LOGINCiuman itu bertahan selama beberapa detik, menghanyutkan keduanya dalam kelegaan dan kehangatan yang luar biasa setelah badai panjang yang mereka lewati. Saat bibir mereka akhirnya terpisah, Wilona menyandarkan keningnya di dada Arshaka, mendengarkan deru napas suaminya yang perlahan mulai kembali normal. Senyum tipis masih terukir indah di bibir wanita itu, menghapus sepenuhnya sisa-sisa air mata yang sempat menetes di pipinya."Terima kasih, Arshaka," bisik Wilona lirih, jemarinya meremas pelan ujung kemeja linen putih yang dikenakan suaminya.Arshaka mengecup lembut puncak kepala Wilona sekali lagi sebelum menjawab dengan suara serak yang penuh kasih. "Jangan ucapkan terima kasih, Wilona. Ini adalah awal dari hidup kita yang sebenarnya. Mari kita kembali ke rumah, matahari sudah semakin tinggi, dan sepertinya ada seseorang yang mulai kelaparan."Mereka berdua menoleh serentak ke arah pantai bagian barat. Terlihat Arjuna sedang melambaikan tangan dengan penuh semangat sambil berteri
"Kau hampir membuat jantungku berhenti, Wilona," desis Arshaka parau, dekapannya semakin mengerat seolah ingin menyatukan tubuh wanita itu ke dalam tulangnya sendiri. Napas hangat pria itu menggelitik kulit leher Wilona, menyalurkan sisa-sisa ketakutan luar biasa yang jarang sekali ditunjukkan oleh seorang penguasa bayangan sepertinya.Wilona tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kedua tangannya melingkar erat di pinggang Arshaka, merasuki debar jantung pria yang selama ini menjadi perisai hidupnya. Di kejauhan, suara sirene mobil polisi dan deru langkah kaki tim taktis Pras berangsur-angsur meredup, menyisakan keheningan malam dermaga yang perlahan-lahan digantikan oleh semburat cahaya keperakan di cakrawala timur.***Chapter 47: Fajar yang TenangMatahari terbit perlahan dari balik garis horizon, menyinari beranda rumah baru Arshaka yang terletak jauh terpencil dari hiruk-pikuk kota besar. Semburat jingga dan keemasan membelai lembut d
"Namun, bayang-bayang itu belum sepenuhnya lenyap, Nyonya," bisik Pras tiba-tiba, memecah keheningan di antara riuhnya sorotan kamera wartawan sebelum Arshaka sempat membalas senyuman Wilona. Pras melangkah cepat mendekati Arshaka dengan wajah tegang, menyodorkan sebuah tablet digital berlayar terang yang menampilkan peta satelit kawasan pelabuhan tua di ujung kota. "Tim intelijen kita baru saja melacak pergerakan sisa anak buah Rico. Mereka berkumpul di pelabuhan lama, bersiap melarikan diri lewat jalur laut malam ini juga."Arshaka menatap layar tablet itu sekilas. Sorot mata gelapnya yang tadinya melembut langsung berubah tajam, memancarkan aura dingin yang mematikan. "Berapa banyak dari mereka yang tersisa?" tanyanya dengan suara bariton yang berat."Sekitar belasan orang, Bos. Mereka membawa senjata api laras panjang dan menyandera beberapa pekerja malam di sana sebagai tameng," jawab Pras cepat, jemarinya mengetuk beberapa titik merah pada peta. "Jika kita tidak bergerak sekara
Decakan sepatu lars berat yang menghantam lantai marmer galeri tiba-tiba memecah keheningan yang mencekam. Sebelum Eleanor sempat melangkah maju untuk merampas ponsel dari meja, suara sirene mobil polisi berderet menderu memecah malam di luar gedung, menggema keras menembus dinding kaca tebal."Apa-apaan ini?!" teriak Eleanor histeris, wajah elegannya yang biasa penuh wibawa kini berubah pucat pasi saat melihat bayangan lampu sorot biru-merah berputar-putar menyoroti jendela galeri dari luar. "Bianca! Apa yang sudah kau perbuat?!""Bukan aku, Nyonya! Sumpah, aku tidak tahu apa-apa!" ratap Bianca dengan suara bergetar hebat, kakinya melemah hingga ia terduduk di lantai berbalut gaun merah mewahnya, menatap ngeri pada layar ponsel Wilona yang masih menampilkan surat perintah penangkapan sah berlogo Garuda emas.Pintu kaca utama galeri tiba-tiba didobrak dari luar. Sekelompok aparat kepolisian berseragam lengkap, dipimpin langsung oleh seorang perwira tinggi berwajah tegas, melangkah mas
