LOGIN"Ck. Ayolah, Axel... ngapain lo peduli?" gumamnya ketus pada diri sendiri.
Axel kembali menyeruput kopi hangatnya yang kini terasa hambar. Suasana hening sejenak, hanya terisi oleh ketukan ritmis jemarinya di atas meja marmer. Ketukan yang kian cepat, selaras dengan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Ck. Sialan!" Axel mengerang frustrasi. Kilasan kejadian semalam mendadak berputar tanpa permisi di otaknya. Apa yang udah gue lakuin sama dia semalam? Bodoh! Axel langsung bangkit berdiri, melangkah lebar kembali menuju kamar Elena. "Ke mana dia pergi sepagi ini?" Ia menyusuri setiap sudut kamar istrinya. Mengecek kamar mandi, hingga membuka pintu balkon. Kosong. Tak ada siapapun. Namun saat berbalik, mata Axel tidak sengaja menangkap bagian atas lemari pakaian. Tempat yang biasanya menjadi area penyimpanan koper besar berwarna biru milik Elena. Koper itu lenyap. Seketika, firasat buruk menghantam kepalanya. Axel bergegas membuka pintu lemari pakaian Elena dengan kasar. Braakk! "Hah? Ke mana semua baju-bajunya? Jangan-jangan..." Axel tertegun menatap deretan gantungan baju yang kini melompong. "Wah, parah nih orang! Ngadu pasti dia sama bokapnya!" Kepanikan langsung menguasai Axel. Ia berlari keluar dari kamar Elena, menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas nakas ruang tengah, dan melesat pergi. Tujuannya hanya satu. Rumah orang tua Elena. Ia yakin setengah mati, Elena pasti pulang ke sana untuk mengadukan perbuatannya. "Arghhh! Sumpah, menyusahkan banget sih itu perempuan! Apa maksudnya coba main minggat-minggat segala? Kayak bocah!" gerutunya sepanjang jalan sembari mencengkeram kemudi. Pikirannya berputar liar, menyusun puluhan skenario dan alasan masuk akal yang harus ia katakan kepada mertuanya nanti jika Elena benar-benar berada di sana. "Mati gue kalau dia sampai ngadu yang macam-macam." Axel menginjak pedal gas lebih dalam, memacu mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Ia menerobos celah-celah kendaraan tanpa memedulikan keselamatan. Beberapa kali mobilnya hampir menyerempet pengendara lain, memicu koor klakson panjang yang saling bersahutan di sepanjang jalan. Tak butuh waktu lama, mobil Axel akhirnya terparkir di halaman luas kediaman keluarga Wardhana. Rumah mewah itu tampak sepi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan Elena yang mencurigakan. Axel turun dari mobil, mencoba mengatur napas dan menyiapkan mentalnya. Di dekat pintu utama, dua pria berbadan tegap yang berjaga langsung mengangguk hormat dan membukakan pintu untuknya. Begitu melangkah ke ruang keluarga, Axel mendapati Papa dan Mama Elena sedang bersantai sembari berbincang hangat. "Pagi, Pa... Ma." "Eh, Nak Axel? Masuk, Sini," sambut Elisa, sang ibu mertua, dengan senyum ramah. Matanya sempat celingukan, menatap ke arah belakang tubuh Axel, "Elenanya mana, Ax? Kok nggak ikut?" Pertanyaan itu seketika membuat lidah Axel kelu. Ia mengira Elena ada di sini, tapi ternyata sang mertua justru menanyakan keberadaan putrinya. "E-eum... Elena... nggak ada di sini, Ma?" "Loh? Nggak ada, Axel. Memangnya Elena nggak di rumah sama kamu?" tanya Elisa lagi, kini dahinya mulai berkerut heran. "T-tidak, Ma. Eum..." Axel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar-benar mati kutu. Sementara Elisa masih berusaha berpikir positif. "Kok bisa nggak sama kamu? Memangnya dia pergi ke mana pagi-pagi begini?" "Axel... Axel pikir Elena pulang ke sini, Ma." "Nggak ada, Axel. Elena nggak ada di sini sejak kemarin. Apa dia pergi nggak pamit sama kamu? Biasanya kalau mau ke mana-mana, anak itu pasti selalu izin lho," cecar Elisa, membuat Axel semakin gelagapan. Di saat yang sama, Theo, sang papa mertua yang sejak tadi diam, kini bangkit dari kursinya. Pria paruh baya itu melangkah perlahan mendekati Axel. Wajahnya memang terlihat tenang, namun bagi Axel, sepasang mata tajam milik mertuanya itu menyimpan aura intimidasi yang siap meledak kapan saja. Mati gue! Apa Papa Theo sebenarnya udah