Home / Urban / Noda Pernikahan Paksa / Elena Menghilang

Share

Elena Menghilang

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2026-05-03 21:01:37

​"Ck. Ayolah, Axel... ngapain lo peduli?" gumamnya ketus pada diri sendiri.

​Axel kembali menyeruput kopi hangatnya yang kini terasa hambar. Suasana hening sejenak, hanya terisi oleh ketukan ritmis jemarinya di atas meja marmer. Ketukan yang kian cepat, selaras dengan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.

​"Ck. Sialan!" Axel mengerang frustrasi. Kilasan kejadian semalam mendadak berputar tanpa permisi di otaknya.

​Apa yang udah gue lakuin sama dia semalam? Bodoh!

​Axel langsung bangkit berdiri, melangkah lebar kembali menuju kamar Elena. "Ke mana dia pergi sepagi ini?"

​Ia menyusuri setiap sudut kamar istrinya. Mengecek kamar mandi, hingga membuka pintu balkon. Kosong. Tak ada siapapun.

Namun saat berbalik, mata Axel tidak sengaja menangkap bagian atas lemari pakaian. Tempat yang biasanya menjadi area penyimpanan koper besar berwarna biru milik Elena.

​Koper itu lenyap.

​Seketika, firasat buruk menghantam kepalanya. Axel bergegas membuka pintu lemari pakaian Elena dengan kasar.

​Braakk!

​"Hah? Ke mana semua baju-bajunya? Jangan-jangan..." Axel tertegun menatap deretan gantungan baju yang kini melompong.

"Wah, parah nih orang! Ngadu pasti dia sama bokapnya!"

​Kepanikan langsung menguasai Axel. Ia berlari keluar dari kamar Elena, menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas nakas ruang tengah, dan melesat pergi. Tujuannya hanya satu. Rumah orang tua Elena. Ia yakin setengah mati, Elena pasti pulang ke sana untuk mengadukan perbuatannya.

​"Arghhh! Sumpah, menyusahkan banget sih itu perempuan! Apa maksudnya coba main minggat-minggat segala? Kayak bocah!" gerutunya sepanjang jalan sembari mencengkeram kemudi.

​Pikirannya berputar liar, menyusun puluhan skenario dan alasan masuk akal yang harus ia katakan kepada mertuanya nanti jika Elena benar-benar berada di sana.

​"Mati gue kalau dia sampai ngadu yang macam-macam." Axel menginjak pedal gas lebih dalam, memacu mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Ia menerobos celah-celah kendaraan tanpa memedulikan keselamatan. Beberapa kali mobilnya hampir menyerempet pengendara lain, memicu koor klakson panjang yang saling bersahutan di sepanjang jalan.

​Tak butuh waktu lama, mobil Axel akhirnya terparkir di halaman luas kediaman keluarga Wardhana. Rumah mewah itu tampak sepi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan Elena yang mencurigakan.

​Axel turun dari mobil, mencoba mengatur napas dan menyiapkan mentalnya. Di dekat pintu utama, dua pria berbadan tegap yang berjaga langsung mengangguk hormat dan membukakan pintu untuknya. Begitu melangkah ke ruang keluarga, Axel mendapati Papa dan Mama Elena sedang bersantai sembari berbincang hangat.

​"Pagi, Pa... Ma."

​"Eh, Nak Axel? Masuk, Sini," sambut Elisa, sang ibu mertua, dengan senyum ramah. Matanya sempat celingukan, menatap ke arah belakang tubuh Axel, "Elenanya mana, Ax? Kok nggak ikut?"

​Pertanyaan itu seketika membuat lidah Axel kelu. Ia mengira Elena ada di sini, tapi ternyata sang mertua justru menanyakan keberadaan putrinya.

​"E-eum... Elena... nggak ada di sini, Ma?"

​"Loh? Nggak ada, Axel. Memangnya Elena nggak di rumah sama kamu?" tanya Elisa lagi, kini dahinya mulai berkerut heran.

​"T-tidak, Ma. Eum..." Axel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar-benar mati kutu. Sementara Elisa masih berusaha berpikir positif. "Kok bisa nggak sama kamu? Memangnya dia pergi ke mana pagi-pagi begini?"

