Beranda / Romansa / Nikah Kontrak sama Bos Dingin / 1. Aku Nggak Mau! Tapi Aku Harus...

Share

Nikah Kontrak sama Bos Dingin
Nikah Kontrak sama Bos Dingin
Penulis: red sugar

1. Aku Nggak Mau! Tapi Aku Harus...

Penulis: red sugar
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-03 19:41:48

Saira menatap kertas perjanjian itu dengan perasaan campur aduk. Matanya membaca ulang isi dokumen yang ada di tangannya, berharap ada kesalahan ketik atau semacamnya.

Kontrak Pernikahan

Judul yang tertulis di atas kertas tersebut.

            "Tandatangani. Sekarang." Suara dingin itu terdengar di depannya. Saira mengangkat wajah, dan langsung bertemu dengan tatapan tajam Dava Arya Pratama. Pria itu duduk dengan santai di sofa mewahnya, memakai jas hitam yang terlihat mahal sekali. Sialnya, dia ganteng. Parah! Tapi sayang, sifatnya lebih dingin dari es batu di kutub.

            "Kenapa harus saya?" tanya Saira, suaranya bergetar. Dia nggak pernah membayangkan akan menikah, apalagi dengan cara seperti ini. "Kenapa saya yang harus menikah kontrak sama kamu?"

            Dava menghela napas seolah lelah berurusan dengannya. "Keluargamu punya utang miliaran. Aku bisa melunasinya. Sebagai gantinya, kamu menikah denganku selama satu tahun. Setelah itu, kita cerai, dan kamu bisa hidup bebas. Simple."

Simple? Kepala lo simple!

            Saira menggigit bibirnya, mencoba berpikir jernih. Keluarganya memang sedang dalam masalah besar. Ayah jatuh sakit, bisnis keluarga bangkrut, dan rentenir sudah mulai datang ke rumah. Awalnya, mereka ingin menikahkankan Naira, tapi gadis itu menolak mentah-mentah. Dan karena Saira anak pertama, dialah yang akhirnya harus mengorbankan diri.

            Dia menatap pria di depannya. Tatapan matanya tajam, nyaris seperti serigala yang siap menerkam. Menikah dengan pria seperti ini? Dia nggak yakin bisa bertahan.

            "Kalau saya nggak mau?" tanyanya ragu.

            Dava tersenyum miring. "Kalau kamu nolak, siap-siap aja lihat keluargamu kehilangan segalanya."

            Jantung Saira mencelos. Dia menggenggam erat tangannya sendiri. Pilihan apa yang dia punya? Nggak ada. Sama sekali nggak ada. Dengan tangan gemetar, dia mengambil pulpen, lalu menandatangani kontrak itu.

            Dava menyeringai puas. "Selamat, sekarang kamu resmi jadi istriku.

            Saira menghela napas panjang setelah menandatangani kontrak itu. Kertas di tangannya terasa lebih berat dari yang seharusnya. Dalam hitungan detik, kehidupannya berubah drastis.

            "Bagus," Dava bangkit dari sofa dan mengambil kontrak itu dari meja. "Mulai sekarang, kamu harus ikuti semua aturan yang sudah tertulis di kontrak. Jangan macam-macam."

            Saira menahan napas, berusaha tetap tenang. "Aturan?"

            "Ya," jawab Dava datar. "Jangan harap kita bakal jadi pasangan mesra. Aku nggak butuh istri, aku butuh seseorang yang bisa menutupi kebohongan ini di depan keluargaku. Di luar rumah, kita suami istri. Di dalam rumah, anggap aku nggak ada. Jangan ganggu aku, dan aku nggak akan ganggu kamu."

            Saira menatap pria itu dengan ekspresi tercengang. "Kamu benar-benar nggak percaya cinta, ya?"

            Dava hanya terkekeh dingin. "Cinta itu omong kosong. Jangan buang waktumu berharap lebih."

            Saira mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasanya dia ingin membantah, tapi buat apa? Dia hanya seorang wanita yang terjebak dalam permainan ini. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah bertahan.

            "Baiklah," jawabnya lirih. "Aku nggak akan mengganggumu."

            Dava berdiri dari sofanya, mengambil kontrak yang baru saja ditandatangani, lalu menatap Saira sekilas. "Mulai sekarang, jalani peranmu dengan baik. Jangan sampai aku menyesal membuat kesepakatan ini."

