Home / Rumah Tangga / Nikah Kontrak Berbuah Cinta / 7. Nyawa di ujung tanduk

Share

7. Nyawa di ujung tanduk

Author: Zizizaq
last update publish date: 2022-08-24 14:17:34

Danil dan Alex tiba di kampus Emili. Walaupun terasa asing berada di tempat itu, mereka sama sekali tidak canggung.

Alex bertindak seperti intel yang mengawasi setiap mahasiswa yang lalu-lalang dari kejauhan. Tidak lama kemudian, ia akhirnya menemukan targetnya. Setelah yakin tidak salah orang, ia pun menghampiri.

"Nona Emili...!" seru Alex, membuat Emili yang tampak lesu sontak kaget.

"Alex..?" Emili lupa sopan santunnya saking terkejutnya melihat Alex tiba-tiba di depan mata.

"Maaf, maksud saya, Pak Alex." Emili buru-buru meralat dengan sopan.

"Maaf, tapi kok bisa Pak Alex ada di sini?" lanjutnya dengan nada bertanya sambil celingukan mengawasi sekitar, berharap tidak ada teman dekat yang melihatnya.

"Ikut saya. Bukannya Nona Emili mau bertemu dengan saya?" ucap Alex, sedikit menekan agar Emili mengingat pesan yang ia kirim.

"Iya, Pak. Tapi kan, setidaknya balas pesan saya dulu, kemudian buat janji untuk bertemu. Jangan tiba-tiba datang seperti ini." Emili protes. Ia merasa berhak untuk tidak menuruti Alex.

"Anda pikir Anda ini siapa, Nona? Hah?" ucap Alex, terkesan mengejek.

"Bisakah kamu ikut saya saja, Nona?" ucap Alex dengan nada penuh tekanan dan menggertak. Ia melangkah lebih dulu. Emili merasa terintimidasi dan mau tidak mau mengekor di belakangnya.

Emili jadi gelisah karena ternyata Alex tidak sendirian. Selain Alex, sudah ada Danil juga yang sedang menunggunya di mobil. Bahkan sudah mengawasinya sejak tadi.

"Mohon maaf, Pak Alex. Saya kan hanya ingin bertemu dengan Anda," ucap Emili begitu lirih. Ia tidak berani masuk ke dalam mobil.

"Tolong menurut saja, ya. Saya juga hanya melaksanakan perintah," ucap Alex mulai tidak sabar. Ia mempersilakan calon nyonyanya masuk ke dalam mobil.

Mau tidak mau, dengan sangat terpaksa, Emili masuk ke dalam mobil dengan jantung berdegup khawatir tanpa henti. Suasana ini sungguh menyiksanya. Aura mematikan Danil seperti menyelimuti dirinya. _Apa mungkin aku sanggup menjadi pasangannya nanti?_

Meski nyawanya serasa di ujung tanduk, Emili merasa harus tetap menyapa. Ia pun berkata, "Siang, Pak Danil!"

Rasanya sangat tidak sopan jika mengabaikan bosnya. Untungnya pria yang ia sapa cuek saja, seolah tidak peduli dengan kehadirannya. Emili justru bersyukur. Ia lebih takut kalau Danil berbicara dan mengungkit kelakuannya kemarin. Mengingatnya saja membuat ia ingin mati rasanya.

Andai waktu bisa diulang, ia ingin sekali menghapus kejadian saat menolak kerja sama konyol yang ditawarkan Danil kemarin. Hasilnya, ia harus menjilat ludahnya sendiri sekarang. Ternyata meskipun konyol dan gila, ia tetap mengharapkan kerja sama itu. Demi cuan.

Tanpa aba-aba, Alex ikut masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin lalu melesat pergi meninggalkan halaman kampus Emili, menuju entah ke mana.

Suasana di dalam mobil seperti berada di pemakaman saat malam hari. Sunyi, tak ada suara sedikit pun. Ditambah aura mematikan Danil yang setia menyelimuti meski ia hanya duduk tanpa suara. Suasana mencekam itu berlangsung selama beberapa menit hingga tiba di tempat tujuan.

Emili tidak berani bertanya dan hanya menurut saja. Ia mengikuti ke mana langkah Danil pergi, persis seperti anjing peliharaan orang lain yang tersesat lalu menemukan majikan baru yang siap menampung dengan berbagai persyaratan.

