Beranda / Rumah Tangga / Nikahi Mamaku, Om! / Terjerat Utang Mantan Suami

Share

Nikahi Mamaku, Om!
Nikahi Mamaku, Om!
Penulis: Jamilah

Terjerat Utang Mantan Suami

Penulis: Jamilah
last update Tanggal publikasi: 2024-01-26 19:48:36

 "Tunggu! Kalian pikir apa yang kalian lakukan di rumahku?" pekik Wilona sembari berusaha menghalang-halangi empat pria yang terus sibuk mengambil barang-barang di rumahnya.

"Kami hanya melakukan pekerjaan. Jadi tolong menyingkirlah sebelum Anda terluka."

"Tidak!" Wilona masih berusaha menghalangi. Kedua tangan merentang, kaki bergerak sesuai dengan perpindahan pria di hadapannya. "Kau pikir bisa mengambil barang-barang di sini? Semuanya milikku! Aku yang membelinya."

Salah seorang pria di sana menghela napas kesal, merasakan kesabarannya hampir habis karena ulah Wilona. Pria itu kemudian menunjukkan selembar kertas pada Wilona. “Baca ini.”

“Apa ini?” Wilona mengernyit, tapi ia mengambil kertas itu dan melihat tulisan di sana sepintas. Lalu, dengan nada marah, ia kembali menatap pria di hadapannya. “Kalian mencoba menipuku ya? Tidak bisa!”

"Mohon periksa dengan saksama, lalu Anda akan mengerti."

Wilona kembali menekuri kertas di tangan, membaca kertas yang dibubuhi tanda tangan lengkap dan disertai materai itu selama beberapa saat.

Seketika, kedua mata wanita itu terbelalak, padahal ia baru membaca setengahnya. 

"Apa maksudnya ini? Aku tidak pernah menandatangani perjanjian ini!”  ucap Wilona. “Kalian pergi dari rumahku sekarang."

Ia tidak melihat nama yang bertanda tangan di bawah.

Sementara itu, pria di depan Wilona masih mencoba menahan kesabaran, meskipun matanya sudah mendelik dengan urat leher terlihat.

"Suami Anda berhutang pada kami dan menjadikan rumah ini sebagai jaminan.” Pada akhirnya, ia menjelaskan. Wanita di hadapannya ini benar-benar menyusahkan! “Lalu sekarang sudah tiga kali melewatkan pembayaran. Bukankah sudah jelas kami harus menyita rumah ini?"

Mendengar itu, mata lebar Wilona semakin membesar. 

“Suami?” beonya. Wilona kembali membaca surat perjanjian di tangannya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati nama mantan suaminya di sana.

Wilona mendongak. "Dia bukan lagi suamiku!” katanya. “Aku tidak ada urusan lagi dengannya dan aku tidak akan membiarkan kalian bertindak seenaknya di rumahku!"

Pria di hadapan Wilona menarik napas dalam. Tidak menjawab, justru memberikan instruksi pada yang lain untuk terus bergerak.

Tak terima, Wilona kembali mencegah. "Berhenti! Siapa bosnya di sini? Sudah kubilang ini tidak ada hubungannya denganku! Lelaki itu yang berutang, kenapa rumahku yang kalian rampok?"

Malang sekali, ucapan dan teriakan wanita itu sama sekali tidak dipedulikan. Dengan cepat, satu persatu barang mulai dikeluarkan. Sofa, televisi, bahkan vas kecil di sudut ruangan satu persatu mulai berpindah tangan.

"Aku bilang berhenti!"

Wilona menarik kursi kecil yang biasa diduduki oleh putranya. Dengan sekuat tenaga mencegah kursi agar tidak dikeluarkan. Namun sayang, tenaganya tidak sebanding dengan pria yang dengan mudah menarik kursi beserta Wilona.

"Berhenti atau aku akan—ah!"

Tiba-tiba seorang pria lain muncul di ambang pintu. Rupanya tanpa sengaja Wilona menabrak dada bidang kekar pria itu.

"Kenapa kalian lama sekali? Bukankah aku sudah menyuruh membawa semuanya?" ucap pria yang baru datang, sama sekali tidak peduli dengan wanita yang ditabraknya.  Penampilannya tampak gagah dan mengintimidasi. Sepertinya ia adalah bos dari para lelaki yang sedang mengobrak-abrik rumah Wilona.

Sementara itu, melihat bosnya datang, pria yang tadi memimpin segera mendekat. Menunduk sopan sembari melapor, "Kami sedang mengeluarkan semuanya, Bos."

