Beranda / Rumah Tangga / Nikahi Mamaku, Om! / Om Datang untuk Makan Malam?

Share

Om Datang untuk Makan Malam?

Penulis: Jamilah
last update Tanggal publikasi: 2024-01-30 19:20:55

"Om Arshaka datang kesini untuk makan malam?"

Namun sebelum itu terjawab, Wilona sudah menarik lengan sang anak lebih dulu. “Mendekat ke mama, Arjuna.”

Arjuna langsung menurut. Sementara di hadapan mereka, Arshaka menatap dengan mata ragu, seolah tengah mengingat siapa anak yang menyapanya dengan akrab barusan.

Saat pria itu masih mencoba menebak, Wilona sudah lebih dulu menyela. Ia bertanya, “Di mana kamu bertemu dengan pria ini, Arjuna?”

“Maksud Mama Om Arshaka?” Arjuna menoleh. Melihat sang ibu mengangguk, anak kecil itu melanjutkan, “Mama ingat om-om yang sedih hari itu di taman? Yang aku tolong itu~”

Sang ibu tampak berpikir. 

Arjuna kemudian melanjutkan, “Itu Om Arshaka, Ma. Dan Mama bilang aku boleh mengundangnya makan malam. Tapi aku tidak tahu kalau Om datang sekarang.”

Mengingat hal tersebut, Wilona membeku. Ia ingat anaknya menceritakan tentang lelaki yang menangis di taman beberapa waktu lalu dan benar Wilona mengatakan untuk mengundang pria itu ke rumah.

Namun … ternyata itu adalah si rentenir!? Apakah masuk akal?

Sepertinya bukan hanya Wilona saja yang ingat, sebab di detik berikutnya Arshaka juga terlihat menganga dengan alis terangkat. 

“Ah,” gumam pria itu. “Kau bocah waktu itu.”

Dahi Arjuna mengerut mendengarnya. “Namaku Arjuna, Om. Bukan bocah itu,” ucapnya sedikit cemberut.

Arshaka mengangguk. “Arjuna,” ucapnya. “Jadi, dia mamamu?”

“Em! Ini mamaku yang Om bilang masakannya sangat enak!” Arjuna tampak riang. “Om datang kesini untuk makan malam bersama kami, kan?”

Sesaat Arshaka tak langsung menjawab. Ia beralih menatap wanita yang terlihat mendelik seolah-olah berkata ‘jangan macam-macam’ padanya.

Arshaka tersenyum miring. Seakan menantang, pria itu tersenyum dan kembali menatap putra Wilona dan berkata, “Benar. Om datang ke sini untuk makan malam.”

Saat itu juga, bibir Wilona menganga.. 

“T-tunggu—”

“Yay! Om Arshaka akan makan malam di sini!” Tak menunggu persetujuan sang ibu, Arjuna langsung berlari masuk kegirangan.

Sementara masih di tempat yang sama, Arshaka mendekati Wilona. 

Pria itu berbisik, “Anggap saja aku sedang berbaik hati. Jadi masaklah yang enak dan aku akan mempertimbangkan potongan untuk bunga hutangmu.” Ia tersenyum, lalu bergegas menyusul bocah yang sudah lebih dulu masuk. “Hei, Bocah! Apa yang akan kita makan malam ini?”

Wilona terdiam menatap udara dengan linglung. Adakah kesialan yang lebih parah dari memberi makan rentenir yang hampir mengambil rumah mereka?

Hanya dalam waktu kurang dari satu hari, dunia berasa terbalik bagi Wilona.

Kemudian setelah perapian mulai padam, di sinilah mereka sekarang. Saling berhadapan di depan meja makan yang sudah penuh dengan beberapa hidangan.

“Mama malam ini masak banyak banget,” ucap Arjuna yang terlihat sangat ingin menyantap ayam goreng di depannya.

Wilona tersenyum dan mengangguk. “Cuci tanganmu lebih dulu.”

“Oke, Ma.” Arjuna turun dari kursi dan bergegas ke belakang untuk mencuci tangan.

Sedangkan di hadapan Arshaka, ekspresi Wilona mendadak berubah. Ia menatap tajam dan kesal.