tahu? Apa dia bakal habisin gue sekarang juga karena udah nyakitin anaknya? batin Axel menjerit histeris. Atmosfer di ruangan itu mendadak terasa mencekik, berbanding terbalik dengan sikap Elisa yang tampak belum tahu apa-apa. "Eum... Papa." "Kenapa kamu tegang begitu, Axel?" tanya Theo, suaranya berat dan mengintimidasi. "Hah? A-aku... nggak apa-apa kok, Pa." Theo tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Axel dengan pelan, tapi terasa sarat akan tekanan. "Elena nggak ada di sini, Axel. Kalaupun dia pergi, harusnya dia pergi bersama suaminya, kan?" "Eh... iya, Pa. Hehe," jawab Axel dengan tawa yang dipaksakan. "Kalian sedang ada masalah?" "E-enggak kok, Pa. Tadi pas bangun tidur, tiba-tiba Elena nggak ada di samping Axel. Axel kaget. Jadi Axel pikir Elena ngambek dan pulang ke sini. Soalnya semalam Elena memang sempat ngajak main ke rumah Papa, tapi karena Axel capek banget habis kerja, Axel ketiduran." Alasan konyol itu meluncur begitu saja dari bibir Axel. Otaknya sudah buntu untuk mencari kebohongan lain. Theo kembali tersenyum misterius. Ia menepuk bahu Axel dua kali sebelum melangkah sedikit menjauh. "Baik. Kalau memang ada masalah rumah tangga, selesaikan baik-baik, Axel," ucap Theo, nadanya mendadak berubah dingin. "Oh ya, Axel. Pesan saya... kalau suatu saat kamu sudah tidak menginginkan anak saya lagi, pulangkan dia ke rumah ini baik-baik. Jangan sekali-kali kamu menyakiti fisik maupun hatinya." Deg! Jantung Axel mencelos. "B-baik, Pa. Kalau begitu... Axel pamit dulu, Pa, Ma." Setelah kedua mertuanya mengangguk, Axel buru-buru membalikkan badan dan melangkah selebar mungkin keluar dari rumah besar yang mendadak terasa seperti ruang eksekusi itu. "Ck. Sialan! Mampus gue! Ke mana sebenarnya itu perempuan pergi kalau nggak ada di rumah bokapnya?" umpat Axel habis-habisan. Ia berdiri di samping pintu mobilnya sembari memijat pelipis yang kian berdenyut nyeri. "Tunggu, jangan-jangan..." Axel melebarkan matanya, "Nggak, nggak, nggak! Situasinya bakal jauh lebih parah kalau Elena sampai ada di sana!" Tanpa membuang waktu, Axel kembali melompat ke dalam mobil dan menginjak gas sedalam-dalamnya. Ia harus segera sampai ke rumah orang tuanya sendiri. Sebuah tempat yang menurutnya saat ini jauh lebih mengerikan daripada penjara. Sepanjang perjalanan, fokusnya terpecah. Berhadapan dengan mertuanya saja sudah membuat lututnya lemas, dan ia jauh lebih takut jika harus berhadapan dengan kemarahan ayah kandungnya sendiri. Sepanjang jalan Axel terus berkomat-kamit, merapalkan doa dan sumpah serapah secara bersamaan. Saat mobilnya hendak berbelok memasuki gerbang kompleks rumah orang tuanya, tiba-tiba ponselnya di atas dasbor bergetar hebat. Drrrrrttt... drrrrtttt... Awalnya ia mengabaikan panggilan itu. Ia sama sekali tidak berminat berbicara dengan siapapun saat ini. Pikirannya sudah penuh dengan bayangan amukan sang papa jika sampai tahu ia menelantarkan menantu pilihan keluarga. Namun karena ponsel itu terus-menerus berisik, akhirnya pertahanan Axel runtuh. "Ck! Siapa sih, bangsat!" umpatnya kesal. Ia menghentikan mobilnya tepat satu meter di depan pagar rumah keluarganya, lalu menyambar ponsel tersebut. Nama di layar membuat dahinya berkerut. "Safira?" Mengingat keributan mereka semalam, Axel akhirnya menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Ya, Safira?" [Kamu di mana sih, Axel?! Dari tadi aku telepon nggak diangkat, aku chat juga nggak dibalas. Aku sampai datang ke rumah kamu tapi kamu nggak ada! Yang ada cuma pembantu kamu yang menyebalkan itu!] pekik Safira di seberang sana, suaranya melengking kesal. "APA? Kamu datang ke rumah gue? Ck! Aduh, kan gue udah pernah bilang, Safira! Jangan pernah nekat datang ke rumah gue. Bahaya kalau sampai ada yang lihat!" [Ya aku kan nyariin kamu, Axel! Kamu nggak ada kabar sama sekali setelah kejadian semalam!] "Bukannya semalam kamu yang marah-marah dan pergi duluan?" [Ya... iya, aku minta maaf. Aku minta maaf ya, Sayang... semalam aku emosi banget. Habisnya