"Bagus. Kalau bisa hari ini rumah ini akan dibongkar."

Mendengar itu, kedua mata Wilona semakin membulat. 

"Kamu bosnya?" tanya Wilona seraya menatap pria yang baru saja datang itu. Wajahnya mendongak, berusaha memberikan tatapan tajam pada pria di hadapan. "Bagus. Kalau begitu aku akan menyelesaikan urusan ini sekarang."

Seolah baru sadar dengan keberadaan Wilona, pria yang baru tiba segera menoleh. 

Tatapannya seperti bertanya, “Apa lagi sekarang?”

"Bilang pada anak buahmu untuk segera mengembalikan barang-barang milikku ke tempatnya. Atau aku akan melaporkan kalian ke polisi!"

Bukannya takut mendengar ancaman, pria gagah di sana justru tersenyum meremehkan. Dagunya yang terangkat dan memberikan kesan angkuh akhirnya diturunkan agar ia bisa menatap Wilona yang jauh lebih pendek.

Namun, hal itu entah kenapa malah terlihat semakin menyebalkan.

"Atas tuduhan apa kamu akan melaporkanku? Perjanjian antara aku dan suamimu sah.” Pria itu tersenyum miring. “Kecuali jika kamu bersedia membayar lunas hutangnya. Dengan demikian,  aku tidak akan menyentuh apa pun di sini."

Dada Wilona naik turun. Ia merasa semakin marah. 

Mantan suami keparat! Bisa-bisanya ia menjadikan rumah Wilona sebagai jaminan.

Namun, Wilona tidak punya waktu untuk sekadar mengumpat. Ia harus segera memilih. Tidak mungkin ia membiarkan dirinya dan putra kesayangannya diusir ke jalanan.

"Berapa yang harus aku bayar?" Akhirnya Wilona menyerah. Ia memilih mempertahankan rumah walau harus membayar hutang yang tidak pernah ia lakukan.

Mendengar pertanyaan penuh percaya diri dari Wilona, satu alis pria itu diangkat. "Kamu yakin? Baiklah. Lihat ini, karena suamimu—"

"Dia bukan lagi suamiku!"

"Astaga. Wanita yang merepotkan," gumam pria itu. Namun, ia masih mencoba menahan diri. "Baiklah. Karena mantan suamimu sudah terlambat membayar sebanyak tiga kali, maka aku juga harus menghitung bunga. Jadi setelah ditotal, dalam sebulan kamu harus membayar sebanyak Rp12.255.000,-."

Wilona mengambil kertas berisi detail utang mantan suaminya. Kepercayaan diri yang tadi masih tinggi kini perlahan tenggelam seperti didorong ke dasar laut. Ia tidak percaya dengan nominal yang sangat banyak.

"Kenapa bunganya besar sekali? Kalian rentenir?" tanya Wilona dengan mata mendelik.

Dengan ekspresi datar, pria di hadapannya mengangguk. "Memang. Dan apa yang aku lakukan memang sudah menjadi kesepakatan di awal."

Tak bisa lagi membantah, Wilona hanya bisa terdiam beberapa saat. Ia bimbang, tak mungkin ia sanggup membayar sebanyak itu setiap bulan. 

Kalaupun bisa, dapat dipastikan mereka akan makan dan minum udara untuk ke depannya.

"Tidak bisa?” Pria itu bertanya dengan nada meremehkan. Kemudian, pada anak buahnya, ia menambahkan, “Bawa semuanya keluar!"

"Tunggu!" Tanpa sadar, tangan Wilona meraih ujung jas yang dikenakan pria di hadapannya. Dengan suara bergetar, wanita ini akhirnya melanjutkan. "A-aku akan membayarnya."

"Ha? Kamu bilang apa?"

Wilona mengepalkan tangannya. "Aku bilang aku akan membayarnya! Apa sekarang telingamu ikut bermasalah?"

Bukannya marah, pria di sana justru terkekeh. "Yakin?" Ia tidak percaya, tapi saat melihat keyakinan di mata Wilona, akhirnya ia memutuskan untuk mengalah.

Helaan napas keluar sebelum akhirnya berujar, "Baiklah. Kali ini aku akan berbaik hati. Tapi jika bulan depan kau tidak bisa membayar, aku tidak akan lagi berkompromi. Mengerti?"

Wilona tak menjawab, diamnya sudah dianggap menjadi persetujuan meski dengan hati yang tidak terima.

Setelahnya, pria itu menyuruh anak buahnya mengembalikan barang-barang ke dalam rumah. Ia juga menyerahkan sebuah kartu nama pada Wilona.