“Aku memasak semua ini tidak gratis. Jadi pegang ucapanmu dan potong bunga utang pria keparat itu,” ujar wanita itu dengan tegas.

Alis Arshaka terangkat. Pandangannya mengedar pada hidangan yang terlihat sangat lezat. Barulah setelah beberapa saat ia beralih memandang Wilona seraya mengangguk. “Sudah kubilang akan aku pertimbangkan jika rasanya enak.”

“Ck!” Bola mata Wilona berputar, seolah-olah perkataan Arshaka tidak ada yang bisa dipegang.

Namun saat wanita itu baru mau membalas ucapan Arshaka, Arjuna sudah lebih dulu datang setelah selesai mencuci tangan.

“Sekarang boleh aku makan?” tanya anak itu dengan polos.

Lagi-lagi raut wajah judes Wilona seketika berubah. Ia menatap sang anak dengan lembut. 

“Makan, Sayang. Makan yang banyak, habiskan kalau bisa. Om Arshaka bisa mengalah. Iya, kan?” Ia sengaja menekan kata terakhir sembari mendelik ke arah Arshaka.

“Tidak boleh begitu, Ma.” Sayangnya Arjuna tak bisa diajak bekerja sama. “Kata Mama kita harus bersikap baik ke tamu. Mama lupa, ya?”

Mata Wilona melebar. “Mama pernah bilang begitu?” ucapnya mengelak.

Arjuna langsung mengiyakan, “Emm! Jadi, aku akan memberikan makanan yang banyak ke Om Arshaka.” Lalu ia mengambil ayam goreng dan meletakkan ke atas piring pria di depannya.

Sontak bibir Wilona menganga mendengar ucapan anaknya. Ia tidak percaya akan langsung diulti seperti ini.

Sementara di hadapan mereka, hidung Arshaka melebar, berusaha keras agar tidak tertawa. Melihat sikap kekanak-kanakkan Wilona cukup menyenangkan ternyata.

“Buat Om,” ucap Arjuna.

“Terima kasih, Bocah.” Arshaka menerima dengan senang ayam pemberian anak itu. Di detik berikutnya ia kembali menatap Wilona. Dengan senyum mengejek, ia berkata, “Kau tidak mau makan?”

Terlanjur kesal, Wilona enggan menjawab. Ia langsung mengambil nasi dan lauk tanpa peduli dengan perkataan pria di sana.

Tak lama setelah itu, mereka akhirnya mengawali makan malam dengan tenang.

Aroma sedap mengepul memenuhi udara. Potongan ayam berbalut kecap terlihat begitu menarik, mie goreng dengan irisan bawang di atasnya juga menggugah selera. Jangan lupakan padatnya isian sup begitu mereka mengaduknya.

Benar-benar membuat Arshaka menelan ludah, tak sabar ingin menyantap semua hidangan yang ada.

Dengan jakun yang sudah naik-turun, satu suapan pertama akhirnya masuk ke dalam mulut pria itu. Hanya butuh waktu satu detik untuk membuat bibirnya berhenti mengunyah seketika. “Wah! Apa ini?” Mata Arshaka terbelalak.

Dahi Wilona mengerut. Akan tetapi, sebenarnya di dalam hati ia sangat ingin mendengar komentar Arshaka tentang masakannya secara langsung.

“Wah, aku tidak percaya.” Masih dengan ekspresi tak percaya, Arshaka kembali berucap, “apa yang kamu masukkan ke dalam sup ini?”

Kalimat barusan berhasil membuat alis Wilona menyatu. Sedangkan di samping wanita itu, Arjuna langsung mengorek sup miliknya, mencari sesuatu.

“Ini enak sekali!” ucap Arshaka setelahnya, “sudah sangat lama lidahku tidak merasa terpuaskan seperti sekarang.”

Arjuna menoleh. “Apa itu berarti Om suka dengan masakan mamaku?”

Tanpa ragu Arshaka mengangguk. “Tentu saja. Om sangat menyukainya. Kamu sangat beruntung bisa makan seperti ini setiap hari, Bocah.”

“Hihi ….” Arjuna terkekeh kecil. “Aku juga menyukainya. Masakan mama adalah yang paling enak di dunia.”

“Em, em. Kamu benar.”

