LOGINRuangan mendadak hening.
Jason melanjutkan dengan suara serius, "Nilai pasarnya bisa melampaui... tujuh ratus ribu dolar. Bahkan jika dibawa ke rumah lelang, nilainya bisa mencapai satu setengah juta. Tapi nilai historis dan spiritualnya jauh lebih dari itu. Ini bukan hadiah biasa. Ini... artefak."
Wajah-wajah membeku. Seperti disambar petir, seluruh aula terdiam.
Sepupu Evelyne yang tadi menertawakan Kael kini menunduk dalam-dalam, pipinya memerah seperti kepiting rebus.
Salah satu tamu wanita menjatuhkan gelas sampanye dari tangannya tanpa sadar. Grace terlihat seperti kehilangan kemampuan bicara.
Evelyne sendiri terdiam—matanya terpaku pada benda mungil itu, lalu berpindah ke wajah Kael, yang masih berdiri santai dengan satu tangan di saku.
“K-Kael…” bisiknya tanpa sadar. “Dari mana kamu dapat benda seperti itu?”
Kael hanya mengangkat bahu ringan. "Katanya tadi itu lonceng sapi... ternyata lonceng sapi yang setara dengan villa."
Sementara itu, Agatha yang masih menunjukkan ekspresi tidak percaya, kembali bertanya, "Apakah Anda benar-benar yakin itu Lonceng Jiwa, Tuan Mrazy?"
Jason menjawab tanpa ragu, "Saya yakin, Nyonya Agatha. Bentuknya utuh, ukiran spiritualnya masih tajam. Dan lihat ini—ukiran mantra Sanskerta di bagian dalam. Ini jelas bukan replika. Ini 100% asli!"
Dia kemungkinan menyerahkannya kembali kepada Agatha, melanjutkan, "Hadiah seperti ini bukan sekadar benda... ini adalah sejarah, spiritualitas, dan niat mulia. Hanya orang yang benar-benar mengerti makna kedamaian yang akan memberikannya."
Pada titik ini, Agatha menunjukkan ekspresi rumit. Bagaimana mungkin bajingan tidak berguna ini mendapatkan benda sebagus ini?
Apakah dia mencurinya?
Atau dia menipu seorang penjual barang antik?
Ya, itu pasti!
Dengan nada tajam dan sorot mata yang menyipit, ia mendongak menatap Kael.
"Jadi kau ingin kami percaya... bahwa kau, yang tak bekerja, tak punya bisnis, tak punya nama… bisa begitu saja membeli benda senilai satu setengah juta dolar?"
"Jangan main-main denganku," lanjut Agatha dengan suara lebih keras, "Apa kau... mencurinya?"
Semua kepala segera memberikan anggukan setuju.
Itu benar, Kael pasti mencurinya!
Tidak mungkin dia mampu membeli hadiah sebagus dan semahal itu.
Sudah pasti dia mencurinya atau menipu seorang penjual.
Di sisi lain, Kael hanya tersenyum kecil. Bukan senyum sombong—melainkan senyum orang yang sudah terlalu sering dianggap rendah… dan terlalu sabar untuk tersulut.
Kael menatap langsung ke mata Agatha, lalu berkata pelan namun jelas. "Tuduhan tanpa bukti adalah cara orang lemah untuk menenangkan hatinya yang tak bisa menerima kenyataan."
Kael melangkah perlahan mendekat, lalu berdiri tepat di depan meja Agatha.
"Saya tidak heran kalau nenek sulit percaya. Saya pun akan sulit percaya… jika orang yang selama ini saya rendahkan tiba-tiba menunjukkan bahwa penilaianku selama ini ternyata hanya cermin dari kesombongan sendiri."
Agatha menggertakkan gigi, tapi tak menjawab.
Kael melanjutkan, dengan suara yang tetap tenang, "Saya tidak mencuri benda ini, Nek. Saya juga tidak perlu mencurinya. Saya memberikannya… karena saya ingin. Karena saya menghormati nenek."
Kael tersenyum, lalu menundukkan sedikit tubuhnya sopan. "Tapi jika penghormatan dianggap sebagai kebohongan hanya karena datang dari orang yang tak dianggap... mungkin yang perlu direnungkan bukan siapa saya, tapi siapa yang sedang menilai."
Seketika, ruangan kembali hening.
Kael memang tidak mencuri hadiah itu. Namun, semua orang pasti tak akan percaya jika dia mengatakan bahwa dia mendapatkannya dari acara lelang dengan harga tiga juta dolar.
Oh tidak, bahkan sebenarnya Kael hampir tidak perlu membayar untuk barang itu karena Paul William, si penguasa dunia bawah Kota Elmridge mengetahui siapa Kael sebenarnya. Namun, Kael tetap membayar barang itu.