"Ini kartu namaku. Kamu bisa menghubungiku saat uangnya sudah ada, atau jika kamu ingin berubah pikiran," ucap pria itu dengan wajah menyebalkan.

Tak lama setelah mengatakan itu, pria di hadapan Wilona berbalik. "Sudah cukup untuk hari ini,” katanya. “Mari kita pulang dan kembali lagi bulan depan."

Namun, saat ia baru melangkah satu langkah, tiba-tiba kakinya ditabrak sesuatu.

"Maafkan aku." Seorang bocah laki-laki membungkuk, meminta maaf dengan sopan.

Bos rentenir itu mengernyit, tampak seperti mengenali bocah itu. "Kamu?" gumamnya.

Anak berusia enam tahun itu mendongak. Sepasang mata polosnya membulat saat melihat si bos.

“Om Arshaka!” pekiknya senang, “sedang apa Om di sini? Apa Om datang untuk makan malam?”

Tidak hanya si bos rentenir yang terkejut, melainkan juga anak buahnya. 

Apalagi Wilona.

Om? Makan malam? Kepala Wilona tiba-tiba berputar. 

Sejak kapan putranya kenal dengan rentenir seperti mereka? Lalu, ada apa dengan kedekatan yang ia lihat barusan!?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nikahi Mamaku, Om!   Pagi setelah Malam Panas

    Wilona menarik bantal hotel yang tebal dengan kasar, menenggelamkan seluruh wajahnya di sana. Ia mengerang tertahan, merutuki kebodohan fatal yang baru saja ia lakukan. Rasa malu yang membakar, penyesalan, dan teror ketakutan akan masa depannya kini bercampur aduk menjadi satu. "Gila! Apa yang sudah aku lakukan? Apa aku sudah bosan hidup?!" bisik Wilona dari balik bantal dengan suara bergetar. Bagaimana mungkin ia menyerahkan dirinya begitu saja pada rentenir berdarah dingin itu? Suara gemercik air shower dari arah kamar mandi mendadak menyentak kesadaran Wilona. Detak jantungnya berpacu liar. Insting bertahannya langsung mengambil alih. Ia harus lari sekarang juga. "Aku harus buru-buru pergi dari sini sebelum lintah darat itu keluar," gumam Wilona panik. Dengan gerakan cepat, ia menyibak selimut dan memaksakan diri turun dari ranjang. Namun, tepat saat kedua telapak kakinya menyentuh lantai, rasa sakit yang luar biasa tajam menghantam area bawah tubuhnya. Selangkangannya terasa s

  • Nikahi Mamaku, Om!   Gairah Tak Tertahankan

    Bibir Arshaka membungkam mulut Wilona dengan brutal. Tidak ada kelembutan di sana, hanya ada dominasi dan rasa lapar yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Ciuman itu dalam, menuntut, dan seolah ingin melahap seluruh kewarasan yang tersisa. Dari bibir yang membengkak, bibir Arshaka turun menyapu rahang Wilona, menggigit pelan leher jenjangnya, dan terus turun ke bawah."Nghhh... Arshaka..." Wilona hanya bisa melenguh, jari-jarinya meremas rambut legam pria itu, memohon tanpa kata agar pria itu memberikan lebih.Sadar pakaian basahnya hanya menjadi penghalang, Arshaka menarik diri sejenak. Dengan satu gerakan kasar dan gagah, ia melepas kemejanya yang basah kuyup, membuangnya sembarangan ke lantai marmer. Tubuh atasnya yang atletis terekspos sempurna. Bahu yang lebar, otot perut yang tercetak jelas, dan dada bidang yang naik turun dihiasi sisa-sisa tetesan air.Tanpa aba-aba, Arshaka merengkuh pinggang Wilona, mengangkat wanita itu dan menggendongnya hingga wajah mereka sejajar. Wilon

  • Nikahi Mamaku, Om!   Kekalahan Wilona

    "Panas... gerah sekali..." igau Wilona dengan napas yang semakin memburu.Tubuh rampingnya menggelinjang gelisah di kursi penumpang. Tangannya yang gemetar mulai menarik-narik kerah bajunya dengan kasar, berusaha membebaskan diri dari pakaian yang tiba-tiba terasa seperti mengurungnya di dalam oven. Obat laknat yang dipaksa masuk oleh Andreas itu kini telah mengambil alih kewarasan Wilona sepenuhnya.Melihat gerakan Wilona yang semakin tak terkendali, Arshaka tersentak. Ekor matanya dengan cepat menangkap pergerakan dari kaca spion tengah dasbor. Sopir dan salah satu anak buahnya di depan tertangkap basah sedang mencoba mencuri pandang.Seketika, tatapan Arshaka berubah tajam dan mematikan. "Fokus ke jalan atau mata kalian berdua aku cungkil detik ini juga!" desisnya dengan nada rendah yang mengancam.Mendengar ancaman langsung dari bos besar Gamala, dua pria berbadan kekar di depan itu langsung kicep. Mereka menelan ludah dengan susah payah, memaku pandangan lurus ke depan seolah-ola

