Compartilhar

Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?
Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?
Autor: A mum to be

1. Nasib Apes

Autor: A mum to be
last update Data de publicação: 2026-10-22 01:06:29

"Kakakmu dan anak saya sudah meninggal! Ruko itu milik keluarga kami, bukan tempat penampungan! Besok pagi kalau barang-barangmu masih di sana juga, saya akan panggil orang untuk mengusirmu!"

"Tapi Tante, aku..." 

Klik.

Panggilan tadi terputus secara sepihak. Jadilah ucapan Raya terdengar sia-sia. Ia menurunkan ponselnya dengan lemas.

Belum sempat Raya menarik napas untuk melonggarkan perasaannya yang sesak, layar kaca yang retak itu berkedip bertubi-tubi menampilkan deretan pesan singkat.

[Raya! Tas branded yang kau pamerkan di I* dulu mana? Jual! Bayar utang PayLatermu sekarang!]

[Gaya sok sosialita, tapi utang pinjol belasan juta nunggak! Mau kami datangi ruko kakakmu?]

[Jangan sembunyi! Tagihan kartu kredit tetap harus lunas minggu ini!]

Raya memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya bersandar lemas pada tiang kayu ruko. Kemewahan masa lalunya kini berbalik mencekik leher gadis malang itu.

Dulu, saat masih berjaya di perusahaan periklanan, ia memang mudah menggesek kartu kredit demi gengsi. Namun, penghasilannya selalu cukup untuk melunasi semua tagihan tanpa terlilit utang.

Semuanya berubah setelah ia dipecat dua bulan lalu, disusul kecelakaan yang merenggut nyawa kakak perempuan dan suami kakaknya. Tanpa keluarga lain yang bisa diandalkan, Raya terpaksa menguras tabungan hingga berutang demi membiayai pemakaman sang kakak.

Keluarga suami kakaknya hanya mau mengurus pemakaman putra mereka sendiri. Bahkan, mereka tak pernah menanyakan keadaan Cia, cucu mereka yang baru berusia dua tahun, dan justru lebih sibuk membicarakan harta warisan. Semua itu karena pernikahan kakak Raya dan iparnya memang tak pernah mendapat restu keluarga suami.

Kini, tanpa pekerjaan dan penghasilan, Raya harus menghadapi tagihan yang terus berdatangan.

Di atas kasur busa tipis dekat meja kasir, Cia menggeliat pelan sebelum kembali terlelap. Raya berlutut di sampingnya, meraba saku celana jinsnya. Hanya tersisa dua lembar uang dua puluh ribuan, sementara susu Cia di rak belakang tinggal seperempat kaleng.

Tiba-tiba, suara besi berderit nyaring. Pintu rolling door terangkat paksa dari luar.

Raya tersentak dan refleks menyambar botol sirup kaca dari atas dus. Ia menatap waswas celah pintu yang kian terbuka, mengira para penagih utang akhirnya menemukan persembunyiannya.

Namun, yang masuk justru seorang pria jangkung sambil menyeret koper hitam besar. Kemeja gelapnya kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya di balik kacamata berbingkai tipis menyapu dingin seisi toko.

Raya mematung. Tangannya yang memegang botol kaca perlahan melonggar. Pria ini yang dulu absen di pesta pernikahan tiga tahun lalu karena harus menyelesaikan pendidikannya di luar negeri.

Pria itu melepas kacamatanya, mengusap wajah yang tampak letih luar biasa setelah perjalanan jauh. "Raya?"

"Kamu... Adam?" bisik Raya pelan, memastikan penampilan pria itu mirip dengan foto keluarga di dinding. "Adiknya almarhum Mas Haikal, ya?"

"Iya," sahut Adam singkat sambil memasang kembali kacamatanya. "Mama baru menelepon saya dari rumah."

Raya menelan ludah. "Pasti soal ruko ini, ya?"

"Beliau bilang ruko mau dijual secepatnya untuk pembagian harta," kata Adam datar, matanya menyapu beberapa dus minyak goreng yang menumpuk di lantai. "Tapi surat kuasa peninggalan Abang ada di tangan saya. Jadi, ruko ini tidak akan dijual."