kamu sih! Aku tuh cinta banget sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu. Jadi aku—] "Mmm. Oke." [Hah? Oke doang? Kamu kenapa sih, Ax? Kamu lagi bete sama aku? Lagian kamu sekarang ada di mana, sih?] "Nggak. Ini... gue lagi nyariin Elena." [What?! Elena? Ngapain kamu repot-repot nyariin cewek udik itu, hah?!] "Nggak gitu, Safira. Masalahnya dia pergi dari rumah sejak pagi tanpa kabar. Baju-baju dan kopernya juga udah nggak ada semua." [Ya baguuusss, dong! Berarti nggak ada lagi benalu yang menghalangi hubungan kita buat bareng lagi!] "Ck. Nggak semudah itu, Safira!" sentak Axel mulai kehabisan kesabaran. [Kamu kenapa sih sewot gitu? Jadi benar kan dugaan aku semalam? Kamu udah mulai main hati sama dia? Kamu udah jatuh cinta sama istri pajangan kamu itu?!] "Ya enggak gitu, Safira!" [Ya udah! Cari aja terus perempuan itu sampai ke ujung dunia kalau kamu memang lebih peduli sama dia! Cari sampai ketemu kalau kamu udah nggak peduli lagi sama aku! Terserah kamu, Axel! Tapi memang dari awal sepertinya aku udah nggak penting lagi buat kamu. Makasih ya selama ini udah ada untuk aku, dan maaf kalau aku selalu banyak nuntut kamu.] "Safira, lo ngomong apa sih? Nggak gitu maksud gue! Gue selalu peduli sama lo, lo selalu penting buat gue!" [Sudahlah, Ax. Cari aja Elena-mu itu. Jangan cari aku lagi. Sepertinya aku lebih baik mati aja, Ax, daripada hidup di dunia tapi udah nggak ada lagi orang yang peduli sama aku!] Tuuutt... tuuutt... tuuutt... "Hei! Hei! Safira! Halo... Safira?!" Axel menjauhkan ponselnya dengan panik. "Ah, bangsat!" Panggilan diputus sepihak. Axel mencoba menghubungi nomor Safira kembali, namun langsung ditolak. Berkali-kali ia mencoba, hasilnya tetap sama. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Safira. Jantung Axel nyaris berhenti berdetak saat membuka pesan itu. Safira mengirimkan sebuah foto yang menampilkan pemandangan jalanan raya dan jejeran mobil yang tampak sangat kecil. Sebuah foto yang diambil dari tepi ketinggian sebuah gedung pencakar langit. "Ya ampun, Safira!!!"Tiga Tahun KemudianPagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama. Aroma lavender dari pelembab udara berpadu lembut dengan wangi kopi hangat yang dibawa Axel ke dalam kamar.Di atas ranjang besar, Elena tersenyum tipis saat merasakan sebuah kecupan lembut di keningnya. Perlahan ia membuka mata, menyambut senyum hangat dari pria yang tiga tahun terakhir ini tak pernah absen berdiri di sampingnya. menjadi pelindung, penopang, dan satu-satunya tempat ia pulang."Pagi, Sayang," bisik Axel lembut, lalu mendaratkan tangan hangatnya di atas perut Elena yang membuncit besar. "Pagi juga, Jagoan Papi..."Elena mengelus jemari Axel yang berada di atas perutnya. "Pagi, Papi..."Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka akibat kehilangan kedua orang tuanya. Namun, Axel membuktikannya. Pria itu tidak pernah memaksa, selalu sabar menuntun Elena keluar dari masa-masa kelam, hingga akhirnya Elena benar-benar luluh dan membuka hatinya seutuhnya
"Elena... lihat Mama, Nak..." suara ibu Axel, Heranica. terdengar begitu lembut, bergetar menahan duka yang sama besar.Elena perlahan mendongak dengan pandangan kabur oleh air mata. Matanya sembab, merah, dan tatapannya begitu kosong seolah nyawanya telah ikut pergi bersama brankar yang baru saja melintas.Heranica merengkuh wajah Elena dengan kedua tangannya, mengusap pipi wanita muda itu yang terasa dingin. "Mama tahu ini berat... berat banget buat kamu. Tapi Mama sama Papa kamu udah tenang, Nak. Mereka udah nggak ngerasain sakit lagi...""Mama Heranica..." bisik Elena, suaranya parau dan tercekik. "Aku... aku sekarang sendirian, Ma... Papa udah nggak ada... Mama juga pergi...""Enggak, Sayang. Kamu nggak sendirian," potong Heranica tegas namun hangat, lalu membawanya kembali ke dalam pelukan erat. "Kamu masih punya Mama, punya Papa Ares, punya Axel... Kita keluarga kamu. Mama nggak akan pernah biarkan kamu sendirian."Di seberang lorong, Axel berdiri menatap dua wanita itu d