Beberapa tamu terdiam dengan ekspresi campur aduk. Beberapa tampak kagum, sebagian menunduk malu, dan sebagian lainnya hanya menatap Kael dengan rasa ingin tahu.
Agatha terdiam membisu. Di wajahnya, untuk pertama kalinya malam itu, ada yang tak biasa: keraguan pada dirinya sendiri.
Apakah dia telah salah menilai Kael?
Saat semua orang terdiam canggung akibat kejutan besar dari Kael, pintu utama mansion tiba-tiba terbuka.
Seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah ringan tapi percaya diri. Di belakangnya, dua asisten membawa masing-masing satu kotak hadiah berukuran cukup besar, dibungkus dengan pita emas dan merah marun.
Semua orang otomatis menoleh.
Seorang sepupu Evelyne berbisik, terkejut.
"Eh… itu Damian?"
"Damian Armand?" bisik yang lain, bahkan lebih kaget.
"Bukannya dia pindah ke Dravelle empat tahun lalu?"
Nyonya Agatha, yang awalnya tidak mengenali, langsung berdiri begitu pria itu mendekat dan melepas kacamata hitamnya.
"Damian?" serunya. "Astaga… benarkah ini kamu?"
Pria itu tersenyum sopan, membungkuk sedikit sambil mencium punggung tangan sang nenek.
"Selamat ulang tahun, Nyonya Agatha Laurent. Maaf aku datang tanpa kabar lebih dulu. Aku baru tiba di Elmridge pagi ini."
Senyum Agatha langsung mengembang. Aura dingin di wajahnya menguap seketika. Dia bahkan melupakan sepenuhnya Lonceng Jiwa pemberian Kael.
"Kau anak yang manis. Masih ingat ulang tahunku setelah sekian lama di luar negeri?"
"Tentu saja," jawab Damian. Ia melirik sekilas ke arah Evelyne, yang berdiri mematung beberapa meter darinya.
"Aku tidak pernah lupa hari ulang tahun orang yang sangat dihormati… juga orang yang pernah begitu berarti."
Semua orang langsung paham arah kata-kata itu.
Dan semua mata kini otomatis berpaling ke satu sosok: Evelyne.
Damian kemudian membuka hadiah pertamanya: sebuah kotak kayu hitam berlapis kaca, berisi liontin safir berbentuk bunga lily.
"Hadiah pertamaku, perhiasan antik dari Elmand. Hanya dibuat satu di dunia."
Hadiah kedua: vas porselen berusia dua abad dari Yongkokh.
"Keduanya untuk Nyonya Agatha, sebagai rasa hormatku dan kenanganku akan keluarga Laurent."
Hampir semua keluarga besar langsung bersorak dan berdecak kagum.
"Luar biasa!"
"Anak ini memang selalu perhatian!"
"Lihat betapa kontrasnya dia dengan Kael..."
Menyadari bahwa dia sekarang menjadi pusat perhatian, Damian tersenyum puas. Sekarang dia bisa melakukan rencananya, yaitu mempermalukan Kael, suami Evelyne!
Namun gurunya, Tetua Qingshan, memberitahunya bahwa Tetua Mingxia punya cara untuk membuatnya punya kesempatan besar untuk menang.Dan ia tentu saja mengambilnya.Tanpa ragu!Tanpa pikir panjang!Ini tidak hanya demi dirinya sendiri.Ini demi harga diri Sekte Naga Suci Menembus Langit!Bagaimana mungkin turnamen di sekte ini dimenangkan oleh manusia dari Dunia Bawah yang rendahan?!Bagaimana mungkin mereka membiarkan wajah sekte diinjak-injak seperti ini?!Ini akan memalukan!Ini akan menghancurkan reputasi sekte di hadapan seluruh Dunia Atas!Karenanya, ia bersedia melakukan apa pun, bahkan ketika itu menggunakan cara kotor!Apa pun itu, selama Kael tidak menang!Mendengar jawaban yang penuh dengan tekad itu, Chen Mingxia mengangguk dengan ekspresi yang sangat puas. Senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum yang dingin dan penuh dengan kepuasan.Lalu, dari cincin penyimpanan yang ada di jarinya, ia mengeluarkan sesuatu.Sebuah pil.Pil berwarna merah darah yang sangat pekat. Warna mera
Chen Wuji bangkit dari singgasananya yang megah.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final telah berakhir, dimenangkan oleh Chen Yunfei dan Li Xin!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap. Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Babak final akan diadakan empat jam lagi! Kepada kedua finalis, beristirahatlah dengan baik. Pertarungan terakhir ada di depan mata!"Setelah pengumuman itu, Chen Wuji turun dari singgasananya dengan langkah yang tenang.Para penonton mulai bubar perlahan-lahan. Namun, berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini tidak ada antusiasme yang sama. Tidak ada diskusi seru tentang siapa yang akan menang. Tidak ada perdebatan tentang kekuatan kedua finalis. Jelas, mereka berharap babak final tidak dilakukan.Tentu saja, itu karena mereka bisa menebak Kael akan menang. Tidak ada keraguan atas itu!Dia... terlalu kuat. Dan Chen Yunfei, tidak akan bisa mengatasinya.
