LOGINMenceritakan seorang wanita yang tak dianggap sebagai Ratu. Putranya mengkhianatinya, sehingga ia melarikan diri. Ia seringkali hampir diperkosa, dijahati, dan dijadikan seorang pelacur berkali-kali namun tak berhasil. Ia selalu punya banyak cara untuk melarikan diri.
View MoreThe night was too quiet.
Aria Blckthrone stood in the center of moonlit circle, every nerve in her body alive with dread. The coven's sacred grove shimmered with candles, their flames bending toward her as if drawn by invisible strings. All around her, the sisters of Moonveil Coven watched in silence, their faces pale and expectant. It was supposed to be the most important night of her life--her Awakening. The ritual that would reveal her ture affinity, her place among the witches. For most, the Awakening brought comfort. A blessing of moonlight. A spark of flame. A whisper of water. But Aria, the air felt wrong. Heavy. Hungry. "Step forward, child," intoned the High Priestess, her voice low and commanding. "Offer your soul to the Moon, and the Moon will answer." Aria swallowed, her throat tight. She dropped to her knees, pressing her palms against the etched runes craved into the earth. The circle hummed beneath her touch, alive with old magic. She whispered the prayer every girl learned from childhood, her voice trembling: "Moon above, guide me. Shadows below, protect me." At first, nothing. Then-- heat. It started in her chest, sharp and sudden, like a spark catching flame. She gasped as fire raced through her veins, too strong, too wild. The runes beneath her hands glowed red instead of silver, the earth splitting with jagged cracks. "Stop the ritual!" someone cried. But it was to late. The circle roared with power. Shadows bled across the ground, thick and withering. Aria's vision blurred as her body arched, mouth open in a scream that tore from her soul. Pain seared into her wrist, craving a brand into her skin. A sigil. Not the soft cuvre of the moonlight, nor the sacred spiral of the earth. This mark burned, sharp and cruel, a rune none of the coven dared speak aloud. A demon's seal. Her eyes flew open, and for a heartbeat the world stilled. From the darkness at the edge of the circle, a pair of eyes stared back-golden-red, glowing like embers. She swore she heard a voice, deep and velvet, whisper her name. Aria... She collapsed, gasping, her wrist smoking as the sigil pulsed with molten light. The circle's candles snuffed out in unison, plunging the grove into silence. The High Priestess knelt beside her, horror ecthed into her lined face. "This cannot be," she breathed. Her hand shook as she covered Aria's branded wrist. " The bond has been forged." Aria blinked up at her, tears burning her eyes. "What bond?" The prietess's voice broke into a harsh whisper, meant for the coven alone--but Aria heard every word. "The demon has claimed her." Hearing the words the High Priestess utter, Aria was in disbelief. She started to panic even more. "No, no, no! What do you mean by claim me?" The priestess ignored her questioning. Slowly picking her up by her arm and rushing back to the home of the covenet. On the way back, Aria fell faint in the arms of the high priestess. The last thing that fell from her lips was a name. "Kael..."*Pembicaraan Masa Lalu Kelam dengan Dewan Tetua Selesai*"Itulah cerita yang sebenarnya Dewan Tetua," kata Ratu yang ingin mengakhiri pembicaraan yang memakan 3 jam lebih."Aku merasa awalnya tak ada bermasalah, tidak akan seperti ini," imbuhnya penuh air mata.Ratu Angel menunduk. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Di situlah enyahlah sebuah kebahagiaan menjadi suatu ketakutan dari kekalahan masa lalu yang kelam."Baiklah! Aku tidak akan memaksamu untuk mencertiakan lebih dalam. Aku tahu kau seperti apa! Aku tahu kau baik," ujar Dewan Tetua yang masih duduk di ruangan itu.3 hari setelah tak terasa kematian, Raja Guardians sudah 3 tahun lamanya. Istana diguncang, setelah Ratu Angel mendapat ancaman dari Louis, kemarin. Hal itu sangat membuat Ratu Angel pusing 7 keliling.Bersamaan dengan kejadian, dalam hatinya sebenarnya sudah ada ingin menjadikan Dino dan Jennita pasangan baru dalam tahta Guardians. Namun selalu terkendala untuk membicarakan kepada penasehat-penasehat Guardians yang
Kini, di hadapan puluhan penjaga dan penasehat istana, Ratu berdiri tegak. Gaun putihnya kotor oleh lumpur, rambutnya masih lembap oleh embun sungai. Namun matanya, mata yang tajam. Bagai bilah pedang, memantulkan keyakinan tinggi kepada pria yang ia temukan di pinggir sungai itu.Kemarahan pelan-pelan muncul di dadanya. Bukan karena hinaan, tapi karena takut ketidakpercayaan atas dirinya."Apa aku akan diceritakan mirip wanita pelacur. Oh tidak mungkin. Atau mungkin mereka mengatakan Aku telah membawa kesialan ke istana." Ia telah mempertaruhkan nyawanya, menentang larangan istana, untuk membawa seseorang yang terluka.Namun yang ia terima hanyalah tatapan curiga. Pertanyaan yang mengiris. Dan yang paling menyakitkan, ketidakhadiran Raja.“Aku akan menjawab pertanyaan kalian,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang namun bergetar bagai gemuruh di kejauhan. “Tapi tidak satu pun dari kalian berhak menghakimi sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Ia menatap pria itu—yang kini masi
Tak lama kemudian, keesokan harinya, langit masih menyisakan mendung dari hujan dan petir yang mengguyur sepanjang malam. Awan kelabu menyelimuti suasana seperti kabut dosa yang enggan pergi.Di kamar tidurnya yang megah namun terasa hampa, Ratu Angel bangkit dari tempat tidurnya dengan mata melek dan wajah yang belum tersentuh tidur. Malam yang harusnya menjadi tempat peristirahatan, justru menjadi ajang pergolakan batin baginya.Pikiran tentang pria asing yang terluka parah itu terus membayanginya, seolah roh lelaki itu memanggil-manggil dari kejauhan. Louis. Nama yang terdengar asing namun mulai terasa dekat di hatinya. Ada sesuatu pada pria itu, entah karena lukanya terbuka jelas, atau karena kenyataan bahwa tak seorang pun tahu dari mana asalnya. Yang pasti, Ratu Angel tidak bisa tinggal diam alias iba.Dengan jubah biru tuanya yang kini lembap hujan saat itu, Ratu Angel melangkah cepat.Di rumah tua tunggal itu. Ia segera menemui pemilik rumah itu, yang sudah cukup rela ber
Satu hati miliknya mulai bimbang. Terlalu lama ia meninggalkan istana. Terlalu lama mengabaikan peran sebagai Ratu Guardians.Ia duduk di sisi Louis, pria asing yang kini terbaring lemah di atas dipan kayu tua. Di telapak tangannya, masih ada sisa ramuan herbal yang dingin. Pandangannya terpaku pada wajah pria itu. Asing. Tapi entah mengapa... terasa begitu familiar.Matanya yang sempat terbuka tadi, menatapnya dengan cara yang aneh, seolah mengenalnya. Seolah telah melihatnya di tempat lain. Di masa lain.Tatapan itu mengganggu pikirannya sejak tadi. Tatapan itu baginya."Aku tak bisa tinggal lama di sini... Istana pasti mencariku... tapi bagaimana mungkin aku tinggalkan pria yang terluka ini dalam keadaan seperti ini?" bisik batinnya. Ia tak menemukan jawaban yang bisa menenangkan.Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam gejolak dalam dadanya. Pikirannya berpindah ke pemilik rumah tampak sibuk di dekat perapian. Gerak-geriknya tenang, tapi dari sorot matanya, Ratu tahu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.