Home / Rumah Tangga / Nikahi Mamaku, Om! / Sihir Masakan Wilona

Share

Sihir Masakan Wilona

Author: Jamilah
last update publish date: 2024-01-31 20:50:56

Sudah empat hari berlalu sejak malam itu, dan Arshaka masih belum mampir ke tempat Wilona lagi untuk makan malam.

“Bukannya aku berharap lintah itu datang. Hanya saja, bukankah akan lebih baik jika dia sering makan dan memotong sisa bunganya?” keluh Wilona di tengah waktu senggang menjaga rumah makan.

Beberapa hari ini pelanggan cukup sepi, padahal ia harus bekerja keras untuk melunasi hutang.

“Hah ….” Ia hanya bisa menghela. Lagipula tidak ada yang bisa dilakukan sekarang.

Ketika Wilona masih sibuk menghitung sisa hutang dan cara melunasinya, seseorang terlihat datang untuk makan.

Suara langkah kaki yang berjalan mendekati pintu masuk membuat mata Wilona melebar senang. Setelah hampir dua jam tak ada pelanggan, itu membuatnya sedikit lega.

Wanita itu segera bangkit dan bersiap menyapa. “Selamat datang. Ap—” Namun, nada semangat Wilona mendadak berubah jutek saat melihat yang masuk adalah Arshaka. “Mau apa ke sini?”

“Mau makan, lah. Memang ada layanan apalagi selain rumah makan di sini?” jawab Arshaka, sengaja sedikit menggoda.

Tak langsung menjawab, Wilona justru menuliskan sesuatu di atas kertas. Setelah selesai ia memasangnya di depan Arshaka. “Khusus hari ini harga makanan di sini naik dua kali lipat.”

Dahi Arshaka mengerut. “Bisa begitu?”

“Bisalah.” Wilona mengangguk. “Itu karena aku harus membayar hutang yang sangat besar pada rentenir tak berperasaan. Jadi kalau kamu tidak mau, silakan keluar dan makan di tempat lain.”

Bola mata wanita itu bergeser ke arah lain. Sebal sekali rasanya menghadapi pria seperti Arshaka. Meski tidak bisa dipungkiri jika ia sedikit mengharapkan pria itu memakan masakannya.

Sedangkan di hadapannya, Arshaka terlihat menimbang sebentar. Lalu tak lama mengangguk sambil berujar, “Oke. Tidak masalah. Aku akan bayar dua kali lipat.”

Wilona mengangguk-angguk tak peduli. “Kalau begitu silakan ke— eh?” Matanya membulat, ia tidak salah dengar, kan?

Namun Arshaka mengulang dan berkata, “Aku akan bayar dua kali lipat. Jadi cepat masak sesuatu untukku.”

Eh? Wilona mematung di tempat. Sepertinya memeras pria itu jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan. Atau justru ia yang sedang diperas?

Beberapa detik otak Wilona bekerja keras untuk menemukan maksud tersembunyi Arshaka. Rasanya mustahil lintah darat seperti pria itu akan langsung setuju tanpa bernegosiasi lebih dulu.

Mungkinkah ia sedang ditipu?

“Apa?” Arshaka mengernyit menatap Wilona yang memandang dengan mata menyipit. “Cepat buatkan aku makan.”

Meski masih dipenuhi curiga, Wilona akhirnya bergerak mundur secara perlahan menuju perapian. Ia mulai menyiapkan beberapa bahan, tapi … rasanya seperti ada yang terlewat.

Ah, benar. Bibir Wilona terbuka. “Jadi, apa yang ingin kamu makan?” tanyanya.

Tak hanya Wilona, Arshaka juga baru menyadarinya. Mungkin karena sudah yakin dengan rasa masakan wanita itu, ia jadi tidak masalah dengan apapun yang akan dimakan.

“Hmm … aku baik dengan apapun. Masak saja yang paling enak,” ucap Arshaka.

Jawaban tidak jelas seperti itu terdengar sedikit menyebalkan untuk Wilona. “Apa? Semuanya enak kalo aku yang masak.”

“Kalo gitu terserah, deh.”

“Ck!” Wilona mencebik. Namun tangannya langsung meraih spidol dan secarik kertas, lagi-lagi ia menuliskan sesuatu di atasnya. “Jadi, mau pesan terserah?”

“Pesan terserah harga jadi tiga kali lipat,” gumam Arshaka membaca tulisan yang Wilona sodorkan. Ludah ditelan dengan kasar. “Kamu licik juga ternyata.”

“Cepat! Jadi pesan tidak?”

