Home / Rumah Tangga / Nikahi Aku Sehari Saja / Part 3 Pria yang Membosankan

Share

Part 3 Pria yang Membosankan

Author: Lisani
last update publish date: 2023-07-05 08:12:53

Yuna mengulas senyum kala keluar dari mobilnya. Dengan menenteng sebuah paper bag berisi kue kesukaan Bian, Yuna menghampiri ART keluarga Kawiraginandra.

"Selamat sore, Bibi. Apa Tante Amba ada di dalam?" tanya Yuna.

"Selamat sore juga, Nona. Makin cantik saja," puji wanita yang sedang menyiram bunga itu. "Nyonya ada di dalam, lagi buat puding."

"Oh iya Bi, ini coklat buat keponakan Bibi. Kemarin aku janji sama dia. Aku titip ya, soalnya aku nggak bisa lama-lama," ucap Yuna mengulurkan sebungkus coklat dari dalam tas selempangnya.

"Terima kasih ya, Nona. Tiap kali ke sini, pasti ada saja yang Nona kasih buat keponakan saya," ujar wanita itu terharu. Ia sangat berharap gadis itu yang kelak menjadi nyonya mudanya.

"Sama-sama, Bi. Yuna masuk dulu, ya," pamitnya.

Yuna meneguhkan hati lalu mengayuh langkah menghampiri ibu dari pacarnya. Amba sedang menuang adonan pudingnya ketika Yuna masuk ke dapur.

“Hai, Sayang. Tumben nggak telpon dulu, tante kayak lagi dikasih surprise, deh,” ujar Amba.

“Tante tahu aja, Yuna mau kasih kejutan,” ungkapnya tersipu sembari meletakkan paper bag di atas meja.

Amba mengakhiri kesibukannya di dapur. Kala hendak beranjak ke ruang tengah, Yuna menahan tangannya.

“Tante, ada yang mau Yuna sampaikan. Yuna tahu Tante akan terkejut, tapi pilihan ini sudah tepat,” ungkap Yuna meremas jemarinya gugup.

Amba mengangguk lalu bertanya, “Mau bilang apa, Sayang?”

“Sepertinya … Yuna tidak bisa jadi ….” Yuna menelan saliva dengan jantung bertalu kencang.

Harapannya selama ini harus ia relakan. Tangis Yuna pecah di pelukan wanita yang ia kira kelak akan menjadi ibu mertuanya. Lebih dari itu, ia resah memikirkan nasib anak-anaknya kelak dengan keputusannya ini.

***

Melihat putra sulungnya dengan lahap mengunyah kue kesukaannya, Amba menghampiri dan duduk di sampingnya. "Tadi Yuna ke sini. Dia yang bawakan kue itu buat kamu.”

Kunyahan di mulut Bian terhenti. Keningnya berkerut dalam pertanda laki-laki itu tidak tahu rencana kedatangan pacarnya. Bian heran, biasanya Yuna akan mengabarinya jika gadis itu akan berkunjung ke rumahnya.

"Tumben, dia nggak bilang sama aku kalau mau ke sini? Biasanya dia laporan, sampai mau pakai baju mana, juga tanya sama aku. Cocoknya yang warna biru atau kuning atau pakai aksesoris apa yang cocok sama dresnya? Aku kadang kasihan sama ponselku. Nggak bisa istirahat gara-gara Yuna berisik," ungkap Bian santai seolah tanpa beban.

Amba mengernyit lalu menatap heran putra sulungnya. "Kamu kenapa seperti itu, Nak? Setengah tahun pacaran sama Yuna, memangnya kamu masih belum bisa menerima sifat manjanya?"

Bian memutar bola matanya jengah. "Ma, kalau boleh jujur, Bian tuh capek jadi pacarnya Yuna. Dia itu bukan tipeku, Ma. Sedari awal Bian sudah bilang, jangan berharap lebih dengan hubungan kami. Rencana perjodohan ini tuh nggak bakal berhasil, Ma."

"Gadis yang kamu sukai kayak siapa?" tanya Amba sambil menggonta-ganti chanel televisi.

"Standar kayak adik iparku. Kalau bisa, dia juga pintar bergaul, mandiri dan aku mau yang seksi. Pacarku yang sekarang itu bocah, Ma. Dia itu nggak dewasa sama sekali, tapi kekanakan. Bukannya punya kekasih, teman-temanku bilang aku ke sana kemari bawa adik perempuan," papar Bian bangga dengan kriterianya.

