LOGIN"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Danil setelah menemukan ruangan yang nyaman di restoran mewah langganannya itu, ia baru saja duduk di kursi dan langsung to the point', tidak ada basa-basi atau pendahuluan sama sekali.
Sangat sombong seperti yang ingin dia lakukan sejak tadi. Ia benar-benar ingin membalas perlakuan Emili, benar saja dengan cara itu ia merasa menang dan berada di atas angin sekarang. Hal itu membuat Emili menjadi ciut dan sadar akan kesalahannya kemarin, ia begitu mempertahankan harga dirinya sampai lupa, dengan siapa ia berhadapan. Emili melirik Alex untuk meminta bantuan, tapi yang dilirik malah tidak peduli sama sekali. "Maaf, Se... Sebenarnya yang saya ingin temui adalah Pak Alex," ucap Emili dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. "Memangnya kenapa kalau langsung ketemu saya? Bukannya itu malah lebih baik?" Danil menatapnya sambil berselonjor kaki dan melipat tangan. Emili merasa gugup dibuatnya, ia pun menjatuhkan pandangannya begitu saja. "Iya, Pak." Emili tersenyum tidak nyaman. "Jadi, kamu mau apa?" tanya Danil "Begini Pak, mengenai penawaran kerja sama kemarin, saya kembali mempertimbangkannya dan sudah memikirkannya dengan matang, saya bersedia bekerja sama Pak, tapi dengan syarat... " Emili menguatkan hatinya dan dengan perlahan membiarkan harga dirinya yang ia sempat pertahankan jatuh terjun bebas, seperti burung yang sedang terbang, tiba-tiba kena peluru para pemburu, ia bahkan merasa lebih rendah dari anjing peliharaan. Danil menarik ujung bibirnya, perasaannya benar-benar puas, ternyata bertemu Emili tidak mengecewakan, akhirnya terbalaskan juga setelah kemarin ia merasa diremehkan dan dihina sedemikian rupa oleh bawahan bernama Emili ini, bahkan masih bocah menurutnya, karena setelah melihat data yang disampaikan Alex, perbedaan umur mereka lumayan jauh, tujuh tahun. "Kamu perlu tahu, hanya saya yang berhak memberi syarat, agar saya bisa memastikan berapa besar uang yang harus saya keluarkan untukmu, semakin banyak syarat yang harus kamu penuhi maka semakin besar juga bayarannya, paham?" ucap Danil dengan penuh kemenangan, Emili tau ini tidak akan mudah dan sekarang hidupnya sudah tidak berarti apa-apa, ia tidak lebih dari seonggok daging yang dilelang di pasar loak. "Iya Pak, Saya paham, kalau boleh tahu apa saja syaratnya?" Ia pasrah, untuk apa lagi menuntut. Pada akhirnya ia merasa seperti anjing, menjilat, menurut dan menerima saja, hanya wujudnya saja yang berbentuk manusia, rasanya ingin menangis. "Tidak banyak, intinya kita harus menikah. Aku butuh status dan Kau tentu saja butuh uang. Cukup itu saja. Asalkan kamu bersedia menikah segala kebutuhanmu akan saya penuhi, tidak perlu bekerja lagi di perusahaanku ,Kau cukup tinggal di rumahku dengan tenang. Kamu bebas menilikmati kehidupan pernikahanmu dengan orang kaya sepertiku. tentang berapa lama dan kapan kita bercerai saya yang menentukan." "Iya Pak, bagaimana dengan kuliahku?" "Saya tidak akan mengekang kehidupanmu, silahkan lakukan apa yang ingin Kamu lakukan tapi jangan lupa dengan tugasmu, itu saja" "Baik Pak" Emili menanggapi dengan singkat, ia tidak tau harus bicara apa lagi, uang membungkam mulutnya. "Hanya itu, penurut sekali, tidak ingin berkomentar lagi?" tanya Danil dengan angkuhnya, Emili menggeleng dengan perasaan jijik, ia merasa sangat jijik pada dirinya sendiri. "Oh iya, acara pernikahan akan dilaksanakan seperti pada umumnya, ada lamaran, ijab Qabul dan resepsi, terbuka antara keluarga, itu artinya kita pasangan secara sah, adapun tentang kesepakatan kita, ini merupakan rahasia antara kita saja begitu juga transaksinya, semuanya bersifat rahasia jika bocor, itu artinya Alex atau kamu yang membocorkannya." Emili hanya mengangguk, kekuatan tubuhnya seperti hilang begitu saja. "Ada tambahan?" Danil memberi kesempatan pada Emili, tapi Emili tidak tau harus berkata apa, semua sudah jelas bukan? Yang punya uanglah yang berkuasa. Tapi ada satu hal yang menurutnya sangat penting. "Saya punya satu permintaan, Pak. Tolong pura-pura bahagia layaknya suami istri di depan keluargaki," ucapnya lirih, kali ini air matanya menetes. "Tentu, kita lihat saja nanti. Peran pura-pura bahagia juga berlaku untukku, Aku juga punya keluarga " balas Danil terlihat santai, benar-benar menyebalkan di mata Emili, apa hatinya terbuat dari batu. Setidaknya ramahlah sedikit. 