​"Axel... Axel pikir Elena pulang ke sini, Ma."

​"Nggak ada, Axel. Elena nggak ada di sini sejak kemarin. Apa dia pergi nggak pamit sama kamu? Biasanya kalau mau ke mana-mana, anak itu pasti selalu izin lho," cecar Elisa, membuat Axel semakin gelagapan.

​Di saat yang sama, Theo, sang papa mertua yang sejak tadi diam, kini bangkit dari kursinya. Pria paruh baya itu melangkah perlahan mendekati Axel. Wajahnya memang terlihat tenang, namun bagi Axel, sepasang mata tajam milik mertuanya itu menyimpan aura intimidasi yang siap meledak kapan saja.

​Mati gue! Apa Papa Theo sebenarnya udah tahu? Apa dia bakal habisin gue sekarang juga karena udah nyakitin anaknya? batin Axel menjerit histeris. Atmosfer di ruangan itu mendadak terasa mencekik, berbanding terbalik dengan sikap Elisa yang tampak belum tahu apa-apa.

​"Eum... Papa."

​"Kenapa kamu tegang begitu, Axel?" tanya Theo, suaranya berat dan mengintimidasi.

​"Hah? A-aku... nggak apa-apa kok, Pa."

​Theo tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Axel dengan pelan, tapi terasa sarat akan tekanan. "Elena nggak ada di sini, Axel. Kalaupun dia pergi, harusnya dia pergi bersama suaminya, kan?"

​"Eh... iya, Pa. Hehe," jawab Axel dengan tawa yang dipaksakan.

​"Kalian sedang ada masalah?"

​"E-enggak kok, Pa. Tadi pas bangun tidur, tiba-tiba Elena nggak ada di samping Axel. Axel kaget. Jadi Axel pikir Elena ngambek dan pulang ke sini. Soalnya semalam Elena memang sempat ngajak main ke rumah Papa, tapi karena Axel capek banget habis kerja, Axel ketiduran." Alasan konyol itu meluncur begitu saja dari bibir Axel. Otaknya sudah buntu untuk mencari kebohongan lain.

​Theo kembali tersenyum misterius. Ia menepuk bahu Axel dua kali sebelum melangkah sedikit menjauh.

​"Baik. Kalau memang ada masalah rumah tangga, selesaikan baik-baik, Axel," ucap Theo, nadanya mendadak berubah dingin.

"Oh ya, Axel. Pesan saya... kalau suatu saat kamu sudah tidak menginginkan anak saya lagi, pulangkan dia ke rumah ini baik-baik. Jangan sekali-kali kamu menyakiti fisik maupun hatinya."

​Deg! Jantung Axel mencelos.

​"B-baik, Pa. Kalau begitu... Axel pamit dulu, Pa, Ma."

​Setelah kedua mertuanya mengangguk, Axel buru-buru membalikkan badan dan melangkah selebar mungkin keluar dari rumah besar yang mendadak terasa seperti ruang eksekusi itu.

​"Ck. Sialan! Mampus gue! Ke mana sebenarnya itu perempuan pergi kalau nggak ada di rumah bokapnya?" umpat Axel habis-habisan. Ia berdiri di samping pintu mobilnya sembari memijat pelipis yang kian berdenyut nyeri.

​"Tunggu, jangan-jangan..." Axel melebarkan matanya, "Nggak, nggak, nggak! Situasinya bakal jauh lebih parah kalau Elena sampai ada di sana!"

​Tanpa membuang waktu, Axel kembali melompat ke dalam mobil dan menginjak gas sedalam-dalamnya. Ia harus segera sampai ke rumah orang tuanya sendiri. Sebuah tempat yang menurutnya saat ini jauh lebih mengerikan daripada penjara.

Sepanjang perjalanan, fokusnya terpecah. Berhadapan dengan mertuanya saja sudah membuat lututnya lemas, dan ia jauh lebih takut jika harus berhadapan dengan kemarahan ayah kandungnya sendiri. Sepanjang jalan Axel terus berkomat-kamit, merapalkan doa dan sumpah serapah secara bersamaan.