"Seksi? Maksudnya yang pamer-pamer lekuk tubuhnya?" tanya sang mama.

Bian menelan lebih dulu kemudian menjawab, "Bukan juga. Maksud Bian tuh lebih kepada pesona seorang wanita, Ma."

"Mama cuma mau mengingatkan kamu, jangan sampai kamu menyia-nyiakan hati yang tulus. Contohnya gadis seperti Yuna. Kalau itu sampai terjadi, jangan harap mama mau bantuin kamu," ujar Amba melirik sinis sebagai tanda peringatan tegasnya.

Bian mengulum senyum lalu berkata, "Justru aku berharap waktu cepat bergulir, Ma. Supaya Bian bisa cepat-cepat mengakhiri hubungan dengan Yuna saat tepat hubungan kami cukup enam bulan."

"Dan mungkin kamu akan terkejut nantinya. Yuna mengatakan sesuatu sama mama, tadinya mama mau bilang sama kamu. Tapi, melihat reaksi kamu barusan, lebih baik mama diam dan menunggu saat yang tepat. Ya, seperti yang kamu bilang barusan," ujar wanita itu kecewa.

Bian yang melihat wajah kesal mamanya mengernyit. Apa salahnya yang hanya merasa sedang curhat? Sebelum wanita berambut pendek itu masuk ke dalam kamar, ia berbalik menatap putranya sendu.

"Ada apa, Ma? Kok Mama kayak mau nangis?" Bian semakin bingung.

"Hari ini mama menyadari kalau harapan mama pupus. Sepertinya Yuna benar-benar tidak bisa menjadi menantu mama," ungkapnya tanpa peduli apa yang hendak putranya katakan.

Bian terdiam menatap pintu jati itu. Tidak seperti ini yang ada dalam ekspektasinya. Reaksi papa dan mamanya memang sama-sama kecewa, tapi tanggapan mereka berbeda.

"Ini yang nggak gue suka dari wanita, bikin serba salah," batin Bian yang dengan santai kembali mengambil potongan kue di piring. Tanpa sadar kue itu habis seiring tayangan komedi yang ditontonnya.

Begitu tayangan berganti, Bian menelan saliva karena tayangan iklan yang menampilkan masakan khas Jepang. Entah kenapa ia mendadak ingin makan susyi. Bian begidik membayangkan dirinya makan makanan mentah kesukaan Yuna.

Bian mencoba mengenyahkan pikirannya. Namun, ia justru tersiksa sendiri. Biasanya Yuna akan membawa makan siang ke kantornya. Di antara menu yang biasa dibuat Yuna adalah susyi ala Yuna. Bisa disebut demikian, karena gadis itu memodifikasi menu dengan menggunakan bahan matang. Yang penting bentukannya mirip seperti susyi agar ia bisa memakannya.

“Arggh! Kenapa jadi lapar lagi?” batin Bian menggerutu.

Dengan malas Bian keluar kamar dan membuat mie rebus. Pukul dua dini hari ia merasa keroncongan. Tak berselang lama, semangkuk sajian instan itu sudah ludes. Saat ia hendak mencuci mangkok bekas makannya, ia melihat kotak kue yang dimakannya tadi.

“Bagaimana caranya memutuskan pacar tanpa menyakiti hatinya?” gumam Bian mengusap perutnya.

Bukannya beranjak dari dapur, Bian justru duduk anteng dan mulai berselancar di internet untuk mendapatkan referensi. Tanpa Bian sadari jika ada sepasang mata yang menyipit menatapnya heran bergantian dengan jam dinding.

"Dia mau sahur atau lagi kesurupan? Sejak kapan Bian mau makan mie instan? Akhir-akhir ini selera makannya aneh sekali," gumamnya menggeleng lalu kembali ke kamar.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 45 Berawal Dari Ayuna

