LOGINYuna mengulas senyum kala keluar dari mobilnya. Dengan menenteng sebuah paper bag berisi kue kesukaan Bian, Yuna menghampiri ART keluarga Kawiraginandra.
"Selamat sore, Bibi. Apa Tante Amba ada di dalam?" tanya Yuna.
"Selamat sore juga, Nona. Makin cantik saja," puji wanita yang sedang menyiram bunga itu. "Nyonya ada di dalam, lagi buat puding."
"Oh iya Bi, ini coklat buat keponakan Bibi. Kemarin aku janji sama dia. Aku titip ya, soalnya aku nggak bisa lama-lama," ucap Yuna mengulurkan sebungkus coklat dari dalam tas selempangnya.
"Terima kasih ya, Nona. Tiap kali ke sini, pasti ada saja yang Nona kasih buat keponakan saya," ujar wanita itu terharu. Ia sangat berharap gadis itu yang kelak menjadi nyonya mudanya.
"Sama-sama, Bi. Yuna masuk dulu, ya," pamitnya.
Yuna meneguhkan hati lalu mengayuh langkah menghampiri ibu dari pacarnya. Amba sedang menuang adonan pudingnya ketika Yuna masuk ke dapur.
“Hai, Sayang. Tumben nggak telpon dulu, tante kayak lagi dikasih surprise, deh,” ujar Amba.
“Tante tahu aja, Yuna mau kasih kejutan,” ungkapnya tersipu sembari meletakkan paper bag di atas meja.
Amba mengakhiri kesibukannya di dapur. Kala hendak beranjak ke ruang tengah, Yuna menahan tangannya.
“Tante, ada yang mau Yuna sampaikan. Yuna tahu Tante akan terkejut, tapi pilihan ini sudah tepat,” ungkap Yuna meremas jemarinya gugup.
Amba mengangguk lalu bertanya, “Mau bilang apa, Sayang?”
“Sepertinya … Yuna tidak bisa jadi ….” Yuna menelan saliva dengan jantung bertalu kencang.
Harapannya selama ini harus ia relakan. Tangis Yuna pecah di pelukan wanita yang ia kira kelak akan menjadi ibu mertuanya. Lebih dari itu, ia resah memikirkan nasib anak-anaknya kelak dengan keputusannya ini.
***
Melihat putra sulungnya dengan lahap mengunyah kue kesukaannya, Amba menghampiri dan duduk di sampingnya. "Tadi Yuna ke sini. Dia yang bawakan kue itu buat kamu.”
Kunyahan di mulut Bian terhenti. Keningnya berkerut dalam pertanda laki-laki itu tidak tahu rencana kedatangan pacarnya. Bian heran, biasanya Yuna akan mengabarinya jika gadis itu akan berkunjung ke rumahnya.
"Tumben, dia nggak bilang sama aku kalau mau ke sini? Biasanya dia laporan, sampai mau pakai baju mana, juga tanya sama aku. Cocoknya yang warna biru atau kuning atau pakai aksesoris apa yang cocok sama dresnya? Aku kadang kasihan sama ponselku. Nggak bisa istirahat gara-gara Yuna berisik," ungkap Bian santai seolah tanpa beban.
Amba mengernyit lalu menatap heran putra sulungnya. "Kamu kenapa seperti itu, Nak? Setengah tahun pacaran sama Yuna, memangnya kamu masih belum bisa menerima sifat manjanya?"
Bian memutar bola matanya jengah. "Ma, kalau boleh jujur, Bian tuh capek jadi pacarnya Yuna. Dia itu bukan tipeku, Ma. Sedari awal Bian sudah bilang, jangan berharap lebih dengan hubungan kami. Rencana perjodohan ini tuh nggak bakal berhasil, Ma."
"Gadis yang kamu sukai kayak siapa?" tanya Amba sambil menggonta-ganti chanel televisi.
"Standar kayak adik iparku. Kalau bisa, dia juga pintar bergaul, mandiri dan aku mau yang seksi. Pacarku yang sekarang itu bocah, Ma. Dia itu nggak dewasa sama sekali, tapi kekanakan. Bukannya punya kekasih, teman-temanku bilang aku ke sana kemari bawa adik perempuan," papar Bian bangga dengan kriterianya.