  • Nikahi Mamaku, Om!   Anda Bisa Memakai Perempuan Ini

    “Bos!” Empat pria langsung menunduk menyambut kedatangan bos mereka.Arshaka melirik sekilas. “Di mana?” tanyanya dengan ekspresi datar, tapi setiap katanya penuh penekanan.“Mereka membawanya masuk.”Tanpa basa-basi, Arshaka langsung berjalan masuk dengan postur tegas. Dada bidang yang tidak sengaja dibusungkan terlihat jelas. Tangan yang mengepal juga menambah kesan garang dari wajah bos besar Grup Gamala –yang paling disegani di kota itu.Melihatnya berjalan mendekati pintu masuk, beberapa lelaki di sana terlihat saling melirik sambil berbisik-bisik. Seakan mempertanyakan kenapa Grup Gamala langsung mengirimkan bos besar mereka.“Aku ingin bertemu dengan bos kalian,” ucap Arshaka sebagai sapaan.Lelaki di depan pintu bergeming. Kebimbangan tampak jelas di wajah mereka.“Bos kalian mengundangku datang. Apa aku perlu menelponnya untuk kalian?”“Maaf. Tapi kami perlu—”“Apa kalian tidak percaya?” Suara Arshaka meninggi, membuat beberapa lelaki yang sedang menghadapinya sedikit mengker

  • Nikahi Mamaku, Om!   Apa yang Terjadi pada Wilona?

    “Mpphh! Mpphh!”Kedua mata Wilona mendelik, selain panik dia juga terkejut dengan kain yang membekap mulut tiba-tiba. Tidak perlu ditanya siapa pelakunya, sudah jelas pria brengsek di belakang –mantan suaminya.Wanita itu melirik ke belakang, mengutuk Randi lewat tatapan. Sayangnya, kalimat ‘sialan kau!’ dan ‘lepaskan aku!’ tidak bisa keluar dengan baik.“Tenanglah, Wilona,” ucap Randi sambil menahan tubuh sang mantan istri yang terus bergerak. “Cuma sekali ini saja, tolong bantu aku, ya.”Bajingan! Persetan dengan suami dan ayah yang baik, Randi benar-benar sudah menjadi iblis sekarang. Siapa orang gila yang akan meminta bantuan sambil membekap mulut orang lain seperti itu?Wilona belum menyerah. Jika dia tidak bisa melepas kain yang menekan mulut dan hidungnya, setidaknya ia bisa berusaha menggerakkan siku untuk menyerang pria keparat itu.Dhuak! Sepertinya berhasil. Wilona bisa merasakan bekapan di mulutnya mengendur sedikit. Jika dia melakukannya berulang, mungkin saja ia bisa mel

  • Nikahi Mamaku, Om!   Wilona Lengah

    Pukul 13.20, ketika Arshaka baru keluar dari salah satu ruangan privat restoran bintang lima, dan menyadari ponselnya bergetar dari tadi.Dia bergegas mengambil benda pipih itu dari dalam saku. Menatapnya sebentar, lalu mengerutkan dahi saat nomor tidak dikenal terlihat memanggil.Tanpa berpikir panjang, Arshaka langsung menggeser layar ke atas, mengangkat panggilan kemudian menunggu pihak lain untuk mengawali.“Halo.” Benar saja, di detik yang sama, suara seorang perempuan terdengar menyapa dengan sopan.“Ya?” timpal Arshaka.“Benar ini dengan salah satu wali siswa bernama Arjuna?”Mendengar itu, dahi Arshaka mengerut. Kebimbangannya menciptakan jeda sebentar. Hingga, seseorang di seberang menyadarinya.“Ah, benar, maafkan saya. Saya adalah guru di sekolah Arjuna. Saya menghubungi Bapak karena Arjuna belum dijemput sampai sekarang dan nomor wali utama tidak bisa dihubungi.”“Maksud Anda, Arjuna masih ada di sekolah?” tanya Arshaka memastikan. Setelah mendapat jawaban iya, pria ini ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status