    "Semua kekacauan ini berawal sejak Ayuna pergi. Kalau dia tidak pergi meninggalkan Bian, mungkin saat ini kita akan adakan resepsi. Bukan rapat darurat membahas CEO pengganti," batin Gian yang menunggu kedatangan beberapa pemegang saham prioritas.Andra duduk santai di kursi presdir dengan mata terpejam. Membiarkan seisi ruang rapat bertanya-tanya tentang apa yang sedang dipikirkan oleh pimpinan tertinggi perusahaan.Sementara Tama, sebagai salah satu pemegang saham prioritas tampak duduk bersantai menghubungi seseorang. Tawa ringannya yang sesekali terdengar, justru semakin membuat resah yang lain. Pria itu terlalu tenang disaat genting seperti ini.Pintu ruang rapat kembali terbuka untuk kesekian kalinya. Beberapa langkah tegas dari ketukan sepatu kulit yang mewah itu, semakin menambah ketegangan. "Akhirnya mereka datang," batin Agung menghela napas panjang. Baginya ini bukan akhir, melainlan awal perang dingin. Engah bagaimana Gian akan menghadapi mereka.Tanpa banyak basa-basi, m

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 44 Saham Mulai Turun

    Pasangan itu terhenyak setelah mendengar ucapan sahabatnya. Tama dan Ningrum tak menyangka, selama ini Andra dan Amba diam-diam menanggung beban seberat itu."Kalau bukan karena Tasya yang curiga, aku tidak akan tahu tentang Bian hari ini," batin Tama yang juga diam-diam menyelidiki keanehan putranya selama beberapa waktu terakhir. "Kami awalnya ingin memberitahu keluarga yang lain, termasuk kalian. Tapi karena mempertimbangkan saran dari pihak kepolisian, kami mengulur waktu. Setidaknya menunggu hasil pengobatan dokter ahli dari Singapura," jelas Amba menoleh menatap Ningrum yang meremas pelan punggung tangannya.Tama memperbaiki letak kacamatanya. Menatap Andra yang terdiam menatap berkas yang baru saja diantarkan Agung beberapa saat lalu. "Sebelum orang lain tahu tentang kondisi Bian. Sebaiknya umumkan di depan direksi dan pemegang saham kalau kamu yang akan pegang kendali selama Bian menjalani pengobatan. Jangan biarkan mereka tahu kalau Bian ... koma," saran Tama yang juga sela

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 43 Mencari Isi Dompet Sendiri

    Sejak tahu pria yang dicintai Yuna adalah Biantara, Maira juga akhirnya mengetahui identitas asli Yuna. Putri bungsu keluarga Diratama. Meski bisnis keluarga Diratama tidak sebesar keluarga Kawiraginandra, tapi cukup diperhitungkan dalam ranah industri tanah air. Yuna akhirnya mengakui jika semua itu benar. Disaat itu, Maira juga jujur tentang siapa mantan suaminya. Nama yang terasa tidak asing di telinga Yuna. Mulailah cerita Maira mengalir dan alasan mengapa dirinya bisa tahu tentang Bian. Mantan suami Maira tidak lain adalah salah satu saingan bisnis Bian. Bahkan, mereka pernah berhadapan dalam memperebutkan proyek nasional. Sejak itu pula, hubungan Yuna dan Maira semakin dekat. Mereka merasa jika takdir sudah mempertemukan mereka. Jika ayah bayi mereka bermusuhan karena persaingan bisnis, Yuna dan Maira berharap kelak anak-anak mereka akan hidup rukun seperti saudara. Hari ini, barang-barang jualan yang dipesan Maira sudah tiba. Impiannya membuka toko outfit sudah di depan mat

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 42 Rencana Licik

    Wanita yang tengah hamil besar itu tersenyum setelah mendapat pesan dari mata-matanya. Tadinya ia pikir, suaminya punya wanita lain di luar sana. Ternyata dugaannya tidak benar. Berawal dari kecurigaan, ia kini mendapatkan satu rahasia besar. Keluarga Kawiraginandra dan kedua sahabat putranya, semuanya ke rumah sakit. Kemungkinan besar, pasien yang sedang mereka jenguk itu dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. "Gian selamat dalam kecelakaan beberapa hari lalu. Tetapi, Tuan Andra dan Nyonya Amba tetap ke rumah sakit. Mata-mataku melihat Gian dan Adiba datang. Mereka semua keluar di lobi rumah sakit bersama Danu dan Arga. Yang kurang di antara mereka adalah ... Bian," ucap Tasya tersenyum. Istri Arga itu sedang memikirkan cara untuk balas dendam pada Bian. Pesta resepsi pernikahannya kemarin sempat kacau karena Bian yang mempermalukan tante dan sepupu Arga. Selain itu, di antara ketiga sahabat Arga, hanya Bian yang bersikap dingin padanya. "Kamu berani mengaku sebagai menantu