Daripada memperpanjang urusan, pria ini akhirnya mengalah. Ia langsung melihat menu apa saja yang tersedia di sana. “Kalo gitu, aku pesan iga asam manis sama rendang,” ujarnya memesan dua makanan termahal.

“Minumnya?”

“Emm … lemon tea?”

“Oke, tunggu sebentar.”

Setelah memastikan pesanan Arshaka, Wilona kembali berbalik untuk menyiapkan bahan-bahan. Tidak semuanya dimasak sekarang, sebab untuk rendang hanya perlu dihangatkan sedikit.

Di saat ia tengah menyiapkan makanan, lonceng yang terpasang di atas pintu masuk tiba-tiba berbunyi. Seorang pelanggan datang.

“Selamat datang. Silakan duduk,” sapa Wilona dengan ramah.

Namun sesaat setelah masuk, ekspresi orang yang baru datang berubah. Dengan ragu bertanya, “Khusus hari ini harga naik dua kali lipat?”

Bibir Wilona menganga. Dengan sigap ia bergegas mengambil kertas yang tadi ditujukkan untuk Arshaka. “Tidak. Hari ini harga normal seperti biasa,” katanya, “silakan duduk dan tuliskan pesanan Anda.”

Lihatlah, wanita itu seperti bunglon yang bisa menyesuaikan warna sikapnya. Hidung Arshaka mengembang, ia hampir tertawa melihat betapa bagusnya akting Wilona.

Ya, walaupun normalnya ia akan kesal karena harganya dibedakan. Akan tetapi, agaknya tidak masalah, sihir di dalam makanan sepertinya memang benar-benar ada.

***

Setelah lidah dan perutnya merasa puas, Arshaka memutuskan untuk langsung pulang. Di sepanjang perjalanan, wajah senangnya tak bisa disembunyikan. Bahkan saat ia tiba di rumah, bunga-bunga seperti masih bermekaran mengelilinginya.

Pria itu berjalan masuk dengan tegap. Bibirnya tidak tersenyum, tapi dua sudutnya nampak tertarik ke atas.

"Makan malam sudah siap, Bos," sapa salah satu anak buahnya dengan apron yang masih dipakai.

Namun Arshaka menggeleng dan tersenyum. "Aku sudah makan. Kalian habiskan saja."

Sontak seluruh mata di sana terbelalak. Bukan kecewa karena bos sudah makan, tapi sangat terkejut karena pria yang biasanya dingin sekarang terdengar lebih lembut meski hanya nol koma sekian persen.

Masih terlena dengan makan malam yang sangat nikmat, Arshaka hanya berlalu tanpa peduli bagaimana reaksi dari para bawahannya.

"Bos terlihat lebih menyeramkan tersenyum seperti itu," bisik salah satu pria yang masih terpaku di ruang  makan.

Yang lain langsung mengangguk setuju. "Menurutmu ada yang salah dengan makanan yang dimakan bos?"

"Bisa jadi. Bos seharusnya tidak tersenyum seperti itu. Apa itu pertanda kalau hidup bos sudah tidak lama lagi?"

Plak! Kepala botak mendapatkan bonus pukulan atas apa yang dikatakan mulutnya.

"Sembarangan kamu! Bisa-bisa hidupmu yang tidak akan lama kalau bos dengar."

Pria tanpa rambut itu meringis, sayang sekali pukulan langsung mengenai kulit kepalanya tanpa ada yang bisa melindungi. Ia tak lagi menjawab, sepertinya benar, diam lebih baik.

Namun setelah dua atau tiga detik mereka diam, Pras yang baru datang setelah mengurus sesuatu di mobil ikut menyela. Dengan senyum haru ia berkata, “Bos kita sedang terkena sihir.”

“Ha?!” Bibir anak buah di sana menganga bersama.

Pras menoleh dan mengangguk. “Sihir cinta.”

Kepanikan sesaat berubah dengan raut wajah yang … entah, sulit dijelaskan. Sihir cinta? Rasanya rumor jika Ronaldo lahir di Citayam lebih bisa dipercaya.

Namun yang tidak mereka ketahui, sepertinya dugaan Pras ada benarnya.