Wasit berdiri di antara Kael dan Chen Xueyi.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual, ia berkata, "Peraturan pertandingan sangat sederhana. Pertarungan berlangsung hingga salah satu pihak tidak bisa melanjutkan atau menyerah. Apakah kalian berdua mengerti?"Kael mengangguk dengan tenang.Chen Xueyi juga mengangguk, namun wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius.Wajah tenangnya seperti hari sebelumnya telah hilang sepenuhnya. Itu karena lawannya kali ini sangat kuat, yang mampu mengalahkan Chen Yuelin!Ia tidak boleh longgar sama sekali. Ia harus menang, demi mendapatkan apresiasi dari orangtua dan gurunya!Wasit melanjutkan, "Sebelum pertarungan dimulai, kalian berdua harus saling menghormati."Kael dan Chen Xueyi saling menatap, lalu keduanya mengatupkan tangan di depan dada dan membungkuk sedikit.Wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi."Bersiaplah!"Keheningan total terjadi.Kael berdiri dengan ekspresi yang sangat tenang. Di tangannya, ia memegang pedang putih
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit di ufuk timur. Namun Arena Utama sudah kembali penuh dengan penonton.Mereka semua menantikan babak semi-final dengan penuh antusias!Chen Tianwei duduk di paviliunnya dengan ekspresi yang tenang namun penuh dengan harapan.Chen Ningshuang berdiri di antara penonton dengan wajah khawatir, masih memikirkan tentang keputusan Kael semalam, sesekali melirik ke arah Kael yang berdiri tak jauh darinya.Di singgasananya yang megah, Chen Wuji berdiri mengenakan jubah putih dengan corak emas yang berkibar.Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final akan dimulai sekarang!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap.Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Pertarungan pertama: Chen Yunfei melawan Chen Rouxue!"Ia berhenti lagi."Pertarungan kedua: Chen Xueyi melawan Li Xin!"Segera setelah pengumuman itu, d
Ketika Kael menutup pintu paviliun dan berbalik, Chen Ningshuang sudah berdiri di belakangnya.Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. Walau ia berusaha menyembunyikannya, ekspresi itu sangat jelas terlihat.Dengan suara yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, ia bertanya, "Kau menerima tantangannya?! Kau yakin mempertaruhkan kedua lenganmu?!"Dan jelas, Chen Ningshuang menyadari bahwa yang diinginkan Chen Haoran lebih dari sekadar kedua lengan Kael.Ia ingin menghancurkan Kael!Di Arena Utama, sebelum ia mengambil kedua lengan Kael, ia sudah akan menghajar Kael hingga kerusakan yang jauh lebih buruk dari kehilangan kedua lengan.Patah tulang di mana-mana.Organ dalam yang rusak.Wajah yang hancur.Dan mungkin bahkan lebih parah dari itu.Itulah yang membuat Chen Ningshuang khawatir.Ia tidak ingin pria setampan Kael kehilangan kedua lengannya.Atau lebih buruk lagi—kehilangan nyawanya.Kael menatap Chen Ningshuang dengan ekspresi yang sedikit curiga. Lalu dengan nada yang
Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi yang sangat tenang.Di belakang Chen Haoran, berdiri tiga pemuda lain.Mereka semua adalah murid-murid inti dari Tetua biasa.Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang serius, namun juga ada sedikit keraguan di mata mereka.Ketika melihat Kael keluar dari paviliun, Chen Haoran tersenyum puas.Senyum yang penuh dengan kepuasan dan juga sedikit ejekan.Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan nada yang mengejek, "Wow, aku pikir kau akan tetap berada di dalam, bersembunyi, seperti sebelumnya. Aku tidak menyangka kau akan keluar."Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi datar. Lalu dengan nada yang sangat langsung, ia bertanya, "Apa yang kau inginkan?"Mendengar pertanyaan yang sangat blak-blakan itu, wajah Chen Haoran seketika berubah dingin.Senyumnya menghilang, digantikan dengan ekspresi yang sangat serius dan penuh dengan kebencian.Ia menatap Kael dengan tatapan yang sangat tajam. Lalu dengan suara yang keras dan tegas, ia berkata