Mendengar percakapan putranya dan Arshaka, wajah Wilona mendadak terasa panas. Itu adalah respon terbaik yang pernah ia dengar tentang masakannya. Tanpa sadar, bibirnya melengkung ke atas. Tetapi di detik selanjutnya kembali ditarik turun, ia tidak boleh tersenyum.

“Ekhem.” Wilona sedikit salah tingkah. “Kalian makan saja, jangan banyak komentar.” Padahal dalam hati, wanita ini bersorak kegirangan.

Terlanjur disihir oleh rasa masakan Wilona, Arshaka langsung menurut, makan malam berakhir dengan tenang.

Ketika hampir semua hidangan hanya menyisakan piring kotor, bulan semakin menaiki langit.

“Ah, aku kenyang sekali malam ini,” ujar Arshaka seraya mengelus perutnya yang membuncit.

Wilona hanya menatap dengan wajah datar. Ia sedang sibuk membereskan sisa piring kotor, tapi pria itu justru bersantai sambil berpuas diri.

“Oh, benar.” Arshaka tiba-tiba teringat sesuatu. Tak lama ia kembali berkata, “Masakanmu aku approved! Jadi sesuai perjanjian, aku akan memotong bunga hutang kalian.”

Itu adalah kalimat yang Wilona tunggu-tunggu. Benar, ia harus memanfaatkan semua kesempatan.

“Berapa yang akan kamu potong?”

Arshaka terlihat berpikir sejenak. “Mmm … bagaimana kalau 20% dari sisa bunga setiap kali aku makan.”

“Hanya 20%?” Wilona mendelik tak terima.

“Loh, apa kamu tahu berapa sisa bunga hutang mantan suamimu? 20% itu banyak. Aku sudah sangat berbaik hati padamu.”

Sesaat Wilona terdiam menimbang. Namun setelah dipikir-pikir, 20% itu lumayan daripada tidak sama sekali.

Akhirnya dengan setengah hati ia mengangguk setuju. “Baiklah. Ingat untuk memotongnya setiap kali kamu makan.”

“Deal!”

Kemudian, kesepakatan besar kembali terjalin.

Arshaka berjalan ke arah pintu ditemani oleh Arjuna. Seperti sudah paham, bocah itu mendongak seraya melebarkan pintu.

“Kapan-kapan mampir untuk makan malam lagi, Om,” ucap Arjuna.

Anggukan diberikan. “Siap. Bilang ke mamamu untuk masak daging yang kayak waktu itu,” bisik Arshaka, takut Wilona mendengar.

Seperti teman, Arjuna langsung setuju. Ia juga mendekatkan bibir ke telinga Arshaka untuk berbisik, “Aku akan meminta mama memasak yang lebih enak lain kali.”

Puas dengan jawaban anak itu, Arshaka mengacungkan dua jempol. “Kalau begitu om pergi dulu.”

“Dadah, Om Arshaka. Hati-hati di jalan.”

Sementara di belakang pencucian, Wilona berkali-kali menghela. Entah karena gerabah kotor yang lebih banyak dari biasanya, atau karena bahan makanan di dalam kulkas kosong sudah habis hanya untuk satu kali makan.

Tetapi yang jelas, ia masih syok dengan kejadian tadi siang. Fakta bahwa mantan suaminya meninggalkan hutang yang sangat besar tidak bisa diterima begitu saja.

“Awas kalau aku ketemu dengan pria brengsek itu,” ucapnya seraya meremas spons dengan geram.

Lalu sekarang, ia juga harus berurusan dengan rentenir seperti Arshaka untuk melunasi hutang. Memasak untuk pria itu? Mau tidak mau harus dilakukan.