'Baiklah, tetap semangatlah, Diriku. Mari kita lihat kehidupan seperti apa yang akan aku lalui kedepannya' Emili menyemati dirinya dalam hati.Matahari telah berada di puncak peraduannya ketika sebuah mobil mewah yang membawa keluarga kecil melesat memasuki rumah bak istana. Iya, itu mereka Danil, Emili dan putri kecilnya Dania, ada juga Bu Eni yang telah resmi jadikan oleh Danil sebagai pengasuh tetap untuk putri kecilnya Dania.Akhirnya Emili kembali lagi ke rumah itu, rumah yang dulu pernah menjadi saksi perjalanan singkat tentang hubungannya, hubungan yang tercipta dari sebuah ide gila Danil untuk melakukan sebuah pernikahan kontrak yang memakan korban yaitu Emili, yang kemudian menumbuhkan rasa cinta di antara mereka, yang satu karena ambisi yang satu karena keterpaksaan yang di sebabkan faktor ekonomi.Kini keduanya bersatu kembali dengan hubungan yang sehat dan terkontrak tanpa syarat sepanjang hidup mereka.Emili mau ikut Danil setelah meyakinkan segala urusannya yang harus di selesaikan telah beres, Danil dapat melakukan itu dalam waktu singkat.Demi agar lebih cepat berkumpul dengan keluarga kecilnya ia bahkan rela
Danil tiba di rumahnya, ia tau bertemu dan memohon pada Nenek Marita tidak akan memberi solusi, ia ke ruang kerjanya menghubungi Alex untuk mengumumkan tentang hubungannya dengan Emili dan kehadiran Dania sebagai putrinya di semua aplikasi Sosial media, tak lupa memintanya menghubungi stasiun tv juga supaya mertuanya yang agak gaptek soal sosial media tidak ketinggalan berita."Saya ingin membaca berita ini dalam waktu tidak lebih dari tiga puluh menit, jangan lupa kau juga harus memberinya judul sedramatis mungkin, Oke" Jelas Danil antusias."Iya Pak Danil, tapi tolong bisakah kamu membiarkan saya berbulan madu dengan santai?" Alex berbicara sebagai sahabat."Sory, tapi kali ini kau harus membantuku karena ini penting" Danil agak sedikit bersalah dengan sahabatnya."Oke Aku akan membantumu" ucap Alex."Thank's bro, selamat bersenang-senang" Danil mengakhiri peanggilannya lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memejamkan mata, ia sepertinya tidak sabar menunggu sebuah berita viral
"kesayangan Ayah sudah wangi" Danil berdiri menyambut putrinya."Apa katamu?" Nenek Marita kaget mendengar Danil."Ini putri Danil Nek, Saat Nenek mengusir Emili dia sedang mengandung anakku, Ah Nenekku sungguh keterlaluan! Mengusir cucu menantu yang sedang hamil tapi menampung wanita hamil lainnya" Ucap Danil membuat nyali Neneknya menciut dan tampak bersalah, sebenarnya ia sudah menunggu momen ini dari tadi."Apa benar dia putrimu?" Ekspresi Nenek Marita berubah sembilan puluh derajat, yang tadinya dingin menjadi hangat. Ia bertanya demi memastikan pendengarannya. Matanya terpaku pada Dania."Iya Nek, apa Nenek meragukannya? padahal dia begitu mirip denganmu Nek" Ucap Danil. Fakta itu juga yang membuatnya tidak bertanya saat pertama kali melihat putrinya, Dania begitu mirip Neneknya yang juga mirip dengan dirinya sendiri."Betul Kamu hamil saat pergi dari rumah?" Nenek beralih pada Emili, kebenciannya pada menantunya itu agaknya berangsur hilang."Iya Nek, tapi Emili juga tidak tahu
