LOGINBeberapa minggu berlalu dengan perlahan dan tenang, tanpa ada gangguan berarti yang datang mengusik kedamaian di kediaman Lusty dan Raman. Namun ketenangan yang tampak begitu damai di permukaan itu justru semakin memperkuat keyakinan di dalam hati Lusty—bahwa segala rahasia kelam yang selama ini tersembunyi dengan rapi di balik senyum dan sikap ramah, pada akhirnya pasti akan perlahan muncul ke permukaan dengan sendirinya. Kebohongan tidak akan pernah bisa berdiri tegak dan kokoh selamanya. Seiring berjalannya waktu, ia pasti akan perlahan miring, goyah, dan akhirnya jatuh menampakkan kepada semua orang siapa sosok yang sebenarnya berdiri di balik bayang-bayang kegelapan itu.Pagi itu, matahari baru saja naik tinggi menyinari halaman rumah yang hijau dan segar. Angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan bunga yang harum semerbak. Di saat suasana rumah tampak begitu tenang dan damai, seorang pria paruh baya tiba-tiba berdiri ragu-ragu di depan gerbang rumah. Pakaiannya rapi n
Hari-hari berlalu dengan perlahan namun penuh ketenangan di kediaman Lusty dan Raman. Tidak ada lagi pesan ancaman yang datang di tengah malam, tidak ada lagi telepon misterius yang tiba-tiba terputus, dan tidak ada lagi kedatangan orang asing yang berulang kali lewat di depan gerbang seakan sedang memantau keadaan rumah. Keheningan yang menyelimuti itu justru menjadi tanda yang jelas bagi Lusty dan Raman—bahwa pihak yang selama ini dengan segala cara berusaha menjatuhkan mereka, perlahan namun pasti mulai kehilangan akal sekaligus kehilangan celah untuk terus melancarkan serangan. Setiap jalan yang dulu mereka paksakan untuk melangkah kini tampak tertutup rapat oleh kebersamaan, kepercayaan, dan keteguhan hati yang tak mampu mereka tembus sedikit pun.Suatu sore, saat matahari mulai terbenam menyisakan cahaya keemasan yang lembut menyinari halaman rumah, Lusty dan Raman duduk berdampingan di beranda sambil menikmati udara segar yang berhembus pelan. Wajah mereka tampak tenang, namun
Tiga hari berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Lusty pun tiba. Raman menjemputnya sendiri hingga ke terminal kedatangan. Begitu melihat sosok istrinya melangkah keluar, Raman langsung menyambutnya dengan senyum tulus dan pelukan hangat tanpa menanyakan satu hal pun terlebih dahulu. Tidak ada pertanyaan tentang foto, tidak ada pertanyaan tentang pesan yang dikirimkan. Hanya kehangatan dan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua seolah tak pernah ada jarak yang memisahkan.“Selamat datang kembali, Lusty,” ujar Raman lembut sambil membukakan pintu mobil. “Rumah terasa sepi tanpamu.”Lusty menatap suaminya lekat-lekat, matanya berbinar penuh kelegaan sekaligus kekaguman. “Mas… kau tidak bertanya apa pun kepadaku?”Raman tersenyum sambil menyalakan mesin mobil. “Apa yang harus aku tanyakan? Selama hatimu tetap bersamaku, perkataan orang lain dan bukti rekayasa mereka tidak ada artinya sama sekali. Aku mengenalmu lebih dari siapa pun. Aku tahu siapa wanita yang aku pilih menjadi pend
Pagi itu, Lusty berangkat menuju kota tujuan sendirian seperti yang tertulis dalam surat penugasan. Raman mengantarnya hingga ke pintu gerbang rumah, menggenggam tangan istrinya erat sebelum melangkah masuk ke dalam mobil.“Jaga dirimu baik-baik di sana, Lusty. Jangan menerima apa pun dari orang yang tidak dikenal, dan jangan percaya pada apa pun yang belum kau pastikan sendiri,” pesan Raman dengan suara lembut namun penuh kecemasan yang tak bisa disembunyikan.“Kau pun begitu, Mas. Jaga rumah dan jaga hati kalian. Apa pun yang terjadi, ingatlah bahwa kepercayaan adalah jembatan yang tak boleh diputus oleh siapa pun,” jawab Lusty sambil menatap lekat mata suaminya. “Tiga hari itu akan berlalu cepat. Jangan biarkan keraguan menyelinap masuk walau sekejap mata.”Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah. Raman berdiri terpaku sejenak hingga bayangan kendaraan itu hilang di tikungan jalan, lalu perlahan berbalik masuk kembali dengan hati yang tetap tenang namun waspada.Sesampainya
Beberapa hari berlalu dengan suasana yang tampak tenang di permukaan. Tidak ada pesan ancaman, tidak ada kedatangan orang asing yang mencurigakan, dan tidak ada kabar buruk dari kampung halaman Dedi dan Sari. Namun keheningan itu justru membuat hati Lusty semakin yakin bahwa Ratna dan Fenina tidak akan berhenti begitu saja. Keheningan mereka bukan tanda menyerah, melainkan tanda bahwa rencana baru sedang disusun dengan lebih teliti dan lebih berbahaya.Pagi itu Lusty dipanggil ke ruangan Ratna. Sesampainya di sana, Ratna menyambutnya dengan senyum yang tampak hangat dan sikap yang seakan tidak pernah terjadi apa-apa.“Masuklah, Lusty. Silakan duduk,” ujar Ratna ramah sambil menunjuk kursi di hadapan mejanya. “Bagaimana keadaan rumah dan keluargamu akhir-akhir ini?”“Baik-baik saja, Bu Ratna. Terima kasih Ibu sudah menanyakan,” jawab Lusty tenang namun tetap waspada. “Kami hidup sederhana namun damai.”Ratna tersenyum tipis, jemarinya perlahan mengetuk meja. “Saya mendengar ada beberap
Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah jendela ruang kerja Lusty. Ia sedang menyusun berkas-berkas saat terdengar ketukan pelan di pintu. Sari muncul dengan wajah yang tampak cemas namun berusaha tetap tenang.“Kak Lusty… boleh saya bicara sebentar?” tanyanya sopan.“Tentu saja, Sari. Masuklah. Ada apa yang membuatmu tampak gelisah begitu?” Lusty meletakkan pena di atas meja, lalu menatap gadis itu dengan senyum yang menenangkan.Sari melangkah mendekat, lalu berhenti di hadapan meja kerja. “Tadi pagi saat saya berbelanja di pasar desa, saya berpapasan dengan salah satu tetangga lama kampung halaman kami. Beliau menyampaikan pesan yang membuat hati saya tidak tenang.”Lusty menyilangkan kedua tangannya di atas meja. “Pesan apa itu? Katakan saja dengan tenang.”“Beliau bilang, ada seseorang yang datang berkunjung ke rumah orang tua kami dua hari lalu. Orang itu membawa banyak barang dan uang tunai, lalu berpesan kepada orang tua kami agar menyuruh kami berdu