Dan ini baru permulaan. Sangat jelas, Danil begitu siap menciptakan momen balas dendam untuk ia nikmati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Nuniee
Sepertinya Emili hrs menelan kata katanya sendiri yg kmarin menolak Danil... dibawa ke penghulu kali yaaa
goodnovel comment avatar
Rita Septiyanti
wow..sikap danil menunjukkan pertanda yg baik..jangan2 danil dimasa depan akan jatuh cinta pada emili dan pada akhirnya melupakan alea
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   96. Selesai Dengan Bahagia

    Matahari telah berada di puncak peraduannya ketika sebuah mobil mewah yang membawa keluarga kecil melesat memasuki rumah bak istana. Iya, itu mereka: Danil, Emili, dan putri kecilnya Dania. Ada juga Bu Eni yang telah resmi dijadikan oleh Danil sebagai pengasuh tetap untuk putri kecilnya, Dania. Akhirnya Emili kembali lagi ke rumah itu. Rumah yang dulu pernah menjadi saksi perjalanan singkat tentang hubungannya. Hubungan yang tercipta dari sebuah ide gila Danil untuk melakukan sebuah pernikahan kontrak yang memakan korban, yaitu Emili. Yang kemudian menumbuhkan rasa cinta di antara mereka. Yang satu karena ambisi, yang satu karena keterpaksaan yang disebabkan faktor ekonomi. Kini keduanya bersatu kembali dengan hubungan yang sehat dan terikat tanpa syarat sepanjang hidup mereka. Emili mau ikut Danil setelah meyakinkan segala urusannya yang harus diselesaikan telah beres. Danil dapat melakukan itu dalam waktu singkat. Demi agar lebih cepat berkumpul dengan keluarga kecilnya, ia b

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   95. Telepon Dari Nenek

    Danil tiba di rumahnya. Ia tahu bertemu dan memohon pada Nenek Marita tidak akan memberi solusi. Ia ke ruang kerjanya menghubungi Alex untuk mengumumkan tentang hubungannya dengan Emili dan kehadiran Dania sebagai putrinya di semua aplikasi media sosial. Tak lupa memintanya menghubungi stasiun TV juga supaya mertuanya yang agak gaptek soal media sosial tidak ketinggalan berita. "Saya ingin membaca berita ini dalam waktu tidak lebih dari tiga puluh menit. Jangan lupa kau juga harus memberinya judul sedramatis mungkin. Oke," jelas Danil antusias. "Iya, Pak Danil. Tapi tolong, bisakah kamu membiarkan saya berbulan madu dengan santai?" Alex berbicara sebagai sahabat. "Sorry, tapi kali ini kau harus membantuku karena ini penting," Danil agak sedikit bersalah dengan sahabatnya. "Oke, aku akan membantumu," ucap Alex. "Thanks, bro. Selamat bersenang-senang," Danil mengakhiri panggilannya lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memejamkan mata. Ia sepertinya tidak sabar menung

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   94. Cucu Fernando

    "Kesayangan Ayah sudah wangi," Danil berdiri menyambut putrinya. "Apa katamu?" Nenek Marita kaget mendengar Danil. "Ini putri Danil, Nek. Saat Nenek mengusir Emili, dia sedang mengandung anakku. Ah, Nenekku sungguh keterlaluan! Mengusir cucu menantu yang sedang hamil tapi menampung wanita hamil lainnya," ucap Danil membuat nyali Neneknya menciut dan tampak bersalah. Sebenarnya ia sudah menunggu momen ini dari tadi. "Apa benar dia putrimu?" Ekspresi Nenek Marita berubah sembilan puluh derajat. Yang tadinya dingin menjadi hangat. Ia bertanya demi memastikan pendengarannya. Matanya terpaku pada Dania. "Iya, Nek. Apa Nenek meragukannya? Padahal dia begitu mirip denganmu, Nek," ucap Danil. Fakta itu juga yang membuatnya tidak bertanya saat pertama kali melihat putrinya. Dania begitu mirip Neneknya yang juga mirip dengan dirinya sendiri. "Betul kamu hamil saat pergi dari rumah?" Nenek beralih pada Emili. Kebenciannya pada menantunya itu agaknya berangsur hilang. "Iya, Nek. Tapi E

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   93. Penipu Tingkat Dewa

    Danil benar-benar menginap di rumah keluarga Emili. Ia tidak memberitahu hal itu pada siapa pun. Karena itu ponselnya berdering beberapa kali. Entah itu panggilan dari asistennya, Alex, klien, bahkan ada panggilan juga dari Neneknya. Ia terbangun dan mengucek matanya. Ia sadar sedang berada di kamar orang lain. Namun sedetik kemudian ia tersenyum karena menyadari ia sedang menginap di rumah orang tua istrinya. Ia pun meraih ponsel dan memeriksanya. [Apakah kamu bersama sahabat istriku? Aku bingung harus menyebutnya apa. Nenek Marita mencarimu dan kuberi tahu kamu bersamanya. Mungkin Nenek sedang ke sana sekarang. Jadi siapkan alat untuk bertempur. Dia terdengar tidak senang karena panggilannya diabaikan cucu kesayangannya. Oh iya, aku rela mengorbankan masa cuti bulan maduku untuk menggantikanmu mengurus klien. Jadi fokus saja bertempur dengan Nenek Marita] tulis Alex panjang lebar. Danil hanya membacanya dan tidak bermaksud membalas. "Aku akan menyambutnya," ucap Danil tersenyum

