Beranda / Rumah Tangga / Nikahi Mamaku, Om! / Sarapan yang Berisik

Share

Sarapan yang Berisik

Penulis: Jamilah
last update Tanggal publikasi: 2024-03-16 09:39:20

Matahari yang semakin tinggi di luar mengembalikan kesadaran Wilona secara perlahan. Cahaya terang yang menyelinap di balik tirai membuat mata wanita itu mengerjap.

Silau dan hangat. Itulah kesan sesaat yang ia rasakan. Sebelum bagian kosong di samping akhirnya menyadarkannya.

“Arjuna!” Wilona memekik kaget. Tempat yang semalam masih dipenuhi dengan kehangatan tubuh Arjuna kini kosong, bahkan sudah terasa dingin.

Mendadak perasaan cemas menggerayangi hati Wilona. Terlebih saat ia menatap seluruh ruangan, dan batang hidung putranya sama sekali tidak bisa ditemukan. “Jangan-jangan mereka berbuat sesuatu pada putraku.”

Tak sempat menunggu detik beralih, Wilona segera menyingkap selimut. Langkah besar diambil, dengan terburu-buru ia membuka pintu sambil meneriakkan nama sang anak.

“Arjuna! Arjuna!” panggilnya seraya terus melangkah menyusuri lorong yang terlihat asing.

Apakah ke kiri atau ke kanan. Wilona tidak sempat berpikir, kemanapun kakinya pergi, ia hanya berharap segera menemukan Arjuna.

Rumah besar dengan banyak ruang kosong membuat Wilona semakin kewalahan. Ia betul-betul panik, bagaimana jika orang-orang itu membawa pergi Arjuna?

“Sial! Bagaimana aku bisa tertidur pulas seperti orang mati?” keluhnya, mengutuk diri sendiri.

Namun menyesal pun tiada arti, ia harus segera menemukan Arjuna, atau setidaknya seseorang dari rumah itu.

“Arjuna!” Pandangan Wilona mengedar dari sudut ke sudut. Sedangkan kaki terus berjalan mengikuti insting. “Arjuna! Mama di—”

Mendadak langkahnya berhenti. Jika benar, telinganya menangkap suara samar-samar dari satu arah. Apakah itu terdengar seperti orang yang bersenang-senang?

Semakin Wilona mengikuti asal suara, bukan hanya obrolan yang terdengar tambah keras, melainkan aroma susu hangat juga ikut menguap di udara.

Ah, benar. Harusnya ia mengecek tempat yang diketahui lebih dulu. Saking paniknya, dapur dan ruang makan sampai terlewat dari kepalanya.

“Arjuna!”

Bocah lelaki yang tengah menggigit roti menoleh. “Mama?” sapanya. “Mama sudah bangun? Mau sarap—”

“Arjuna ….” Namun Wilona tak sempat menunggu sang anak menyelesaikan kalimat. Ia yang kadung lega langsung memeluk Arjuna. “Syukurlah. Mama pikir kamu tidak ada di sini.”

Meski ekspresinya masih bingung, anak itu tetap membalas pelukan sang mama. Sambil memberikan tepukan kecil, ia berkata, “Aku tidak kemana-mana, Ma.”

Wilona mengangguk-angguk. Lega sekali rasanya mendapati Arjuna baik-baik saja.

Sementara di sisi meja yang lain, Arshaka yang kebetulan juga tengah sarapan hanya menatap dengan ekspresi tidak banyak berubah.

“Kau takut aku akan menjual anakmu?” ucap pria itu.

Sontak Wilona terbelalak. Matanya menatap tajam ke arah pria yang terlihat lebih santai dari pengangguran.

Melihat itu, sudut bibir Arshaka terangkat. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun, selama kamu bersikap baik di sini.”

Tak ada kata yang keluar, wanita itu hanya memberikan picingan mata seolah-olah tak percaya dengan apapun yang muncul dari mulut rentenir seperti Arshaka.

Sampai-sampai, Wilona tidak sadar jika putranya mulai gerah terdiam cukup lama dalam pelukan.

“Mama. Aku mau makan,” ucap Arjuna.

“Oh!” Wilona terperanjat. Ia segera melepaskan lengan dari tubuh sang anak. “Benar. Habiskan sarapanmu.”

Anggukan kecil diberikan, anak itu tampak riang.

Namun saat Arjuna kembali berbalik menghadap meja, ia tiba-tiba menyadari sesuatu. Jika hidungnya tidak salah, aroma yang tercium dari Arshaka dan sang mama sama.

“Apa kalian mandi bersama?” 

Wilona tertegun, begitu juga dengan Arshaka yang langsung menghentikan gerakan pisau di tangan.