​Saat mobilnya hendak berbelok memasuki gerbang kompleks rumah orang tuanya, tiba-tiba ponselnya di atas dasbor bergetar hebat.

​Drrrrrttt... drrrrtttt...

​Awalnya ia mengabaikan panggilan itu. Ia sama sekali tidak berminat berbicara dengan siapapun saat ini. Pikirannya sudah penuh dengan bayangan amukan sang papa jika sampai tahu ia menelantarkan menantu pilihan keluarga. Namun karena ponsel itu terus-menerus berisik, akhirnya pertahanan Axel runtuh.

​"Ck! Siapa sih, bangsat!" umpatnya kesal. Ia menghentikan mobilnya tepat satu meter di depan pagar rumah keluarganya, lalu menyambar ponsel tersebut.

​Nama di layar membuat dahinya berkerut. "Safira?"

​Mengingat keributan mereka semalam, Axel akhirnya menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

​"Ya, Safira?"

​[Kamu di mana sih, Axel?! Dari tadi aku telepon nggak diangkat, aku chat juga nggak dibalas. Aku sampai datang ke rumah kamu tapi kamu nggak ada! Yang ada cuma pembantu kamu yang menyebalkan itu!] pekik Safira di seberang sana, suaranya melengking kesal.

​"APA? Kamu datang ke rumah gue? Ck! Aduh, kan gue udah pernah bilang, Safira! Jangan pernah nekat datang ke rumah gue. Bahaya kalau sampai ada yang lihat!"

​[Ya aku kan nyariin kamu, Axel! Kamu nggak ada kabar sama sekali setelah kejadian semalam!]

​"Bukannya semalam kamu yang marah-marah dan pergi duluan?"

​[Ya... iya, aku minta maaf. Aku minta maaf ya, Sayang... semalam aku emosi banget. Habisnya kamu sih! Aku tuh cinta banget sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu. Jadi aku—]

​"Mmm. Oke."

​[Hah? Oke doang? Kamu kenapa sih, Ax? Kamu lagi bete sama aku? Lagian kamu sekarang ada di mana, sih?]

​"Nggak. Ini... gue lagi nyariin Elena."

​[What?! Elena? Ngapain kamu repot-repot nyariin cewek udik itu, hah?!]

​"Nggak gitu, Safira. Masalahnya dia pergi dari rumah sejak pagi tanpa kabar. Baju-baju dan kopernya juga udah nggak ada semua."

​[Ya baguuusss, dong! Berarti nggak ada lagi benalu yang menghalangi hubungan kita buat bareng lagi!]

​"Ck. Nggak semudah itu, Safira!" sentak Axel mulai kehabisan kesabaran.

​[Kamu kenapa sih sewot gitu? Jadi benar kan dugaan aku semalam? Kamu udah mulai main hati sama dia? Kamu udah jatuh cinta sama istri pajangan kamu itu?!]

​"Ya enggak gitu, Safira!"

​[Ya udah! Cari aja terus perempuan itu sampai ke ujung dunia kalau kamu memang lebih peduli sama dia! Cari sampai ketemu kalau kamu udah nggak peduli lagi sama aku! Terserah kamu, Axel! Tapi memang dari awal sepertinya aku udah nggak penting lagi buat kamu. Makasih ya selama ini udah ada untuk aku, dan maaf kalau aku selalu banyak nuntut kamu.]

​"Safira, lo ngomong apa sih? Nggak gitu maksud gue! Gue selalu peduli sama lo, lo selalu penting buat gue!"

​[Sudahlah, Ax. Cari aja Elena-mu itu. Jangan cari aku lagi. Sepertinya aku lebih baik mati aja, Ax, daripada hidup di dunia tapi udah nggak ada lagi orang yang peduli sama aku!]

​Tuuutt... tuuutt... tuuutt...

​"Hei! Hei! Safira! Halo... Safira?!" Axel menjauhkan ponselnya dengan panik. "Ah, bangsat!"