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   92. Makan Malam Canggung

    "Kenapa Emili lama sekali? Ke mana pula perginya Nak Danil?" ucap Bu Tiara merasa tidak senang. Ia sudah bersusah payah masak untuk mereka tapi justru mereka yang tidak hadir di meja makan. "Tidak apa, Bu. Biarkan saja," Pak Feri masih setia menghibur sang istri. "Mungkin lagi melepas rindu, Bu," celetuk Bu Eni asal. Sebenarnya ia hanya bercanda karena dirinya sendiri tidak tahu ke mana kedua orang itu berada. Pak Feri yang memahami langsung tersedak. "Ayah, hati-hati dong makannya," kata Mila yang dari tadi menyuapi Dania yang tampak asyik dengan mainannya. "Iya. Ayah akan hati-hati," ucap Pak Feri gelagapan. "Itu sama sekali tidak boleh dibiarkan. Mereka baru saja bertemu setelah berpisah selama tiga tahun," seru Bu Tiara menanggapi candaan Bu Eni. Ia segera bangkit dari duduknya. Ia hendak melabrak Emili. "Ibu mau apa?" pekik Pak Feri. Ia juga berdiri untuk mencegah sang istri. Bersamaan dengan itu Danil keluar dari kamar Emili dengan penampilan yang lebih cerah dari s

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   91. Kau Masih Istriku

    Setelah selesai merapikan mainan Dania, seluruh orang berkumpul di ruang keluarga. Karena memang tidak ada lagi ruangan yang lebih luas dari tempat itu. Kecuali Bu Eni dan Bu Tiara yang sedang sibuk di dapur, demi menyambut menantunya yang tiba-tiba datang dan tampaknya tidak berniat untuk pergi. Dan juga Emili yang sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. "Apa rencana kalian ke depannya?" Pak Feri memulai obrolan. Ia bertanya pada Danil sebagai kepala keluarga dari pernikahan kontrak putrinya. "Saya ingin tetap melanjutkan pernikahan kami, Yah. Tidak ada lagi kontrak atau apa pun itu. Tolong restui hubungan kami," Danil berbicara sungguh-sungguh. Ia menatap kedua mata mertuanya. "Bagaimana dengan keluargamu? Mereka tidak menerima Emili lagi. Nyonya Marita bahkan mengusirnya dari rumahmu." "Nenek melakukan itu karena terpengaruh omongan setan. Informasi yang dia dapatkan tidak sesuai dengan kenyataan," Danil membahas soal Alea. Tampak kebencian dari raut wajahnya. "Apa ya

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   Tujuh Puluh Tiga

    Hari demi hari berlalu begitu saja, Kehamilan Emili sudah berusia tiga bulan, ia sudah melalui masa-masa yang paling tidak nyaman semasa kehamilan, mulai dari nafsu makan menurun, badan yang selalu lemas, perasaan yang selalu berubah-ubah sangat cepat, penciuman yang sangat sensitif, dan banyak lagi

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   Enam Puluh

    Tiba di ruang kerja, tampaknya semua orang membahas tentang berita yang sedang viral tak terkecuali Dian yang memergoki dirinya memasuki ruangan. "Mau kemana buru-buru sekali?" tanya Dian yang menyadari gerak gerik Emili."aku mau balik duluan Di, sedang terjadi sesuatu dirumah""Oh gitu, Eh, mana pak

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   Lima puluh

    Dikamar.Emili bolak balik di depan pintu kamar sambil memikirkan cara menghadapi Danil, ia berdoa dalam hati semoga Danil menghindari kamarnya. Benar saja ia menunggu sejam lalu dua jam dan seterusnya hingga malam datang Danil tidak juga muncul. Memang itu yang ia harapkan tapi hatinya berkata lain.

  • Nikah Kontrak Berbuah Cinta   Tigapuluh Dua

    Di seberang negara yang bermil-mil jauhnya seorang pria tampan berkarisma sedang termenung melihat ponselnya, seperti sedang merindu dan menunggu seseorang untuk menghubunginya, benar saja ponselnya berdering, dengan sigap ia menjawab telepon."Halo?" Suara di seberang membuatnya mengecek nama di la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status