Yah, nasib kadang berlaku tidak adil.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nikahi Mamaku, Om!   Di Bawah Langit yang Sama

    Ciuman itu bertahan selama beberapa detik, menghanyutkan keduanya dalam kelegaan dan kehangatan yang luar biasa setelah badai panjang yang mereka lewati. Saat bibir mereka akhirnya terpisah, Wilona menyandarkan keningnya di dada Arshaka, mendengarkan deru napas suaminya yang perlahan mulai kembali normal. Senyum tipis masih terukir indah di bibir wanita itu, menghapus sepenuhnya sisa-sisa air mata yang sempat menetes di pipinya."Terima kasih, Arshaka," bisik Wilona lirih, jemarinya meremas pelan ujung kemeja linen putih yang dikenakan suaminya.Arshaka mengecup lembut puncak kepala Wilona sekali lagi sebelum menjawab dengan suara serak yang penuh kasih. "Jangan ucapkan terima kasih, Wilona. Ini adalah awal dari hidup kita yang sebenarnya. Mari kita kembali ke rumah, matahari sudah semakin tinggi, dan sepertinya ada seseorang yang mulai kelaparan."Mereka berdua menoleh serentak ke arah pantai bagian barat. Terlihat Arjuna sedang melambaikan tangan dengan penuh semangat sambil berteri

  • Nikahi Mamaku, Om!   Fajar yang Tenang

    "Kau hampir membuat jantungku berhenti, Wilona," desis Arshaka parau, dekapannya semakin mengerat seolah ingin menyatukan tubuh wanita itu ke dalam tulangnya sendiri. Napas hangat pria itu menggelitik kulit leher Wilona, menyalurkan sisa-sisa ketakutan luar biasa yang jarang sekali ditunjukkan oleh seorang penguasa bayangan sepertinya.Wilona tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kedua tangannya melingkar erat di pinggang Arshaka, merasuki debar jantung pria yang selama ini menjadi perisai hidupnya. Di kejauhan, suara sirene mobil polisi dan deru langkah kaki tim taktis Pras berangsur-angsur meredup, menyisakan keheningan malam dermaga yang perlahan-lahan digantikan oleh semburat cahaya keperakan di cakrawala timur.***Chapter 47: Fajar yang TenangMatahari terbit perlahan dari balik garis horizon, menyinari beranda rumah baru Arshaka yang terletak jauh terpencil dari hiruk-pikuk kota besar. Semburat jingga dan keemasan membelai lembut d

  • Nikahi Mamaku, Om!   Malam Pembersihan

    "Namun, bayang-bayang itu belum sepenuhnya lenyap, Nyonya," bisik Pras tiba-tiba, memecah keheningan di antara riuhnya sorotan kamera wartawan sebelum Arshaka sempat membalas senyuman Wilona. Pras melangkah cepat mendekati Arshaka dengan wajah tegang, menyodorkan sebuah tablet digital berlayar terang yang menampilkan peta satelit kawasan pelabuhan tua di ujung kota. "Tim intelijen kita baru saja melacak pergerakan sisa anak buah Rico. Mereka berkumpul di pelabuhan lama, bersiap melarikan diri lewat jalur laut malam ini juga."Arshaka menatap layar tablet itu sekilas. Sorot mata gelapnya yang tadinya melembut langsung berubah tajam, memancarkan aura dingin yang mematikan. "Berapa banyak dari mereka yang tersisa?" tanyanya dengan suara bariton yang berat."Sekitar belasan orang, Bos. Mereka membawa senjata api laras panjang dan menyandera beberapa pekerja malam di sana sebagai tameng," jawab Pras cepat, jemarinya mengetuk beberapa titik merah pada peta. "Jika kita tidak bergerak sekara

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jerat Hukum Adiwangsa

    Decakan sepatu lars berat yang menghantam lantai marmer galeri tiba-tiba memecah keheningan yang mencekam. Sebelum Eleanor sempat melangkah maju untuk merampas ponsel dari meja, suara sirene mobil polisi berderet menderu memecah malam di luar gedung, menggema keras menembus dinding kaca tebal."Apa-apaan ini?!" teriak Eleanor histeris, wajah elegannya yang biasa penuh wibawa kini berubah pucat pasi saat melihat bayangan lampu sorot biru-merah berputar-putar menyoroti jendela galeri dari luar. "Bianca! Apa yang sudah kau perbuat?!""Bukan aku, Nyonya! Sumpah, aku tidak tahu apa-apa!" ratap Bianca dengan suara bergetar hebat, kakinya melemah hingga ia terduduk di lantai berbalut gaun merah mewahnya, menatap ngeri pada layar ponsel Wilona yang masih menampilkan surat perintah penangkapan sah berlogo Garuda emas.Pintu kaca utama galeri tiba-tiba didobrak dari luar. Sekelompok aparat kepolisian berseragam lengkap, dipimpin langsung oleh seorang perwira tinggi berwajah tegas, melangkah mas