"Seksi? Maksudnya yang pamer-pamer lekuk tubuhnya?" tanya sang mama.
Bian menelan lebih dulu kemudian menjawab, "Bukan juga. Maksud Bian tuh lebih kepada pesona seorang wanita, Ma."
"Mama cuma mau mengingatkan kamu, jangan sampai kamu menyia-nyiakan hati yang tulus. Contohnya gadis seperti Yuna. Kalau itu sampai terjadi, jangan harap mama mau bantuin kamu," ujar Amba melirik sinis sebagai tanda peringatan tegasnya.
Bian mengulum senyum lalu berkata, "Justru aku berharap waktu cepat bergulir, Ma. Supaya Bian bisa cepat-cepat mengakhiri hubungan dengan Yuna saat tepat hubungan kami cukup enam bulan."
"Dan mungkin kamu akan terkejut nantinya. Yuna mengatakan sesuatu sama mama, tadinya mama mau bilang sama kamu. Tapi, melihat reaksi kamu barusan, lebih baik mama diam dan menunggu saat yang tepat. Ya, seperti yang kamu bilang barusan," ujar wanita itu kecewa.
Bian yang melihat wajah kesal mamanya mengernyit. Apa salahnya yang hanya merasa sedang curhat? Sebelum wanita berambut pendek itu masuk ke dalam kamar, ia berbalik menatap putranya sendu.
"Ada apa, Ma? Kok Mama kayak mau nangis?" Bian semakin bingung.
"Hari ini mama menyadari kalau harapan mama pupus. Sepertinya Yuna benar-benar tidak bisa menjadi menantu mama," ungkapnya tanpa peduli apa yang hendak putranya katakan.
Bian terdiam menatap pintu jati itu. Tidak seperti ini yang ada dalam ekspektasinya. Reaksi papa dan mamanya memang sama-sama kecewa, tapi tanggapan mereka berbeda.
"Ini yang nggak gue suka dari wanita, bikin serba salah," batin Bian yang dengan santai kembali mengambil potongan kue di piring. Tanpa sadar kue itu habis seiring tayangan komedi yang ditontonnya.
Begitu tayangan berganti, Bian menelan saliva karena tayangan iklan yang menampilkan masakan khas Jepang. Entah kenapa ia mendadak ingin makan susyi. Bian begidik membayangkan dirinya makan makanan mentah kesukaan Yuna.
Bian mencoba mengenyahkan pikirannya. Namun, ia justru tersiksa sendiri. Biasanya Yuna akan membawa makan siang ke kantornya. Di antara menu yang biasa dibuat Yuna adalah susyi ala Yuna. Bisa disebut demikian, karena gadis itu memodifikasi menu dengan menggunakan bahan matang. Yang penting bentukannya mirip seperti susyi agar ia bisa memakannya.
“Arggh! Kenapa jadi lapar lagi?” batin Bian menggerutu.
Dengan malas Bian keluar kamar dan membuat mie rebus. Pukul dua dini hari ia merasa keroncongan. Tak berselang lama, semangkuk sajian instan itu sudah ludes. Saat ia hendak mencuci mangkok bekas makannya, ia melihat kotak kue yang dimakannya tadi.
“Bagaimana caranya memutuskan pacar tanpa menyakiti hatinya?” gumam Bian mengusap perutnya.
Bukannya beranjak dari dapur, Bian justru duduk anteng dan mulai berselancar di internet untuk mendapatkan referensi. Tanpa Bian sadari jika ada sepasang mata yang menyipit menatapnya heran bergantian dengan jam dinding.
"Dia mau sahur atau lagi kesurupan? Sejak kapan Bian mau makan mie instan? Akhir-akhir ini selera makannya aneh sekali," gumamnya menggeleng lalu kembali ke kamar.