            Saira menelan ludah. Pria itu tidak menunggunya bicara. Dengan langkah tegap, Dava berjalan menuju pintu, membuka knopnya, lalu keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Saat suara pintu tertutup, Saira membiarkan tubuhnya jatuh ke sofa. Tangannya masih terasa gemetar, jantungnya berdetak tak karuan.

            Dia akan menikah.Tidak secara normal, tidak dengan cinta, tapi dengan perjanjian. Sebuah kontrak yang mengikatnya dengan pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik. Bayangan tentang pernikahan yang dia impikan sejak kecil terasa seperti lelucon sekarang. Harusnya pernikahan adalah sesuatu yang sakral, sesuatu yang dilakukan karena cinta. Tapi apa yang dia lakukan ini?

Jual diri demi menyelamatkan keluarga?

Saira memejamkan matanya. Napasnya terasa berat. Yang lebih buruk lagi, dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi adiknya, Naira. Gadis itu memang menolak perjodohan ini dari awal, tapi bukan berarti dia peduli dengan kakaknya yang harus menggantikannya.

            Saira tahu bahwa Naira tidak pernah menganggapnya sebagai kakak yang bisa dia hormati. Sejak kecil, hubungan mereka memang tidak pernah akur. Jadi ketika Naira tahu bahwa Saira yang akhirnya menikah dengan pria asing ini, gadis itu hanya mengangkat bahu. Tidak ada simpati, tidak ada rasa bersalah.

            "Aku nggak akan menikah dengan orang yang bahkan aku nggak kenal," ujar Naira waktu itu. "Kalau kakak mau, silakan aja."

            Saira menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Pikirannya semakin kacau saat membayangkan dirinya berdiri di pelaminan bersama pria asing yang bahkan tidak percaya cinta. Apa yang akan terjadi setelah ini?

            Dia membayangkan wajah kedua orang tuanya. Ibunya terlihat lega saat dia menerima pernikahan ini, seolah-olah beban mereka sudah terangkat. Ayahnya tidak berkata apa-apa, tapi ekspresi lelah di wajahnya seakan mengatakan semuanya. Mereka tak punya pilihan lain.

Hatinya mencelos.

Apa dia bisa bertahan?

Atau justru, dia akan hancur?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nikah Kontrak sama Bos Dingin   14. Menemukan Diri Sendiri

    Sudah hampir dua minggu Saira tinggal di rumah itu. Waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan, tapi belum cukup lama untuk disebut rumah. Kamar yang ditempatinya selalu rapi. Tidak ada barang yang benar-benar ia keluarkan dari koper selain pakaian seperlunya. Selebihnya tetap tersusun seperti siap dibawa pergi kapan saja. Saira duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang pintunya setengah terbuka, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. Menjadi istri—meski hanya di atas kertas—ternyata mengubah banyak hal kecil. Waktu tidurnya ikut bergeser. Langkah kakinya pun lebih pelan setiap kali melewati ruang kerja Dava. Nada bicaranya otomatis menyesuaikan, terbentuk begitu saja. Ia menarik napas dalam-dalam. Sejak awal, ia tahu pernikahan ini bukan tentang cinta. Ia juga tidak pernah berniat menjadikannya seperti itu. Namun beber

  • Nikah Kontrak sama Bos Dingin   13. Melawan Jin Dasim

    Larissa berdiri di depan pagar rumah itu dengan senyum yang manis. Tak lama, Saira muncul dan membuka pintu tanpa ekspresi berlebih, tatapannya tenang—seperti seseorang yang lelah dengan drama buatan wanita di depannya. “Mas Dava nggak ada,” ucapnya to the point. Larissa melirik ke dalam rumah, jelas berniat masuk. “Aku ke sini mau ngobrol sama kamu,” katanya dengan senyum yang tidak juga luntur. Saira mengangguk kecil, bukan mengalah, tapi memegang kendali penuh. “Kalau mau bicara, kita bisa ke kafe dekat sini. Jangan di rumah saya.” Larissa terdiam sejenak, tidak menyangka dirinya tidak diizinkan masuk ke rumah yang seharusnya jadi miliknya sejak awal. “Oh, takut?” ejeknya, mencoba

