meluk gitu. Perhatian lo tuh kaya cewek ke pacarnya, bulshit kalau kalian gak ada hubungan apa-apa," lanjutnya membuat Sarah mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis itu masih terkejut dengan pemikira
Kini mereka sedang berada di atas rooftop sekolah. Sarah membawanya ke sini agar bisa leluasa berbicara dengan sepupunya itu tanpa gangguan dari siapapun. “Kemari, lukamu harus di obati." “Tahan ya, ini akan terasa sedikit perih.” Lanjut gadis itu akan menempelkan sapu tangannya untuk membersihkan