​Panggilan diputus sepihak. Axel mencoba menghubungi nomor Safira kembali, namun langsung ditolak. Berkali-kali ia mencoba, hasilnya tetap sama. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Safira.

​Jantung Axel nyaris berhenti berdetak saat membuka pesan itu. Safira mengirimkan sebuah foto yang menampilkan pemandangan jalanan raya dan jejeran mobil yang tampak sangat kecil. Sebuah foto yang diambil dari tepi ketinggian sebuah gedung pencakar langit.

​"Ya ampun, Safira!!!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Noda Pernikahan Paksa   Bagaimana aku mengatakannya

    "Buat apa aku bercanda hal ginian, Ax. Aku serius. Aku udah cek beberapa kali dan dengan alat yang berbeda dan hasilnya sama. Aku hamil !" ucap Safira agak keras. Hingga beberapa pelanggan lain sempat menoleh dan menatap mereka sinis.Lalu mereka langsung memelankan intonasinya. "Maksud aku, kamu serius itu anak aku ?" 'Braakkk'"Maksud kamu apa bilang kayak gitu, Ax. Kita tidur bareng, malam itu dan kamu melakukannya. KAMU, AXEL ! jahat kamu. Aku hamil gara-gara kamu tapi kamu ... ""Sssttt stttt.. oke oke, pelan-pelan aja ngomongnya, mereka lihatin kita. Oke kita bahas pelan-pelan, oke. Sekarang kamu duduk, ya ?"Safira akhirnya duduk lagi, dan Axel mulai bicara. "Tapi, itu cuma sekali, Safira. Masa iya langsung jadi. Dan itupun aku ... nggak begitu sadar.""Terus, maksud kamu aku tidur dengan laki-laki lain, begitu ? Kamu pikir aku cewek apaan, Axel ! Kamu ! Kamu yang melakukannya, Axel. Dan sekarang kamu mau lari dari tanggung jawab, ha ? Tega kamu, Ax ! Jahat kamu. Hiks. Kalau

  • Noda Pernikahan Paksa   Dua Garis Merah

    one month later... "Hoek... Hoek..." "Ah... Ya Ampun, rasanya mual sekali." ucap Elena sembari bersandar di dinding kamar mandi.Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas karena sejak kemarin sore, tak sedikitpun makanan masuk ke perutnya. Bahkan air putih pun harus ia paksa. "Hoeek.." 'Huftt...' Ia sedekit menghela nafas, dan mengatur rasa mualnya."Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa kerja." ucapnya sembari mengelus perutnya agar sedikit hangat. Lantas ia keluar dari kamar mandi dan duduk diranjang kamarnya. Kamar itu lumayan besar, walau tidak sebesar kamarnya dirumah orang tuanya. Sejak sebulan yang lalu ia tiba di London, lalu memutuskan untuk tinggal di sebuah aparteman kecil di pinggir kota.Ia juga memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun kecuali Mama Papanya. Itu pun hanya sekedar agar mereka tak khawatir dan tidak mencarinya. "Tanggal 16. Seharusnya... aku datang bulan Enam hari yang lalu. Tapi..." ucapnya menggantung, tangannya masih menyentuh kalender kecil berbe

  • Noda Pernikahan Paksa   Menghapus jejak

    Tuuut... tuuut... ​Panggilan diputus sepihak. Wajah Axel seketika pias. Ia buru-buru mendekati Safira dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikan. ​"Safira, sepertinya aku harus pulang ke rumah sekarang juga." ​"Loh, kok pulang? Kan kita baru aja sampai, Axel?!" protes Safira langsung merengut kesal. ​"Safira, ini darurat. Papa telepon aku dan suaranya serius banget. Aku nggak punya waktu lagi, aku harus pulang sekarang. Nanti kamu pulang naik taksi dulu, ya?" ucap Axel cepat tanpa menunggu jawaban. ​"Axel, tapi tas ini gimana dong?!" ​"Aduh... ya udah, kamu pilih-pilih aja dulu yang kamu mau, nanti aku balik lagi ke sini buat bayar!" seru Axel yang sudah melangkah cepat, setengah berlari meninggalkan Safira yang menghentakkan kakinya kesal di dalam butik. ​Untuk kesekian kalinya hari ini, Axel membawa mobilnya secara ugal-ugalan demi memangkas waktu perjalanan. Begitu berbelok memasuki halaman rumahnya, jantung Axel mencelos. Sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia k