  • Nikah Kontrak sama Bos Dingin   12. Mengembalikan Semua Sesuai Tempatnya

    Kamar Dava tidak berubah, gelap dan suram. Tapi malam ini tidak terasa sama. Sudah dua jam dia menatap langit-langit, lampu tidur redup menyala di sudut ruangan. Biasanya beberapa menit saja dia sudah terlelap, tapi sejak kembali dari rumah orang tuanya—sejak malam-malam ia tidur di kasur yang sama dengan Saira—tidur sendirian menjadi hal yang aneh. Ranjangnya terasa terlalu luas, dingin dan sepi. Dava mengembuskan napas kasar, membalikkan tubuhnya untuk kesekian kalinya. “Kenapa jadi begini?” gumamnya, kesal pada dirinya sendiri. Setiap kali memejamkan mata, bayangan punggung mungil Saira—yang waktu itu tidur menghadap jauh darinya—selalu muncul. Dan entah mengapa itu membuat dadanya berdesir tidak nyaman. Dava duduk, memijat leher. Shit!&nb

  • Nikah Kontrak sama Bos Dingin   11. Serba Salah

    Panekuk stroberi sudah tersaji di meja makan, masih hangat dan menggugah selera. Saira baru saja selesai membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri, ketika Dava menuruni tangga dengan setelannya—jas digenggaman tangan kiri. “Mau saya buatin kopi kayak biasa?” tanya Saira. Dava meletakkan jasnya di atas kursi, lalu menggulung kemejanya sampai siku. “Tidak perlu, saya saja, Ra.” Wanita itu mengangguk pahan, sejak awal dia memang sengaja tidak membuatkan kopi untuk lelaki itu. Takut Dava berpikir yang tidak-tidak atas kebaikannya yang mungkin akan dianggap sesuatu yang lain. Juga, dia tidak ingin melewati batas kontrak mereka yang semakin hari semakin kabur saja. Saira takut terjebak oleh perasaannya sendiri. “Masakan kamu selalu enak,” komentar Dava ketika mencoba sepotong panekuk buatannya. “Sudah biasa masak?” “Sejak perusahaan Papa bangkrut, aku belajar banyak hal. Ya termasuk masak, salah satu skill bertahan hidup.”

  • Nikah Kontrak sama Bos Dingin   10. “Iya, sayang.”

    “Kamu serius nyuruh saya ke kamar terus tidur?” omel Saira ketika tiba di kamar mereka. “Ini bahkan belum jam sepuluh malam, Mas.” Dava menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Saya tidak mau kamu kesiangan lagi, besok senin, Ra,” ucapnya beralasan. “Saya harus ke kantor.” “Ck!” decaknya kesal. “Kamu kalau kesal begitu, saya tidur di sofa saja.” “Kenapa kesannya jadi kamu yang ngambek sih, Mas?” “Bukan begitu, Saira.” “Tahu, ah. Terserah kamu mau tidur di mana,” lanjutnya lebih kesal, lalu berbaring membelakangi Dava. “Tidur di luar sekalian, biar Mama dan Papa tahu.” Untuk pertama kalinya, Dava merasa kecil. Dia memang salah, tidak seharusnya dia datang menginterupsi obrolan dua wanita itu dengan alasan ‘sudah larut’. Dava sendiri tidak bisa mengerti mengapa kakinya melangkah ke sana dan mengetuk pintu kamar sang adik. Akhirny

  • Nikah Kontrak sama Bos Dingin   9. Sudah larut, ayo kembali ke kamar!

    Kamar luas dengan dominan warna krem itu sangat kontras dengan kamar Dava yang suram dan gelap. Saira yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam, sudah dibuat takjub dengan keindahan kamar milik Davina. Rapi, cantik, dan berseni; tiga kata yang menggambarkan kamar itu. “Sini, Mbak. Duduk,” kata Davina mempersilakannya duduk di atas kasur. Saira mengikuti arahan wanita itu dan duduk di dekatnya, masih memerhatikan sekeliling kamar. “Beda banget ya sama kamar Mas Dava?” ucapnya seperti tahu isi kepala Saira. Saira langsung menoleh ke arag Davina sambil tertawa ringan. “Iya. Jauh banget.” Davina ikut tertawa, lalu memeluk bantal kecil di pangkuannya. “Kamar Mas Dava tuh mencerminkan kepribadiannya banget.” Tepatnya kepribadiannya setelah ditinggal Larissa, sambung Davina dalam hati. “Iya, lagi,” komentar Saira lalu keduanya tertawa bersama. Davina meraih kotak kecil di meja rias di sela tawanya, mengam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status