***
"Si Gian mana sih? Kok sampai sekarang belum nongol juga? Nggak penasaran apa kembarannya siuman apa kagak?" gerutu Danu."Percuma lo ngomel, mereka tuh punya telepati," komentar Arga. Ia baru saja tiba setelah sore tadi diberi kabar tentang kecelakaan Bian yang kedua kalinya."Emang dia ngasih lo kabar?" tanya Danu meneguk minumannya."Nggak," balas Arga menggeleng. "Tapi tadi gue telpon Adiba. Nanyain di mana Gian. Dia bilang suaminya lagi hibernasi sejenak karena udah hari dua malam nggak tidur."Danu tercengang. Sepertinya ia harus percaya kalau Bian dan Gian memang punya telepati. Satunya belum siuman dan satunya lagi ingin hibernasi. Entah siapa yang akan lebih dulu bangun."Bini lo nggak nyariin?" Danu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Arga kembali menggeleng. "Nggak."Danu mengernyit heran. "Emang dia beneran cuekin lo, Ga?" "Hem. Topengnya udah kebuka, jadi dia nggak perlu pura-pura manis dan manja lagi sama gue. Selagi dia bisa jaga sikap, anak gue lahir selamat dan s
Setelah memeriksa cctv tempat saudara kembarnya kecelakaan, Gian akhirnya menemukan bukti kuat. Bisikan Bian sebelumnya terbukti benar. Yuna masih hidup dan terlihat panik menghindari Bian.Dari taksi online yang ditumpangi Yuna, Gian mendapatkan informasi lain. Titik tujuan Yuna dari riwayat pemesanannya adalah nama sebuah toko kelontong. "Oh, nona ini memang pernah ke sini, Pak. Saya ingat, soalnya dia sekali belanja langsung banyak, hampir sejuta. Dia tinggal di penginapan di ujung jalan," jelas sang pemilik toko. "Apa ibu ingat apa saja yang pernah dia beli?" tanya Gian memberi isyarat agar bisa merekam suara wanita itu.Pemilik toko lalu bertanya, "Bapak mau beli apa?" "Bedak tabur bayi, selotip bening yang besar, sama gunting. Kalau sarung tangan ada, Bu?" tanya Gian."Tidak ada, Pak. Yang ada cuma sarung tangan plastik, kalau lagi buat kue," tawarnya."Ya, itu saja," pinta Gian mengangguk setuju lalu membayar belanjaannya.Setelah mendapatkan informasi yang sedikit ganjil, G
Andra mengerjap dan mendapati sang istri duduk bersandar di ranjang. Punggung tangan kirinya maupun tangan kiri Amba sama-sama terpasang jarum infus. Sinar matahari sudah menyelinap masuk lewat celah tirai yang tidak tertutup rapat. Kicau burung sudah tidak terdengar. Pandangan Andra beralih ke atas pintu di mana benda bulat dengan tiga jarumnya yang masih aktif berputar. "Sudah siang?" gumam Andra tersentak menyadari sudah pukul 10:05 WIB. Sekelebat kabar yang didengarnya semalam, kini kembali muncul bagai rol film yang diputar. Kepalanya dan dadanya kembali berdenyut sakit. Baru berselang beberapa hari ia mendengar kabar kecelakaan Bian. Semalam, ia kembali mendengar kabar kecelakaan Gian. BMW sport hitam dengan nomor polisi D 61 AN adalah hadiah dari Bian untuk Gian. "Ini benar takdir atau disengaja? Jika disengaja, siapa sebenarnya yang ingin menghancurkan keluargaku? Pertama aku kehilangan calon menantuku, lalu Bian kecelaakaan. Sekarang Gian juga kecelakaan. Apa aku minta A
Sinar matahari perhalan mengintip lewat celah tirai. Yuna mengerjap dan melihat sekeliling kamarnya. Ia masih ingat jika ruangan itu adalah kamarnya setelah berhasil ia rombak ulang dengan perabot serba putih. Duduk bersandar di tempat tidurnya, Yuna memegangi dadanya. Ada sesak yang tersisa walau tak sesakit semalam. "Ternyata kamu sudah bangun." Suara itu mengejutkan Yuna. Maira berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangannya. Ada segelas susu dan seporsi roti bakar. Aroma mentega yang meleleh masih segar tercium. "Aku udah baikan, Mbak." "Iya, tahu. Kamu yang pingsan, tapi dia yang tidurnya lebih lama." "Maksud, Mbak Maira?" "Kayaknya Devi benar-benar stres dan kecapean. Udah dua kali aku tengokin, tapi dia masih tidur. Kasihan dia. Tangan sama kakinya juga luka-luka. Nggak tahu seberat apa hidupnya sendirian di kota ini, tanpa teman dan tanpa keluarga. Sekarang mbak benar-benar ngerti, kenapa Dul bersikeras larang mbak pergi sendirian tanpa ada teman," ungkap Maira mena