Arshaka tersenyum semakin lebar setelah memasuki kamar. Ia merasa puas. Entah karena hutang bulan ini dibayar dengan lancar, atau sebab wanita yang bisa membuat perutnya merasa dipuaskan. Keduanya terasa sama saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahi Mamaku, Om!   Perasaan yang Tidak Disadari

    Ruang kerja Arshaka biasanya menjadi zona terlarang yang paling sulit dimasuki tanpa alasan genting. Namun pagi itu, Pras sudah hampir satu jam berdiri mematung di sana, memegang setumpuk map dengan wajah menahan lelah.Satu dokumen berpindah. Kemudian dokumen berikutnya.“Bos, ini laporan dari cabang timur. Mereka meminta persetujuan untuk pembukaan gudang baru,” ucap Pras profesional.Di balik meja kerjanya yang luas, Arshaka duduk bersandar. Matanya sama sekali tidak lepas dari layar tablet di tangannya. “Atur saja.”Pras mengangguk patuh. “Baik.” Ia mengambil dokumen berikutnya. “Lalu, ada permintaan dari Grup Sam mengenai pembaruan kontrak kerja sama—”“Atur saja.”Pras menghentikan gerakannya. Ia menatap bosnya dengan dahi berkerut. “Yang ini bernilai triliunan, Bos. Perlu Anda periksa sendiri.”Arshaka hanya mengangkat matanya sekilas, kelewat tak acuh. “Kuserahkan padamu.”Pras menarik napas panjang. “...Baik.”Ia membuka dokumen berikutnya. “Untuk tiga pengutang kelas kakap y

  • Nikahi Mamaku, Om!   Semangkuk Rasa Pedas

    Wilona menghentikan langkahnya tepat di ujung lorong. Ia menunduk menatap Arjuna yang masih menggenggam tangannya."Arjuna, Sayang. Kamu masuk ke kamar duluan, ya? Ganti baju. Mama ada urusan sebentar sama Om," bisik Wilona lembut, sengaja membuat suaranya senormal mungkin.Arjuna mengangguk patuh dan melenggang masuk ke kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, kelembutan di wajah Wilona seketika menguap. Ia memutar tubuhnya, melangkah cepat dengan tumit mengentak lantai, kembali menuju ruang tengah.Arshaka masih duduk di sana, bersandar santai di sofa dengan tablet di pangkuannya.Wilona berhenti tepat di hadapan pria itu, berkacak pinggang. "Bisa ulangi ucapanmu barusan?"Arshaka perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Wilona dengan tenang. "Kalau mau pergi, bilang."Dada Wilona naik-turun menahan emosi. "Sejak kapan aku butuh izin darimu jika ingin keluar rumah?"Sudut bibir Arshaka berkedut, membentuk senyum miring yang sangat menyebalkan. "Tahu posisimu, Wilona.""Posisiku?"

  • Nikahi Mamaku, Om!   Tahu Posisimu

    Wilona masih terpaku, menatap pria berkemeja rapi di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya.“Samuel?”Pria itu membalas dengan senyum lebar yang hangat. “Masih ingat rupanya?”Wilona terkekeh pelan, rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi kelegaan. “Bagaimana mungkin aku lupa?”Samuel adalah salah satu teman masa kuliahnya dulu. Mereka memang bukan sahabat karib yang tak terpisahkan, tetapi cukup sering menghabiskan waktu bersama di sela-sela jadwal kelas dan tugas kelompok.Mata Wilona memindai penampilan pria itu dari atas ke bawah. Rapi. Sangat khas. “Sedang apa kamu di sini?”“Aku sekarang mengajar di SD Pelita,” jawab Samuel bangga.Satu alis Wilona terangkat tinggi. “Sekolah Arjuna?”Samuel mengangguk mantap. “Iya.”“Serius?”“Serius.”Wilona tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa seorang guru malah berkeliaran santai di kafe saat jam sekolah masih berlangsung?”Samuel ikut tertawa, suara tawanya renyah dan menenangkan. “Aman. Jadwal mengajarku hari ini baru

  • Nikahi Mamaku, Om!   Ancaman Eleanor

    Suasana di ruang makan perlahan kembali tenang, menyisakan denting pelan peralatan makan yang beradu dengan porselen.Eleanor duduk tegak bak seorang ratu di singgasananya. Tangannya yang mulai dihiasi keriput masih bertumpu anggun pada gagang tongkat hitam di sisi kursinya. Wajah wanita tua itu tampak tenang, tetapi sepasang mata elangnya tidak pernah benar-benar beristirahat dari mengawasi sekitar.Di seberangnya, Arshaka menyantap sarapannya dengan kelewat santai, seolah percakapan tentang pertunangannya barusan hanyalah selingan diskusi cuaca pagi.Namun, Eleanor tidak bisa ditipu. Beberapa menit sebelumnya, tepat saat Wilona berbalik meninggalkan area dapur, mata cucunya itu sempat mengekor ke arah punggung si perempuan. Hanya sepersekian detik. Sangat samar. Tetapi Eleanor melihatnya. Tentu saja ia melihatnya. Tidak ada yang luput dari pandangan Nyonya Besar Gamala.Tok.Eleanor meletakkan garpunya perlahan. Arshaka mengangkat wajah. "Ada apa, Nenek?""Aku dengar kau sedang bers