Raya menunduk perlahan. "Baguslah kalau begitu. Setidaknya peninggalan almarhum aman."

Adam mengedarkan pandangan ke sekeliling ruko, lalu menatap ransel besar di dekat meja kasir. "Kamu kenapa belum beres-beres? Toko ini harus dirapikan secepatnya."

"Aku memang mau pergi," ujar Raya lirih. Ia kembali berlutut di samping kasur busa, membelai pipi halus Cia. Air mata yang ditahannya sejak sore akhirnya menetes. "Maaf ya, Cia ... Onti gak bisa jagain kamu lagi. Kamu sama Om Adam, ya..."

Raya mengusap air matanya dengan lengan baju, lalu berdiri dan menyandang ransel lusuhnya.

"Mau ke mana kamu?" Suara Adam menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu rolling door.

"Cari tempat tinggal lain," sahut Raya tanpa berani berbalik.

Adam memperhatikan ransel di bahu Raya, lalu melirik jam tangannya. "Ini sudah malam, hujan deras juga. Saya tidak menyuruhmu pergi malam ini juga."

Raya terdiam, sedikit terkejut mendengar ucapan itu.

"Lagipula, bukannya lebih aman kalau kamu tidak berkeliaran sendirian?" lanjut Adam. "Saya dengar kamu sedang dicari penagih utang."

Raya menggigit bibir bawahnya. Masalah utangnya memang sudah bukan rahasia lagi. Beberapa penagih bahkan sempat mendatangi ruko itu dan membuat keributan.

"Memang, makanya aku gak mau bikin masalah buat siapapun lagi. Jadi, aku sadar diri untuk segera pergi dari sini," jawab Raya lirih. 

"Tapi, pergi malam-malam juga tidak akan menyelesaikan masalahmu."

"Terus aku harus bagaimana?" Raya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku sudah gak punya pekerjaan, tabunganku habis, dan sekarang bahkan gak tahu harus tinggal di mana."

Adam terdiam sejenak. "Makanya saya bilang, malam ini kamu tetap di sini dulu. Kamu pikirkan sisanya besok."

Raya menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

Saat itulah Cia menggeliat di atas kasur, mengeluarkan rengekan kecil sebelum kembali terlelap. Adam menoleh ke arahnya, lalu mengernyit tipis.

"Selama ini kamu yang mengurus Cia?" 

Raya mengangguk. "Iya. Sejak kecelakaan itu."

Adam kembali menatap Cia. "Saya tidak tahu cara mengurus anak sekecil itu. Saya juga gak yakin orang tua saya akan merawat Cia dengan baik mengingat gimana asal mula pernikahaan Abang dan kakakmu. Tapi, kalau kamu terus tinggal di sini dengan alasan merawat Cia pun mereka tidak akan peduli dan tidak akan tinggal diam,"

Raya terdiam lagi, dahinya mengernyit. Ia tidak paham dengan maksud ucapan Adam. “Maksudnya gimana?”

Belum sempat Adam menjawab, suara gedoran pintu terdengar keras.

Brak! Brak!

“Raya, keluar kau! Bayar utangmu atau kudobrak toko ini!”

Raya mundur setapak, napasnya tertahan. Di atas kasur, Cia mendadak terbangun dan menangis histeris.

Sebelum Raya sempat bergerak, tangan Adam sudah mencengkeram pergelangan tangannya. Pria itu menarik Raya mundur ke balik rak tinggi, lalu menekan sakelar lampu.

Klek.

Ruko mendadak gelap gulita.

BRAAK!

Engsel pintu berderit dipukul dari luar. Raya gemetar hebat, namun Adam makin merapat. Pria itu mengurung posisi Raya di antara tiang kayu dan tubuh jangkungnya, menjadi benteng yang menutupinya dari celah pintu.

Jantung Raya berdegup kencang. Dalam kegelapan, ia bisa merasakan hangat tubuh Adam yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Bahkan, embusan napas pria itu sesekali menyentuh keningnya.

Raya mendongak tanpa sadar. Wajah mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat garis rahang Adam yang mengeras. 

Namun, Adam sama sekali tidak terlihat terusik. Tatapannya tetap tertuju ke arah pintu, sebelum akhirnya menunduk dan berbisik tepat di dekat telinga Raya.