Sementara Arjuna, kening anak itu terlihat semakin terlipat. “Kalian semalam mandi bersama, kan?” tanyanya dengan sikap curiga. “Mama dan Om Arshaka baunya sama. Kenapa kalian tidak mengajakku mandi bersama?!”

“Eh?” Wilona mendadak panik. Reaksi bingung antara menenangkan Arjuna atau mengendus baunya lebih dulu membuatnya terlihat sedikit lucu. “Apa yang kamu katakan? Mana mungkin mama dan Om Arshaka mandi bersama?”

“Tapi bau kalian sama.” Arjuna mulai mengendus ketiaknya sendiri. “Kan, cuma aku yang tidak bau wangi di sini!”

Ludah di dalam mulut Wilona mendadak terasa kering. Bagaimana bisa anaknya tiba-tiba tantrum mempermasalahkan bau seperti itu?

“Arjuna, dengar.” Suara Wilona sengaja dibuat tegas. Dengan begitu, Arjuna akan menaruh perhatian padanya. “Mama dan Om Arshaka tidak mandi bersama. Kami hanya menggunakan sabun yang sama. Paham?”

“Benarkah?” Wajah yang tadinya cerah, kini berubah suram. Bahkan bibir Arjuna sekarang turun.

Wilona segera mengiyakan. “Benar. Tidak boleh bagi orang dewasa mandi bersama.”

Seolah-olah belum puas hanya mendengarnya dari sang mama, Arjuna menoleh. Kali ini tatapannya seakan meminta penjelasan dari pria di seberang meja.

“Apa yang ingin kamu dengar, Bocah?” ucap Arshaka dengan sikap acuh.

“Benar yang mamaku katakan, Om?”

Arshaka yang awalnya tidak terlalu ingin terlibat, sekarang berubah pikiran. Alisnya terangkat, kemudian bertanya, “Yang mana maksudmu? Benar mamamu dan aku tidak mandi bersama. Kalau itu soal orang dewasa yang tidak boleh mandi bersama ….” 

Pria itu sengaja memberi jeda untuk melihat bagaimana reaksi Wilona.

Benar saja, wanita di seberang meja sudah mendelik, mengancam agar Arshaka tidak mengatakan hal aneh di depan Arjuna.

Melihatnya membuat hidung Arshaka melebar menahan tawa. Sementara di samping Wilona, Arjuna masih menunggu jawaban selanjutnya.

“Sebenarnya orang dewasa boleh mandi bersama kalau mereka pas—”

Glubrak!

Wilona sengaja menendangkan kakinya ke meja, berharap Arjuna tidak mendengar kalimat terakhir yang Arshaka katakan.

“Mama oke?” tanya Arjuna sedikit panik. Bagaimana tidak, suara benturan barusan terdengar sangat renyah di telinga.

“Itu pasti sangat menyakitkan,” timpal Arshaka. Namun untuk pihak yang menyampaikan simpati, bukankah ekspresinya terlalu menyebalkan?

Benar, tulang kering Wilona terasa nyeri. Ia sedikit menyesal membenturkan kaki alih-alih benda mati di sekitarnya.

Tak mau menanggapi Arshaka, wanita itu hanya menoleh pada sang anak. Senyum terpaksa ditampilkan. Sambil mengangguk, ia berujar, “Mama oke. Cepat habiskan makananmu.”

Beruntung, Arjuna tumbuh menjadi anak yang penurut. Tanpa banyak tanya, anak itu segera menghabiskan sarapan seperti yang mamanya minta.

Kemudian, sarapan yang sedikit berisik itu berakhir setelah susu di gelas Arjuna habis.

Wilona segera membawa Arjuna untuk mandi. Sementara Arshaka yang juga ada urusan pagi itu ikut berdiri.

Wajah pria yang dua detik lalu masih terlihat menahan tawa, kini berubah garang seketika.

“Pras!”

Pras segera mendekat. “Ya, Bos?”

“Ganti semua sabun yang ada di rumah ini. Tidak ada yang boleh menggunakan sabun yang sama denganku ataupun wanita itu. Mengerti?”

Meski sedikit terkejut dengan permintaan Arshaka, Pras tetap mengangguk dan langsung menghubungi seseorang untuk mengganti sabun di rumah itu.

***

Di sebuah gedung tinggi di pusat kota. Seorang pria babak belur duduk bertumpu lutut menghadap pria garang dengan tongkat kayu selalu di tangan.

“Kau bilang sudah tidak punya apa-apa untuk membayar hutang?” tanya pria yang duduk di kursi dengan nada mengintimidasi.

Pria yang tubuhnya gemetar menahan rasa takut dan sakit mengangguk. “Maafkan saya. Saya akan melakukan apapun, tapi tolong jangan bunuh saya.”