Danil benar-benar menginap di rumah keluarga Emili, ia tidak memberitahu hal itu pada siapapun, karena itu ponselnya berdering beberapa kali entah itu panggilan dari asistennya Alex, klien bahkan ada panggilan juga dari Neneknya.Ia terbangun dan mengucek matanya, ia sadar sedang berada di kamar orang lain, namun sedetik kemudian ia tersenyum karena menyadari ia sedang menginap di rumah orang tua istrinya. Ia pun meraih ponsel dan memeriksanya.[Apakah kamu bersama sahabat istriku? Aku bingun harus menyebutnya apa, Nenek Marita mencarimu dan ku beri tahu Kamu bersamanya, mungkin Nenek sedang ke sana sekarang, jadi siapkan alat untuk bertempur, dia terdengar tidak senang karena panggilannya di abaikan cucu kesayangannya, Oh iya aku rela mengorbankan masa cuti bulan maduku untuk menggantikanmu mengurus klien, jadi fokus saja bertempur dengan Nenek Marita] tulis Alex panjang lebar. Danil hanya membacanya dan tidak bermaksud membalas."Aku akan menyambutnya" Ucap Danil tersenyum menyering
"Kenapa Emili lama sekali? Kemana pula perginya Nak Danil?" Ucap Bu Tiara merasa tidak senang, ia sudah bersusah payah masak untuk mereka tapi justru mereka yang tidak hadir di meja makan."Tidak apa Bu, biarkan saja" Pak Feri masih setia menghibur sang istri."Mungkin lagi melepas rindu, Bu" Celetuk Bu Eni asal, sebenarnya ia hanya bercanda karena dirinya sendiri tidak tau kemana kedua orang itu berada, Pak Feri yang memahami langsung tersedak."Ayah, hati-hati dong makannya" Kata Mila yang dari tadi menyuapi Dania yang tampak asyik dengan mainannya."Iya, ayah akan hati-hati" Ucap Pak Feri gelagapan."Itu sama sekali tidak boleh dibiarkan, mereka baru saja bertemu setelah berpisah selama tiga tahun" Seru Bu Tiara menanggapi candaan Bu Eni ia segera bangkit dari duduknya, ia hendak melabrak Emili."Ibu mau apa?" Pekik Pak Feri, ia juga berdiri untuk mencegah sang istri.Bersamaan dengan itu Danil keluar dari kamar Emili dengan penampilan yang lebih cerah dari sebelumnya, ia tampak sep
Setelah selesai merapikan mainan Dania, seluruh orang berkumpul di ruang keluarga, karena memang tidak ada lagi ruangan yang lebih luas dari tempat itu, kecuali Bu Eni dan Bu Tiara yang sedang sibuk di dapur, demi menyambut menantunya yang tiba-tiba datang dan tampaknya tidak berniat untuk pergi, dan juga Emili yang sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi."Apa rencana kalian kedepannya?" Pak Feri memulai obrolan, ia bertanya pada Danil sebagai kepala keluarga dari pernikahan kontrak putrinya."Saya ingin tetap melanjutkan pernikahan Kami Yah, tidak ada lagi kontrak atau apapun itu, tolong restua hubungan kami" Danil berbicara sungguh-sungguh, ia menatap kedua mata mertuanya."Bagaimana dengan keluargamu, mereka tidak menerima Emili lagi, Nyonya Marita bahkan mengusirnya dari rumahmu" "Nenek melakukan itu karena terpengaruh omongan setan, informasi yang dia dapatkan tidak sesuai dengan kenyataan" Danil membahas soal Alea. Tampak kebencian dari raut wajahnya."Apa yang membuatmu m
Emili bingung apakah harus menerima penawaran kerja sama dengan bisnis keluarga Fernando itu atau tidak, ia tidak bisa memungkiri kebenarannya, ia bimbang karena Fernando berhubungan dengan urusan pribadinya, di tengah kebimbangannya, Evan menghubunginya, ia merasa bersyukur karena itu."Halo Van..."
Setelah tiga bulan berlalu, perut Emili sudah mulai nampak membuncit, ia sering memperhatikan dirinya di kaca, tubuhnya yang tadinya lebih kurus, kini nampak agak berisi, ia semakin sehat dari hari ke hari, ia selalu berusaha membuat dirinya enjoy menjalani kesehariannya sebagaimana yang di sarankan
Hari demi hari berlalu begitu saja, Kehamilan Emili sudah berusia tiga bulan, ia sudah melalui masa-masa yang paling tidak nyaman semasa kehamilan, mulai dari nafsu makan menurun, badan yang selalu lemas, perasaan yang selalu berubah-ubah sangat cepat, penciuman yang sangat sensitif, dan banyak lagi
Emili menemui dokter obgyn sesuai arahan dari dokter umum yang telah memeriksanya tadi, dengan hati deg-degan Emili memasuki ruang tunggu khusus untuk ibu hamil, untungnya Bu Eni masih setia menemaninya, ia tampak seperti seorang ibu yang mengantar putrinya untuk periksa."Ibu Emili..." Seru salah se