  • Nikahi Mamaku, Om!   Pertemuan Tiga Wanita

    "Saya akan pastikan seluruh tim humas dan operasional bergerak dalam waktu kurang dari satu jam, Tuan," imbuh Pras dengan nada tegas, menutup tablet digital di tangannya sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja rahasia tersebut tanpa suara.Pintu kayu jati itu menutup rapat kembali, menyisakan keheningan sesaat di dalam ruangan yang dipenuhi aroma kayu tua dan ketegangan udara malam. Wilona berdiri tegak di samping meja kerja, mengenakan gaun formal elegan berwarna navy yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Kepalanya terangkat tegak, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh percaya diri baru—sebuah transformasi total dari seorang wanita yang sebelumnya hanya bisa pasrah menjadi korban teror.Ponsel di dalam tas tangan Wilona tiba-tiba bergetar pelan, memecah keheningan di antara dirinya dan Arshaka. Wanita itu merogoh saku tasnya, menarik keluar layar datar yang menyala terang menampilkan sebuah pesan teks singkat dari nomor tak dikenal. *‘Jika kau masih peduli

  • Nikahi Mamaku, Om!   Langkah Balasan Pras

    Pelukan hangat itu meredakan badai gemetar yang sempat melanda tubuh Wilona, namun keheningan di ruang kerja rahasia tersebut tidak berlangsung lama sebelum derap langkah tegas memecah keheningan dari arah luar pintu."Tuan Arshaka," suara berat Pras terdengar dari balik pintu kayu jati tebal, memanggil dengan nada penuh urgensi yang tidak biasa. "Saya membawa hasil ekstraksi data terakhir dari server yang berhasil kita amankan pasca-penyergapan di gedung pesta malam itu."Arshaka perlahan melonggarkan dekapannya, mengecup sekilas puncak kepala Wilona sebelum menegakkan tubuhnya. Pria itu merapikan kerah kemejanya dengan gerakan cepat, sorot matanya yang tadinya dipenuhi kelembutan kini kembali berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh perhitungan kalkulatif. "Masuk, Pras," perintah Arshaka dengan suara berat yang kembali berwibawa.Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Pras yang selalu tampil rapi dalam setelan jas tanpa kerut. Pria berkacamata tipis itu melangkah masuk dengan memba

  • Nikahi Mamaku, Om!   Sarapan yang Berisik

    Matahari yang semakin tinggi di luar mengembalikan kesadaran Wilona secara perlahan. Cahaya terang yang menyelinap di balik tirai membuat mata wanita itu mengerjap.Silau dan hangat. Itulah kesan sesaat yang ia rasakan. Sebelum bagian kosong di samping akhirnya menyadarkannya.“Arjuna!” Wilona meme

  • Nikahi Mamaku, Om!   Pindah ke Rumah Rentenir

    “Kamu yakin cuma ini?”Satu tas berukuran tidak terlalu besar yang Wilona bawa setelah mengemasi barang-barang, membuat dahi Arshaka mengerut. Untuk orang yang akan pindahan, bukankah bawaannya terlalu sedikit?“Aku sudah membawa semua yang kami butuhkan,” ucap Wilona, “kenapa? Kamu berharap aku ju

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jangan Sentuh Apapun

    Jika ada yang lebih cepat dari kedipan mata, itu adalah waktu yang dilalui oleh Wilona. Rasanya baru kemarin mereka menjadi tawanan di rumah rentenir itu, sekarang sudah satu minggu berlalu sejak saat itu.Selain pekerjaannya yang berbeda, kehidupan mereka juga banyak berubah. Salah satunya, ia har

  • Nikahi Mamaku, Om!   Terjerat Utang Mantan Suami

    "Tunggu! Kalian pikir apa yang kalian lakukan di rumahku?" pekik Wilona sembari berusaha menghalang-halangi empat pria yang terus sibuk mengambil barang-barang di rumahnya."Kami hanya melakukan pekerjaan. Jadi tolong menyingkirlah sebelum Anda terluka.""Tidak!" Wilona masih berusaha menghalangi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status