Pintu kamar terbuka pelan, disusul langkah Axel yang kembali masuk dengan raut wajah yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketenangan yang tadi ia paksakan. Garis rahangnya menegang, sorot matanya tampak berat, seolah menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan.Elena yang sejak tadi duduk gelisah di atas ranjang langsung menoleh. Hatinya berdegup lebih cepat hanya dengan melihat ekspresi Axel."Ada apa, Axel?" tanyanya, keningnya berkerut, firasat buruk mulai merayap masuk tanpa permisi.Axel tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari tempat Elena, menatap wanita itu dengan ragu. Bibirnya sempat terbuka, namun kembali tertutup. Seolah kata-kata yang ingin keluar tertahan di tenggorokan."Axel?" Elena kembali memanggil, kali ini dengan nada lebih tegas. "Ada apa?"Hening.Axel menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum melangkah mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, jaraknya cukup dekat hingga ia bisa meraih tangan Elena yang terasa din
Stasiun kereta terdekat tampak penuh sesak.Orang-orang berkerumun di berbagai sudut. Suara tangis, teriakan, dan pertanyaan saling bersahutan tanpa jeda.Beberapa orang terlihat histeris, memanggil nama anggota keluarga mereka.Sebagian lainnya mengerumuni petugas, memaksa meminta kepastian."Mas, tolong dicek lagi! Nama suami saya belum ada!""Anak saya ada di gerbong tiga, Mas! Tolong!""Daftar korban di mana?!"Suasana benar-benar kacau.Penuh kepanikan.Penuh ketidakpastian.Elena berdiri di tengah keramaian itu, wajahnya pucat, matanya terus mencari ke sana kemari, seolah berharap menemukan jawaban di antara kerumunan orang.Tangannya mencengkeram lengan Axel erat."Ax… Mama sama Papa pasti mereka naik-baik saja kan…?" suaranya lirih, penuh harap yang rapuh. Axel menatap sekeliling, lalu kembali ke Elena."Iya… kita cari, ya. Tenang… aku di sini."Meski ucapannya terdengar tenang, matanya sendiri tak bisa menyembunyikan kecemasan.Beberapa kali, Axel menarik Elena mendekat saat
“A-anu, Non… Nyonya Besar dan Tuan Besar… kecelakaan, Non!”Elena tertawa hampa. “Ngaco! Jangan bercanda ah, nggak lucu. Satu jam lalu aku masih teleponan sama Mama, Bi. Mama lagi baik-baik aja.”“Saya nggak berani bercanda soal ini, Non!” potong pelayan itu dengan suara bergetar panik. “Barusan ada berita sela di TV… kecelakaan kereta api setengah jam yang lalu. Parah banget, Non… banyak korban jiwa…”“Ya terus apa hubungannya sama Papa Mama?” cecar Elena, suaranya mulai meninggi karena menolak kenyataan. “Masa iya Papa sama Mama naik kereta? Mereka itu naik pesawat!”“Tapi, Non… di daftar nama korban yang ditayangkan… ada nama Tuan Theo dan Nyonya Elis…”Dada Elena berdesir hebat. Otaknya menolak mentah-mentah ucapan itu. Dengan gerakan panik, ia menyambar ponselnya dan menekan nomor Mamanya.“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”Elena mencoba menghubungi Papanya. Sama. Suara mesin menjawab dingin. Jarinya yang gemetar mulai tak kontrol men
"Boleh aku duduk sebentar?""Silakan, Dok."Keenan duduk di hadapan Elena dengan napas yang belum teratur. "Terakhir, Elena... apa kamu yakin nggak ada kesempatan sedikit pun buat aku?"Elena menatapnya lurus. "Keenan... aku rasa jawabanku kemarin sudah jelas. Maaf banget, jawabanku masih tetap sama."Keenan menunduk, meremas tangannya pelan sebelum menghembuskan napas panjang. Dari sudut lain, Axel memperhatikan interaksi itu dari jauh dengan raut tak tenang.Keenan kembali mendongak dengan senyum tipis. "Baik, aku terima. Aku cuma berharap kamu selalu bahagia." Ia mengusap wajahnya sekilas. "Sore ini aku fly ke London. Tugasku di sini sudah selesai."Elena terkejut. "Keenan... are you okay?""Aku nggak apa-apa," sahut Keenan cepat, berusaha tersenyum. Ia meneguk habis minumannya, lalu berdiri. "Jaga diri baik-baik. Kalau butuh apa-apa, nomorku masih sama."Tanpa menunggu balasan, Keenan berbalik dan melangkah pergi. Elena hanya bisa menatap punggung pria itu dengan sedikit