“Apa yang bisa kau lakukan? Bahkan tubuhmu tidak berguna untukku. Kecuali jika kau punya penawaran seorang wanita cantik yang bisa kau berikan, aku akan mempertimbangkan nyawamu.”

Sesaat keheningan menerpa. Namun tak lama, pria yang di sudut bibir terluka mengangkat wajah dengan senyum percaya diri. “Kalau itu, saya bisa membawanya. Apa wanita dengan anak satu tidak masalah?”

Senyum licik dan puas tergambar di wajah pria garang. “Selama tubuhnya bagus, aku tidak masalah.”

“Saya yakin Anda akan menyukainya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nikahi Mamaku, Om!   Di Bawah Langit yang Sama

    Ciuman itu bertahan selama beberapa detik, menghanyutkan keduanya dalam kelegaan dan kehangatan yang luar biasa setelah badai panjang yang mereka lewati. Saat bibir mereka akhirnya terpisah, Wilona menyandarkan keningnya di dada Arshaka, mendengarkan deru napas suaminya yang perlahan mulai kembali normal. Senyum tipis masih terukir indah di bibir wanita itu, menghapus sepenuhnya sisa-sisa air mata yang sempat menetes di pipinya."Terima kasih, Arshaka," bisik Wilona lirih, jemarinya meremas pelan ujung kemeja linen putih yang dikenakan suaminya.Arshaka mengecup lembut puncak kepala Wilona sekali lagi sebelum menjawab dengan suara serak yang penuh kasih. "Jangan ucapkan terima kasih, Wilona. Ini adalah awal dari hidup kita yang sebenarnya. Mari kita kembali ke rumah, matahari sudah semakin tinggi, dan sepertinya ada seseorang yang mulai kelaparan."Mereka berdua menoleh serentak ke arah pantai bagian barat. Terlihat Arjuna sedang melambaikan tangan dengan penuh semangat sambil berteri

  • Nikahi Mamaku, Om!   Fajar yang Tenang

    "Kau hampir membuat jantungku berhenti, Wilona," desis Arshaka parau, dekapannya semakin mengerat seolah ingin menyatukan tubuh wanita itu ke dalam tulangnya sendiri. Napas hangat pria itu menggelitik kulit leher Wilona, menyalurkan sisa-sisa ketakutan luar biasa yang jarang sekali ditunjukkan oleh seorang penguasa bayangan sepertinya.Wilona tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kedua tangannya melingkar erat di pinggang Arshaka, merasuki debar jantung pria yang selama ini menjadi perisai hidupnya. Di kejauhan, suara sirene mobil polisi dan deru langkah kaki tim taktis Pras berangsur-angsur meredup, menyisakan keheningan malam dermaga yang perlahan-lahan digantikan oleh semburat cahaya keperakan di cakrawala timur.***Chapter 47: Fajar yang TenangMatahari terbit perlahan dari balik garis horizon, menyinari beranda rumah baru Arshaka yang terletak jauh terpencil dari hiruk-pikuk kota besar. Semburat jingga dan keemasan membelai lembut d

  • Nikahi Mamaku, Om!   Malam Pembersihan

    "Namun, bayang-bayang itu belum sepenuhnya lenyap, Nyonya," bisik Pras tiba-tiba, memecah keheningan di antara riuhnya sorotan kamera wartawan sebelum Arshaka sempat membalas senyuman Wilona. Pras melangkah cepat mendekati Arshaka dengan wajah tegang, menyodorkan sebuah tablet digital berlayar terang yang menampilkan peta satelit kawasan pelabuhan tua di ujung kota. "Tim intelijen kita baru saja melacak pergerakan sisa anak buah Rico. Mereka berkumpul di pelabuhan lama, bersiap melarikan diri lewat jalur laut malam ini juga."Arshaka menatap layar tablet itu sekilas. Sorot mata gelapnya yang tadinya melembut langsung berubah tajam, memancarkan aura dingin yang mematikan. "Berapa banyak dari mereka yang tersisa?" tanyanya dengan suara bariton yang berat."Sekitar belasan orang, Bos. Mereka membawa senjata api laras panjang dan menyandera beberapa pekerja malam di sana sebagai tameng," jawab Pras cepat, jemarinya mengetuk beberapa titik merah pada peta. "Jika kita tidak bergerak sekara