“Diam kalau gak mau bikin masalah tambah besar.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   10. Bukan Barang

    Bagi Raya, pagi itu harusnya jadi pagi yang tenang. Pun lantaran perdebatan kecilnya dengan Adam baru saja mereda. Namun, ketenangan itu cuma bertahan beberapa detik. Suara langkah sepatu beradu keras dengan lantai ruko yang berdebu seketika memotong semuanya. Sesosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk tanpa mengetuk. Ia melipat kacamata hitamnya dengan gerakan perlahan yang penuh intimidasi, sebelum pandangannya bersitatap langsung dengan Raya dan Cia di pojok ruangan."Cukup main-mainnya, Adam," panggil pria itu. Suaranya berat, bergema di sela dinding ruko yang sempit. "Waktu liburan kamu di tempat kumuh ini sudah habis. Dan anak itu... harus ikut bersama kita." Darah Raya serasa berhe

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   9. Si Mulut Pedas

    Raya sendiri mengerjap kaku, napasnya tertahan di ujung tenggorokan melihat jarak mereka yang dirasa sudah tak masuk akal. Hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya seolah melumpuhkan seluruh pasokan oksigen di sudut dapur sempit itu. Belum sempat Raya melayangkan protes lanjutan untuk mengusir rasa malunya yang membumbung tinggi, Adam tiba-tiba berbisik pelan tepat di samping telinganya."Sana lihat Cia! Biar saya yang urus ini.""Tapi..." Raya tak jadi melanjutkan kalimatnya begitu melihat lirikan maut Adam yang sulit dibantah dari balik bingkai kacamatanya. Tatapan pria itu begitu tegas dan penuh wibawa seolah tak menerima interupsi sama sekali. Alhasil, gadis berambut gelombang itu mendengkus kesal lalu buru-buru menghampiri Cia untuk

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   8. Cowok Egois!!

    “Seenggaknya ngalah kek sama cewek. Atau …paling enggak, kasihan sama Cia yang jadi kesempitan,” gerutu Raya dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Namun, Adam pura-pura tuli. Pria berjambang tipis itu melepas kacamata, meletakkannya di lantai, lalu menutup mata rapat-rapat.“Cowok egois!!” dengkus Raya sengit. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana ruko satu petak itu meremang dalam sunyi. Di atas kasur single yang sempit, Cia sudah bergeser posisi dalam lelapnya. Balita dua tahun itu kini tidur melintang di area bawah dekat kaki mereka, meringkuk sambil memeluk erat boneka kain kesayangannya. Raya yang setengah mengantuk berbalik ke tengah. Tangannya terulur meraba ke samping untuk merengkuh tubuh keponakannya agar tidak kedinginan. Alih-alih mendapati tubuh gembul Cia, jemarinya justru mendarat di atas permukaan padat yang kokoh dan hangat.Sontak Raya membuka mata lebar-lebar. Bukannya memeluk sang keponaka

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   7. Dikejar Hutang

    Suara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga. Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami. Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya. Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko."Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara b

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   6. Dilarang Ikut Campur!

    "Maksud Mama kamu tadi... apa?" desak Raya dengan napas memburu. Langkah kaki Sonia dan pengacaranya baru saja menghilang di balik pintu ruko, meninggalkan aroma parfum mahal yang pekat dan rasa canggung yang mendadak menghimpit dada. Raya menatap lurus pria di hadapannya, menuntut jawaban atas bisikan penuh ancaman yang sempat membuat tubuh tegap Adam membeku kaku. Namun, Adam tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Dengan gerakan tenang, pria itu merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, membetulkan letak kacamata di pangkal hidung, lalu menatap Raya lurus."Poin tiga."Raya mengernyitkan alisnya, matanya memicing curiga. "Apa?""Poin ketiga. Surat perjanjian pernikahan kita," sahut Adam dingin tanpa riak emosi. "Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berhubungan langsung dengan legalitas ruko dan hak asuh Alicia.""Tapi itu tadi Mama kamu!" sengit Raya tak mau kalah, dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel. Matanya mendelik se

  • Nikahnya Settingan, Tapi Kok Jadi Salting?   5. Akting Dimulai

    "Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku. Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat."Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh. Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status