"Saya akan pastikan seluruh tim humas dan operasional bergerak dalam waktu kurang dari satu jam, Tuan," imbuh Pras dengan nada tegas, menutup tablet digital di tangannya sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja rahasia tersebut tanpa suara.Pintu kayu jati itu menutup rapat kembali, menyisakan keheningan sesaat di dalam ruangan yang dipenuhi aroma kayu tua dan ketegangan udara malam. Wilona berdiri tegak di samping meja kerja, mengenakan gaun formal elegan berwarna navy yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Kepalanya terangkat tegak, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh percaya diri baru—sebuah transformasi total dari seorang wanita yang sebelumnya hanya bisa pasrah menjadi korban teror.Ponsel di dalam tas tangan Wilona tiba-tiba bergetar pelan, memecah keheningan di antara dirinya dan Arshaka. Wanita itu merogoh saku tasnya, menarik keluar layar datar yang menyala terang menampilkan sebuah pesan teks singkat dari nomor tak dikenal. *‘Jika kau masih peduli
Pelukan hangat itu meredakan badai gemetar yang sempat melanda tubuh Wilona, namun keheningan di ruang kerja rahasia tersebut tidak berlangsung lama sebelum derap langkah tegas memecah keheningan dari arah luar pintu."Tuan Arshaka," suara berat Pras terdengar dari balik pintu kayu jati tebal, memanggil dengan nada penuh urgensi yang tidak biasa. "Saya membawa hasil ekstraksi data terakhir dari server yang berhasil kita amankan pasca-penyergapan di gedung pesta malam itu."Arshaka perlahan melonggarkan dekapannya, mengecup sekilas puncak kepala Wilona sebelum menegakkan tubuhnya. Pria itu merapikan kerah kemejanya dengan gerakan cepat, sorot matanya yang tadinya dipenuhi kelembutan kini kembali berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh perhitungan kalkulatif. "Masuk, Pras," perintah Arshaka dengan suara berat yang kembali berwibawa.Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Pras yang selalu tampil rapi dalam setelan jas tanpa kerut. Pria berkacamata tipis itu melangkah masuk dengan memba
“Kamu yakin cuma ini?”Satu tas berukuran tidak terlalu besar yang Wilona bawa setelah mengemasi barang-barang, membuat dahi Arshaka mengerut. Untuk orang yang akan pindahan, bukankah bawaannya terlalu sedikit?“Aku sudah membawa semua yang kami butuhkan,” ucap Wilona, “kenapa? Kamu berharap aku ju
Setelah semalaman bulan menggantung, kini giliran matahari yang perlahan naik ke peraduan. Kedua mata Arshaka mengerjap ketika mendengar alarm yang tak kunjung berhenti dari tadi. Tak perlu menoleh, ia segera meraih benda pipih di atas nakas dan melihat pukul berapa sekarang. Namun saat ia melihat
Sudah empat hari berlalu sejak malam itu, dan Arshaka masih belum mampir ke tempat Wilona lagi untuk makan malam. “Bukannya aku berharap lintah itu datang. Hanya saja, bukankah akan lebih baik jika dia sering makan dan memotong sisa bunganya?” keluh Wilona di tengah waktu senggang menjaga rumah mak
"Om Arshaka datang kesini untuk makan malam?" Namun sebelum itu terjawab, Wilona sudah menarik lengan sang anak lebih dulu. “Mendekat ke mama, Arjuna.” Arjuna langsung menurut. Sementara di hadapan mereka, Arshaka menatap dengan mata ragu, seolah tengah mengingat siapa anak yang menyapanya dengan