  • Nikahi Mamaku, Om!   Eleanor Gamala

    Udara di dalam rumah besar itu mendadak terasa kaku.Begitu kabar kedatangan Nyonya Besar menyebar, aktivitas yang semula santai berubah menjadi kepanikan yang terorganisir. Para pelayan bergegas menyejajarkan diri di dekat pintu utama, menunduk dalam diam. Para pengawal yang berjaga di halaman pun serta-merta meluruskan postur mereka, berdiri tegap tanpa berani mengeluarkan suara sekecil apa pun.Sebuah sedan hitam mewah meluncur mulus dan berhenti tepat di depan tangga pualam.Seorang pengawal bergegas membukakan pintu. Dari dalam sana, seorang wanita tua turun perlahan. Rambutnya yang telah sepenuhnya memutih ditata dalam sanggul klasik yang tanpa cela. Pakaiannya tampak sederhana, namun dari potongan dan kainnya, siapa pun tahu harganya tidak masuk akal. Di tangan kanannya, sebuah tongkat kayu hitam bergagang emas berukir digenggam erat—simbol otoritas yang selalu menyertainya.Eleanor Gamala. Nyonya Besar klan Gamala.Sebuah nama yang cukup untuk membuat para petinggi bisnis menu

  • Nikahi Mamaku, Om!   Merebut Kembali Hati Arjuna

    Dini hari merengkuh rumah besar itu dalam keheningan.Hanya pendar kekuningan dari beberapa lampu dinding yang memecah gulita di sepanjang lorong panjang. Aktivitas para pelayan telah lama surut, menyisakan penjaga-penjaga berpakaian gelap yang berdiri tegak di pos masing-masing bak patung batu, berjaga tanpa suara.Kemudian, pintu utama berderit pelan saat didorong terbuka. Arshaka melangkah masuk.Jas hitam yang membalut tubuh jangkungnya masih tampak rapi, meski beberapa lipatan kecil mengkhianati hari yang panjang. Wajahnya sedatar pahatan es, seolah malam penuh ketegangan yang baru saja dilewatinya sama sekali tidak menguras tenaganya.Seorang pelayan paruh baya yang berjaga di dekat pintu segera menghampiri, menunduk hormat. "Selamat datang, Tuan."Arshaka hanya membalas dengan anggukan singkat. Pelayan itu sigap menerima jas yang dilepas Arshaka dengan kedua tangan. Setelah beban di bahunya terangkat, pria itu melonggarkan kancing kerah kemejanya dan menyesuaikan tali jam tanga

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jangan Sentuh Apapun

    Jika ada yang lebih cepat dari kedipan mata, itu adalah waktu yang dilalui oleh Wilona. Rasanya baru kemarin mereka menjadi tawanan di rumah rentenir itu, sekarang sudah satu minggu berlalu sejak saat itu.Selain pekerjaannya yang berbeda, kehidupan mereka juga banyak berubah. Salah satunya, ia har

  • Nikahi Mamaku, Om!   Sarapan yang Berisik

    Matahari yang semakin tinggi di luar mengembalikan kesadaran Wilona secara perlahan. Cahaya terang yang menyelinap di balik tirai membuat mata wanita itu mengerjap.Silau dan hangat. Itulah kesan sesaat yang ia rasakan. Sebelum bagian kosong di samping akhirnya menyadarkannya.“Arjuna!” Wilona meme

  • Nikahi Mamaku, Om!   Pindah ke Rumah Rentenir

    “Kamu yakin cuma ini?”Satu tas berukuran tidak terlalu besar yang Wilona bawa setelah mengemasi barang-barang, membuat dahi Arshaka mengerut. Untuk orang yang akan pindahan, bukankah bawaannya terlalu sedikit?“Aku sudah membawa semua yang kami butuhkan,” ucap Wilona, “kenapa? Kamu berharap aku ju

  • Nikahi Mamaku, Om!   Rumah Disita, Tawaran Tinggal Bersama

    Setelah semalaman bulan menggantung, kini giliran matahari yang perlahan naik ke peraduan. Kedua mata Arshaka mengerjap ketika mendengar alarm yang tak kunjung berhenti dari tadi. Tak perlu menoleh, ia segera meraih benda pipih di atas nakas dan melihat pukul berapa sekarang. Namun saat ia melihat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status