Dert .... Dert ...."Halo, Bang. Gue lagi nggak fokus, sodara kembar gue kecelakaan," ucap Gian menjawab panggilan seniornya."Dengar dulu!" tegas suara dari seberang saluran."Okey! Lo mau ngomong apa?!""Target mereka, lo Gian." Gian terhenyak. "A-apa maksudnya?""Saya sudah coba cek ke mana pelakunya kabur. Truk itu sudah parkir sejak kemarin di dekat rumah sakit dan bergerak saat mobil kamu keluar. Setelah menabrak mobil kamu, supirnya langsung kabur. Dia dijemput sepeda motor sama rekannya. Cirinya sama dengan ciri penyelundup yang kabur itu," pungkas rekan polisi Gian."Sial! Rahasian dulu! Nyokap bokap gue bisa kena serangan jantung kalau tahu gue juga diincer malaikat maut!" pinta Gian mengakhiri panggilan telponnya sepihak.Dert .... Dert ...."Apalagi?! Gue lagi nggak bisa fokus! Bian butuh gue!" geram Gian mengepalkan tangannya.Di sampingnya Danu sesekal
Bian hanya mengangguk setelah dokter menjelaskan kondisinya. Pria paruh baya itu akhirnya keluar dari kamar rawat inapnya. Diikuti perawat yang baru saja mengganti botol infusnya. "Apa direksi mempertanyakan alasanku menolak tawaran kerja sama itu?" tanya Bian sambil menggulir layar tabletnya. Sesekali ia mengecek ponselnya karena sedang menunggu kabar dari seseorang. "Tidak, Pak. Pak Presdir langsung menyinggung topik itu saat rapat dimulai," sahut Agung yang saat ini masih lembur di kantor. Sejujurnya, Agung tersentak dengan sebutan 'aku' yang diucapkan atasannya. "Bagaimana dengan Arga? Apa dia keberatan dengan keputusan itu?" Bian mengambil keputusan penting tanpa membahasnya lebih dulu dengan Arga. Meski merasa tak enak hati, tapi Bian yakin jika keputusannya tidak akan merugikan Arga sedikitpun. "Hari ini Pak Arga tidak ikut rapat, Pak. Tuan Diratama yang menghadiri rapat pagi tadi." "Apa setelah rapat, papa dan Om Tama bicara secara pribadi?" Tampak Agung mengangguk la
Kemarin Bian bisa lega sejenak. Sahabatnya menghubunginya bukan untuk membahas Yuna. Arga justru menggodanya karena belakangan ini adiknya tampak bahagia. Bian justru dilanda dilema berat. Permintaan aneh Yuna perlahan membuatnya migrain.Keresahannya itu tak luput dari mata kedua orang tuanya. And
Keesokan harinya, pagi Bian disambut dengan satu pesan dari Yuna. Gadis itu mengabari jika selama tiga hari ia akan berlibur ke tempat neneknya. Mungkin akan sulit menghubunginya karena kondisi jaringan seluler di sana kurang baik.Senyum Bian seketika merekah. Itu artinya selama tiga hari kedepan,
"Pa, sampai kapan aku harus pura-pura bahagia jadi pacarnya Yuna? Papa tahu? Kepalaku selalu mau meledak menghadapi sifat manjanya itu," keluh Bian menyandarkan tubuh lelahnya di sofa.Ponselnya serasa diteror oleh gadis itu. Dua pesan terakhir pagi tadi enggan dibalas Bian. Baginya, pertanyaan Yun
Tiga hari berlalu dan mereka kembali menyambut hari Senin. Bian kembali dengan kesibukannya di kantor, mendapat pesan ajakan makan siang dari Yuna. Isi pesannya ada hal penting yang harus mereka bahas berdua saja.Meja di ruangan luas itu tampak penuh dengan banyak orang yang sedang mengisi perut.