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jerat Hukum Adiwangsa

    Decakan sepatu lars berat yang menghantam lantai marmer galeri tiba-tiba memecah keheningan yang mencekam. Sebelum Eleanor sempat melangkah maju untuk merampas ponsel dari meja, suara sirene mobil polisi berderet menderu memecah malam di luar gedung, menggema keras menembus dinding kaca tebal."Apa-apaan ini?!" teriak Eleanor histeris, wajah elegannya yang biasa penuh wibawa kini berubah pucat pasi saat melihat bayangan lampu sorot biru-merah berputar-putar menyoroti jendela galeri dari luar. "Bianca! Apa yang sudah kau perbuat?!""Bukan aku, Nyonya! Sumpah, aku tidak tahu apa-apa!" ratap Bianca dengan suara bergetar hebat, kakinya melemah hingga ia terduduk di lantai berbalut gaun merah mewahnya, menatap ngeri pada layar ponsel Wilona yang masih menampilkan surat perintah penangkapan sah berlogo Garuda emas.Pintu kaca utama galeri tiba-tiba didobrak dari luar. Sekelompok aparat kepolisian berseragam lengkap, dipimpin langsung oleh seorang perwira tinggi berwajah tegas, melangkah mas

  • Nikahi Mamaku, Om!   Pertemuan Tiga Wanita

    "Saya akan pastikan seluruh tim humas dan operasional bergerak dalam waktu kurang dari satu jam, Tuan," imbuh Pras dengan nada tegas, menutup tablet digital di tangannya sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja rahasia tersebut tanpa suara.Pintu kayu jati itu menutup rapat kembali, menyisakan keheningan sesaat di dalam ruangan yang dipenuhi aroma kayu tua dan ketegangan udara malam. Wilona berdiri tegak di samping meja kerja, mengenakan gaun formal elegan berwarna navy yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Kepalanya terangkat tegak, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh percaya diri baru—sebuah transformasi total dari seorang wanita yang sebelumnya hanya bisa pasrah menjadi korban teror.Ponsel di dalam tas tangan Wilona tiba-tiba bergetar pelan, memecah keheningan di antara dirinya dan Arshaka. Wanita itu merogoh saku tasnya, menarik keluar layar datar yang menyala terang menampilkan sebuah pesan teks singkat dari nomor tak dikenal. *‘Jika kau masih peduli

  • Nikahi Mamaku, Om!   Langkah Balasan Pras

    Pelukan hangat itu meredakan badai gemetar yang sempat melanda tubuh Wilona, namun keheningan di ruang kerja rahasia tersebut tidak berlangsung lama sebelum derap langkah tegas memecah keheningan dari arah luar pintu."Tuan Arshaka," suara berat Pras terdengar dari balik pintu kayu jati tebal, memanggil dengan nada penuh urgensi yang tidak biasa. "Saya membawa hasil ekstraksi data terakhir dari server yang berhasil kita amankan pasca-penyergapan di gedung pesta malam itu."Arshaka perlahan melonggarkan dekapannya, mengecup sekilas puncak kepala Wilona sebelum menegakkan tubuhnya. Pria itu merapikan kerah kemejanya dengan gerakan cepat, sorot matanya yang tadinya dipenuhi kelembutan kini kembali berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh perhitungan kalkulatif. "Masuk, Pras," perintah Arshaka dengan suara berat yang kembali berwibawa.Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Pras yang selalu tampil rapi dalam setelan jas tanpa kerut. Pria berkacamata tipis itu melangkah masuk dengan memba

  • Nikahi Mamaku, Om!   Om Datang untuk Makan Malam?

    "Om Arshaka datang kesini untuk makan malam?" Namun sebelum itu terjawab, Wilona sudah menarik lengan sang anak lebih dulu. “Mendekat ke mama, Arjuna.” Arjuna langsung menurut. Sementara di hadapan mereka, Arshaka menatap dengan mata ragu, seolah tengah mengingat siapa anak yang menyapanya dengan

  • Nikahi Mamaku, Om!   Terjerat Utang Mantan Suami

    "Tunggu! Kalian pikir apa yang kalian lakukan di rumahku?" pekik Wilona sembari berusaha menghalang-halangi empat pria yang terus sibuk mengambil barang-barang di rumahnya."Kami hanya melakukan pekerjaan. Jadi tolong menyingkirlah sebelum Anda terluka.""Tidak!" Wilona masih berusaha menghalangi.

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jangan Sentuh Apapun

    Jika ada yang lebih cepat dari kedipan mata, itu adalah waktu yang dilalui oleh Wilona. Rasanya baru kemarin mereka menjadi tawanan di rumah rentenir itu, sekarang sudah satu minggu berlalu sejak saat itu.Selain pekerjaannya yang berbeda, kehidupan mereka juga banyak berubah. Salah satunya, ia har

  • Nikahi Mamaku, Om!   Pindah ke Rumah Rentenir

    “Kamu yakin cuma ini?”Satu tas berukuran tidak terlalu besar yang Wilona bawa setelah mengemasi barang-barang, membuat dahi Arshaka mengerut. Untuk orang yang akan pindahan, bukankah bawaannya terlalu sedikit?“Aku sudah membawa semua yang kami butuhkan,” ucap Wilona, “kenapa? Kamu berharap aku ju

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status