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 41 Cuma Gempa Ringan

    "Si Gian mana sih? Kok sampai sekarang belum nongol juga? Nggak penasaran apa kembarannya siuman apa kagak?" gerutu Danu."Percuma lo ngomel, mereka tuh punya telepati," komentar Arga. Ia baru saja tiba setelah sore tadi diberi kabar tentang kecelakaan Bian yang kedua kalinya."Emang dia ngasih lo kabar?" tanya Danu meneguk minumannya."Nggak," balas Arga menggeleng. "Tapi tadi gue telpon Adiba. Nanyain di mana Gian. Dia bilang suaminya lagi hibernasi sejenak karena udah hari dua malam nggak tidur."Danu tercengang. Sepertinya ia harus percaya kalau Bian dan Gian memang punya telepati. Satunya belum siuman dan satunya lagi ingin hibernasi. Entah siapa yang akan lebih dulu bangun."Bini lo nggak nyariin?" Danu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Arga kembali menggeleng. "Nggak."Danu mengernyit heran. "Emang dia beneran cuekin lo, Ga?" "Hem. Topengnya udah kebuka, jadi dia nggak perlu pura-pura manis dan manja lagi sama gue. Selagi dia bisa jaga sikap, anak gue lahir selamat dan s

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 40 Penelusuran Gian

    Setelah memeriksa cctv tempat saudara kembarnya kecelakaan, Gian akhirnya menemukan bukti kuat. Bisikan Bian sebelumnya terbukti benar. Yuna masih hidup dan terlihat panik menghindari Bian.Dari taksi online yang ditumpangi Yuna, Gian mendapatkan informasi lain. Titik tujuan Yuna dari riwayat pemesanannya adalah nama sebuah toko kelontong. "Oh, nona ini memang pernah ke sini, Pak. Saya ingat, soalnya dia sekali belanja langsung banyak, hampir sejuta. Dia tinggal di penginapan di ujung jalan," jelas sang pemilik toko. "Apa ibu ingat apa saja yang pernah dia beli?" tanya Gian memberi isyarat agar bisa merekam suara wanita itu.Pemilik toko lalu bertanya, "Bapak mau beli apa?" "Bedak tabur bayi, selotip bening yang besar, sama gunting. Kalau sarung tangan ada, Bu?" tanya Gian."Tidak ada, Pak. Yang ada cuma sarung tangan plastik, kalau lagi buat kue," tawarnya."Ya, itu saja," pinta Gian mengangguk setuju lalu membayar belanjaannya.Setelah mendapatkan informasi yang sedikit ganjil, G

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 6 Diblokir

    Kemarin Bian bisa lega sejenak. Sahabatnya menghubunginya bukan untuk membahas Yuna. Arga justru menggodanya karena belakangan ini adiknya tampak bahagia. Bian justru dilanda dilema berat. Permintaan aneh Yuna perlahan membuatnya migrain.Keresahannya itu tak luput dari mata kedua orang tuanya. And

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 5 Nikahi Aku Sehari Saja

    Tiga hari berlalu dan mereka kembali menyambut hari Senin. Bian kembali dengan kesibukannya di kantor, mendapat pesan ajakan makan siang dari Yuna. Isi pesannya ada hal penting yang harus mereka bahas berdua saja.Meja di ruangan luas itu tampak penuh dengan banyak orang yang sedang mengisi perut.

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 4 Bahagia dan Kecewa

    Keesokan harinya, pagi Bian disambut dengan satu pesan dari Yuna. Gadis itu mengabari jika selama tiga hari ia akan berlibur ke tempat neneknya. Mungkin akan sulit menghubunginya karena kondisi jaringan seluler di sana kurang baik.Senyum Bian seketika merekah. Itu artinya selama tiga hari kedepan,

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Bab 2 Cukup Enam Bulan

    "Pa, sampai kapan aku harus pura-pura bahagia jadi pacarnya Yuna? Papa tahu? Kepalaku selalu mau meledak menghadapi sifat manjanya itu," keluh Bian menyandarkan tubuh lelahnya di sofa.Ponselnya serasa diteror oleh gadis itu. Dua pesan terakhir pagi tadi enggan dibalas Bian. Baginya, pertanyaan Yun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status