  • Noda Pernikahan Paksa   Ancaman Safira

    "Dyyyymm !!! Apa yang mau lo lakuin di sana, Safira?!" bisik Axel panik.​Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya sempat melirik ke arah gerbang rumah orang tuanya yang tinggal sejengkal lagi. Namun, foto ketinggian gedung yang dikirimkan Safira benar-benar merenggut kewarasannya. Di satu sisi, ia harus segera melacak keberadaan Elena. Namun di sisi lain, ego lelaki dan rasa cintanya tidak akan sanggup membiarkan Safira melakukan tindakan konyol itu.​"Agrrrhhh! Bangsat!"​Akhirnya Axel membanting setir, memutar balik mobilnya dengan kasar. Kendaraan itu menderu membelah jalanan, melesat menuju gedung yang menjadi latar foto kiriman Safira.​Sepanjang perjalanan, isi kepala Axel seolah mau pecah. Ibu jarinya tak berhenti menekan tombol panggil pada nomor Safira, tetapi wanita itu tetap menolak panggilannya.​"Ayolah, Fira... lo jangan gila kayak gini dong," gumamnya frustrasi.​Sepagian ini, Axel terus-menerus menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi

  • Noda Pernikahan Paksa   Elena Menghilang

    ​"Ck. Ayolah, Axel... ngapain lo peduli?" gumamnya ketus pada diri sendiri.​Axel kembali menyeruput kopi hangatnya yang kini terasa hambar. Suasana hening sejenak, hanya terisi oleh ketukan ritmis jemarinya di atas meja marmer. Ketukan yang kian cepat, selaras dengan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.​"Ck. Sialan!" Axel mengerang frustrasi. Kilasan kejadian semalam mendadak berputar tanpa permisi di otaknya.​Apa yang udah gue lakuin sama dia semalam? Bodoh!​Axel langsung bangkit berdiri, melangkah lebar kembali menuju kamar Elena. "Ke mana dia pergi sepagi ini?"​Ia menyusuri setiap sudut kamar istrinya. Mengecek kamar mandi, hingga membuka pintu balkon. Kosong. Tak ada siapapun.Namun saat berbalik, mata Axel tidak sengaja menangkap bagian atas lemari pakaian. Tempat yang biasanya menjadi area penyimpanan koper besar berwarna biru milik Elena.​Koper itu lenyap.​Seketika, firasat buruk menghantam kepalanya. Axel bergegas membuka pintu lemari pakaian Elena dengan kas

  • Noda Pernikahan Paksa   Malam Pertama tanpa Pengampunan

    ​"Axel... kamu mabuk?"​"Ya ampun..." Elena mengeluh lirih. ​Dengan sisa tenaga yang ada, Elena berusaha membantu Axel masuk. Ia memapah tubuh kekar pria itu yang terasa sangat berat dan lemas. Langkah mereka terseok-seok, menciptakan pemandangan yang kontras karena tinggi tubuh Elena yang mungil bahkan tidak mencapai bahu Axel.​Elena menuntunnya menuju kamar. Aroma alkohol dan bir yang begitu menyengat langsung menusuk hidung, membuat Elena terpaksa menahan napas demi meredam rasa mualnya. ​"Kupikir... jadi dewasa itu menyenangkan. Bebas! Bisa bersenang-senang! Agrrhhh! Persetan dengan kebebasan!" gumam Axel. Langkahnya limbung, meracaukan kalimat-kalimat yang tidak jelas.​"Nyatanya... orang tua sialan itu! Selalu merampasnya dariku! Kebebasanku! Hah! Safiraaa... hiks... kenapa kau tinggalkan aku, Safira..." racau Axel lagi, suaranya parau menahan tangis. ​Tanpa membalas sepatah kata pun, Elena terus memapah Axel hingga berhasil mendudukkannya di tepi ranjang. Ia benar-benar tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status